Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]

Negeri Para Pahlawan [Novel ini pindah ke wattpad dengan judul The Liberator]
Ch. 3 - Misteri Aldefos


__ADS_3

Eter berdiri mematung menatap ruangan dihadapannya yang luasnya hampir seukuran lapangan sepak bola dengan tinggi sekitar 10 meter. Dindingnya penuh buku-buku dari berbagai hal mulai dari ilmu pengetahuan sampai sejarah. Bagian tengah ruangan itu berisi berbagai peralatan-peralatan dan juga barang-barang aneh yang belum pernah Eter lihat.


Ruangan itu bisa dikatakan sebagai ruang bawah tanah karena letaknya yang berada di dalam perut bukit. Arsa mengajak Eter berjalan ke sebuah pintu yang berada di ujung ruangan, melewati barang-barang aneh di tengah ruangan.


Pandangan Eter tidak bisa terlepas dari buku-buku yang berada di dinding. Matanya menunjukan sebuah ketertarikan ke buku-buku itu. Eter merupakan salah satu orang yang masih menyukai membaca buku-buku konvensional walaupun pada zaman sekarang buku-buku sudah masuk ke dalam teknologi hologram.


Arsa bisa melihat gerak-gerik Eter yang sangat antusias terhadap ruangan itu. Sebuah senyuman merekah diwajahnya dan ada sebuah kepuasan dalam hatinya. ‘Sepertinya dia akan menjadi ilmuwan seperti diriku. Tapi, aku juga sedikit takut dengan kemampuan fisiknya yang sudah melebihi manusia normal.’ Batin Arsa sembari membuka pintu ruangan menuju ruangan lain.


Mata Eter yang masih memandangi buku kini beralih ke lorong berlapis logam di depannya. Dia sudah menduga bahwa ruangan ini tidak sesederhana yang terlihat. Eter mengikuti Arsa yang sudah 2 langkah di depannya, masuk ke dalam lorong.


"Kita mau kemana?” tanya Eter.


“Hmm. Kau akan tau nanti.” Arsa tersenyum kecil ke cucu nya yang penuh dengan rasa penasaran.


Arsa berhenti didepan pintu berwarna putih yang terkunci. Dia berjalan ke samping kiri pintu, memunculkan sebuah layar hologram kecil. Beberapa saat setelahnya, pintu itu seketika bergeser ke kanan dan kekiri. Ketika pintu itu terbuka dari dalam ruangan keluar asap putih.


“Asap apa ini?” Eter melompat kebelakang, menjauhi asap.


Arsa tidak menjawab, dia diam menunggu asap hilang. Setelah asap putih itu menghilang, Arsa masuk ke dalam ruangan diikuti Eter yang masih dalam kebingungan. Alangkah terkejutnya Eter melihat dalam ruangan yang berwarna putih dan berbentuk persegi dengan panjang sisi sekitar 10 meter. Ruangan itu nyaris kosong hanya ada dua buah kursi dan sebuah meja dibagian tengah.


“Apa-apaan ini, kenapa hanya ada ruangan kosong?” Eter sebenarnya ingin berkata kasar namun dia tahan.


Arsa tidak menanggapi perkataan Eter, dia malah menujuk kusi sofa di tengah ruangan.“Coba kamu duduk di atas kursi itu.”


Eter langsung menatap Arsa aneh. Dia diam memikirkan apa yang akan terjadi. Beberapa detik kemudian Eter menuruti kata kakeknya, dia memiliki firasat baik akan hal ini.


Sementara itu, Arsa duduk di kursi lain yang menghadap ke sebuah meja berwarna putih. Bisa dibilang meja itu seperti meja kantoran biasa berbentuk oval dan memiliki satu kaki di bagian tengah bawah meja.


Arsa menyentuh meja putih itu dan memunculkan sebuah layar hologram besar. Dia mulai menggeser geser layar dengan gerakan tangannya. Beberapa saat kemudian ruangan yang semula putih kini berubah warna menjadi hitam.

__ADS_1


“Eter sebaiknya kamu memperhatikan apa yang akan kakek tayangkan.”


“Menarik, untuk sebuah ruang bawah tanah hehehe.” Eter terkekeh.


Seketika ruangan hitam itu memunculkan proyeksi 3D disemua bagian. Proyeksi itu membuat siapapun yang berada di dalam ruangan akan seperti masuk ke dalam proyeksi yang ditampilkan.


Mulut Eter membuka, baru pertama kali dia melihat hal seperti ini. Selang beberapa detik Eter tersadar dari keterkejutannya. Dia mulai mengamati proyeksi 3D disekitarnya. Proyeksi tersebut memperlihatkan pemandangan sebuah kota kumuh penuh polusi disegala penjuru.


Proyeksi 3D itu terus berjalan sampai menggambarkan hampir seluruh isi kota. Kota yang penuh dengan motor dan mobil yang saling berdesak di jalanan, air sungai yang penuh kotoran, dan sampah yang menggunung di semua titik kota.


Tidak sampai disitu proyeksi 3D juga mulai menggambarkan kondisi planet Bumi. Kebakaran hutan, sampah plastik di lautan, asap pabrik yang menghitam, dan kekeringan yang menghancurkan. Semua hal itu membuat siapapun orang di zaman ini akan tercengang tidak percaya.


“Bumi yang kau lihat ini merupakan Bumi 25.000 tahun yang lalu. Ketika itu pencemaran ada disegala aspek mulai dari udara, air, tanah bahkan sampai ruang angkasa. Ketika hal ini semakin buruk sebuah asteroid jatuh ke Bumi tepatnya dikota yang sekarang kau lihat.” Arsa mulai menjelaskan.


Proyeksi 3D itu memperlihatkan asteroid yang memasuki atmosfer dan mengeluarkan ekor api besar di belakangnya. Hanya dalam beberapa menit asteroid itu sudah berada diatas kota. Tidak ada yang bisa mencegah asteroid untuk menghantam Bumi. Hantamannya menimbulkan suara yang teramat dahsyat dengan gelombang kejut yang mencapai radius 1000 km.


Awan jamur membumbung tinggi menembus batasan atmosfer. Tingginya bahkan mencapai angka ratusan kilometer. Awan jamur itu bertahan selama satu minggu lamanya. Membuat siapapun akan bergidik ngeri.


“Jumlah korban pada peristiwa ini terhitung mencapai 200 juta jiwa dan merupakan bencana paling mengerikan sepanjang peradaban manusia. Tapi Eter apa kau pasti tahu dibalik sebuah bencana ada hikmah yang mengikutinya.” Wajah Arsa tampak serius saat menjelaskan peristiwa itu.


Proyeksi 3D berlanjut, memperlihatkan seorang pemuda berumur sekitar 25 tahun sedang berada di sekitar lokasi jatuhnya asteroid. Pemuda tersebut menaiki helikopter bersama dengan beberapa orang yang kelihatannya saling mengenal. Mereka menuju pusat dari ledakan yang bebentuk kawah dengan diameter 30 km. Dibagian pusat kawah terlihat sebuah batu sebesar lapangan sepak bola.


Proyeksi 3D kembali berjalan kali ini menayangkan pemuda tadi turun dari helikopter mendekati batu hijau ditengah kawah. Setelah pemuda berada di samping batu hijau dia menempelkan tangannya dan seketika batu itu seperti mengalirkan energi hijau ke tubuh pemuda.


Energi hijau yang mengalir juga memancarkan cahaya yang amat menyilaukan. Sampai akhirnya cahaya itu redup dan pemuda yang tadi menyentuh batu hijau pingsan di sampingnya. Beberapa orang menolongnya dan membawanya masuk ke dalam helikopter.


“Eter inilah awal dari kekuatan aldefos.” Arsa memberikan penjelasn ke kejadian barusan.


Proyeksi 3D itu berlanjut, kali ini menayangkan pemuda yang menyentuh batu hijau siuman dari pingsan di sebuah ruangan mirip ruangan rumah sakit. Proyeksi 3D melompat ke kejadian lain, kali ini menayangkan pemuda yang sama berada di sebuah ruangan besar terlihat dibagian dinding ada sebuah ruangan lain yang dindingnya terbuat dari kaca. Dalam ruangan tersebut terlihat beberapa orang yang mengenakan jas lab.

__ADS_1


Pemuda yang sama berdiri di tengah ruangan dan dia mulai melakukan berbagai gerakan yang Eter tidak tau gerakan apa itu. Gerakannya seperti gerakan bela diri tapi juga seperti tarian. Pemuda itu mulai melakukan gerakan seperti orang yang sedang memukul udara kosong menggunakan tangan kanannya dan seketika dari tangan pemuda keluar semburan api besar.


Belum padam api di tangan kanannya pemuda mengibaskan tangan kirinya dan keluar air yang kemudian berubah menjadi es. Setelah habis es dan api di tangannya, sang pemuda seketika menghilang dari pandangan semua orang dan keluar di bagian atas ruangan selama kurang dari 1 detik dan menghilang lagi. Satu detik kemudian pemuda itu keluar di pojok bawah ruangan


“Bagaimana bisa manusia bergerak seperti itu?” Eter bertanya, matanya terkunci menonton atraksi pemuda yang mulai terbang di ruangan.


“Ini adalah aldefos. Sebuah kekuatan yang dihasilkan dari mutasi sel dalam tubuh manusia. Dan orang yang kamu lihat ini adalah manusia pertama pemilik aldefos.”


“Orang pertama, apakah dia adalah-”


“Ya, dialah Zero. Pahlawan aldefos pertama yang sering kalian dengar kisahnya ketika hendak tidur. Tidak ada yang tau nama aslinya karena dia menutupi identitas.”


Arsa juga menjelaskan bahwa batu hijau yang dia sentuh telah memutasi susunan genetik selnya. Sel yang seharusnya menghasilkan energi untuk aktifitas sehari-hari kini berubah menjadi sel yang juga bisa memproduksi energi aldefos.


Energi aldefos ini bisa diubah manusia ke elemen alam buatan. Namun elemen alam yang dibuat dari energi aldefos tidak bisa bertahan lama. Tetapi pada tahap yang lebih tinggi para pengguna kekuatan aldefos juga bisa mengendalikan elemen alam yang berada disekitarnya.


Arsa menjelaskan bahwa semua orang mampu mengendalikan kekuatan aldefos. Akan tetapi tidak semua sel manusia bisa memproduksi energi aldefos. Tergantung dengan latihan dan genetiknya. Sel penghasil energi aldefos ini bisa ditingkatkan jumlahnya dengan terus berlatih dan juga memahami unsur alam yang ingin dikuasainya. Dia juga menjelaskan para pengguna aldefos untuk pertarungan disebut sebagai aefis.


“Mungkin sampai sini saja kakek ceritakan. Kau harus pulang Eter pasti ibumu menunggumu.” Kakek mematikan proyeksi 3D. Membuat ruangan berubah warna kembali menjadi putih.


“Tapi kek aku masih penasaran.”


“Tidak Eter, terburu-buru itu juga tidak baik lebih baik sedikit demi sedikit dalam memahami berbagai hal.”


Eter tidak menolaknya tapi dalam pikirannya masih ada berbagai hal yang mengganjal pikirannya. “Baiklah. Tapi kek, sebelum aku pulang ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan.”


_____________


Terima kasih karena sudah membaca novel ini walaupun masih ada kekurangan dalam novel ini. Saya sangat mengharapkan kehadiran kalian lagi di bab-bab berikutnya. Saya juga sangat mengharapkan kritk dan saran untuk lebih mengembangkan novel ini menjadi lebih baik, jadi silahkan bubuhkan kritik kalian di kolom komentar.

__ADS_1


Terima Kasih


____________


__ADS_2