
Sementara itu, keesokan harinya kelima bersaudara tersebut berkumpul guna membicarakan kemana invasi mereka.
“hmm, lawan kita kali ini tidak ada yang lemah kakakku, antara Aliansi dan ketiga Negara yang masing-masing terkenal dengan kekuatan militer mereka yang bahkan setara dengan Aliansi.” Ujar Hari
“kau benar, saudara Hari. Kita di hadapkan dengan pilihan yang sulit kali ini, kekuatan tempur kita saat ini setara dengan aliansi, dan juga ketiga negara besar lainnya. Jika menyerang aliansi aku khawatir dengan serangan ketiga negara besar lainnya, dan sebaliknya.” Ujar Balinda sembari berpikir keras dengan mengerutkan inidahinya.
Dibalik kebuntuan mereka, datang pembawa pesan yang membawa pesan dari mata-mata yang dikirim ke aliansi.
“lapor kaisar. Hamba membawa pesan dari mata-mata kita di aliansi.” Ujar sang pembawa pesan sembari membungkukkan badannya.
Balinda pun berdiri dan menyambut pembawa pesan tersebut dan berkata. “ silahkan beritahu kami amanat yang diserahkan padamu, saudaraku.”
“para raja kerajaan yang mendirikan aliansi melakukan pertemuan kemarin. Dan hasilnya adalah pemberian nama Aliansi mereka dengan nama aliansi MALCUMO, serta diputuskannya bahwa mereka akan meminta kerajaan DORUMO untuk bergabung dengan mereka, baik secara halus maupun dengan perang.” Ujar si pembawa pesan, setelah menyampaikan pesan, dia pamit undur diri.
“ hmm ini adalah hal yang bagus kakakku, jika aliansi MALCUMO dan kerajaan DORUMO berperang maka kita akan diuntungkan. Serta kita dapat melakukan invasi ke daerah BADRATI, yang berposisi antara BROMOSI dan bekas wilayah PASTIKA. Jika kita dapat merebut wilayah ini, kits akan dapat bergerak sedikit bebas kedepannya.” Ujar Sarpa
Menanggapi ide cemerlang sang adik, balinda pun berkata. “ ya aku setuju. Jadi kita hanya harus mempersiapkan tentara, dan bersiap menyerang BADRATI kapan pun saat aliansi mulai berperang dengan DORUMO.”
“ hahah, ide bagus Sarpa. Selain posisi BADRATI yang penting untuk kita, kita juga bisa menyerang mereka dari dua arah. Benarkan.” Ujar Hari sembari tertawa senang.
“iya benar sekali, kakak. Lebih baik kita langsung mengirim pesan ke daerah bekas kerajaan BROMOSI. Untuk bersiap kapan pun untuk menyerang BADRATI.” Ujar Sarpa menanggapi perkataan Hari.
“ tapi kenapa ini terdengar mencurigakan kakak, para orang aliansi sepertinya menyiapkan jebakan kepada kita.” Ujar Andaka dengan muka serius.
“iya, jika aliansi sudah tahu, bahwa BROMOSI dan HUTOYA telah bergabung dengan kita. Maka mereka pasti tidak akan membuka peluang sebesar ini pada kita. Maka dari itu kita harus menunggu mereka benar-benar berperang dengan DUROMA. Baru kita bisa melancarkan serangan. Dan itu semua tergantung juga dengan keamanan berita bergabungnya BROMOSI dan HUTOYA dengan kita.” Jelas Sarpa.
“kalau untuk hal itu, yang mengetahui hal ini hanya rakyat kita dan raja BROMOSI dan HUTOYA serta beberapa pengawal yang mereka bawa kesini. Aku sudah berbicara dengan raja Brodi dan Humari dan mereka berani menjamin keamanan informasi ini.” Ujar Balinda.
“hmmm, baiklah jika kakak Balinda berkata begitu.” Ujar Sarpa. Mereka pun menghabiskan hari itu dengan membicarakan persiapan-persiapan yang akan di ambil sebelum menyerang kerajaan DUROMA.
Waktu satu minggu telah berlalu, hampir seluruh persiapan perang sudah siap. Dan hari ini adalah hari pengangkatan keempat saudara Balinda sebagai Jenderal perang kekaisaran JALU.
Hari itu adalah hari yang sangat cerah dan dipenuhi rasa gembira dari para rakyat Kekaisaran JALU. Para rakyat merasa sangat senang dengan penobatan keempat saudara kaisar mereka sebagai jenderal besar yang pertama kekaisaran JALU.
Hari itu di istana kekaisaran JALU, halaman istana tersebut dipenuhi oleh rakyat-rakyat yang datang untuk menjadi saksi sumpah serta penobatan jenderal besar mereka.
Di atas mereka, tepat di sebuah altar. Berdiri seorang yang berdiri tegak dengan lantang berkata. “ Sebelumnya aku ingin mengucapkan kepada kalian, rakyat kekaisaran JALU, yang telah menyisihkan waktu kalian untuk menjadi saksi pengangkatan Jenderal besar kita yang pertama pada sejarah kekaisaran kita yang tercinta ini.”
“suatu kehormatan bagi kami, yang mulia kaisar.” Seru rakyat yang berada disitu.
Kaisar Balinda yang mendengar hal itu , tak kuasa menahan air mata karena rasa haru sekaligus bahagia. “ suatu kebahagiaan bagiku mempunyai pengikut seperti kalian. Kuharap aku dapat membuat Kekaisaran Jalu lebih sejahtera lagi.” Ujar Balinda sembari menangis, diikuti dengan air mata orang-orang yang hadir.
“ hari ini kita semua akan menjadi saksi penobatan Jenderal besar kita, kepada Hari, Hasti, Sarpa, dan Andaka.” Ujar balinda dengan lantangnya. “ kemarilah, saudara-saudaraku.” Lanjutnya.
Keempat orang tersebut pun naik ke altar, dan segera membungkuk kepada sang kaisar.
“atas jasa, kalian yang telah membantu, serta memimpin pasukan dari awal hingga terbentuknya kekaisaran JALU yang tercinta ini.” Ujar balinda.
Ia pun mengambil senjata hari dan menyerahkannya kepada hari yang sedang membungkuk. Serata berkata. “Aku Balinda selaku kaisar kekaisaran JALU. Menganugerahkan pada Hari. Gelar Jenderal besar dari Kekaisaran JALU, dengan julukan Hari sang Jenderal singa yang gagah perkasa dari kekaisaran JALU kepadamu.”
Hari pun menerima senjata yang diberikan kepadanya dan bersumpah. “ saya Hari, bersumpah setia pada Kekaisaran JALU, dan siap menyerahkan hidup saya untuk memimpin pasukan menuju medan perang maupun melindungi kekaisaran JALU.”
Hari pun di berdirikan oleh sang kaisar, dan langsung menuju ke samping kaisar.
“ selanjutnya. Aku Balinda selaku kaisar Kekaisaran JALU. Menganugerahkan pada Hasti. Gelar Jenderal besar dari Kekaisaran JALU, dengan julukan Hasti sang Jenderal Gajah yang kokoh dari kekaisaran JALU kepadamu.” Ujar Balinda sembari Golok Cedar milik Hasti kepada Hasti yang tengah membungkuk.
“Saya Hasti bersumpah dengan seluruh jiwa raga, akan berusaha semaksimal yang hamba bisa. Untuk membawa Kekaisaran Jalu pada masa jayanya.” Sumpah Hasti sembari menerima senjatanya. Dia pun segera didirikan dan berdiri menuju samping Kaisar.
“selanjutnya. Aku Balinda selaku kaisar Kekaisaran JALU. Menganugerahkan pada Sarpa. Gelar Jenderal besar dari Kekaisaran JALU, dengan julukan Sarpa sang Jenderal ular yang Cerdik serta sang ahli strategi dari kekaisaran JALU kepadamu.” Ujar Balinda sembari Pedang Jitaksara milik Sarpa kepada Sarpa yang tengah membungkuk.
“ saya Sarpa bersumpah setia sehidup semati kepada kekaisaran JALU. Serta akan mengerahkan segenap jiwa dan raga untuk membawa Kekaisaran JALU ke masa yang lebih baik.” Sumpah Hasti sembari menerima senjatanya. Dia pun segera didirikan dan berdiri menuju samping Kaisar.
“ dan yang terakhir. Aku Balinda selaku kaisar Kekaisaran JALU. Menganugerahkan pada Andaka. Gelar Jenderal besar dari Kekaisaran JALU, dengan julukan Andaka sang Jenderal Banteng yang gagah berani dari kekaisaran JALU kepadamu.” Ujar Balinda sembari Panah Katara milik Andaka kepada Andaka yang tengah membungkuk.
“Saya Andaka bersumpah, menyerahkan hidup saya. Untuk kemajuan serta kesejahteraan kekaisaran JALU.” Sumpah Hasti sembari menerima senjatanya. Dia pun segera didirikan dan berdiri menuju samping Kaisar.
Tepuk tangan serta sorakan pun memenuhi seisi istana. Sang kaisar Balinda pun mengambil senjatanya pedang kembar Conary, sembari berteriak. “ hidup kekaisaran JALU.”
Hal itu pun diikuti oleh keempat saudaranya yang lain. Dan diikuti seruan seluruh rakyat disana.
Setelah pelantikan keempat jenderal besar. Kekaisaran JALU pun melanjutkan persiapan mereka.
Waktu sebulan telah terlewati, dan pada malam hari datang seorang pembawa pesan.
“lapor yang mulia kaisar, hamba mendapat pesan dari mata-mata kita bahwa besok aliansi MALCUMO esok pagi akan melancarkan serangan DUROMA, Hal ini disebabkan penolakan untuk bergabung dengan aliansi dari kerajaan DUROMA.” Ujar pembawa pesan tersebut.
Balinda yang bersiap untuk tidur, setelah mendengar hal itu segera menuju ke kamar sarpa.
Sesampainya di depan pintu rumah kamar Sarpa, balinda mengetuk pintu sembari berkata. “ saudaraku, aku ada kabar baik, cepatlah buka pintu kamarmu.”
Sarpa pun membuka pintu sembari berkata. “ masuklah kakakku, kita bicara di dalam.” Mereka pun masuk ke kamar Sarpa.
“maaf sebelumnya jika mengganggu waktu istirahatmu.” Ujar balinda.
“tidak apa. Aku kebetulan tadi sedang bersantai saja.” Jawab Sarpa. “baiklah, kakak tadi berkata ada kabar gembira, apakah kabar itu?,, atau jangan-jangan kakak jatuh cinta dengan seorang gadis ya?.” Tanya Sarpa dengan sedikit bercanda.
“kau ini, kamu kan tahu kalau kita sepakat bahwa tidak akan jatuh cinta atau semacannya, sebelum kita mencapai tujuan kita.” Jawab Balinda.
“hahahaha, kalau bukan itu lalu kabar apa?.” Tanya Sarpa.
“tadi pembawa pesan datang padaku, dia membawa kabar bahwa besok aliansu MALCUMO akan menyerang DUROMA.” Jawab Balinda.
__ADS_1
“benarkah?, kalau begitu kita harus segera menghubungi pemimpin wilayah BROMOSI, dan dapat menyerang secara bersama ke arah BADRATI dari dua arah.” Cetus Sarpa.
“baiklah, aku akan mengirim pesan ke wilayah BROMOSI, dan kamu akan mengabari saudara kita yang lain. Bagaimana?.” Ujar Balinda.
“baiklah.” Jawab Sarpa. Mereka pun berpisah dan melakukan tugas masing-masing.
Malam pun berlalu dengan penyiapan pasukan kekaisaran JALU. Setalah menerima surat dari sang kaisar, Brodi selaku pemimpin wilayah Cabang Bromosi pun menyiapkan segera menyiapkan pasukannya.
Keesokan harinya tepat matahari terbit, pasukan aliansi MALCUMO pun berangkat ke arah kerajaan DUROMA. Kabar ini pun segera sampai ke telinga Balinda.
Setelah dipastikan bahwa Aliansi benar-benar menyerang DUROMA. Balinda pun segera mengirim pesan ke Brodi untuk menyerang kerajaan BADRATI tepat saat Tengah hari.
Balinda pun segera berangkat ke perbatasan dengan membawa serta 200.000 pasukan ditambah dengan pasukan wilayah Bromosi yang dikabarkan membawa serta 100.000 pasukan ke arah BADRATI.
Sementara itu jumlah pasukan total kerajaan BADRATI adalah 400.000 pasukan. Tak heran bahwa BADRATI, berani berdiri sendiri tanpa bergabung ke pihak mana pun.
Sementara itu pasukan Aliansi mengerahkan 500.000 pasukan ke arah DUROMA, sedangkan pihak DURUMA memiliki jumlah pasukan yang sedikit kurang dari total pasukan BADRATI, yaitu 380.000 pasukan.
Saat tengah hari baik pasukan yang dipimpin Balinda maupun pasukan yang dibawa Brodi pun sampai ke perbatasan wilayah BADRATI.
Saat matahari tepat berada di atas kepala. Kedua pemimpin dengan kompak menyerang Daerah BADRATI. 200.000 pasukan yang dibawa balinda dibagi menjadi 5 bersama saudara yang lainnya.
Karena terkejut dengan serangan dadakan musuh, kerajaan BADRATI memanggil mundur seluruh pasukan dan berkumpul ke ibukota BADRATI. Hal ini menyebabkan serangan yang dilancarkan dari kedua arah berhasil menembus dalam ke daerah kerajaan BADRATI.
“sepertinya pihak musuh tak menduga kita akan melakukan serangan, dan sekarang mereka semua panik dan berkumpul di ibukota.” Ujar Sarpa.
“hahaha, benar sekali. Kita bisa masuk sampai sedalam ini dalam sekali dorong, semua itu karena kepanikan pihak BADRATI, dan membuat semua ini menjadi mudah.” Ujar Andaka.
“kirim pesan kepada Brodi, kita akan mengepung ibukota dengan memanfaatkan kepanikan musuh, dan ingat jangan bunuh warga sipil, cukup tangkap yang melawan dan para prajurit musuh yang tersisa.” Seru Balinda kepada bawahannya.
Sementara itu di dalam istana BADRATI, terjadi kepanikan parah yang terjadi pada para pejabat negara.
“ bagaimana ini? Kita tiba-tiba diserang dari dua arah!!.” Seru seorang kasim.
“tenanglah semuanya, tidak gunanya kita panik. Panggil kedua jenderal besar kita kesini, aku ingin mendiskusikan solusi dengan mereka.” Seru raja Badri selaku raja kerajaan BADRATI.
Tak berselang lama datanglah 2 lelaki, dengan tubuh tinggi besar.
“kedua Jenderal menghadap Baginda Raja Badri.” Ucap kedua pria tersebut sembari memberi hormat kepada Raja BADRI.
“kalian Pasti tahu dengan situasi sekarang ini, aku ingin meminta pendapat kalian untuk solusi penyerangan ini.” Ujar raja Badri.
“kita memang diserang dari 2 arah, terlebih lagi kita tak tahu pasti jumlah pasukan musuh. Maka saya sarankan untuk bertahan di ibukota BADRATI untuk sementara.” Ujar salah satu jenderal tersebut.
“hmm, memang sepertinya itulah satu-satunya pilihan kita. Aku setuju dengan perkataan jenderal Nawi, bagaimana pendapatmu jenderal Nadi?.” Ujar raja Badri kepada kedua jenderalnya.
“hamba kira yang dikatakan oleh jenderal Nawi benar paduka raja, dan terlebih lagi di ibukota Badrati ini kita memiliki tembok yang belum pernah tertembus, yaitu tembok Tinggi, sebagai pertahanan kita.” Ujar jenderal Nadi.
“hmm benar juga, baiklah untuk urusan pertahanan kuserahkan pada kalian berdua.” Ujar raja Badri.
Sementara itu, pasukan Balinda pun sampai ke dekat daerah ibukota, dan menunggu kedatangan pasukan Brodi.
Ketika malam tiba, pasukan Brodi pun sampai ke titik temu dengan pasukan balinda.
“yang mulia kaisar, tugas yang telah yang mulia berikan telah selesai.” Ucap Brodi sembari memberi hormat.
“kerja bagus Brodi, berapa jumlah pasukanmu yang tersisa?.” Tanya Balinda.
“sekitar 90.000 pasukan yang mulia.” Jawab Brodi.
“berarti jumlah pasukan kita sekitar 290.000. bagaimana saudaraku Sarpa?.” Tanyq balinda pada Sarpa.
“jika dilihat dari jumlah pasukan, 290.000 melawan 400.000. kita masih kalah dalam jumlah, tapi ada kemungkinan bahwa pihak musuh masih buta dengan jumlah pasukan kita. Menurutku langkah terbaik adalah membagi 2 pasukan yang akan menyerang disiang dan malam hari secara bergantian. Sehingga akan meruntuhkan baik mental maupun tenaga musuh.” Ujar Sarpa.
“tapi adikku, bagaimana cara kita menembus benteng tembok Tinggi. Kita akan kesulitan jika menyerang dengan hanya separuh pasukan.” Tanya hasti.
“sebenarnya, kita tidak perlu terlalu khawatir masalah tembok Tinggi. Dengan keadaan terkepung ini, musuh terisolasi dengan sumber pangan. Kita hanya perlu menjaga tempo sampai mereka kelelahan dan menyerah atau juga saat musuh kelelahan kita dapat dengan mudah mengalahkan mereka.” Jelas Sarpa.
“hmm, kalau begitu. Kita tidak perlu menyerang dengan sungguh-sungguh kan?.” Tanya Andaka.
“kau salah adikku, di strategi ini kita butuh serangan untuk mengurangi jumlah mereka. Karena walaupun dalam keadaan kelelahan, kekalahan jumlah tetaplah berarti, dan itu akan berdampak dengan kerugian kita dan kita akan menjadi sasaran empuk bagi para musuh yang lain.” Jelas Sarpa.
“hmm, kalau begitu. Kita harus memikirkan cara bagaimana agar kita dapat mengurangi jumlah secara signifikan di pihak musuh.” Ujar Balinda.
“benar kakak, karena itu kita akan bergantung pada regu pemanah dan juga adik Andaka.” Sahut Sarpa.
“kenapa aku? Kalau soal adu panah kita dirugikan dalam hal posisi. Karena mereka memanah dari atas, sedangkan kita dari bawah. Itu akan sangat sulit bagi kita.” Protes Andaka.
“kamu benar adikku, tapi keadaan berbeda jika adu panah kita lakukan saat malam. Kita diuntungkan karena musuh akan tidak bisa menentukan lokasi kita saat malam, tetapi sebaliknya kita hanya perlu memanah ke arah ibukota Badrati.” Jelas Sarpa.
“ hmm baiklah, aku setuju dengan rencana ini. Tapi bagaimana dengan serangan siang kita.” Tanya Andaka.
“untuk serangan siang kita serahkan pada kakak Hari dan Hasti. Mereka akan membawa serta seluruh pasukan kecuali regu pemanah dan menyerang hingga matahari terbenam, setelah itu kita serang mereka dengan pasukan regu pemanah saat malam.” Jelas Sarpa.
“baiklah kita akan memulai menyerang sekarang juga. Aku akan menyiapkan padukan pemanah dulu.” Ujar Andaka sembari pergi meninggalkan kemah.
Setelah persiapan siap, Andaka berserta 40.000 pasukan pemanah mulai membentuk formasi. Seluruh pasukan tersebar hingga mengelilingi ibukota Badrati dan mereka akan memanah secara bersamaan.
Ketika satu kali perintah panah turun,40.000 anak panah terbang ke arah ibukota Badrati dari berbagai arah.
Kepanikan pun terjadi di dalam kota. Melihat hal ini Jenderal Nawi dan Nadi pun keluar dari kamar mereka.
__ADS_1
“balas tembakan panah mereka. Walaupun kita dirugikan dalam keadaan gelapnya malam, kita masih dapat mengetahui posisi musuh dari arah tembakan panah mereka.” Perintah Jenderal Nadi.
“maaf jenderal, tapi musuh menembak dari berbagai arah.” Ujar salah seorang bawahan Jenderal Nadi.
Mendengar hal ini jenderal Nadi hanya dapat termenung.
“jenderal Nadi, bagaimana ini. Kita dihujani panah dari berbagai arah.” Cetus jenderal Nawi sembari menghampiri jenderal Nadi.
“hanya istana yang tak tertembus dengan tembakan tanah.” Gumam Jenderal Nawi sembari berpikir.
“ahhh, cepat suruh seluruh prajurit berlindung dalam istana. Panah tak dapat menembus tembok istana yang keras.” Cetus jenderal Nawi.
Para prajurit BADRATI pun memasuki istana untuk berlindung.
Andaka yang tidak sadar bahwa panah-panah yang mereka tembakan sia-sia pun, tetap melanjutkan menembak hingga pagi.
Ketika fajar menyingsing, Jenderal Nawi yang melihat bahwa hujan panah sudah berhenti pun segera memerintahkan pasukan untuk keluar istana.
Sementara itu dipihak Balinda, melakukan seperti yang sudah direncanakan. Setelah hujan panah semalaman suntuk, paginya giliran Hari dan Hasti yang menyerang ke ibukota.
Kedua bersaudara tersebut, menyerang dengan penuh semangat. Mereka membangun tangga untuk sampai ke atas benteng tembok Tinggi.
Peperangan berlangsung imbang, Sarpa melihat hal itu bingung.
“hm, bagaimana mungkin setelah dihujani panah semalaman mereka masih memiliki tenaga untuk mengimbangi pasukan kami?.” Gumam Sarpa.
Melihat ada yang janggal, Sarpa pun meminta salah satu bawahannya untuk melihat keadaan Ibukota Badrati. Tak lama setelah bawahannya berangkat, Hari dan Hasti beserta pasukannya pun kembali untuk istirahat tengah Hari. Tak berselang lama bawahan Sarpa yang ia kirim melihat situasi Ibukota pun kembali.
“lapor tuanku, keadaan kota dipenuhi dengan panah yang menancap dimana-mana. Akan tetapi hanya sedikit darah yang terlihat.” Lapor bawahan Sarpa.
“apakah ada tempat yang tidak kena panah atau tak mempan dengan panah?.” Tanya Sarpa.
“seluruh tempat terkena oleh panah tuanku, tetapi hamba melihat ada satu bangunan besar yang tidak tertembus panah.” Jawab bawahan Sarpa.
“hmm, kemungkinan itu adalah Istana, dan sepertinya panah kita tidak dapat menembusnya.” Gumam Sarpa. Setelah beberapa lama berpikir dan tidak menemukan solusinya Sarpa pun memerintahkan bawahannya untuk memanggil Andaka.
Andaka pun tiba dengan wajah agak mengantuk.
“hoaammmmm, ada apa kakak?.” Tanya Andaka dengan wajah lesu.
“maafkan aku adiku, telah mengganggu istirahatmu. Sebenarnya ada hal yang ingin kubicarakan padamu.” Ujar Sarpa.
“apa itu kakak?.” Tanya Andaka.
“melihat adik tampak sangat lelah kita langsung ke intinya saja. Sepertinya semalam serangan panahmu sia-sia, karena pasukan musuh berlindung di dalam istana , yang cukup kuat untuk menahan panah-panahmu.” Jelas Sarpa.
“APA!? Sialan, lalu apa yang harus kita lakukan kakak?.” Tanya Andaka dengan terkejut.
“itulah hal yang ingin kutanyakan padamu, bagaimanapun kaulah yang paling ahli di sini soal panah.” Ujar Sarpa.
Mendengar hal itu raut wajah Andaka berubah menjadi serius dan berkata.” yah, kalau kau tanya aku. Mungkin....” setelah beberapa lama berpikir Andaka pun melanjutkan perkataannya. “ kalau panah biasa tidak mempan, bagaimana kalau kita pakai panah api seperti perang waktu dulu.”
“ ide bagus adiku, selain itu dapat menembus istana, kemungkinan akibat kebakaran yang akan terjadi akan memaksa pasukan musuh keluar dari ibukota. Dan kita dapat menghabisinya di saat itu juga.”
Sementara itu serangan Hari dan Hasti masih dapat di tahan oleh pasukan musuh. Melihat hal ini Sarpa mengisyaratkan pada dua saudaranya untuk mundur dan beristirahat.
Sarpa pun menceritakan tentang perubahan rencana barusan, hal itu disambut dengan rasa senang kedua saudara tersebut.
Ketika malam tiba, Andaka pun menyiapkan panah api seperti yang direncanakan. Serta pasukan Hari dan Hasti yang tengah berisap untuk mencegat pasukan di pintu gerbang Ibukota Badrati.
“ tembak.” Perintah Andaka pada pasukannya. Panah api pun telah menghujani ibukota, dalam sekejap kebakaran besar pun terjadi didalam.
Karena panik, banyak prajurit BADRATI yang tewas terbakar. Melihat hal ini jenderal Nawi dan Nadi pun memerintahkan pasukannya untuk keluar ibukota.
Dalam kebakaran ini sang raja Badri tewas terbakar tanpa ada orang yang sadar, karena semua orang panik dan fokus menyelamatkan diri sendiri.
Tak lama kemudian, jenderal Nawi dan Nadi beserta pasukannya, berhasil keluar dari kobaran api walau hanya sebagian kecil saja yang selamat. Bagai kata pepatah “ keluar kandang macan, masuk kandang singa.”. setelah lolos dari kebakaran, pasukan BADRATI harus dihadang oleh pasukan yang dipimpin Hari dan Hasti.
Melihat keadaan ini mental pasukan BADRATI benar-benar turun. Tetapi berbeda dengan lainnya, jenderal Nadi dan Nawi pun dengan gagah berani maju ke arah pasukan Hari dan Hasti.
“ siapa pemimpin pasukan ini?, keluarlah. Aku jenderal nadi beserta saudaraku jenderal Nawi menantang pemimpin pasukan ini berduel.” Teriak jenderal Nadi.
Mendengar hal ini, Hari dan Hasti dengan kompak keluar seraya berkata. “ aku Hari dan Hasti adalah pemimpin pasukan ini. Menerima tantanganmu.”
“hahah, tak aku sangka bahwa jenderal Singa dan Gajahlah yang akan menjadi musuh kami.” Ujar jenderal Nawi.
“ mari selesaikan ini.” Cetus hari.
“ Hari sang jenderal Singa. Aku Nadi jenderal besar BADRATI yang akan menjadi lawanmu.” Tantang nadi.
Petarungan pun terjadi, Jenderal Nadi melawan Hari, dan jenderal Nawi melawan Hasti.
Petarungan terjadi sangat sengit. Hampir lebih dari 200 jurus mereka berempat beradu. Melihat pemimpinnya bertarung, pasukan BADRATI yang tadi mau menyerah, semangat mereka bangkit dan maju melawan pasukan Hasti dan Hari.
Tak seperti duel yang terjadi, peperangan antar kedua pasukan berjalan timpang. Walau dipenuhi dengan semangat tinggi, pasukan BADRATI tak bisa memberikan perlawanan yang berarti.
Sekarang tinggal duel antar jenderal yang sedang berlangsung. Keempat orang tersebut masih bertarung seimbang serta sudah bertukar jurus lebih dari 300 .
Setelah sekian lama, akhirnya hari berhasil memenggal kepala jenderal Nadi dengan senjatanya. Tak berselang lama, Hasti menyusul dan memenggal kepala Jenderal Nawi.
Melihat hal ini seluruh pasukan Balinda pun teriak senang. Dan segera memadamkan api ibukota Badrati, sembari mencari Raja Badri. Selah mencari semalam akhirnya mereka dapat menemukan jasad dari Raja Badri yang hangus terbakar.
__ADS_1
Setelah mendapatkan kemenangan yang cukup berat, pasukan kekaisaran JALU langsung menyiapkan segala keperluan kekuasaan dan itu memakan waktu 1 bulan lebih.
Sementara itu di pertempuran antara Aliansi MALCUMO melawan kerajaan DORUMO dimenangkan oleh pihak aliansi, tentu saja kabar ini sudah menyebar dan begitu pula kabar kemenangan kekaisaran JALU atas BADRATI.