Nga

Nga
Halangan


__ADS_3

setelah 15 hari mengarungi laut, akhirnya terlihat sebuah pulau yang terdapat sebuah bangunan besar yang menyeramkan.


"itu, di sana. itu dia pulaunya, disana ada daerah bernama Castilla." Seru Vampire Xiao, sembari menunjuk-nunjuk pulau tersebut.


"baiklah. semua waspada." Seru Dewi Penyihir Caroline.


mereka pun menepi kepinggiran pulau.


"hmm, lumayan luas juga pulau ini." ujar Jenderal Hasti.


"iya, di sini tak hanya tinggal kaumku, tapi ada juga bangsa manusia." Ujar Vampire Xiao.


"apa? bagaimana mungkin, vampire dan bangsa manusia bisa hidup bersama?." tanya Dewi Penyihir Caroline.


"yah, manusia di sini adalah manusia yang kami culik dan kami biarkan hidup untuk jadi seperti ternak kami. setiap bulan mereka harus memberika 2 gentong darah, sebagai persembahan." Jelas Vampire Xiao.


"hmm, begitu rupanya. cepat tuntun kami ke desa manusia dulu." Seru Jenderal Hari.


Vampire Xiao pun memimpin jalan menuju pedesaan Manusia disana.


setelah tak beberapa lama masuk pulau. terlihat desa yang amat sangat terbelakang.


"hmm, ini desanya. hei Xiao, apakah disini ada semacam ketua desanya?." Tanya Jenderal Hasti.


"iya, itu disana adalah ketua desanya." Ujar Vampir Xiao, sembari menunjuk kesebuah rumah yang terlihat cukup mewah jika dibandingkan rumah yang lainnya.


Mereka pun menuju ke rumah itu.


"permisi!." Ujar Jenderal Hasti dengan sopan.


setelah dipanggil tiga kali, tak ada yang menjawab.


"langsung masuk saja, mungkin dia sedang tidur." Saran Vampire Xiao.


"hmm, siang-siang begini tidur?." Tanya Dewi Penyihir Caroline dengan rasa curiga.


"ketua desa memang tugasnya malam jika disini. saya berkata benar, tidak berani bohong." Ujar Vampire Xiao.

__ADS_1


"Baiklah kita masuk saja." Seru Jenderal Hari sembari membuka pintu rumah.


"hmm tidak ada apa-apa, ayo masuk." Seru Jenderal Hari pada yang lainnya


mereka semua pun masuk ke rumah tersebut. didalam terlihat ada seorang pria yang sedang bersantai di kursi.


"permisi..." ucap Jenderal Hasti.


"hmm, ada tamu tak diundang ternyata." ujar Pria dikursi tersebut.


"maaf jika menganggu, nama saya Caroline dan ini teman-teman saya, yang di kanan Hari,hasti,Andaka, william dan xiao." Ujar Dewi Penyihir Caroline dengan sopan.


"ho ho ho. jadi xiao ya. vampire sampah, memang selamanya jadi sampah. disuruh mengawasi manusia saja, malah tertangkap dan membocorkan informasi pada mereka. kamu bawa mereka kesini untuk minta tolong padaku kah? ha ha ha, dasar sampah tetaplah Sampah." ujar Pria tersebut Sambil berdiri dari kursinya.


"dia, vampire!. bersiap semuanya." Seru Dewi Penyihir Caroline.


"sial, berani sekali kamu menipuku. Xiao." ujar Hari.


"maaf, aku sungguh-sungguh tak tahu bahwa disini sudah ditempati oleh tuan Corner." Ujar Vampire Xiao membela diri.


"hei-hei-hei. boleh juga nyali kalian, mengabaikan aku. HUKUMAN MATI." ujar Vampire Corner.


Vampire Corner pun menerjang Jenderal Hasti.


sempat terpental mundur beberapa langkah, tapi Jenderal Hasti masih bisa menghentikannya.


duel sengit pun terjadi Antara Hasti dan Corner sang Vampire.


setelah lebih dari 300 gerakan. Jenderal Hasti terlihat kewalahan.


"Jenderal Hasti Biar kubantu." Seru Raja William. ketika ingin pergi membantu, raja william dihentikan oleg Jenderal Hari.


"muridku, lihatlah dan ambilah perlajaran dari pertarungan ini." Ujar Jenderal Hari Sembari menarik tangan Raja william.


" tapi guru....", ujar Raja william, tapi dipotong oleh Jenderal Hari


"tenang, percayalah pada adikku." ujar Jenderal Hari.

__ADS_1


"benar, william. kamu masih awam jadi tak tahu. coba kamu lihat dengan seksama, serangan kak Hasti lebih tajam dari serangan Lawan." Sahut Jenderal Andaka.


benar saja, Tak beberapa lama Jenderal Hasti berhasil menusuk tepat di jangtung vampire tersebut.


"Arghhh, apa ini? perak? arghhhh. tidak mungkin aku kalah oleh manusia." Cetus Vampire Corner dan menjadi kata terakhir dalam hidupnya.


Tubuh Vampire Corner tersebut berbuah menjadi debu dalam sekejap mata.


"ha... ha .... ha.... sial, lumayan kuat juga dia." Ujar Jenderal Hasti.


"ha ha ha ha. kamu berhasil kak, selamat." ujar Jenderal Andaka.


tanpa mereka sadari, mereka sudah dikeliling oleh warga sekitar.


"wow lihat, orang itu mengalahkan Vampire." Ujar seorang dari mereka.


"tuan. tolong selamatkan kami, kami dipaksa menyerahkan darah manusia setiap bulannya. tolong selamatkan kami." Pinta seorang dari desa itu sembari memegang kaki Jenderal Hasti.


"tolong kami tuan." mohon seluruh desa sambil bersujud.


"bangunlah, adakah salah satu dari kalian yang bisa menjelaskan apa yang terjadi." Ujar Jenderal Hasti.


"bisa-bisa!." ujar seorang pria.


" apakah ini satu-satunya desa manusia yang ada disini?." Tanya Dewi penyihir Caroline.


"benar nona." Ujar Seorang pria tadi.


"hmm. apakah kamu tahu tempat noblese?.apakah dia tinggal dikastil itu?" tanya Dewi penyihir Caroline sambil menunjuk kastil di atas gunung.


"saya tak tahu pastinya. tapi yang kami sering melihat para Vampire pergi kesitu." ujar Seorang pria tadi.


"haahhhh. baiklah, kalian tunggu di sini. kami akan kesana dan membunuh si noblese itu. lalu setelah itu kalian bebas mau memilih ikut atau pun tinggal ." Ujar Jenderal Andaka.


"baiklah. terima kasih ata informasinya, kami pergi dulu." Ujar Dewi Penyihir Caroline.


Jenderal Hari dan teman-temannya pun berangkat ke kastil misterius itu.

__ADS_1


__ADS_2