
Waktu 5 bulan pun sudah habis, saat yang dinanti pun tiba. Hal ini ditandai kabar keberangkatan pasukan penuh Aliansi MALCUMO menuju ke HUTOYA. Menerima kabar ini Balinda dan keempat saudaranya memimpin seluruh pasukan mereka untuk menghancurkan pasukan Aliansi dari belakang.
Setelah menempuh waktu 4 hari perjalanan, pasukan aliansi pun sampai ke perbatasan HUTOYA. Melihat jumlah pasukan aliansi yang begitu banyak, mental pasukan pertahanan pun turun, menyadari hal ini Humari pun berdiri di atas benteng pertahanan dan berkata. “hari ini, kita akan menghadapi musuh yang kuat, dan unggul jauh dalam hal jumlah. Memang kita tidak mungkin menang menghadapi hal ini.”
Mendengar hal itu mental pasukan HUTOYA pun makin turun, dan tiba-tiba Humari kembali berkata. “benar sekali, kita tidak mungkin menang jika masih berdiri sebagai kerajaan HUTOYA. Tapi saat ini kita berdiri sebagai bagian Dari kekaisaran JALU, dan kita tidak mengincar kemenangan. Kita hanya harus bertahan sebaik mungkin sampai bantuan dari Kaisar Balinda tiba, dan untuk hanya bertahan sementara waktu adalah hal yang mudah. Apalagi dengan posisi kita yang dilindungi oleh benteng yang kokoh ini. Dan jika benteng ini tembus aku akan menghentikan mereka dengan pedangku, jika pedangku patah, aku akan menghentikan mereka dengan tinjuku, jika tanganku putus maka aku akan menghentikan mereka dengan tendanganku, jika kakiku patah maka aku akan menghentikan mereka dengan gigitan dan sundulanku, jika kepalaku ditebas maka aku akan menghalangi laju mereka dengan mayatku. Aku akan melakukan apa pun untuk menahan mereka, karena perang ini bukan untukku sendiri, tetapi untuk anak cucuku kelak, aku tak ingin mereka hidup dalam keadaan seperti saat ini. Aku ingin anak cucuku hidup dengan damai dan sejahtera, di bawah kepemimpinan kekaisaran JALU.”
Isak tangis mewarnai pasukan HUTOYA, setelah mendengar perkataan Humari. Mental mereka pun melambung tinggi.
Sementara itu mendengar teriakan penuh semangat dari dalam Benteng HUTOYA. Para raja sekaligus pemimpin aliansi MALCUMO pun bingung, dan karena kebingungan tersebut, mereka tak berani menyerang dengan kekuatan penuh sekaligus, dan memutuskan untuk mengirim 100.000 pasukan untuk mencoba mendobrak Benteng HUTOYA.
Melihat hal ini Humari memerintahkan kepada pasukan pemanah untuk bersiap di atas benteng. Setelah pasukan aliansi sampai ke jarak tembak, hujan panah pun terjadi, yang berakibatkan terbantainya 100.000 pasukan dalam sekejap.
Melihat hal ini para raja aliansi terkejut. Melihat keterkejutan pihak aliansi, Humari pun memerintahkan pasukan berkuda keluar benteng dan mengambil panah serta jarahan perang.
Melihat hal yang dilakukan pasukan musuh, para raja Aliansi mengirim 50.000 pasukan untuk membunuh pasukan berkuda yang keluar tersebut, tapi sayang mereka tak sempat dan malah terjebak serta dihujani panah oleh pasukan panah yang berada di atas benteng.
Ke 50.000 pasukan pun mundur tetapi banyak dari mereka yang tewas. Melihat kerugian yang dialami, para raja aliansi pun setuju untuk beristirahat dulu sambil memikirkan cara agar dapat menang dengan sedikit korban yang jatuh dipihak mereka dan juga waktu yang sudah mendekati malam.
Para raja aliansi pun memikirkan ini sepanjang malam, sampai akhirnya diputuskan untuk menyerang total saat pagi hari. Sementara itu di belakang tembok benteng HUTOYA, Humari tengah berkeliling melihat kondisi pasukannya.
“ tuan Humari, kapan bantuan dari kaisar datang?.” Ujar salah satu prajurit.
__ADS_1
“jika melihat jarak dan waktu keberangkatan. Mereka akan tiba esok tepat siang hari.” Jawab Humari. “kita hanya harus bertahan sampai tengah haru esok.” Lanjut Humari.
Sementara itu, pasukan Balinda yang sedang dalam perjalanan. Tetap lanjut tanpa istirahat, mereka melaju lurus ke wilayah HUTOYA dan melewati wilayah aliansi tanpa ada kendala, hanya beberapa prajurit yang bertugas menjaga daerah prajurit.
“hahahah, sepertinya rencana kita berhasil, pasukan aliansi hanya meninggalkan beberapa prajurit untuk berjaga.” Cetus Andaka sambil memacu kudanya.
“hahah, benar sekali adiku Andaka. Jika begini kita akan sampai medan pertempuran sebelum tengah hari.” Sahut Hari.
“ tetap fokus saudara-saudaraku, kita harus secepatnya sampai ke HUTOYA. Sebelum pasukan kita yang di sana mengalami banyak korban.” Ujar Balinda. Mereka beserta pasukannya pun memacu kudanya semakin kencang.
Keesokan harinya seperti yang direncanakan pihak aliansi, mereka menyerang total pasukan musuh. Menghadapi hal ini, strategi HUTOYA gagal. Walau banyak panah yang dilepaskan, pasukan aliansi tetap bisa sampai ke benteng mereka dan mendirikan tangga. Pertempuran pun terjadi di atas benteng.
Di tengah pertempuran ada sesosok pria dengan badan penuh otot, wajah yang garang. Dia mengobrak-ngabrik pasukan HUTOYA, gerakannya secepat kilat, ternyata pria itu bernama Luji yang merupakan salah satu jenderal perang aliansi dari kerajaan CUKMI.
“jangan fokus melawan. Cukup fokus hancurkan kunci gerbang dan buka gerbangnya!.” Teriak Luji pada pasukannya.
Pasukan Luji pun menerjang lurus menuju bagian kunci gerbang benteng tersebut. melihat bahwa Luji terlalu kuat untuk prajurit lainnya.
“Aku Humari, selaku pemimpin daerah HUTOYA. Menantangmu berduel.” Tantang Humari pada Luji.
Mendengar hal ini Luji menjawab. “Aku Luji menerima tantanganmu.” Mereka pun berduel di tengah peperangan, tak ada satu pun orang yang ada di sana yang berani mencampuri duel tersebut.
__ADS_1
Duel mereka berdua berjalan timpang. Luji yang sudah berpengalaman dalam medan perang maupun petarungan, mendominasi Humari yang masih sedikit pengalaman bertarung secara langsung.
Tak terhitung berapa kali Humari terjatuh, dia tetap mencoba berdiri dan melawan. Walau dengan tekad yang bulat, Humari masih bukan tandingan Luji. Tak berselang lama dari duel tersebut, Luji berhasil memotong kedua tangan Humari.
“aku kagum dengan tekadmu, wahai raja Humari. hari ini aku akan biarkan kamu hidup, carilah pengalaman dan tantang aku kalau kamu sudah siap.” Cetus Luji.
“Walau harus mati, tak akan pernah aku menyerah dan mau dikasihani oleh musuh. Aku tak akan biarkan kamu mendekati dan membuka gerbang benteng ini.” Ujar Humari sembari menahan sakit.
Mendengar hal ini, Luji cuek dan maju menuju tempat Kunci gerbang. Akan tetapi dari belakang, Luji diserang oleh Humari dengan tendangan kaki Humari.
“keras kepala sekali kamu, baiklah kalau kamu ingin mati hari ini, akan kubantu.” Ujar Luji dengan kesal
Luji mengangkat badan Humari dan bersiap memenggal kepalanya.
“kamu adalah orang pertama yang pernah kulihat, yang punya tekad begitu gigih. Wahai raja HUTOYA.” Ujarnya sembari menempelkan goloknya ke kepala Humari.
“hahaha, aku pernah melihat orang yang punya tekad dan nyali lebih besar dariku. Sayang sekali kamu tak dapat melihatnya, oh iya aku bukanlah Raja HUTOYA lagi, dan kerajaan HUTOYA telah tiada. Yang kalian lawan ini adalah pasukan Kekaisaran JALU.” Ujar Humari,. Setelah mendengar hal tersebut, Luji bingung dan lengah. Humari pun memanfaatkan hal ini untuk menendang Luji hingga jatuh dari benteng yang sangat tinggi ini.
Melihat apa yang terjadi, pasukan Humari pun menolong tuan mereka dan membawanya ke dalam benteng.
Tak berselang lama dari kematian Luji, pasukan aliansi berhasil membuka gerbang benteng tersebut. Akan tetapi tak lama dari terbukanya gerbang benteng tersebut, pasukan aliansi dikagetkan dengan datangnya pasukan musuh dari belakang mereka, yang berjumlah tak kalah dari jumlah mereka.
__ADS_1