
Pangeran serta keempat orang tersebut masuk ke dalam Istana. Sebelum sampai ke tempat para Kasim Istana, mereka dihadang oleh keenam jenderal yang tadi.
“Cukup sampai di sini, kalian dapat pergi. Karena kami akan memenggal kepala kalian berlima.” Ucap Jenderal Ananta
“hahaha, kebatilan pasti akan runtuh oleh kebaikan, ingat itu sebelum kematianmu.” Ujar Hari.
Pertarungan sengit pun terjadi 6 jenderal korup vs 5 pemuda pemberani. Jenderal Ananta dan jenderal Lalita melawan Hari. Jenderal Darun melawan Hasti, jenderal candra melawan Andaka, Jenderal gama melawan Sarpa dan jenderal Harsa melawan Pangeran Balinda.
Petarungan sengit pun terjadi. Hari cukup kewalahan melawan 2 jenderal yang kenyang akan pengalaman. Jenderal Darun melawan Hasti pun cukup sengit walau pun akhirnya Hasti berhasil memenggal kepala lawannya dan langsung pergi membantu Hari. Tak berselang lama Andaka pun berhasil memenggal kepala candra, dan perlu diketahui walaupun Andaka sangat ahli dalam hal mamanah tetapi dalam hal petarungan jarak dekat dia juga ahli dengan menggunakan pedang pendek.
Setelah memenggal kepala musuh, Andaka langsung menuju ke arah pangeran dan membantunya membunuh jenderal Harsa. Setelah itu petarungan berubah menjadi 3 vs 5. Tak lama berselang petarungan antara jenderal Ananta dan jenderal Lalita melawan Hari dan Hasti pun berakhir. Hari memenggal kepala jenderal Ananta dengan tombaknya dan Hasti memenggal kepala jenderal Lalita dengan pedang besarnya. Tak lama kemudian jenderal Gama mati dengan banyak luka setelah melawan Sarpa, Pangeran Balinda, dan Andaka.
Mereka berlima pun mengambil kepala keenam jenderal tersebut dan menuju ke ruang para kasim yang dijaga oleh 100 pasukan. Sesampainya di pintu masuk ruangan tersebut, mereka melempar kepala ke 6 jenderal.
“ yang menyerah akan diampuni, dan yang melawan akan mati.” Kata Balinda pada 100 pasukan tersebut. Melihat pemimpin mereka telah kalah mereka pun menyerah.
Para kasim pun bersujud untuk memohon ampun. “ ampuni kami Pangeran Balinda, Kami mengaku salah.”. “ siapa yang menanam, dia yang menuai. Kelakuan baik dibalas dengan kebaikan, kelakuan jahat dibalas dengan kejahatan. Yang salah harus dihukum yang benar harus dibela. Semua di dunia ini ada sebab dan akibat, BAWA PARA KASIM KELUAR DAN EKSEKUSI MEREKA.” Ujar pangeran.
__ADS_1
Tiba-tiba Tripta lari keluar, dan dikerja r oleh pangeran balinda serta Hari. Ternyata kasim Tripta menuju kama Pangeran kedua, dan menjadikannya sandra.
“Jangan mendekat, jika tidak aku akan membunuh pangeran Bhanu. Buka jalan, jangan berani macam-macam.” Ancam kasim Tripta.
Melihat hal ini pangeran Balinda, yang memiliki rasa welas kasih yang besar pun, terpaksa membuka jalan dan membiarkan Kasim lewat.
Kasim Tripta pun berjalan keluar dari istana sembari menodongkan pisau keleher pangeran Bhanu, tak ada satu prajurit pun yang berani mencegahnya pergi.
tiba-tiba, Kasim Tripta jatuh dan langsung tewas seketika,akibat serangan panah yang menusuk kepalanya, pangeran Bhanu pun selamat dari maut. Para prajurit terkejut, dan mencari siapa pahlawan yang telah menyelamatkan Pangeran Kedua tersebut. Muncul sosok seorang di lantai atas istana dengan membawa panahnya. Dan ternyata itu adalah Andaka.
Para prajurit pun bertepuk tangan, melihat kehebatan Sang pemburu. Dari jarak sekitar 2 Km dia dapat memanah dengan akurasi yang tinggi dan mematikan.
Kepala mereka digantung di depan gerbang istana. Rakyat begitu senang dengan berakhirnya era para kasim pun, membuat perayaan selama 7 hari 7 malam.
Di dalam istana situasinya pun pecah dengan kegembiraan, terutama 4 orang yang sangat berjasa dan Menolong Pangeran Balinda. Mereka tengah minum- minum bersama Pangeran Balinda di balkon istana
“terima kasih Hari, Hasti, Sarpa, dan Andaka. Aku pangeran Balinda tak akan pernah melupakan kebaikan kalian.” Ucap pangeran Balinda sembari meminum arak
__ADS_1
Sarpa dengan hormat berkata, “sudah menjadi kewajiban kami untuk membantu anda Pangeran.” Pangeran pun tersenyum hormat. Dan menuangkan minuman untuk mereka berempat.
Dalam keadaan setengah mabuk Hari bertanya pada pangeran, “ pangeran apa yang akan ada lakukan setelah ini?.”
Dengan senyum sembari menatap bintang-bintang pangeran pun berkata “untuk pertama yang aku, lakukan adalah menjadi raja, setelah itu menumpas kejahatan dan diskriminasi di kerajaan ini. Dan lalu mensejahterakan rakyat negeriku, dan setelah kesejahteraan rakyat di sini terjamin, barulah aku memperluas kerajaan ini, dan melanjutkan mimpi raja Antar guna menyatukan daratan di bawah satu panji yaitu ADYATMA, dan akan berefek dengan hilangnya perang yang berkepanjangan antar kerajaan di daratan ini selama ini.”
Mendengar hal itu keempat orang itu terasa kagum dengan tujuan sang pangeran. Mereka pun memohon dengan kompak.
“pangeran, izinkan kami berempat menjadi bawahan anda, dan membantu mewujudkan keinginan pangeran.” Kata mereka sembari bersujud.
Mendengar hal ini pangeran segera membangunkan mereka.
“ maafkan aku, aku tak bisa menerima kalian menjadi bawahanku. Kalian sangatlah berjasa besar, dan aku PANGERAN BALINDA MEMINTA KALIAN UNTUK MENJADI SAUDARA ANGKAT KU.” Pangeran Balinda membungkuk sembari memajukan gelas arak ke arah mereka berempat.
“baiklah, kalo sudah begini, mari kita membuat sumpah.” Cloteh Andaka. Sembari mengangkat gelas berisi arak ke atas. Dia pun berkata. “ aku Andaka, bersumpah menjadi saudara, sehidup semati, dalam senang maupun duka, saling membantu walau nyawa taruhannya.”
Hal tersebut diikut oleh ke3 orang serta pangeran. Setelah mereka berlima menyebut sumpah yang sama seperti Andaka.
__ADS_1
“ KAMI BERLIMA BERSUMPAH, SALING MENJAGA, SALING MENOLONG, SALING BERBAGI BAIK SUKA MAUPUN DUKA, HIDUP MATI SELALU BERSAMA. BIAR LANGIT DAN BULAN MENJADI SAKSI, JIKA KAMI MELANGGAR SUMPAH INI HUKUMLAH KAMI SEBERAT APAPUN.” Teriak 5 orang tersebut. Dan secara resmi sekarang mereka menjadi 5 bersaudara. Balinda menjadi kakak tertua, dilanjutkan oleh hari, Hasti, sarpa, dan Andaka yang paling muda. Mereka lahir ditahun yang sama tetapi bulan yang berbeda.
Mereka pun lanjut minum-minum serta bercanda sepanjang malam. Sejak hari itu mereka selalu bersama, baik di istana, di luar istana. Baik saat bangun, maupun tidur, mereka tak pernah terpisah jauh satu sama lain.