
Balinda dan rombongannya pun sampai di pelabuhan Swan, setelah melewati pendataan. mereka berlima serta pangeran William dan Jenderal Josep pun langsung pergi ke tempat perjanjian pertemuan dengan sekutu mereka.
di tengah jalan, mereka bertemu dengan seorang wanita cantik.
"pangeran william, hormat saya sampaikan kepadamu." Cetus wanita cantik jelita ini pada Pangeran William sembari memberi hormat.
"ah, senang bertemu denganmu nona caroline sang penyihir." ujar Pangeran Balinda.
"ahh. kamu suara wanita waktu itu?." Tanya Balinda.
"iya, Kaisar Balinda yang terhormat." Jawab Caroline sang penyihir.
"ehem. ayo pangeran william dan Jenderal Josep, pimpin kami jalannya. biarkan Kaisar Balinda yang tampan ini istirahat." Cetus Andaka.
"hei, aku ikut!." Seru Balinda.
"Kakak Balinda istirahatlah dulu dan jalan-jalan santai dulu. Nyonya penyihir kami titip kakak ku yang tampan ini sebentar ya?." Ujar Ahli Strategi Sarpa sembari berjalan meninggalkan Kaisar Balinda bersama Penyihir Caroline.
Sarpa dan kelompoknya.
"Hei, adik Sarpa. apa kamu yakin kak Balinda akan baik-baik saja?. kita masih belum tau si nyonya penyihir sekutu atau musuh." Ujar Jenderal Hari.
"hmm... kakak Hari dan adik Andaka adalah orang yang paling peka dalam merasakan hawa jahat atau hawa pembunuh. apa kalian berdua tadi merasakan hawa jahat atau pun hawa pembunuh dari Nona Penyihir Caroline?." ujar Sarpa.
"tidak." Seru Jenderal Sarpa dan Jenderal Hari.
"ya,berarti kak Balinda akan aman." Ujar Jenderal Sarpa.
Sementara itu, di tempat Kaisar Balinda. Kaisar Balinda terlihat sedang berjalan-jalan bersama Penyihir Caroline. suasana di sana pun canggung.
"mmm. bagaimana pelayaran mu kaisar." ujar Penyihir Caroline dengan malu-malu.
"lancar, ngomong-ngomong. kenapa kamu melkukan hal yang waktu itu?." Tanya Kaisar Balinda.
"Hmm. sebenarnya awalnya aku hanya ingin mengawasi Pangeran William untuk memastikan keselamatanya. tapi tak kusangka aku malah terpesona dengan kamu, dan jadi tak tahan mau menggodamu." Cetus Penyihir Caroline dengan wajah memerah.
"hahah, berhentilah bercanda." Seru Kaisar Balinda.
__ADS_1
"tidak aku serius. hmm. tentang pertanyaanku yang waktu itu, sebenarnya aku mau tanya apakah kamu sudah ada istri atau permaisuri atau pacar?." ujar Penyihir Caroline.
"belum." Jawab Kaisar Balinda dengan tenang.
"ah. masa orang setampan kamu masih belum punya pasangan?." Tanya Penyihir Caroline dengan wajah merah merona.
"kupikir, belum saatnya bagiku untuk mencari pasangan. aku masih punya mimpi yang harus kucapai." ujar Kaisar Balinda.
"kalo boleh tau, mimpi apa itu?." Tanya Penyihir Caroline.
"mimpiku sekarang, aku ingin menyatukan seluruh negara didunia ini." Ujar Kaisar Balinda.
"wow. sungguh orang yang ambisius." ujar Penyihir Caroline.
"ha ha ha ha. terdengar gila kan?." Tanya Kaisar Balinda.
"tidak kok. malah keren banget kalo menurutku." ujar Penyihir Caroline.
"ha ha ha ha. ngomong-ngomong, kamu itu termasuk sekuty atau musuh." Tanya Pangeran Balinda.
"aku turut berduka atas kematian gurumu." Ujar Kaisar Balinda.
"terima kasih, kaisar." ujar Penyihir Caroline.
"ngomong-ngomong, aku dengar dari pangeran William. Bahwa kamu dan gurumu memisahkan diri dari dunia luar sejak dulu." Ujar Kaisar Balinda.
"hmm. sebenarnya itu tidak benar juga, kami kadang bergaul dengan orang-orang dengan cara menyamar.kami melakukan itu karena takut orang-orang menjadi takut pada kami. kamu tahulah ketika mendengar kata penyihir, orang-orang pasti akan berpikir negatif." Jelas Penyihir Caroline.
" ha ha ha ha. benar juga, dulu aku mengira kamu adalah seorang nenek tua bungkuk dengan wajah buruk rupa. he he he" Cetus Balinda.
"jadi. setelah melihatku, bagaimana pendapatmu?." Tanya Penyihir Caroline.
"mmm. gimana ya?. mmm. yang pasti kamu lebih cantik dari pada penyihir yang kubayangkan . he he he" Canda Kaisar Balinda
"ha ha ha Sialan." Seru Penyihir Caroline dengan senyum malu-malu kucing.
Note: malu-malu tai kucing wk wk wk.
__ADS_1
Mereka pun terus mengobrol sambil berjalan menuju tempat perkumpulan.
Ditempat Berkumpul.
"oh lihat, kakak ipar sudah datang." Ledek Jenderal Andaka. mendengar hal ini, Penyihir Caroline pun tersipu malu.
"hei, jangan dengarkan perkataan adikku Andaka, dia memang sering bercanda." Seru Kaisar Balinda.
"ah, sayang sekali hanya bercanda." ucap penyihir Caroline dengan lirih/pelan.
"apa yang baru kamu katakan?." Tanya Kaisar Karena tidak mendengar dengan Jelas perkataan Penyihir Caroline.
"ah tidak, aku tidak bicara apapun kok." Ngeles sang penyihir Caroline.
"hmm. ngomong-ngomong apa rencana kita selanjutnya." Tanya kaisar Balinda.
"perubahan Rencana,mereka sepertinya sudah mengira akan kedatangan kita dan mengumpulkan seluruh pasukan mereka di istana dengan jumlah 1.500.000 prajurit. yang dipimpin oleh 5 Jenderal, temasuk Roger." ujar Ahli strategi Sarpa.
"Jadi, apa rencanamj adikku?." Tanya Balinda.
"sebelumnya aku telah mengkonfirmasi bahwa penduduk sudah tidak ada didalam istana. jadi kusarankan kita pakai strategi hujan apik." Jelas Ahli Strategi Sarpa.
"apa itu strategi hujan api tuan Sarpa." Ujar Jenderal Josep.
"untuk meminimalisir korban jatuh dari pihak kita. Andaka dan pasukan pemanah akan menghujani istana dengan panah Api di tengah malam. musuh pun akan panik dan berlarian keluar istana, disaat itulah kita semua selain Andaka dan pasukan pemanahnya akan menyergap mereka." Jelas Ahli Strategi Sarpa.
"ah, aku mengerti. sepertu memberi asap kesarang lebah untuk mengambil madu kan?." Cetus Jenderal Josep
" yap, betul sekali." Ujar Ahli strategi Sarpa.
"baiklah, lebih baik kita mulai siap-siap." seru Hari.
"Pangeran, ikutlah dengan Jenderal Hari. Jenderal Hari titip Pangeran ya?." Pinta Jenderal Josep.
"ha ha ha. tenang saja, pangeran ini muridku dia pasti akan baik-baik saja." Ujar Jenderal Hari.
semuanya telah siap di posisi masing-masing.
__ADS_1