
Kabar wafatnya raja Agra dan pemberontakan, para kasim, terdengar sampai ke kerajaan-kerajaan tetangga. Tentu saja mereka tak tinggal diam, mereka mulai menginvasi daerah-daerah kerajaan ADYATMA.
Dari letak geografis kerajaan ADYATMA terletak di ujung selatan di daratan ini, dan bersebelahan dengan 2 kerajaan secara langsung. Yaitu kerajaan MAHOGRA, dan kerajaan PASTIKA.
“lapor yang mulia, kerajaan MAHOGRA dan PASTIKA, melancarkan invasi ke kota Rucita dan kota Sarkara. MAHOGRA menginvasi kota Rucita dengan 5000 pasukan yang dipimpin oleh jendral Taraksa. Dan PASTIKA yang menginvasi daerah Sarkara dengan 2000 pasukan yang dipimpin oleh jenderal Waji.” Laporan dari seorang prajurit pembawa pesan.
“ Menurutmu bagaimana adik? Kita hanya punya 10000 tentara dan kedua kota itu sangatlah penting, karena menjadi pertahanan pertama kerajaan ADYATMA.”
Sarpa pun mengusulkan. “ Kakakku Balinda, lebih baik kita bagi dua pasukan, yang sama jumlahnya. Yang di tugaskan di kota Rucita difokuskan untuk bertahan. Dan untuk kota Sarkara kita fokuskan untuk penyerangan total, guna mengusir pasukan PASTIKA dengan cepat, dan setelah itu membantu pasukan yang berada di Rucita.”
Balinda pun setuju dan memulai usulan Sarpa. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah daratan tersebut, sang raja turun tangan ke medan pertempuran.
Balinda berangkat menuju kota Sarkara dengan memimpin 5000 pasukan , serta didampingi oleh 4 saudaranya.
“Hahahah, ini adalah pertempuran kita pertama , mari kita menangkan dengan telak pertempuran ini.” Ujar Andaka dengan penuh semangat.
“ayoooo. Mari bawa pulang kemenangan.” Teriak Balinda dan diikuti oleh prajurit yang lain.
Sesampainya ke sana mereka melihat kota Sarkara sudah Hampir Terkepung total. “ Kakak Balinda kita bagi pasukan kita menjadi 5 bagian yang masing-masing 1000 prajurit. 4 bagian menyerang Dan mengepung mereka balik dari belakang di setiap arah mata angin, lalu satu lagi bertugas menjadi Support . sementara itu jika salah satu dari kita bertemu dengan jenderal pasukan musuh(jenderal Waji). Maka segera bunyikan Gong sebanyak 3 kali yang menandakan jenderal musuh ada di situ, dan bagian support pun langsung mengepung pasukan musuh dan fokus membunuh Jenderal Waji.” Ujar Sarpa.
“adiku, bolehkah kakakmu Hari ini berduel dengan jenderal Waji jikalau bertemu dengannya.?” Pinta Hari.
Sarpa pun setuju dan meminta jika jenderal musuh sudah tewas, segera bunyikan gong 1 kali.
Mereka pun membagi pasukan menjadi 5 pasukan . Hari yang menyerang dari arah selatan, Hasti dari arah utara, Sarpa dari arah timur dan Andaka dari arah barat , sedangkan Balinda bertindak sebagai bagian support.
Serangan pun dilakukan, Hari dengan gagah berani merengsek maju ke barisan pasukan musuh.
“Jenderal Waji, keluarlah kau aku menantangmu berduel,” teriak hari.
Muncullah seorang berbadan tinggi besar dengan membawa tombak besar. “buka jalan, mana anjing kerajaan ADYATMA yang berani menentangku berduel.” Ujar pria tersebut.
“Saya Hari dari kerajaan dari kerajaan ADYATMA, menantang Jenderal Waji dari kerajaan PASTIKA.” Tantang Hari.
“Kuterima tantanganmu.” Jawab Jenderal Waji. Mereka pun berduel di tengah lingkaran duel yang dibentuk dari pasukan ke dua belah pihak.
Sementara itu Hasti, Sarpa, Dan Andaka, menggila di pertempuran masing-masing. Mereka bertiga banyak sekali membunu pasukan musuh.
“ monster dari ADYATMA mengamuk.” Teriak salah satu prajurit PASTIKA dengan penuh ketakutan. Karena teriakan tersebut, moral pasukan PASTIKA menjadi turun, dan pasukan ADYATMA pun dengan leluasa mengobrak-ngabrik barisan pasukan musuh.
Sementara itu duel antar Hari dengan jenderal Waji, berlangsung hanya selama 6 gerakan. Dan diakhiri dengan terpenggalnya kepala jenderal Waji dengan Tombak Balakosa milik Hari.
Pasukan yang dipimpin Hari pun berteriak penuh semangat dan membunyikan Gong 1 Kali. Mendengar Hal itu pasukan ADYATMA yang lainnya pun berteriak penuh semangat.
“ jenderal Waji telah mati ditangan tuan Hari. hidup Hari sang singa dari ADYATMA.” Teriak salah satu pasukan ADYATMA dan diikuti oleh teriakan-teriakan dari prajurit lain.
Mengetahui hal ini, mental Pasukan Pastika pun turun drastis setelah mengetahui kekalahan dari pemimpinnya. Melihat Hal ini seluruh Pasukan ADYATMA termasuk Pasukan yang dipimpin Balinda Maju dan menghancurkan pasukan PASTIKA.
__ADS_1
Pasukan PASTIKA pun Hancur porak-poranda. Banyak yang tewas, ada yang menyerah, dan sedikit yang berhasil kabur.
Tanpa ada perayaan, pasukan yang dipimpin oleh BALINDA menuju ke kota Rucita dengan membawa 4500 pasukan yang tersisa.
Sesampainya di sana situasi agak berbeda dengan kota Sarkara. Kota tesebut sudah di duduki oleh pasukan MAHOGRA yang dipimpin oleh Jenderal Taraksa.
“seperti yang diduga dari salah satu 3 jenderal besar MAHOGRA.” Ujar salah satu prajurit. “ 3 Jenderal besar ? apa itu?.” Tanya prajurit di sampingnya .
“kau masih muda, dan baru kali ini bertempur dengan Pasukan MAHOGRA. Tak heran kamu tidak tahu, 3 jenderal besar dari MAHOGRA. Mereka adalah 3 jenderal yang hebat dalam pertempuran , baik hal fisik maupun strategi Dan Taraksa adalah salah satunya, dia juluki pembawa kematian dari MAHOGRA. Julukan itu didapatnya dari berbagai pertempuran yang hampir selalu di akhiri dengan terpenggalnya kepala musuh.” Jelas prajurit senior tersebut.
“waduh, sepertinya kemungkinan menang kita kecil, aku jadi khawatir.” Sahut prajurit di sampingnya. “ hei tenang, dia bukanya tidak terkalahkan. Aku yakin pasti Raja Balinda dan ke empat temannya dapat memenangi pertempuran ini.” Bantah prajurit senior tersebut sembari menepuk pundaknya.
Sementara itu karena hari sudah hampir malam, Balinda dan pasukannya beristirahat terlebih dahulu di 4 kilometer dari Kota Sarkara.
“ Bagaimana menurutmu adik Sarpa? Pasukan musuh ternyata sudah menduduki Kota Sarkara.” Tanya Balinda. “ hmm. Kita kali ini menghadapi dengan jenderal terkenal hebat. Akan sulit jika hanya strategi mengepung biasa.” Ujar sarpa. “ jika penduduk kota Sarkara sudah sepenuhnya keluar kita dapat melancarkan serangan api , dan membakar kota. Tapi sekarang ini kita tidak tahu bagaimana dengan kondisi di dalam kota , karena tertutup oleh dinding yang sangat tinggi.” Sambung sarpa.
Setelah berpikir agak lama, datang seorang prajurit yang kembali setelah mengawasi daerah sekitar. “ lapor yang mulia, kami melihat Bala bantuan dari Kerajaan MAHOGRA sedang menuju ke kota Sarkara.”
“Berapa jumlah, dan jarak dari pasukan tersebut ke kota?” ujar sarpa dengan penuh antusias. “ Seribu pasukan dengan jarak ke kota sekitar 8 Kilometer tuanku.” Sahut sang prajurit tersebut.
“ kakak!, ini adalah kesempatan emas kita.” Ujar sarpa dengan gembira. “ apa maksudmu?.” Tanya Balinda dengan agak bingung.
“kita haru menyergap dan menghabisi mereka diam-diam, di tengah gelapnya malam. Dan setelah itu kita dapa memakai seragam prajurit musuh dan menyelinap ke sana lalu menyerang mereka dari dalam. Dengan seperti itu kemungkinan kita menang adalah 70 persen.” Jelas Sarpa.
Balinda pun setuju dan mereka mengerahkan Andaka dan 1000 pasukan pemanah.
Andaka dengan penuh perhatian, memperhatikan musuh yang dengan bodohnya membawa api guna menerangi jalan. Mereka tidak sadar bahwa kematian sedang menunggu mereka.
Setelah pasukan musuh berada di jarak tembak, Andaka mengangkat tangannya lalu menjatuhkannya ke ara pasukan musuh, dan hujan panah pun terjadi.
“ serangan. Lindungi kapten.” Teriak para pasukan. Andaka pun mengangkat panahnya dan membidik kapten mereka, dan seketika kapten merekapun terbunuh.
Hujan panah pun dilakukan tanpa henti, bahkan tidak ada jarak antar panah yang melayang. Itu semua dikarenakan Andaka yang memerintahkan setiap 200 orang memanah bergantian.
Dengan hujan panah tanpa henti, pasukan musuh pun terbunuh tanpa sisa. Segera pasukan Balinda mengambil seragam pasukan musuh, dan membersihkannya dari noda darah sebelum mengenakannya.
1000 orang yang menyamar dipimpin oleh Hari yang menyamar sebagai Kapten pasukan musuh pun bergegas menuju kota Sarkara.
Mereka pun disambut di depan gerbang oleh orang yang berbadan setinggi Hari dan bertubuh gagah dengan wajah yang menyeramkan.
“ Hmmm.... aku belum pernah melihatmu, apa pangkatmu?.” Ucap pria tersebut dengan sedikit muka curiga.
“ pria ini berbadan bagus, pasti dia jenderal Taraksa.” Pikir Hari. “ tentu saja jenderal besar Taraksa tak kenal dengan prajurit rendahan ini. Saya baru-baru ini diangkat menjadi komandan 1000 prajurit, dan ini adalah tugas pertama saya setelah mendapat promosi tersebut.” Ucap Hari.
“hohoho, benar juga. Aku memang mendengar pesan bahwa bala bantuan dipimpin oleh orang baru, sehingga aku disuruh membersihkan jalan menuju kesini.” Ujar Taraksa sembari tawa.
Mereka pun disambut hangat di sana. Dan ternyata tidak ada sama sekali penduduk di sini, yang ada hanya mayat-mayat dengan bekas luka yang kejam.
__ADS_1
“hmmm, sepertinya mereka sudah membantai penduduk yang tertinggal di sini.” Pikir Hari dengan berjalan-jalan dan mengawasi sekitar.
Di tengah malam dia berjalan menelusuri tembuk kota, dan ketika keadaan sepi, dia menembakkan panah ke arah prajurit yang tengah menunggu sinyal dari Hari. Di panah tersebut ada surat yang langsung diberikan ke balinda.
Isi surat tersebut adalah. “ di sini tidak ada penduduk yang ada hanya mayat-mayat dengan bekas luka yang mengenaskan. Kemungkinan prajurit yang dikirim kesini berhasil mengevakuasi sebagian penduduk sebelum pasukan musuh merebut sepenuhnya kota ini. Pasukan musuh berjumlah sekitar 4000 orang. Aku akan memenggal kepala jenderal Taksara tepat saat matahari terbit, saudara-saudaraku harap menyerang kota tepat sebelum matahari terbit, dan kami akan membuat panik musuh dari dalam. Hari yang hebat Hahahaha.”
“hmmm. Sepertinya Hari sedang bersemangat, ayo semua istirahat dan besok kita bersiap menyerang mereka tepat sebelum matahari terbit.” Ujar Balinda dengan menahan tawa setelah membaca surat hari.
Keesokan harinya, tepat sebelum matahari terbit. Balinda memimpin pasukanya yang berjumlah 3500 menyerang kota, dengan di dampingi Hasti Andaka di kiri dan kanannya, dan Sarpa di belakangnya.
Mendengar suara ribut di luar Hari pun memberi sinyal kepada pasukannya untuk membuka gerbang. Setelah itu dia pergi menuju ke tenda Jenderal Taraksa dengan membawa tombak miliknya.
“ apakah jenderal ada di tenda ini?.” Tanya Hari ke pengawal jenderal Taraksa. “ iya, beliau sedang sarapan.” Jawab pengawal. “ biarkan aku masuk, aku ingin menyampaikan adanya serang musuh ke kota ini.” Pinta Hari.
Dia pun dipersilahkan masuk. “ada apa komandan 1000 prajurit?.” Tanya Taraksa yang sedang sarapan. “ tidak apa jenderal, aku bisa menunggu jenderal selesai sarapan.” Ujar Hari.
Jenderal pun melanjutkan sarapan dengan hari yang menunggunya selesai sarapan. Setelah sarapan jenderal usai.
“ baiklah. Aku sudah selesai sarapan, ada apa gerangan sampai kau membawa senjatamu ke dalam tendaku.” Tanya Taraksa. “ jika jenderal sudah selesai sarapan, maka tak ada yang menghalangi aku untuk menentang jenderal duel.” Ujar Hari.
“Hahaha kau sangat lucu, dan berani sebagai anak baru.” Tawa Taraksa . “ aku sebenarnya adalah pasukan ADYATMA, aku dikirim kemari untuk membunuhmu.” Ucap Hari sembari berdiri memegang tombaknya.
“ kalo memang kamu dari pasukan musuh, kenapa kamu tidak langsung menyerangku, saat aku tengah sarapan?.” Tanya Taraksa dengan mata yang melotot.
“ aku memang diberi misi untuk membunuhmu, tapi aku punya prinsip yaitu hanya membunuh lawan yang siap, dan pantangan membunuh secara diam-diam.” Jelas Hari.
“hahaha, bagus juga prinsipmu anak muda.” Ujar Taraksa sembari berdiri “ sebagai hadiah, aku menerima tantanganmu dan berjanji bahwa tidak ada satu pun prajuritku yang menyentuhmu sebelum duel kita berakhir.” Lanjur Taraksa.
Setelah itu Taraksa memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan arena duel dan mengajak Hari ke sana.
Para prajurit musuh hanya tahu jika itu adalah sebuah duel persahabatan. Setelah arena dipersiapkan, mereka pun berduel di tengah kerumunan pasukan dan serangan dari pasukan yang dipimpin oleh Raja Balinda.
Duel antara Hari dan Jenderal Taraksa berlangsung sangat sengit, mereka beradu pukulan lebih dari 100 jurus. Duel itu pun berakhir dengan tebasan tombak Hari yang membelah tubuh Taraksa menjadi 2 bagian.
Sementara itu di luar kota, pasukan yang dipimpin oleh Balinda mengepung ketat seluruh kota. Mereka pun tengah menunggu terbukanya gerbang serta kabar dari Hari.
Setelah duel usai, Hari memenggal kepala Jenderal Taraksa.
“Aku Hari dari Kerajaan ADYATMA, menyarankan kalian menyerah. Pemimpin kalian Jenderal Taraksa sudah mati ditanganku.”
Pasukan MAHOGRA pun terbingung-bingung, mereka tak percaya dan masih mengira Hari ada dipihak mereka.
Di tengah kebingungan tersebut tiba-tiba pasukan yang dibawa Hari masuk ke kota pun menyerang, dan tak lama pintu gerbang kota pun terbuka.
Pasukan kerajaan MAHOGRA pun porak-poranda tanpa pemimpin. Hampir seluruh pasukan MAHOGRA terbunuh, akan tetapi hanya sedikit Pasukan Balinda yang menjadi korban jiwa.
Kota Sarkara pun berhasil direbut kembali di tangan Raja Balinda. Malam harinya pesta besar diadakan di kota tersebut, guna merayakan kemenangan perang pertama di bawah kepimpinan Raja Balinda.
__ADS_1