Nga

Nga
Special Episode (After War).


__ADS_3

5 Tahun setelah Perang penentuan.


Di sebuah Desa.


"hei, cepat serahkan semua uang kalian." Seru Seorang Bandit, pada 2 orang yang sedang menunggang kuda, mengenakan topi caping yang tidak memperdulikan Seruan para Bandit.


"Oi, kamu tulikah?. cepat serahkan seluruh


harta benda kalian!." Caci sang bandit sembari menghadang kedua orang tersebut.


"Pergilah, Jangan melakukan kejahatan lagi. aku akan mengampunimu kali ini." Ujar salah satu Pria.


"Hahahahah, ternyata mereka buta dan tuli. seperti lagu roma." tawa seorang Bandit.


"hei, lihatlah. kamu pikir kamu siapa?, kuberika kamu saran, serahkan semua barang berhagamu maka aku akan membiarkanmu mati tanpa rasa sakit. lagipula,Sehebat apapun kamu,emang bisa menang lawan kita semua?." Ujar Bandit lainnya.


"hahaha, benar sekali. bahkan jika kelima jenderal besar yang maju, pasti akan mati." Ujar seorang Bandit.


"hei, apa yang kamu maksud kelima Jenderal itu adalah kak Balinda dengan teman-temannya?." ujar seorang pria sembari melepas topi capingnya. yang ternyata adalah Hari. Wajah para Bandit pun berubah ketakutan.

__ADS_1


ada satu Bandit yang tidak sadar saking sombongnya berkata. " hahaha tentu saja, bahkan Hari sang singa yang perkasa pun bisa kubunuh dengan satu tangan." ujar sang bandit sembari menutup mata sambil menghadap keatas.


"Crang." tiba-tiba tangan sang bandit tadi terpotong dalam sekejap karena ditebas Hari.


"Arghhhhh, Tangan kuuuuu." Jerit Bandit tersebut.


" Baiklah coba lawan aku dengan satu tangan, sekarang." Ujar Hari.


"Tuu....unggu dulu, senjata itu. kamu adalah Jenderal Hari!... sialll." ujar sang Bandit yang tangannya telah terpotong tersebut.


"Satu-satunya." ucap Hari sambil bergaya.


" apa bos yakin?, dia adalah Hari yang perkasa." ujar Seorang Bandit.


"bodoh, apa kamu percaya dengan rumor? emang kamu melihat sendiri dia saat perang?. lagipula jumlah kita jauh lebih banyak, kita serang bersama-sama pun pasti menang." seru sang Bos Bandit tersebut.


"Jlebbb" bunyi Panah yang menusuk tubuh sang Bos Bandit.


"Bos.. Siapa itu!! keluar kamu!!!." teriak seorang Bandit.

__ADS_1


"hoammmm, maaf kakak. sepertinya mereka tidal bisa diberi keringan." ujar pria satunya yang ternyata adalah Andaka.


"busur itu.. tidak salah lagi kamu Jenderal Besar Andaka!!." ujar Bandit yang tadi.


"hahaha. menyesal pun sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur, emas didepan mata tidak terlihat." Ujar Andaka.


" wuhssss, cringggg, wuhhsss, cringgg." bunyi busur serta Tebasan tombak meramaikan tempat itu.


dalam sekejap, seluruh banditpun tewas.


Hari dan Andaka pun melanjutkan perjalan.


"Hei kak. kenapa makin banyak saja kriminal-kriminal sampah di kekaisaran Jalu ya?. apa yang dilakukan Kak Balinda dan yang lainnya, sebenarnya?." tanya Andaka sambil jalan menunggangi kudam


"yahhh. setia orang punya takdir dan tugas masinh-masing. kak Balinda dan lainnya bertugas mengatur dan mengawasi hukum, sedangkan kita menumpaskan kezaliman yang tak kasat mata." ujar Hari.


"aku heran. kenapa masih saja, Bandit dan kriminal . padahal kalau kulihat, warga Kekaisaran JALU hidup sejahtera." Cetu Andaka.


"Semua hal itu ada pasangannya. Ada baik ada jahat, ada panas dan dingin, ada api dan air. sehebat apapun negara, pasti ada yang namanya kejahatan didalamnya. sesempurna apapun hukum, pasti ada yang melanggar. yang membedakan adalah bagaimana kita mencegah dan memperbaiki semua itu. kita tidak bisa mengendalikan perasaan dan nasib semua orang. maka dari itulah aku memutuskan untuk mendukung Balinda dari belakang dan mengawasi hukum dari balik bayangan." ujar Hari.

__ADS_1


__ADS_2