
Benar saja, Kerajaan RUTOKA beberapa kali melakukan serangan dalam sekala kecil ke daerah kekaisaran JALU dalam jangka 6 bulan Pasca perang besar sebelumnya. Tetapi Hari dan Hasti yang ditugaskan menjaga daerah perbatasan berhasil memukul mundur upaya serangan-serangan RUTOKA.
Sementara Sarpa dan Balinda tengah membicarakan Strategi untuk melawan RUTOKA.
“Adiku, Sarpa. Sepertinya kita harus segera bertindak, melihat serangan-serangan yang dilancarkan secara terus-menerus oleh kerajaan RUTOKA. Walaupun masih dalam sekala kecil, tetap saja ada korban yang jatuh dari pihak kita.” Ujar Balinda.
“Benar sekali, kakakku. Tapi kita tidak boleh bertindak gegabah, walaupun kita ungul dalam jumlah pasukan, pasukan kita sekarang Berjumlah 1.500.000 pasukan sedangkan kerajaan RUTOKA hanya 1000.000. tapi kita harus waspada dengan seorang yang terkenal kehebatan bela dirinya, yang berasal dari wilayah RUTOKA.” Jelas Sarpa.
Andaka yang baru datang, tak sengaja mendengar perkataan Sarpa pun ikut angkat bicara. “jangan-jangan yang kau maksud dia? Si dewa kematian?.” Tanya Andaka dengan wajah marah.
“apa kamu tahu siapa yang Sarpa maksud?.” Tanya Balinda dengan wajah bingung.
“heh, tentu saja. Aku masih ada urusan dengannya.” Jawab Andaka. Balinda pun semakin bingung, dan kembali bertanya. “urusan?, urusan apa adiku.? Dan juga siapa sebenarnya yang kalian bicarakan?.”
“yang aku maksud tadi adalah Yama sang dewa kematian. Walaupun bela dirinya sangat hebat, tapi masih banyak yang belum tahu dia, itu karena setiap kedatangannya tak ada saksi mata yang tersisa, tak ada satu orang pun yang lolos setelah melihatnya.” Jelas Sarpa.
“Tunggu dulu. jika memang tidak ada yang selamat setelah melihatnya, mungkin saja itu hanya Rumor yang dibuat-buat.” Bantah Balinda.
“yahh, mungkin jika aku tak mengalami sendiri. Aku pun akan menganggap itu hanya sebuah Rumor belaka.” Cetus Andaka. Balinda yang kaget dengan perkataan Andaka, bertanya. “apa?, jadi kamu telah bertemu dengannya?. Bagaimana ceritanya kamu bisa selamat?.”
“ dulu, ketika orang tuaku masih hidup. Aku dan mereka sering sekali bepergian dari kerajaan ke kerajaan lain, karena tuntunan Ayahku sebagai kepala rombongan pedagang. Hidupku dulu bahagia, tapi semua Hancur ketika kami bertemu Bedebah itu. Waktu itu, ketika aku dan rombongan ayahku dalam perjalanan pulang usai berdagang di ibukota RUTOKA yaitu kota MORA. Kami bertemu seorang lelaki berbadan tinggi, gagah, memakai tudung serta topeng di kepalanya. Karena rasa penasaran ayahku menyapanya, dan meminta orang tersebut memperkenalkan diri. Tetapi bukan sebuah nama yang diberikan, melainkan Tebasan pedang. Bedebah itu menebas ayahku dengan begitu cepat, dan membuat beberapa prajurit ketakutan ,semua hanya bisa diam melihat apa yang terjadi. Ibuku yang ada di barisan belakang penasaran dengan apa yang terjadi, pergi ke depan dan melihat kepala ayahku tergeletak di tanah, seketika menangis dengan sangat kencang. Tetapi suara tangisan ibuku tiba-tiba terhenti, karena badanya dibelah dua oleh bedebah tersebut. Melihat hal itu Komandan penjaga rombongan ayah, yang bernama Darma tiba-tiba menyerang. Walau serangannya tak berhasil, tetapi hal itu bisa membangunkan para penjaga lainnya dari ketakutan mereka. Petarungan pun terjadi, antara 500 pasukan penjaga elit yang dipimpin oleh Darma melawan si bedebah tersebut. Walau kami menang jauh dalam jumlah, tetapi tak satu pun luka yang diterima bedebah itu, malah kami yang terbantai olehnya. Dalam jangka waktu 10 menit, ke 500 penjaga elit itu hampir seluruhnya terbunuh, yang tersisa hanya tinggal Darma dengan 10 penjaga. Melihat situasi, Darma memerintahkan kesepuluh pengawal yang tersisa, untuk mengawalku dan para pedagang bawahan ayahku ke tempat yang aman. Darma yang berniat menahan bedebah itu, hanya bisa menahannya kurang dari satu menit dia malah tewas dengan mengenaskan. Usai membunuh Darma, bedebah itu untuk pertama kalinya berbicara. Ia mengatakan “satu melihat, yang lain melihat. Satu mati yang lain pun harus mati.” Setelah menyelesaikan perkataannya, terdengar suar teriakan dari arah barisan belakang. Bedebah itu membantai semua orang, kecuali aku. Aku selamat karena tertindih mayat kuda yang terjatuh, hingga seluruh tubuh kecilku tertutup dengan tertanam di dalam pasir. Aku pun hanya bisa pasrah dengan keadaan, dan memilih diam di bawah pasir, hingga pingsan. Ketika sadar, ternyata aku diselamatkan oleh teman ayahku, yang tak sengaja lewat dan melihat rombongan ayahku hancur lebur. Meski selamat, aku jatuh sakit selama 1 bulan lebih, untungnya ada teman ayahku yang merawatku dengan baik sampai aku sembuh. Setelah sembuh aku diminta untuk tinggal bersamanya, tapi aku menolak dan memilih untuk hidup bebas di luar dan menjadi kuat, untuk membalas dendam orang tuaku. Sampai akhirnya aku menjadi pemburu, lalu bertemu denganmu. Kaka Balinda.” Jelas Andaka.
Setelah mendengar kisah Andaka, Balinda pun berkata. “ Maaf, karena membuatmu mengingat masa-masa yang kelam.” Andaka pun hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“Darma,,,, Darma?. Ah, Andaka. Darma yang kamu maksud tadi, mungkinkah Darma mantan Jenderal Besar Pastika?.” Tanya Sarpa.
“aku hanya tahu bahwa dia adalah orang hebat, dan juga mantan tentara PASTIKA.” Jawab Andaka.
“tunggu dulu. Maksudmu Jenderal Darma yang telah membunuh Jenderal besar Lupao.? Yang merupakan Salah satu bawahan Raja Antar yang terbaik?.” Potong Balinda.
“kalau benar, Darma yang Andaka maksud adalah orang itu. Maka kehebatan Yama tak diragukan lagi.” Ujar Balinda dengan wajah sedikit kecewa.
Balinda pun lanjut berbincang dengan Andaka, tapi tiba-tiba.
“Astaga, cepat. panggil Hari dan Hasti ke sini.” Teriak Sarpa dengan panik, dan membuat Balinda dan Andaka terkejut.
“ada apa Adiku?.” Tanya Balinda.
“nanti saja kujelaskannya kak, yang pasti kak Hari dan Hasti saat ini kemungkinan dalam bahaya.” Jawab sarpa dengan nada panik.
“Tenanglah dulu kakakku, dan jelaskan apa yang terjadi.” Tanya Andaka, sembari mencoba menenangkan Sarpa.
Setelah sedikit tenang, Sarpa pun berkata. “jadi begini. Adiku kamu adalah salah satu yang selamat saat bertemu Yama si dewa kematian kan?.” Andaka dengan sedikit bingung menjawab. “iya, itu benar.” “lalu apa hubungannya dengan kakak Hari dan Hasti yang dalam bahaya?.” Lanjut Andaka.
“dari yang kutahu dan kudengar tentang Yama si dewa kematian. Dia selalu terlihat di sekitar kerajaan ROTUKA, dia juga selalu datang ketika ada petarung kuat yang muncul di sekitar wilayah ROTUKA.” Ujar Sarpa.
“mungkin itu hanya rumor, yang disebar oleh kerajaan ROTUKA.” Cetus Balinda.
“ kurasa, itu bukan isapan jempol belaka kakakku. Dari yang diceritakan adik Andaka, kemungkinan besar rumor itu benar-benar nyata.” Ujar Sarpa.
“maksudmu?.” Tanya Andaka, yang makin kebingungan.
“intinya begini, kamu ketemu Yama di sekitar wilayah RUTOKA kan?, itu berarti rumor tentang Yama yang selalu muncul di sekitar wilayah RUTOKA adalah benar..” Tanya Sarpa.
“mungkin itu hanya kebetulan adikku.” Ujar Balinda.
“mungkin saja, tapi tentang rumor bahwa Yama selalu muncul jika ada kesatria kuat di sana, juga benar adanya. Melihat yang dialami oleh Andaka, dia bertemu Yama ketika ada Darma yang mengawalnya. Seperti yang diketahui, Darma adalah salah satu petarung yang terkenal kuat. Maka dari itu, kemungkinan Rumor tentang tanda-tanda kedatangan Yama adalah benar. Apalagi kakak Hari dan Hasti adalah petarung yang paling kuat yang pernah kulihat, ditambah mereka berada di perbatasan RUTOKA. Karena itu semualah aku jadi khawatir dengan kakak Hari dan Hasti.” Jelas Sarpa.
“tapi, kenapa Yama tidak muncul dalam sebulan terakhir?.” Tanya Balinda.
Andaka yang teringat sesuatu pun berkata. “tunggu dulu. Aku lupa bilang, bahwa sebelum bertemu Yama. Kami sempat di cegat oleh sekumpulan bandit, tapi mereka semua dikalahkan oleh Darma sendirian.”
“ apa!?. Jika itu bukan kebetulan, maka kemungkinan penyebab Yama belum muncul sampai saat ini, karena dia sedang melihat kemampuan Hari dan Hasti.” Ujar Sarpa.
“benar juga. Aku jadi khawatir dengan kedua saudaraku itu. Lebih baik kita saja yang langsung bertemu sama Hari dan Hasti, itu lebih cepat dari pada kita menunggu di sini.” Ujar Balinda dengan wajah khawatir.
Mereka pun sepakat, untuk langsung menjemput Hari dan Hasti. Sementara itu di perbatasan tempat Hari dan Hasti berjaga.
“Berhenti!. Diam di tempat, dan tunjukan identitasmu.” Ujar Salah satu prajurit kepada seorang yang misterius. Orang misterius itu hanya menjawab dengan diam.
“hei, ini peringatan terakhirmu. Cepat tunjukan identitasmu, kamu berasal dari mana. Ce......” Ujar prajurit yang perkataannya belum usai, tapi kepalanya telah tergeletak di tanah.
Prajurit yang lain pun secara spontan menyerang pria misterius tersebut. Dalam sekejap, kepala para prajurit tersebut jatuh, satu per satu. Si pria pun mengambil kepala prajurit dan melemparnya ke dalam sebuah bangunan besar, tempat Hari dan Hasti berada sambil tersenyum.
Hari dan Hasti yang sedang istirahat, dikagetkan oleh suara benturan kepala dengan dinding bangunan mereka, akhirnya mereka keluar. Ketika keluar, mereka di suguhkan oleh kepala-kepala prajurit mereka.
“kurang ajar, perbuatan siapa ini.” Ujar Hari dengan sangat marah.
__ADS_1
Hari pun melihat ke sekeliling dan melihat seorang yang misterius yang sedang berdiri di depan gerbang perbatasan. Ketika Hari sedang melihatnya, pria misterius itu, tiba-tiba mengangkat tangannya dan memberi isyarat yang menyuruh Hari untuk datang ke situ.
Hari pun segera mengambil senjatanya, dan menuju ke tempat pria tersebut berada. Sesampainya ke situ, Hari bertanya dengan mengacungkan Tombaknya ke arah pria misterius tersebut. “ apa kamu yang membunuh para prajuritku?.” Pria misterius itu hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“sebutkan Namamu, aku akan menantangmu untuk berduel.” Tegas Hari. Pria itu yang biasa hanya diam pun, tiba-tiba berbicara dengan suara pelan. “Sungguh pria yang berani, dan bersikap kesatria. Pantas dengan Julukanmu sebagai Jenderal Singa, tapi sayang kamu tak dapat menang dariku jika kita berduel. Lebih baik kamu suruh, saudaramu itu turun dan ikut membantumu melawanku.” Kata pria itu sambil menunjuk ke arah Hasti.
Mendengar hal itu, Hari tiba-tiba melompat ke ara pria tersebut, dan berkata. “ kurang ajar, berani sekali kamu meremehkanku.”
Hari pun dengan cepat, melayangkan Tombaknya ke arah pria tersebut. Tapi pria tersebut tiba-tiba ada di belakang Hari, sambil menodongkan pedang besarnya ke leher Hari.
“sudah kubilang, kamu tak mampu. Cepat panggil saudaramu ke sini.” Bisik pria tersebut ke telinga Hari. Hari hanya bisa terkejut dan pasrah dengan keadaan. Melihat apa yang terjadi, Hasti segera menyelamatkan Hari. Dan mencoba menebas si pria tersebut dari belakang, tapi sayang pria itu terlalu cepat dan berhasil menghindar.
“kamu tidak apa-apa, kak?.” Tanya Hasti dengan cemasnya.
“aku baik-baik saja, terima kasih.” Jawab Hari. “kurang ajar, berani sekali kamu.” Bentak Hasti dengan wajah penuh amarah. Hasti yang terbawa emosi, berusaha mendekati pria tersebut dan bersiap menyerang. Tapi di saat yang sama, Hari menghentikan Hasti dan berkata. “jangan terburu-buru, adikku. Orang ini tidak bisa diremehkan, baik kecepatan dan auranya, sangat mengerikan.”
“Hahaha, dengarkan apa yang dikatakan kakakmu. Akhir-akhir ini sangat sulit menemukan petarung sehebat kalian, sangat sayang jika tidak menikmatinya dulu.” Ujar pria tersebut dengan sombongnya.
Setelah mendengar, apa yang dikatakan pria tersebut. Hari maju, ke depan Hasti dan berkata. “kekuatan tuan sangat hebat. Tolong beritahu nama tuan, supaya saya bisa bertarung.”
“hahaha, memang seperti yang diharapkan, dari seorang yang telah kuakui kehebatannya. Bahkan di saat di hadapan kematian, masih menahan kekuatannya karena belum mengetahui namanya.” Ujar pria tersebut.
“baiklah, akan membosankan jika kamu tidak bertarung secara leluasa. Namaku adalah Yama, orang-orang menjulukiku Yama Sang dewa kematian.” Lanjur pria tersebut.
“terima kasih tuan, sudah berkenan memperkenalkan diri. Mungkin ini agak aneh, tapi saya mengakui kekalahan saya jika harus satu lawan satu melawan tuan. Tapi jika memang tuan ingin petarungan yang hebat, saya ingin mengajukan petarungan 2 lawan 1 . antara tuan melawan kami berdua, itu jika tuan berkenan.” Pinta Hari pada pria tersebut.
“jika aku tak mau?.” Tanya pria tersebut. “maka hamba akan melayani tuan berduel.” Jawab Hari tanpa keraguan. “ hahaha, sungguh sifat kesatria sejati. Baiklah aku menerima tawaranmu.” Cetus pria tersebut.
“ayo adikku.” Ajak Hari. Seketika itu, Hari dan Hasti secepat kilat menyerang pria tersebut. Petarungan sengit pun terjadi, tapi bahkan walau sudah bertarung bersama. Hari dan Hasti masih tidak bisa menggores pria tersebut.
Hari dan Hasti terus menyerang, 20 menit pun berlalu begitu cepat. Tiba-tiba pria itu mundur dan berkata. “ baiklah, sekarang giliranku menyerang.”
Mendengar hal tersebut, kedua saudara itu sangat terkejut. Bagaimana tidak, mereka terus menyerangnya bersama lebih dari 20 menit, tapi pria itu malah berkata seakan-akan dia masih menahan dirinya. Rasa putus asa dan rasa tidak berdaya menghantam mental mereka.
Di keadaan seperti ini, tiba-tiba sebuah anak panah meluncur dengan cepatnya ke arah Yama. Yama pun terluka di bagian tangannya, dan terpaksa mundur dan berkata. “hohoho, waktu sudah habis sepertinya. Jika takdir mengijinkan , kita pasti bisa bertarung lagu.” Setelah menyelesaikan perkataannya, Yama menghilang secepat kilat.
“Kakak, kamu tidak apa-apa?.” Teriak Andaka, yang menembakkan panah tadi.
“iya, kami hanya luka-luka kecil.” Ujar Hasti.
“bagaimana kalian bisa tahu kalau kami sedang bertarung?.” Tanya Hari.
“oh, ini karena perhitungan Sarpa.” Ujar Balinda sembari membantu Hari berjalan.
“terima kasih Sarpa. Tapi ngomong-ngomong, apa kalian pernah mendengar tentang seseorang yang bernama YAMA?.” Tanya Hari.
Balinda pun menjelaskan pada Hari, Siapa itu Yama? dan bagaimana Sarpa bisa tahu tentang serangan ini. Setelah mendengar penjelasan situasi, Hari pun berkata. “sial..... aku benci mengakui ini, tapi orang yang disebut Yama itu sangat kuat. Jujur saja, aku mengakui kekalahan, jika harus berduel denganya.”
“benar, aku pun merasakan hal sama dengan kak Hari. Bahkan aku dan kak Hari mengeroyoknya pun masih saja kalah.” Cetus Hasti.
“hmm, ternyata rumor terbukti. Bahkan Hari pun sampai mengakui kekalahannya, ditambah Hasti yang membantu pun masih kalah melawan Yama.” Gumam Balinda.
“sialan, setelah belasan tahun, kekuatannya masih sama.” Ujar Andaka dengan kesal. “tenang adiku, aku yakin ada cara untuk mengalahkannya.” Seru Sarpa.
“iya. Lagi pula, kita belum pernah mendengar Yama ikut bertempur. Maka tidak usah terlalu diambil pusing, untuk saat ini lebih baik mengobati luka Hari dulu.” Ajak Balinda sembari membopong Hari.
Sementara itu, di istana RUTOKA.
“lapor!... Hamba membawa berita, bahwa ada mata-mata yang melihat Yama sang dewa kematian menyerang kedua Jenderal besar kekaisaran JALU.” Lapor sang pembawa pesan.
“Siapa yang menang?.” Tanggap Sang raja Riu. “sebenarnya Yama berhasil unggul melawan Jenderal Hari dan Hasti, akan tetapi Yama harus mundur karena kedatangan Kaisar Balinda serta Jenderal Andaka dan ahli strategi Sarpa.” Jelas sang pembawa pesan.
Tampak rasa bahagia terpampang di wajah sang Raja Riu tersebut.
“keluarlah, panggil Kedua Jenderal besar.” Suruh raja Riu, pada sang pembawa pesan. Sang pembawa pesan pun keluar. Tak berselang beberapa lama, kedua Jenderal pun tiba.
Tampak dua orang berbadan tinggi kekar datang dengan membawa sebuah tombak dan pedang besar dipunggung mereka.
“izin menghadap yang mulia.” Ujar dua orang tersebut, sembari membungkukkan badan.
“ah, Jenderal Darui dan Suna telah tiba. Jadi langsung saja ke intinya, kalian pasti sudah dengar tentang penyerangan Yama bukan?.” Tanya sang Raja Rui.
“Sudah yang mulia.” Jawab Jendral Darui yang tengah membungkuk dengan Pedang besar yang menempel di punggungnya.
“hmm.. bagus kalau begitu, bagaimana menurut kalian?. Sebenarnya aku ingin meminta dia untuk membantu kita.” Tanya Sang Raja.
“maaf jika lancang. Tapi menurut saya itu bukan ide yang bagus yang mulia.” Jawab jenderal Darui.
__ADS_1
“kenapa begitu?.” Tanya sang Raja Rui. “hamba tak meragukan efek positif yang kita dapat dengan bergabungnya Yama, akan tetapi dia adalah seorang yang susah diajak bergabung. Sudah banyak utusan kita yang dibunuhnya, ketika meminta dia untuk bergabung.” Jelas Darui.
“bagaimana menurutmu, Jenderal Suna?.” Tanya Raja Rui pada Jenderal Suna.
“saya setuju dengan ide yang mulia. Memang benar, selama ini utusan kita yang kita kirim selalu dibunuh Tapi saya rasa kali anak berbeda. Bagaimanapun, Yama sendirilah yang menunjukkan diri, jadi saya yakin dia pasti setuju dengan kita. Walau hanya untuk kali ini.” Jelas Jenderal Suna.
“benar, sepertinya Yama tertarik dengan Jenderal Hari dan Jenderal Hasti. Tapi siapa yang akan pergi ke sana?. Jika mengirim sembarang orang ke sana, aku takut malah menyinggung perasaan Yama.” Ujar sang Raja Riu.
“Saya sendiri yang akan ke sana ,yang mulia.” Tawar Jenderal Suna.
“hmmm. Baiklah, tolong lakukan apa pun untuk membawanya.” Pinta sang Raja Riu.
“Kalau begitu, kami pamit undur diri.” Kedua Jenderal pun pamit, meninggalkan ruangan Raja.
“Jenderal Suna, apa kamu yakin akan pergi ke sana?. Kamu tahukan, Yama adalah orang aneh yang sangat menakutkan.” Tanya Jenderal Darui, sembari berjalan berjalan bersama Jenderal Suna
“hahaha. Iya juga, si penggila bertarung pasti susah jika hanya duduk dan bicara tenang.” Ujar Jenderal Suna.
“ini bukan saatnya tertawa, teman. Akan berbahaya jika kamu pergi sendirian, biar aku temani.” Tawar Jenderal Darui pada Jenderal Suna.
“Hohoho, tak usah khawatir. Dia memang kuat, tapi aku yakin dapat membujuknya sebelum kepalaku lepas. Lagi pula, dia pasti akan langsung membunuh kita jika kita berdua datang bersama.” Ujar Suna.
“ya sudah. Tapi hati-hatilah, aku masih ingat ketika terakhir kita mengundangnya. Belum apa-apa, dia langsung menghabisi 100 orang yang dikirim.” Saran Jenderal Darui.
“hahah, tenang saja. Aku kan berhati-hati.” Ujar Suna.
Keesokan harinya, di lereng gunung Renu.
“Sial, sulit sekali buat kesini.” Elu Jenderal Suna. “ Oh, tuan Yama sedang menebang pohon ternyata, kebetulan sekali.” Sambung Jenderal Suna setelah melihat seorang yang sedang membelah batang pohon.
“cukup, basa-basinya. Pergilah, jika masih sayang nyawa.” Usir Yama dengan nada datar.
“hohoho, galak sekali. Aku dengar anda baru saja melepaskan target anda.” Cetus Jenderal Suna dengan nada sedikit meledek.
“hei, adu sedang kesal. Pergilah kalau sayang nyawa, aku tidak langsung membunuhmu karena ayahmu.” Ancam Yama yang tiba-tiba sudah ada d belakang Jenderal Suna, sembari menempelkan kapak ke leher Jenderal Suna.
“hohoho, paman kenapa kasar sekali. Aku kesini untuk membantu paman karena hubunganmu dengan ayah.” Ujar Jenderal Suna sembari mengerutkan wajah.
“Cih, bocah bau kencur sepertimu mau membantuku?.” Ujar Yama sembari melepaskan Jenderal Suna.
“heheh, kalau masalah umur sepertinya bukan aku yang bocah.” Sahut Jenderal Suna.
“apa! Jadi kamu bilang aku yang memang sudah tua bangka?.” Teriak Yama.
“hahaha. Bukan aku yang bilang gitu lho.” Ujar Jenderal Suna.
“sudahlah, apa mau mu?.” Tanya Yama, sembari kembali melanjutkan membelah kayu.
“kepala Hari dan Hasti.” Ujar Jenderal Suna. Mendengar hal ini Yama pun sempat mematung.
“jangan ikut campur. Aku bisa mengatasi bocah-bocah itu sendiri.” Ujar Yama.
“hahaha, ayolah. Paman kemarin lari kan?, mungkin kalu hanya Hari dan Hasti paman pasti menang tapi bagaimana dengan saudaranya yang lain? Pasti repot kan, walaupun itu paman.” Cetus Jenderal Suna.
“hmmmm. Apa untungnya bagimu?.” Tanya Yama.
“hahah. Jujur saja, ini adalah permintaan Raja. Kalau tidak bagaimana mungkin aku mau membantu orang yang telah membunuh ayahku.” Ujar Jenderal Suna.
“hei!!! Sudah kubilang, itu bukan sepenuhnya salahku. Tetapi kalau kamu mau balas dendam, silahkan saja. Hanya mengingatkan, kamu masih jauh dari layak.” Tegas Yama.
“hahah, aku tahu diri. Jika tidak, mungkin sekarang aku sudah menyerangmu.” Ujar Jenderal Suna.
“Baiklah, aku setuju kali ini. Tapi ada satu syarat, aku akan bergerak semau diriku saat perang.” Cetus Yama.
“oh, baiklah. Raja berpesan, jika anda setuju. Raja akan memberikan 10.000 pasukan dan jika berhasil menang, raja akan berikan apa saja yang anda minta.” Tanggap Yama.
“kalau begitu, saya pamit.” Pamit Jenderal Suna, pada Yama.
Ketika baru berjalan beberapa langkah.
“hei. Apa yang sudah menimpa ayahmu. Ermmmm. Itu adalah salah paham, aku sedang mengejar targetku dan tak tahu bahwa ayahmu sedang di sewa olehnya. Jadi ya kau tahulah.” Cetus Yama, dengan wajah sedikit merona.
“ya, aku tahu. Paman dan ayah adalah teman, yang aku sesali adalah sebegitu pentingkah targetmu? Sampai-sampai harus membunuh sahabatmu sendiri.” Tanggap Jenderal Suna.
“sebenarnya aku tak tahu kalau itu ayahmu. Dia saat itu mengenakan penutup wajah, aku pun tak sadar dan membunuhnya.” Jelas Yama.
“Yahhh, aku pun juga tak sadar dengan niatku yang sangat ingin membunuhku.” Ucap Jenderal Suna dan juga menandai kepergiannya.
__ADS_1