
Tepat tengah malam, pangeran dan Sarpa baru sampai setengah perjalanan menuju ke sungai Beno. Mereka dicegat oleh sekumpulan bandit bertubuh tinggi besar dan berjumlah 50 orang, mereka pun berusaha mati-matian untuk bertahan dari serangan para bandit.
“pangeran, larilah terlebih dahulu, saya akan menahan mereka.” Ujar Sarpa. Akan tetapi walaupun Sarpa sudah berusaha keras, sampai mengalami luka. Mereka masih tak sanggup keluar dari kepungan tersebut.
Dalam keadaan yang sulit, seolah petir yang menyambar. Muncul seorang pria dari dalam kegelapan malam untuk menolong mereka, Pria tersebut memiliki badan tinggi besar yang terlihat sangat gagah dan ditambah rambut panjang, serta memiliki wajah sangar itu muncul dari kegelapan dan menerkam barisan para bandit tersebut.
"Argghhh,Arghhhh." suara teriakan menggema ditengah malam itu. ."Sial,siapa kamu? berani sekali kamu mengganggu urusan kami." ujar pemimpin Bandit tersebut.
"Jika tak ingin dicubit, jangan mencubit. tapi jika sudah mencubit, bersiaplah dicubit." ujar pria tersebut, ditengah pertarungan.
__ADS_1
"hahah. siapa mencubit siapa?. Anak" serang bersamaan." seru sang pemimpin Bandut,
Walaupun dikeroyok pria ini tak goyah sedikitpun. bahkan terluka saja tidak.
melihat hal ini, insting bahaya dirasakan oleh pemimpin bandit.
Mereka pun mundur, sampai hilang dari pandangan. "hah, lalat, tetaplah lalat." ujar pria tersebut. "hei, apa kalian baik-baik saja?" tanyanya. " iya kisana. terima kasih bantuanmu." ujar Sarpa. " hmm, sudah jadi kewajiban sesama manusia saling membantu, jadi tak usah sungkan." sahut Pria tersebut.
Pangeran Balinda yang penasaran dengan sosok yang luar biasa tersebut, “ terima kasih saudara, telah menyelamatkan kami. Jika boleh tahu siapakah nama saudara?.” Tanya pangeran pada pria tersebut. “ tidak sopan menanyakan nama seseorang, tanpa memperkenalkan diri dahulu.” Ucap pria gagah tersebut, di tengah gelapnya malam. “ maafkan saya saudara, saya balinda, dan ini teman saya Sarpa.” Ucap pangeran dengan sopannya,sembari mengenalkan Sarpa. Mendengar nama Balinda, dan perilaku sombongnya tadi. Pria tersebut spontan membungkuk dan berkata, “maafkan hambamu ini pangeran, karena perilaku hamba barusan. Hamba tidak tahu karena gelapnya malam,jikalau orang yang saya ajak bicara adalah pangeran.” ujar pria tersebut.
__ADS_1
Pangeran pun spontan mendirikan orang tersebut seraya berkata. “kenapa engkau membungkuk dan minta maaf ? aku sama sekali tidak tersinggung dengan perkataanmu tadi.”. ujar Balinda.
“ terima kasih atas kemurahan hatinya pangeran. Jikalau boleh tahu, kenapa pangeran bisa sampai di sini di tengah kegelapan malam dan tanpa pengawal?.” Tanya pria tersebut, dengan sopan. Pangeran pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Ketika akan melanjutkan perjalanan. “ saudara, siapa nama saudara?.” Tanya pangeran. “ nama hamba adalah Hari, hamba adalah seorang pengelana.” Jawab pria gagah bernama hari tersebut.”
“ikutlah denganku ke sungai Beno, aku butuh bantuanmu untuk mengakhiri kezaliman yang dilakukan para kasim selama ini.” Ajak pangeran pada Hari. “suatu kehormatan bisa membantu pangeran, tetapi hamba tidak punya kuda, hamba khawatir jikalau hamba hanya memperlambat pangeran.” Ujar Hari
“di depan sana ada penjual kuda, pangeran.” Sambung Sarpa. “ hmm. Mari hari, kita cari kuda untukmu.” Sambung pangeran, mereka pun bergegas pergi menuju penjual kuda tersebut.
__ADS_1