
Pasukan tersebut adalah pasukan Balinda dan keempat saudaranya. Melihat situasi medan perang Sarpa pun berkata. “sepertinya kita datang tepat waktu.”
Melihat kebingungan pasukan aliansi, balinda pun berteriak. “serang, hancurkan pasukan aliansi. Selamatkan saudara kita dari daerah HUTOYA.”
Karena kebingungan barisan belakang pasukan aliansi dengan mudahnya hancur. Pasukan Balinda pun merengsek masuk ke bagian tengah pasukan aliansi, dimana para raja Aliansi berada.
Karena kaget, pasukan pengawal para raja pun tak mampu berbuat banyak. Hari adalah orang pertama yang sampai ke tempat para raja aliansi. tidak makan waktu lama, hari berhasil membunuh seluruh raja dari aliansi tersebut.
Melihat raja mereka terbunuh, para jenderal dari berbagai kerajaan aliansi pun mundur dan berniat membunuh Hari. Para jenderal tersebut adalah Jenderal Mali dan Raki dari kerajaan MAHOGRA, Jenderal Maji dan Guro dari kerajaan AYAMA, jenderal Lusao dan Rulao dari kerajaan LUMERA, jenderal Curai dan Camao dari kerajaan Cukmi, dan jenderal Rosi dan Kukai dari kerajaan Rokumo.
Melihat hal ini, Hari bukanya lari malah maju menuju para jenderal tersebut.
“kakak, kak Hari dalam bahaya. Para jenderal musuh mengincarnya.” Ujar Sarpa.
“Ayo saudara-saudaraku kita bantu Adik Hari.” Ujar Balinda. Balinda beserta ketiga saudara yang lainnya memacu kuda ke arah Hari.
Jenderal pertama yang bertemu Hari adalah Lusao dan Rulao dari kerajaan Lumera.
“berani sekali, kamu membunuh raja kami.” Ujar jenderal Lusao yang bertubuh tinggi tersebut, dengan wajah penuh dengan amarah.
“ hahaha, jangan salahkan aku kalau raja kalian kubunuh. Salahkan dirimu karena terlalu lemah dan tak bisa melindungi raja sendiri.” Ejek Hari.
Mendengar hal ini Rulao yang bertubuh gemuk kekar pun marah, dia memacu kudanya dan berkata. “kita lihat siapa yang lemah.” Hal ini diikuti oleh Jenderal Lusao, dia pun berkata. “ kaki dibalas kakai, mata dibalas mata.”
Hari pun bertarung dengan kedua jenderal tersebut. Setelah bertarung lebih dari 50 gerakan, tak disangka Hari yang kalah jumlah berhasil membunuh Jenderal Rulao dengan Menggunakan tombak Balakosa miliknya.
Melihat temannya tewas, jenderal Lusao pun marah dan menyerang Hari dengan membabi buta. Menghadapi serangan Jenderal Lusao, Hari bukannya tertekan malah berhasil membunuh jenderal Lusao dengan mudahnya. Tombak Balakosa milik Hari berhasil memenggal jenderal Lusao.
Tak lama dari kematian kedua jenderal dari Lumera. Hari langsung diserang oleh jenderal Mali dengan tombaknya, karena serangan ini Hari terluka parah di bagian punggung. Setelah melukai Hari, jenderal Mali langsung turun dari kuda dan berniat membunuh Hari.
Ketika Jenderal Mali berjalan menuju Hari, tiba-tiba panah menancap ke kepala Jenderal Mali. Panah tersebut ternyata adalah Panah Katara milik Andaka, hari pun terselamatkan oleh Andaka kali ini. Tak berselang lama Balinda dan ketiga saudaranya tiba ke tempat hari.
“ bagaimana keadaanmu kakak?.” Ujar Hasti. Hari dengan tersenyum menjawab. “tidak apa-apa, hanya luka kecil. Terima kasih adik Andaka.” Balinda dengan wajah marah pun berkata. “ Hari, istirahatlah. Biar kami yang melanjutkan.”
Balinda dan ketiga saudaranya yang lain pun langsung menuju ke sisa jenderal musuh. Melihat hal ini, semangat Hari ikut memanas.
“Tunggu aku, saudara-saudaraku.” Ujar Hari sembari mengejar keempat saudaranya.
“eh?, kenapa kamu di sini kakak?. Lebih baik obati dulu lukamu.” Ujar Sarpa.
“hahaha, luka kecil ini tidak seberapa. Lagi pula sudah lama juga kita bertarung bersama.” Ujar Hari.
“oh benar juga. Terakhir kita berlima bertarung bersama, adalah saat kita menghadapi para jenderal ADYATMA.” Ujar Andaka, sembari memegang panah Katar miliknya.
“hahah, nostalgia sekali. Baiklah, karena kita akan bertarung bersama, tidak ada alasan bagi kita untuk kalah.” Ujar Hasti, sembari mengangkat Golok Cedar miliknya.
“hahaha, iya ayo kita habisi para jenderal yang telah melukai adik Hari.” Ujar Balinda sembari mengeluarkan pedang kembar Conary miliknya.
__ADS_1
Kelima saudara pun maju dan bertarung melawan ke tujuh jenderal yang tersisa.
Balinda bertarung melawan Jenderal Curai dan Camao, Hari bertarung melawan Jenderal Raki, Hasti bertarung melawan Jenderal Maji dan Guro, Sarpa melawan Jenderal Kukai, Andaka bertarung melawan Jenderal Rosi.
“hahaha, apa ini?. Kaisar yang maju ke medan perang?.” Ejek Curai.
“apakah kekaisaran JALU kekurangan petarung?. Sam.....” belum sempat menyelesaikan ejekannya, kepala Jenderal Camao sudah tergeletak di tanah.
“kita di sini untuk bertarung, bukan bertamu dan mengobrol ria.” Ujar Balinda sembari membersihkan pedang kembar Conary miliknya dari darah.
“kurang ajar.” Teriak Jenderal Curai sembari menyerang Balinda.
Sementara itu, di petarungan antara Hari melawan Raki.
“apa-apaan ini?. Aku akan bertarung melawanmu yang sedang terluka?. Lebih baik obati dulu lukamu, jika aku mengalahkanmu yang sedang terluka, hanya akan menodai reputasiku.” Ujar Jenderal Raki.
Tepat setelah Jenderal Raki menyelesaikan perkataannya, dia diserang hingga terpental oleh Hari. “bagaimana?, apakah masih perlu aku untuk diobati dulu?.” Ujar Hari sembari memegang Tombak Balakosa miliknya.
“haha, boleh juga. Kamu pantas menjadi lawanku, walau sedang terluka.” Ujar Jenderal Raki sembari menuju Hari, mereka pun lanjut bertarung.
Sementara itu di petarungan Hasti melawan Jenderal Maji dan Guro.
“ Sayang sekali Jenderal Hari sang singa harus terluka. Sehingga kita haru bertarung melawan Jenderal Hasti sang gajah, padahal kami sangat ingin melawan jenderal Hari. Benarkan Guro?.” Ujar Jenderal Maji.
“benar sekali, sayang sekali.” Jawab Jenderal Guro.
“hohoho, boleh juga kamu. Bisa membuat Guro yang berbadan 2 kali lebih besar darimu terpental dengan sekali serang.” Puji Maji.
“bagaimana?, penasaran dengan amukan gajah?.” Tanggap Hasti. Mereka bertiga pun melanjutkan bertarung.
Sementara itu, di petarungan antara Sarpa melawan Jenderal Kukai.
“hahaha, ahli strategi yang bertarung langsung? Sungguh aneh.” Ejek Kukai.
“manusia diberkati dengan otak dan otot. Lalu kenapa ahli strategi tak boleh bertarung?.” Balas Sarpa.
“hohoho, baiklah. Tunjukan kekuatan dari otak dan otot yang kau katakan itu!.” Ujar Jenderal Kukai sembari berlari menyerang Sarpa.
Sementara itu, di petarungan antar Andaka melawan Jenderal Rosi.
“panah melawan tombak?, yang benar saja.” Ejek Jenderal Rosi.
“hahaha, panah adalah senjata pembunuh nomor satu didunia saat ini. Lagi pula panah Kataraku bukanlah panah biasa.” Balas Andaka sembari memamerkan bagian tajam di kedua ujung panahnya.
“nomor satu?, senjata banci baru betul. Ahah......” Ejek Rosi, tapi tawanya dihentikan karena kudanya mati terpanah oleh Andaka, dan membuat Jenderal Rosi terjatuh. Karena marah, jenderal Rosi menyerang Andaka.
Petarungan mereka semua berlangsung sengit. Lebih dari 30 jurus mereka semua sudah beradu, tapi petarungan masih berlangsung.
__ADS_1
Akhirnya, setelah beradu 60 jurus. Andaka berhasil membunuh Jenderal Rosi, dengan bagian tajam yang ada dipanah Katar miliknya menusuk kepala Jenderal Rosi tersebut. Hal ini disusul dengan kemenangan Hari melawan Jenderal Raki, setelah bertarung 75 jurus. Selanjutnya giliran Sarpa yang berhasil menebas kepala Jenderal Kukai, dengan sedikit bantuan dari Andaka, setelah beradu 79 jurus. Kemudian disusul dengan terbelahnya tubuh dari Jenderal Curai oleh Pedang kembari Conary milik Balinda, setelah beradu 87 jurus. Hasti pun berhasil menyusul kemenangan tersebut, dengan membunuh kedua Jenderal musuhnya. Setelah beradu 30 jurus Jenderal Guro tewas terpenggal oleh golok Cedar milik Hasti dan setelah beradu 95 jurus, akhirnya Jenderal Maji tewas setela perutnya tertusuk oleh Hasti.
Melihat Jenderal mereka berhasil dikalahkan, pasukan aliansi yang tersisa menyerah, Kemenangan pun berhasil di raih oleh Balinda dan pasukannya.
Balinda memutuskan, untuk beristirahat di dalam benteng Hutoya. Ketika masuk benteng, Balinda merasakan ada kesedihan dari pasukan serta rakyat di sana dan bertanya. “ada apa saudaraku?, kita berhasil menang, kenapa engkau merasa sedih?.” Tanya Balinda pada seorang prajurit.
“mohon maaf yang kalian kaisar. Kami sesungguhnya merasa gembira dengan kemenangan ini, tetapi kami juga sedih melihat mantan Raja kami, Raja Humari tengah dalam keadaan kritis.” Jawab sang prajurit dengan muka sedih.
“apa?, di mana saudara Humari sekarang?.” Tanya Balinda sambil terkejut.
“dia ada di dalam sana.” Jawab prajurit tersebut, sembari menunjuk sebuah tenda.
Balinda pun segera menuju ke sana dengan tergesa-gesa. Setelah masuk ke tenda yang ditunjuk prajurit tadi, Balinda terkejut dengan apa yang dia lihat. Balinda tak kuasa menahan air mata, melihat teman sekaligus saudaranya terluka begitu para.
“kenapa yang mulai menangis? Luka dalam pertempuran adalah hal biasa.” Tanya Humari yang sedang berbaring lemah di ranjang.
“kenapa..... kenapa... kamu bisa sampai seperti ini saudaraku?.” Tanya Balinda sambil menahan tangisnya.
“hamba sungguh tak apa yang mulia, mohon hentikan air mata, yang mulia.” Pinta Humari.
“baiklah, tolong cepat katakan. Apa yang telah terjadi padamu?.” Tanya Balinda, sembari menghapus air matanya. Humari pun menceritakan apa yang telah terjadi padanya, Balinda yang mendengarnya tak kuasa menahan air mata.
“maaf ini semua salahku, yang datang terlambat hingga sesuatu seperti ini bisa terjadi.” Ujar Balinda sembari menundukkan kepalanya.
“waduh, mohon angkat kepala yang mulia. Ini semua terjadi bukan salah yang mulia, tapi memang sudah takdir hamba seperti ini. Lagi pula aku dengar yang mulia tiba sebelum tengah hari, bukankah itu berarti yang mulia telah datang lebih cepat.” Ujar Humari sembari berdiri dari ranjang.
“sekali lagi aku mohon maaf, saudaraku.” Ujar Balinda.
“tenang saja yang mulia, aku hanya kehilangan tanganku. Aku masih memiliki jantung yang sehat, akal yang sehat, kaki yang normal. Kehilangan tangan untuk kemajuan kekaisaran bukanlah sebuah perkara besar, dan aku sudah selamat dari keadaan kritis. Jadi ini bukanlah apa-apa yang mulia.” Ujar Humari.
Balinda pun menghabiskan waktu bersama Humari malam itu. Sementara itu di kerajaan Rutoka.
“ lapor yang mulia raja Rui, serangan aliansi MALCUMO ke daerah kerajaan HUTOYA mengalami kekalahan karena ternyata kerajaan HUTOYA telah bersatu dengan kekaisaran JALU. Aliansi MALCUMO pun runtuh dan para raja dari seluruh kerajaan aliansi tewas, karena serangan dari belakang dari pihak kekaisaran JALU.” Ujar seorang pembawa pesan kerajaan RUTOKA.
“apa?, cepat panggil keempat jenderal besar ke sini.” Suruh raja Riu pada sang pembawa pesan.
Tak berselang beberapa lama datanglah keempat Jenderal besar tersebut.
“hormat pada yang mulia.” Ujar keempat Jenderal tersebut, sembari memberi hormat.
“aku mendapat kabar, bahwa aliansi MALCUMO yang sebelumnya menyerang HUTOYA. Berhasil dikalahkan total, oleh kekaisaran JALU yang ternyata HUTOYA telah bergabung mereka.” Ujar sang raja Riu. Mendengar hal tersebut, para Jenderal tadi terkejut.
“sepertinya kita akan menjadi target selanjutnya, yang mulia.” Ujar Jenderal Ruma yang bertubuh penuh dengan otot tersebut.
“iya, maka dari itu aku memanggil kalian kemari. Untuk mendiskusikan langkah penanggulangan menghadapi kekaisaran JALU.” Ujar Sang raja Riu.
Sementara itu di HUTOYA, Sarpa menyarankan pada Balinda untuk segera mengatur pemerintahan di bekas daerah aliansi, karena ditakutkan bahwa kerajaan RUTOKA akan menyerang, melihat kekaisaran JALU sedang dalam keadaan lemah.
__ADS_1