
Balinda adalah pangeran berwajah tampan dan bersifat baik hati, bijaksana dan tegas. Meskipun dengan kedudukannya sebagai calon putra mahkota, dia tak pernah malu bergaul dengan rakyat biasa, dan selalu bersikap dermawan kepada siapa pun.
Melihat hal ini para kasim yang di pimpin oleh kepala kasim Tripta, merasa khawatir dengan kedudukannya jika Balinda menjadi raja. Dia pun lebih mendukung kepada Bhanu (adik tiri Balinda) untuk menjadi raja selanjutnya. Bhanu memiliki sikap yang berkebalikan dengan sifat kakaknya, iya selalu bersikap sombong dan semena-mena terhadap orang lain.
Pada saat Balinda berusia 16 tahun sang raja Agra meninggal, karena sakit yang sudah dideritanya selama 10 tahun. Seluruh kerajaan pun larut dalam kesedihan, meskipun keadaan kerajaan yang kacau, tetapi sang raja Agra dikenal sebagai pribadi raja yang baik hati. Sudah menjadi rahasia umum bahwa keadaan kerajaan ini disebabkan oleh kasim Tripta yang selalu menghasut raja dengan kepintarannya dalam berbicara.
Setelah raja Agra meninggal, para kasim pun semakin bebas, tanpa ada rasa khawatir akan hukuman. Mereka pun dengan bebasnya melakukan upaya pembunuhan diam-diam terhadap Balinda. Tetapi usaha mereka sering kali gagal dikarenakan sang pengawal setia pangeran Bana, yang sudah mengawal Balinda sejak kecil.
Puncak dari upaya para kasim terjadi pada malam pendewasaan(berumur 17 tahun) Pangeran Balinda. Dikarenakan upaya pembunuhan terhadap Pangeran Balinda selalu gagal, mereka pun akhirnya memutuskan melakukan serangan terbuka terhadap Pangeran Balinda.
__ADS_1
Tidak lama setelah matahari terbenam, “ cepat kumpulkan pasukan kita kepung ruangan Balinda, ini adalah kesempatan terakhir kita guna membunuh Balinda. Jika kita sampai gagal, semua kenikmatan yang kita rasakan akan sirna bahkan kita mungkin akan dihukum mati, jika sampai Balinda menjadi raja.” Seru Kasim Tripta kepada para kasim lainnya.
Tak lama kemudian Kasim Tripta dan para antek-anteknya mengepung rapat ruangan Pangeran Balinda. Merasakan ada bahaya di luar Bana pun mengintip melalui jendela ruangan Pangeran Balinda.
“sial. Kasim Tripta sudah kehilangan akal sehatnya. Pangeran, anda lebih baik bersiap-siap untuk melarikan diri, hamba akan memberi sinyal ke para anak buah hamba untuk membuka jalur dan mengawal pangeran.” Seru Bana. “ kenapa kita tidak melawannya Bana?.” Tanya Pangeran Balinda.
“ untuk saat ini belum pangeran, hamba khawatir dengan keselamatan pangeran, karena jumlah pasukan kita saat ini kalah jauh dengan pasukan kasim Tripta. Untuk saat ini lebih baik kita fokus terhadap keselamatan pangeran. Besok kita akan kembali dengan pasukan yang cukup dan mengakhiri kebiadaban Para kasim, hamba bersumpah atas nama ADYATMA.” Ujar Bana dan Pangeran Balinda pun menurut.
Bana pun bergegas membunyikan lonceng di kamar Pangeran Balinda, yang menandakan bahwa keadaan pangeran dalam bahaya. Mendengar bunyi lonceng tersebut secepatnya, para prajurit bawahan Bana pun segera menuju ke sana dan mendobrak barisan kepungan pasukan Para kasim, banyak korban berjatuhan saat itu.
__ADS_1
Setelah berhasil mendobrak masuk barisan kepungan pasukan kasim dari luar, pasukan bana pun segera mengamankan jalur keluar untuk pangeran. “kapten, ini kuda yang sudah kami persiapan. Kapten dan pangeran harus segera keluar istana dan menuju ke tempat yang sudah direncanakan, untuk urusan di sini serahkan pada kami.” Ujar salah satu prajurit sembari memberikan kuda pada Bana.
“ Mari pangeran.” Ajak bana sembari membantu pangeran naik ke atas kuda. Bana dan Pangeran Balinda pun segera lari melalui jalur yang sudah dibuka oleh anak buahnya. Walaupun berhasil melewati kepungan tersebut, masih banyak prajurit yang mengejar dan menghujani mereka dengan anak panah dari belakang. “pangeran, mohon menunduk, agar anda tidak terkena anak panah.” Pinta Bana.
Setelah perjuangan yang berat, mereka pun akhirnya dapat keluar dari istana kerajaan. Tak lama setelah keluar istana, mereka tiba-tiba jatuh bersama kuda yang dinaikinya dan ketika Pangeran Balinda berdiri ia terkejut saat melihat Bana yang sedang sekarat dengan 5 anak panah yang menancap dipunggung nya. “ Bana bertahanlah, aku akan membawamu ke tabib” ucap pangeran sambil meneteskan air mata.
“pangeran, sepertinya anda harus melanjutkan perjalanan sendiri, uhuk.” Ucap Bana sembari berbatuk darah. “tidak Bana, kamu harus pergi bersamaku.” Ucap Pangeran Balinda
. “ maaf pangeran, hamba tak sanggup mengawal pangeran hingga menjadi raja, pangeran harus segera pergi. Lurus saja dari sini, dan menuju ke sungai Beno, prajurit kita yang berpihak kepada anda sudah menunggu di sana.” Ucap Bana . “baik, kamu akan kubawa ke sana bersamaku .” ucap pangeran sembari mencoba mengangkat tubuh Bana Yang besar itu.
__ADS_1
“ tidak pangeran, hamba hanya akan memperlambat pangeran. Tolong pikirkan keselamatan pangeran, jangan sia-siakan pengorbanan para prajurit yang gugur malam ini. Mohon pergilah dan hancurkan kebatilan para kasim istana. ”Ucap bana dan sekaligus pesan terakhir pada pangeran. “tidaaakkkkkkkk.” Teriak pangeran sembari menangis dan memegangi tubuh Bana.