Nga

Nga
Pangeran William


__ADS_3

sore hari didalam istana.


setelag melalui jam yang berat, Hasti,Sarpa, dan Andaka pun kembali ke ruang pertemuan dengan wajah lesu bersama dengan Hari.


"hei, kenapa dengan kalian. kenapa wajah kalian suram begitu?." tanya Balinda.


"ahhh, sudahlah kakak. jangan dibahas. " ujar Sarpa dengan wajah lesu.


"hahah, baiklah. emm adikku Hari dan Andaka, perkenalkan ini adalah Jenderal Josep dari kerajaan Jo Empire, beliau adalah orang yang kuceritakan di pesanku kemarin." ujar Balinda sembari memperkenalkan Jenderal Josep.


"ah,senang bertemu denganmu Jenderal Josep. aku adalah Hari dan ini adikku Andaka." ujar Hari.


"hahahs, senang bertemu denganmu juga. aku telah banyak mendengar kabar kehebatan kelima Jenderal." ujar Josep dengan sopan.


"Baiklah, kita istirahat dulu malam ini. besok kita berangkat kepantai Loya, untuk bertemy Pangeran William." ujar Balinda.


mereka pun berpisah menuju kamar masing-masing.


keesokan Harinya mereka berangkat ke pantai Loya dengan ditemani 20 prajurit elit.


sesampainya dipantai Loya.


Josep memimpin jalan kesebuah gua dibibir pantai.


"Hei, apakah Pangeranmu itu tinggal disini, beberapa hari ini?." Tanya Andaka.


"benar Jenderal, kami tidak punya pilihan lain karena takut ada yang mengikuti dan terpaksa menyembunyikan pangeran disini." Ujar Josep.


mereka pun memasuki gua tersebut. Terlihat ada 4 orang yang gagah perkasa dan 1 pemuda berwajah rupawan dengan rambut kekuning-kuningan.


"pangeran, Hamba datang membawa bantuan." ujar Josep.


"selamat datang Perwakilan dari kekaisaran Jalu, maaf jika tempat ini berantakan." ujar seorang pria.


" wahh, anda juga bisa bicara bahasa kami?." ujar Sarpa.


"hehehe, hanya sedikit saja. masih belajar." ujar pria tersebut.


"selamat datang Josep." ujar Pemuda berwajah rupawan itu.


" Pangeran, perkenalkan dia adalah Kaisar Balinda, Jenderal hari,Jenderal Hasti, ahli strategi Sarpa, dan juga Jenderal Andaka serta beberapa pengawalnya." ujar Josep sembari memperkenalkan kelima Jenderal pada Pangeran.


"maaf, tidak bisa menyambut kaisar dengan benar." ujar Pangeran.


"hahah, santai saja. kita kan sedang dipantai." ujar Balinda.


"maaf pangeran, sepertinya kita tidak punya waktu untuk basa-basi. langsung saja ke inti permasalhannya." potong Hari yang membuat orang-orang dari Jo empire terkejut.


"aduh, maaf. sebenarnya kejadian yang kamu alami hampir sama dengan kejadian ku waktu lampau sebelum menjadi raja kerajaan ADYATMA." ujar Balinda.

__ADS_1


"astaga. maaf jika membuat anda mengingat peristiwa yang tidak mengenakan." ujar Pangeran William dengan menundukkan kepala tanda minta maaf.


"aduh.. sudahlah, seorang pangeran tidak boleh menundukkan kepala dengan mudahnya." ujar Balinda sembari membangunkan Pangeran Josep.


"jika bersalah, tetaplah bersalah. dan yang bersalah harus minta maaf, tak peduli ada jabatannya." ujar Pangeran William.


Balinda mendengar perkataan Pangeran William pun menengok ke arah saudar-saudar lainnya. dan mereka pun merespon dengan menganggukkan kepala.


"Sebenarnya, kejadian itulah yang mempertemukan kami berlima." ujar Balinda.


"apa? benarkah?. bisa tolong ceritakan?." ujar Pangeran William dengan wajah ceria.


"hahaha, baiklah tapi ini akan memakan waktu yanh lama." ujar Balinda.


Balinda pun menceritakan kisahnya dari awal hingga akhir.


waktu pun berlalu dengan cepatnya, tak terasa sudah malam.


"Ya, itulah kisah kami berlima." ujar Balinda.


"wow, sungguh takdir yang penuh lika-liku." ujar Pangeran Josep.


"oh ya, mulai hari ini. aku selaku kaisar Balinda, menyetujui permintaan untuk menolong pangeran William dari kerajaan Jo Empire." ujar Balinda.


semua orang dari Jo Empire pun kaget bukan main.


"benarkah, terima kasih. dimasa depan, ketika aku jadi raja. aku pasti akan membalsa pertolongan dari kaisar Balinda." ujar Pangeran William dengan Wajah senang.


"iya, aku berjanji. mohon bimbingannya." ujar Pangeran William.


"tunggu dulu. maaf jika tidak sopan, kalau boleh tanya. kenapa kamu tiba-tiba menyetujui permintaan kami?." ujar seorang pria.


" ya, karena kami merasa pangeran adalah sosok yang cocok jadi pemimpin. lagipula kejadiannya hampir sama dengan yang kualami dulu." ujar Balinda.


"hahah acara resminya sudah selesai, dan juga hari sudah malam. mari semuanya kita ke istana untuk istirahat." ajak Sarpa.


"haha benar sekali. marilah kita kembali kesana, kita pesta untuk merayakan kerja sama ini." ujar Andaka.


"hadeuhh. diotakmu hanya arak dan makanan saja. tak pernah berubah." Cetus Hasti.


"umm maaf, kalau izin tidak hadir ke pesta. aku masih tak enak jika kita disni berpesta sedangkan rakyatku masih menderita." ujar Pangeran William. mendengar perkataan pangeran William, Balinda dan keempat saudaranya pun kaget dan saling melirik satu sama lain.


"hei, anak muda. memang bagus untuk seorang pemimpin peduli dengan rakyatnya, tapi kamu juga manusia, tidak boleh terlalu kaku dan seperti robot." ujar Hari.


"hahah, benar yang dikatakan adik Hari. kamu juga harus memperhatikan dirimu, jangan membawa beban sendiri. semua itu ada porsinya, lagipula jika terlalu banyak pikiran diusia muda tidak baik untuk kesehatan. jika kamu sakit, siapa yang akan melindungi Rakyatmu." ujar Balinda.


"Benar pangeran, apa yang dikatan kaisar Balinda. tuan juga harus memperhatikan kesehatan pangeran, pangeran juga belum makan semenjak kita datang kesini." ujar Josep.


"apa?. aishhh. nakalnya. jika memang peduli dengan rakyatnya, janganlah menyiksa diri sendiri seperti itu. sudahlah ayo kita segera berangkat ke istana." ujar Andaka.

__ADS_1


Pangeran William pun setuju, dan mereka semua pun berangkat kembali ke istana Kekaisaran JALU.


dalam perjalanan, disebuah hutan ditengah malam.


"swusshhh." bunyi panah.


"awas pangeran." ujar Andaka sembari menapis panah tersebut dengan busurnya.


"sialan." ujar Andaka sembari mengambil busur dan memanah orang yang bersembunyi diatas pohon tersebut.


"brukkk." bunyi orang jatuh dari pohon karena terkena panah Andaka.


"hahah, seperti yang diharapkan dari Jenderal kekaisaran JALU." suara seseorang.


"siapa disana." ujar Pangeran.


"Andaka, dimana orang itu." tanya Balinda.


"maaf kak, aku tidak bisa merasakan asal suara ini." Jawab Andaka.


"siapa orang ini?. bahkan Andaka tidak bisa merasakan keberadaannya." ujar Balinda dalam hatinya.


"hahah, tentu saja. ehem. Hallo Pangeran William, apakah kamu mengenali suaraku, sekarang?." ujar Suara misterius tersebut yang tiba-tiba berubah menjadi suara wanita.


"Suara ini.... kamu Caroline sang penyihir?." ujar Pangeran William.


"hahah,benar sekali. seratus buat Pangeran, selamat. baiklah, sampai jumpa lagi Kaisar Balinda yang tampan." ujar Caroline.


"hahaha, cieee. cieee.akhirnya ada seorang wanita yang menggoda kakak." ujar Andaka.


"diamlah, Andaka. ayo semuanya menyebar dan mencari orang itu, dia pasti belum pergi jauh." ujar Balinda dengan wajah kesal.


ketika Balinda ingin pergi mencari sumber suara itu.


"maaf kaisar. itu adalah Caroline sang penyihir, dia pasti masih berada di kerajaan Jo Empire. dia adalag wanita sakti, tak heran dia dapat melakukan hal seperti ini." ujar Pangeran William sembari mencegah Balinda pergi.


" apa? aku tak pernah mendengar hal seperti itu." ujar Balinda tak percaya.


"tapi itulah kenyataannya kaisar. dikerajaan kami ada satu gunung yang hanya 2 orang yang tinggal disana. dia adalah Caroline dan gurunya, penyihir Jean. mereka adalah orang yanh tak pernah ikut ataupun terseret ke urusan dunia luar." ujar Josep.


"lalu kenapa dia menyerang kita?." tanya Sarpa.


Josep berjalan kearah mayat orang yang dipanah oleh Andaka.


"ini adalah mayat, pembunuh milik Roger. sepertinya ini yang menjadi perantara sihir Caroline." ujar Josep.


"apa? kalo begitu apakah Caroline dan gurunya memihak ke si penghianat Roger?." ujar Pangeran William.


"jika caroline aku tidak tau. tapi untuk penyihir Jean, aku bisa memastikan bahwa dia tidak mungkin memihak Roger. karena dulu dia dan baginda raja adalah teman baik." Jelas Josep.

__ADS_1


"sudahlah, masalah nanti kita akan selesaikan saat masalah itu datang. tidak ada gunanya juga menebak-menebak hal yang tidak pasti. lebib baik kita lanjutkan perjalanan ke istana." ujar Sarpa.


mereka semua pun melanjutkan perjalanan ke istana dengan aman, dan langsung menggelar pesta saat itu juga.


__ADS_2