
keesokan harinya.
Balinda memerintahkan para pengerajin kayu untuk membuat kapal perang dengan bantuan dari Josep untuk masalah desain kapalnya.
Sarpa bertugas untuk menyiapkan strategi dengan bantuan Jenderal kerajaan Jo Empire, yang membantu menginformasikan medan disana.
Hasti bertuga mempersiapkan persediaan makanan juga peralatan perang.
Andaka bertugas melatih pemanah-pemanah Kekaisaran JALU.
Hari bertuga melatih pangeran William, baik secara fisik dan mental dalam pertempuran dan pertarungan.
disuatu Padang.
"centrankkk." suara pedang yang beradu.
"bangunlah pangeran. apa hanya segini kemampuan orang yang ingin menjadi raja." sindir Hari.
"sial.... ayo sekali lagi." ujar Pangeran William.
Balinda yang tak sengaja lewat dan melihat hal itu kagum.
"hei kalian berdua. mari kesinilah istirahat sebentar." Seru Balinda.
"hmmm. kakakku sudah memanggil, ayo istirahat satu jam." ujar Balinda.
"baik guru." ujar Pangeran Balinda.
mereka berdua pun pergi menemui Balinda, dan makan bersama.
Note: Raja mah bebas, mau makan dimana aja ada pelayan yang siap nganterin.. kalo authornya, ngak kerja\=ngk makan wk wk wk wk.
setelah selesai makan.
__ADS_1
"hmm. pangeran, apakag Hari melatihmu terlalu keras?." ujar Balinda.
"tidak. dia hanya melatihku, lari 5 KM mulai tengah malam sampai pagi, setelah itu sarapan lalu naik kegunung dengan membawa beban batu seberat 50 kilogram. lalu turun gunung dengan membawa beban yang tadi serta kayu yang kira-kira beratnya 30 Kg. setelah itu istirahat sebentar lalu dilanjutkan dengan latihan bertarung dengan mengggunakan pedang ini." Jelas Pangeran William sambil membawa pedang besar.
"hei, bukankah itu pedang Gama?." tanya Balinda sembari menunjuk pedang besar ditangan Pangeran William.
"iya betul, bagaimana kaisar bisa tahu?." tanya Pangeran William.
"ha ha ha, tentu saja aku tahu. pedang besar seberat 50 Kg, itu dibuat bersamaan dengan kelima senjata kami. ketika hari kutanya, untuk siapa dia membuat pedang besar itu?. dia menjawab. ketika aku melihat seorang anak yang mempunyai sifat sepertimu maka disaat itulah aku akan memberikan pedang ini padamu.... tak kusangka dia memberikannya padamu." Jelas Balinda.
"apa? benda seberharga ini, apa aku layak mendapatkannya." Tanya Pangeran William.
"Saat ini belum. aku hanya meminjamkannya padamu, kamu masih belum matang, belum menjadi sosok ideal untuk menjadi tuan pedang besar Gama ini." Cetus Hari.
"ahh. sudah kutebak.. aku memang tak pantas untuk pedang ini." keluh sang Pangeran.
"aku tak mengatakan kamu tidak pantas, tapi belum pantas. kamu masih kurang dalam hal ambisi, jika untuk menjadi raja. maka ambisimu masih kurang, mulai sekarang pikirkanlah baik-baik, ambisimu kedepannya. setelah itu katakanlah padaku, jika jawabanmu memuaskan maka akan kuberikan pedang Besar Gama itu." Jelas Hari.
"jika seseorang ambisinya telah tercapai maka harus memiliki ambisi yang lebih besar lagi. dulu aku hanya ingin memberantas kezaliman para kasim, setelah itu menjadi raja dan mensejahterakan rakyatnya. lalu ketika sudah tercapai aku mulai berambisi menyatukan seluruh daratan ini. lalu terciptalah Kekaisaran JALU, setelah itu akun ingin mensejahterakan dan menjadi kaisar yang adil untul rakyatku. dan jika ditanya apa ambisiku saat ini, mungkin... hmmmm... aku ingin menjadi Raja seluruh dunia." ujar Balinda.
Pangeran William pun terkejut dan dengan spontan mengatakan.
"wow, Kaisar sunggug serakah ya. ha ha ha ha ."
" bukan serakah. tapi manusia haruslah mempunyai mimpi yang besar, itu seperti kewajiban. manusia yang hidup tanpa ambisi, dengan kata lain hanya hidup dengan pikiran. ah, yang penting semua kebutuhan tercukupi. itu tak ada bedanya dengan hewan, yang hidup hanya untuk makan." Cetus Hari sembari menatap langit.
"ahh, jadi ambisi adalah yang penting . hm. aku mengerti." Kata Pangeran William.
"bukan hanya hal penting, tapi hal terpenting. sehebat apapun seseorang, tidak akan ada artinya tanpa ambisi." Jelas Hari.
"hahah, jadi teringat seseorang." Cetus Balinda.
"Siapa itu kaisar?." tanya Pangeran William
__ADS_1
"dulu kami pernah menghadapi seorang musuh, yang bahkan adik hari pun tidak bisa menang melawannya." ujar Balinda.
" Siapa dia?. kedengarannya hebat sekali, bahkan Guru tak mampu melawannya." Tanya Pangeran William dengan penuh antusia.
"dia adalah Yama, yang dijuluki dewa kematian. bukan hanya Hari tak bisa mengalahkannya, bahkan kami berlima pun kesulitan mengalahkannya." Jelas kaisar Balinda.
"wow, dia pasti orang terkenalkan?." Tanya Pangeran William.
"sebenarnya kami awalnya tak banyak tahu tentangnya, kami hanya mendengar dari rumor." jawab Kaisar Balinda.
"apa? orang sehebat dia tak terkenal?. hanya rumor saja yang terdengar?." tanya Pangeran William.
"itu karena dia tak punya Ambisi. dia hanya membunuh saat dia ingin, dan tinggal di gunung selama hidupnya." jelas Hari.
"hahaha. benar juga, jika saja dia punya ambisi besar. dia tak akan tewas saat perang penentuan itu." Sahut Balinda.
"apa? dia sudah tewas? sayang sekali. sebenarnya aku ingin bertemu dengannya walau hanya sekali." ujar Pangeran William.
"hahah untuk hal itu, kamu bisa menyalahkan kami berlima yang telah membunuhnya. tapi kamu harus ingat, ketika dia hampir mati. dia tersenyum lebar dan mengatakan. andai saja aku punya tujuan sejak dulu, tapi aku senang bisa mati ditangan orang yang punya ambisi besar dan gila seperti kalian, wahai kelima saudara dari kerajaan....ups kekaisaran JALU. he he he he." jelas Balinda.
"wah, sayang sekali. baiklah, aku sudah memutuskan. bahwa ambisiku mulai saat ini adalah mencari ambisi yang besar." ucap Pangeran Balinda.
"ha ha ha ha ha ha. ambisi apaan itu?. memikirkan ambisi besar adalah ambisi? lalu ambisi memikirkan ambisi besar, ha ha ha ha ha." tawa Balinda mendengar Perkataan Polos sang Pangeran William.
"baiklah, istirahatnya sudah cukup. ayo latihan lagi Pangeran William." ujar Hari.
"ayo guru." ujar sang Pangeran William.
Pangeran William pun melanjutkan latihan bersama Jenderal Hari. dengan Balinda memperhatikan Dari jauh.
Sebulan pun berlalu. kapal perang, persediaan pangan dan perlengkapan perang sudah siap. 1000.000 pasukan pun berbaris rapi diupacara pemberangkatan perang. Didalam perang ini seperti biasa akan dipimpin oleh Balinda dengan keempat Jenderalnya.
mereka semua pun berangkat dengan mengendarai 500 kapal perang menuju selatan yaitu kerajaan Jo Empire.
__ADS_1