
Pertemuan
Mendengar teriakan tersebut, seorang anak muda berbadan kurus, tinggi dan berambut botak mendekati mereka. “pangeran?. Pangeran apa yang terjadi?.” Tanya anak muda tersebut, Pangeran pun menjelaskan pada anak muda tersebut, sembari bersiap menaiki kuda.
Tapi ternyata kaki kuda tersebut keseleo dan tidak sanggup berdiri. “ pangeran, rumah hamba tak jauh dari sini dan di sana ada kuda yang biasa hamba bawa untuk menarik hasil tani keluarga hamba, dan untuk urusan jasad ini serahkan pada hamba.” Ucap pemuda tersebut sembari menunjuk jalan ke rumahnya. “terima kasih, siapakah nama saudara?.” Tanya pangeran sambil berjalan ke arah yang ditunjuk anak muda tersebut.
__ADS_1
“nama hamba Sarpa, pangeran.” Jawab pemuda tersebut sembari mengambil darah Bana dan mengarahkannya ke arah yang lain. “ apa yang kamu lakukan Sarpa?.” Tanya pangeran. “hamba tengah membuat jejak darah palsu guna menipu para pengejar.” Jawab Sarpa.
“ apakah masih ada pengejar? Kenapa mereka belum sampai?, aku cukup lama di sini, seharusnya kalau memang para pengejar masih mengejar seharusnya mereka sudah sampai dari tadi.” Tanya pangeran dengan sedikit kebingungan. “ mari pangeran ke rumah hamba, kita tak boleh di sini lebih lama lagi.” Jawab Sarpa sambil berjalan menuju arah rumahnya.
“ waw, kamu cerdik juga ya. Walaupun masih muda, bisa berpikiran panjang, layaknya strategis ulung.” Puji pangeran setelah mendengar penjelasan Sarpa. “ pangeran hanya berlebihan, hamba masihlah pemula, mungkin ini hanya kebetulan..... itu rumah hamba, silahkan tunggu sebentar, hamba akan menyiapkan kudanya.”
__ADS_1
Tak lama setelah Sarpa masuk rumah, keluarlah kedua orang tua Sarpa. “pangeran? Pangeran mohon maafkan keluarga hamba, tidak bisa membuat apa pun untuk disuguhkan.” Ujar orang tua Sarpa sembari membungkuk.
“ berdirilah paman, bolehkah saya meminjam kuda paman?.” Ujar Pangeran sambil membangunkan orang tua sarpa. “ silahkan pangeran, suatu kehormatan bisa membantu pangeran, ummmm bolehkah hamba tanya ke mana tujuan pangeran?.” Tanya ayah Sarpa. “ saya sedang menuju ke sungai Beno.” Jawab pangeran.
“ semoga perjalanan anda lancar pangeran.” Doa orang tua Sarpa. Tak lama kemudian Sarpa pun keluar dan memberikan kuda kepada pangeran. Ketika pangeran menaiki kuda tersebut. “Sarpa kau adalah orang yang cerdik, dan kulihat punya bakat guna menjadi ahli strategist .maukah kamu ikut denganku? Aku membutuhkan orang yang sepertimu di sampingku.” Tanya pangeran. “bbbbbeeennnaaarrrkkkaaahhh?? Sungguh suatu kehormatan bagi hamba.” Jawab Sarpa sembari terheran-heran. “ya, ayo ikut aku ke sungai Beno.” Mereka pun pergi menuju ke sungai Beno.
__ADS_1