Nga

Nga
Pertemuan Part 3( End)


__ADS_3

Sesampainya di sana Sarpa pergi, untuk membangunkan penjual kuda tersebut.  Tak berselang lama Sarpa pun keluar, bersama sesosok pria dengan postur hampir sama dengan Hari, akan tetapi memiliki dia memiliki telinga yang lebar dan disertai hidung yang mancung dan berwajah tenang. 


“suatu kehormatan bisa melayani pangeran, nama hamba Hasti, hamba adalah anak dari pemilik toko ini, hamba akan memilihkan kuda yang terbaik yang ada di sini untuk pangeran.” Ucap pria gagah anak penjual kuda tersebut.


“Mohon bantuannya saudara Hasti.” Ucap pangeran. Mereka pun dipilihkan oleh Hasti, kuda yang berbadan tegap besar, serta gagah.


Sebagai seorang petarung, Hari merasakan aura seorang petarung yang kuat di diri Hasti, dan menyampaikan hal tersebut kepada Pangeran Balinda. Pangeran pun langsung menceritakan yang terjadi padanya pada Hasti.


“kurang ajar, para Kasim itu, berani sekali mereka mencoba membunuh pangeran mahkota.”. ucap Hasti dengan wajah marahnya. “jikalau ada yang bisa hamba bantu, mohon katakan pangeran. hamba dengan senang hati akan membantu, walau harus mati sekalipun.” Lanjut Hasti.

__ADS_1


“ikutlah denganku ke Beno, besok sebelum tengah hari kita akan meruntuhkan kebiadaban para kasim-kasim tersebut.” Ucap pangeran 


“dengan senang hati pangeran.” Ucap Hasti. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju sungai Beno. Hasti pun memberikan kuda tambahan untuk Sarpa serta mengganti kuda yang di tunggangi pangeran. Sehingga 4orang ini melakukan perjalanan  dengan menaiki kuda masing-masing. Kuda yang dinaiki empat orang tersebut melaju dengan kecepatan tinggi.


 Di tengah perjalanan sudah dekat dengan sungai Beno, mereka bertemu dengan seorang pemburu yang bertubuh agak pendek, berpostur tegap dan gagah. pangeran terkejut melihat keahlian pemburu tersebut memanah kijang di tengah malam. “ wow, hebat sekali . keahlianmu dalam memanah sungguh luar biasa. Siapakah nama saudara?.” Tanya pangeran. 


“ Pergilah, aku tak akan membagi hasil buruanku padamu.” Ucap pemburu tersebut yang tengah membakar buruannya sembari meminum Arak. “ hei.. jaga bicaramu.” Ucap Hari. Pangeran pun segera menghentikan Hari seraya berkata. “ saya tidak ada niat untuk meminta hasil buruan saudara, saya hanya takjub dengan keahlian memanah saudara dan berniat meminta bantuan saudara untuk membantu meruntuhkan para kasim istana.”


“ hahahaha. Seorang maling teriak maling. Hei bodoh kau pikir siapa yang sedang kau ajak bicara?”. Ucap Hasti. “ dia adalah Pangeran Balinda, beliau tadi diserang oleh para Kasim di istana, dan lari menuju Sungai beno, dalam perjalanan kami pun bertemu bertamu beliau.” Sambung Sarpa.

__ADS_1


Mendengar hal itu si pemburu masih tidak percaya, dan mengamati pangeran dari dekat dengan mata mabuknya. “ benarkah?,,, hmmmm.” Setelah melihat pangeran dengan teliti dia pun akhirnya terkejut. “ASTAGA. Ini mimpi atau tidak sih?.” Ucap pemburu tersebut sembari menampar dirinya sendiri. “hahahah, lihatlah dia seperti seorang yang mengaku pelaut, tetapi mabuk laut.” Tawa Hari.


“sudah, berhenti menampar diri sendiri. Ini nyata dan bukan mimpi, aku adalah Pangeran Balinda.” Ucap pangeran sembari menghentikan tangan sang pemburu konyol tersebut.


“ maaf kan hamba. Hamba tidak tahu kalo anda adalah pangeran.” Ucap pemburu sembari membungkuk. “sudah, jangan terlalu dipikirkan. Siapakah nama saudara?.” Ujar pangeran sembari membangunkan Sang pemburu.


“Nama hamba Andaka pangeran, hamba tinggal di hulu sungai Beno dan sering berburu kijang dihutan ini.” Ujar Pemburu yang bernama Andaka tersebut.


“ saudara Andaka, maukah engkau membantuku menyerang para kasim besok?. Kami sangat butuh keahlianmu dalam memanah.”, pinta pangeran.

__ADS_1


“ dengan senang hati pangeran, hamba akan melindungi pangeran walaupun harus berkorban nyawa.” Ujar Andaka. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Sungai beno.


__ADS_2