Nga

Nga
Perang Penentuan (S1 End)


__ADS_3

Sebulan setelah bergabungnya YAMA, di istana kerajaan RUTOKA.


“bagaimana persiapannya?.” Tanya Raja Rui, pada jenderal Darui.


“semua sudah siap rajaku, tinggal menunggu perintah.” Jawab Jenderal Darui.


“baiklah. Perintahkan semua bersiap-siap!, besok kita berangkat menyerang Kekaisaran JALU dengan kekuatan penuh.” Perintah sang Raja Rui.


“maaf, apa tidak sebaiknya kita menunggu langkah musuh?.” Tanya Jenderal Darui.


“Tidak perlu!. Situasi sekarang, hanya tinggal kita dan mereka dengan kata lain Membunuh atau dibunuh, maka dari itu aku ingin meningkatkan peluang kemenangan kita dengan menyerang terlebih dahulu.” Jelas Raja Rui.


“Baik.” Tegas sang Jenderal Darui, menandai kepergiannya untuk memberi perintah bersiap perang.


Sementara itu di bekas istana kerajaan AYAMA. Terlihat Balinda tengah berdiskusi dengan Sarpa.


“Situasi saat ini terasa aneh bukan?.” Tanya Balinda pada Sarpa sembari menyeruput teh hijau.


“benar, aku pun merasa begitu. Akhir-akhir ini kerajaan RUTOKA sama sekali tidak menyerang lagi, sepertinya mereka sedang menyiapkan invasi besar-besaran dan berusaha menghemat jumlah pasukan.” Cetus Sarpa.


“Sepertinya begitu. Kalau gitu, kita harus menaruh pasukan di tempat berpotensi perang. Dari peta kita bisa tahu, ada empat daerah yang bersinggungan langsung dengan Kerajaan RUTOKA yaitu, Danau Ruay, Gunung Maru, Benteng kokoh Ruda, dan pantai Samir. Menurutmu yang mana adiku?.” Tanya Balinda pada Sarpa.


“jika menilik kebiasaan Raja Rui, kemungkinan dia akan memimpin pasukannya sendiri dan tempat yang mendukung cara bertempurnya yaitu Benteng Kokoh Ruda dan Pantai Samir, selama ini dia kalau perang pasti 2 tempat tersebut, dia belum pernah perang di daerah Danah Ruay maupun Gunung Maru karena tentu saja hal itu akan menyulitkan mereka dan kita dari segi medan.” Jelas Sarpa sembari menunjuk peta.


“hmm, tapi tak menutup kemungkinan mereka akan menyerang dari 2 tempat ini kan?.” Tanya Balinda sembari menunjuk ke gambar danau Ruay dan Gunung Maru. 


“iya, tapi kemungkinannya kecil.” Jawab Sarpa. “ bagaimana kalau gini....” ujar Balinda lalu memindahkan patung ke peta. 


Setelah beberapa saat, Balinda pun berhenti dan berkata. “bagaimana kalau begini?. Kita akan membagi pasukan kita menjadi dua setelah itu setengah pasukan kita Taruh di perbatasan Danau Ruay dan Benteng kokoh Ruda. Setengahnya lagi kita bagi rata keempat tempat perbatasan.” Jelas Balinda.


“ohh, ide bagus kakakku. Dengan begini tak peduli mereka akan menyerang dari mana, pasukan kita dapat saling membantu karena posisi Danau Ruay dan Benteng kokoh Ruda yang sebagai tempat berkumpulnya sebagian besar pasukan berada di tengah-tengah. Walau mungkin awal perang kita kalah jumlah tapi dengan posisi ini kita dapat berkumpul dengan cepat.” Ucap Sarpa dengan Rasa antusias.


“baiklah...” ucap Balinda sembari bangun dari kursi dan segera memanggil pelayannya. “Tolong Panggil Ketiga Jenderal besar Kesini.” Tak berselang beberapa lama Hari, Hasti, Andaka pun tiba.


“Ada apa yang mulia memanggil Andaka yang tertampan diantara kelima bersaudara  kesini?.” Ujar Andaka. Seketika suasana menjadi dingin, terlihat 2 sosok menakutkan muncul di belakang Andaka dengan wajah menyeramkan. Kedua Sosok itu pun memegang pundak Andaka dan Berkata. “hai orang tertampan, si Hari yang buruk rupa ini  mau minta tanda tanganmu.” “iya, Hasti yang Jelek ini pun minta dipeluk olehmu.” Mendengar suara tersebut, wajah Andaka berubah menjadi pucat. Dengan suara ketakutan dia berkata. “hiiii, maaf. Aku kan tidak pernah bilang saudara yang lain jelek.” 


“bagaimana menurutmu yang mulia?.” Tanya Hari sambil memelototi wajah Andaka. “hahah, sebelum itu, tolong stop panggil aku yang mulia. Untuk masalah kalian, hmmmm. Aku rasa Andaka benar, dia tidak pernah bilang kalian jelek maupun buruk rupa...” jawab Balinda, mendengar hal itu, Andaka langsung menuju tempat Balinda dan berkata. “kalian dengar?. Jangan buruk sangka dulu denganku, contohlah kak Balinda yang baik hati ini.” Mendengar hal ini Hari dan Hasti malah tertawa.


Suara tawa mereka diikuti suasana mencekam dari tempat Andaka. Andak yang kaget menoleh ke belakang, saat menoleh Andaka melihat Balinda seakan-akan mau menelannya.


“memang benar kamu tidak bilang mereka Jelek. Tapi kamu bilang kamu yang tertampan diantara kita berlima?. Jadi itu berarti kita berempat lebih jelek darimu yang berwajah babi ini?. Hohoho.” Ujar Balinda seakan ingin menggigit Andaka. Melihat dan mendengar hal ini, Andaka sontak melompat dan baru sadar Bahwa ruangan itu dipenuhi hawa pembunuh. Wajah keempat saudaranya berubah seakan sedang haus darah, dalam keadaan panik pun Andaka berkata dengan suara penuh dengan ketakutan. “hei, hei. Apakah kalian tak tahu hari ini hari apa?. Ini hari kebalikan,, ka-kalian tahu tidak apa artinya?. Artinya di hari ini semua perkataan kita berarti kebalikannya. Da-dan jika aku bilang aku yang tertampan, itu berarti aku yang terjelek.” Seakan tak mendengar hal yang diucapkan Andaka, mereka terus mendekat. Andaka semakin ketakutan, sampai Hari berkata dengan wajah yang menakutkan. “benarkah? Dari mana kamu tahu?.” “ ah-ah, itu aku dengar dari seorang dari jauh yang kutemui. Katanya itu kebiasaan di tempat mereka.” Jawab Andaka. Seketika suasana berubah menjadi adem, dan wajah mereka dihiasi senyuman manis dan Hari pun berkata. “oh, kenapa tidak bilang dari tadi?....” ujar Hari sembari merangkul Andaka.


“ya, kalian tidak tanya sih.” Jawab Andaka dengan senang. “hohoho, hari ini hari kebalikan. Itu berarti kalo aku sayang pada adik bontotku dan ingin melindunginya maka aku harus melakukan sebaliknya bukan?.” Tanya Hari dengan penuh senyum. “iya, betul sekali.” Jawab Andaka. Tanpa dia sadari, tiba-tiba hawa pembunuh dirasakan dari sampingnya. Andaka merasa ada yang salah dan menoleh ke samping, ketika menoleh dia terkejut seakan melihat hantu dan melompat menjauh. Dengan terbata-bata Andaka berkata. “eh-eh-eh. Ada apa ini?.” Hari dengan senyuman mematikan berkata. “hari kebalikan ingat?. Betulkan saudaraku?.” “hahah, betul sekali.” Sahut Sarpa. Suara berisik pun menggema dari ruang mereka.


Setelah beberapa lama, terlihat Andaka dengan wajah bengkak mirip seperti Babi sambil memegang bendera putih tanda menyerah. 


“Hahahah, hai tampan. Bagaimana kabarmu.” Ujar Hari Sambil memegang wajah Andaka. Andaka dengan wajah ngambek berkata. “apaan sih. Kan tadi Cuma bercanda.”


“hahaha sudahlah, ada hal penting yang ingin aku katakan.” Cetus Balinda.


“apa itu?.” Tanya Hasti. Balinda pun menjelaskan apa yang dibicarakannya dengan Sarpa. 


“yah. Maka dari itu aku minta kalian kemari. Aku ingin kita berpisah dan memimpin masing-masing pasukan.” Ujar Balinda.


“eh?. Mungkin kalian lupa, bagaimana jika Yama menyerang kak Hari dan Hasti?.  Akan berbahaya jika terpisah.” Tanya Andaka sembari merangkak duduk ke kursi.


“tentu saja aku ingat. Hari dan Hasti akan bersama di pantai Samir, lokasi itu adalah lokasi teraman bagi mereka. Posisi benteng akan kita serahkan pada Andaka, Sarpa akan di danau Ruay dan aku akan di gunung Maru. Dengan begini kita akan bisa saling membantu.” Jelas Balinda.


“baiklah. Kalau begitu sebaiknya kita berangkat sekarang.” Cetus Hasti sambil berdiri. 


Mereka berlima pun berangkat ke tempat masing-masing dengan bala tentaranya.


Keesokan harinya, bala pasukan RUTOKA telah berkumpul di istana dan sedang menunggu instruksi para raja serta kedua jenderal yang tengah duduk di atas altar.


“Rajaku, kita akan menyerang lewat jalur mana?.” Tanya Jenderal Darui yang tengah berdiri di samping Raja Rui.


“Itu juga masih kupikirkan. Bagaimana pendapatmu Jenderal Suna?.” Jawab dan Tanya Raja Rui.


“menurut saya, kita harus menyerang lewat Pantai Rajaku. Guna menghindari kepungan dari 2 arah lainnya.” Jawab Jenderal Suna.


“Baiklah, kurasa itu yang terbaik. Ngomong-ngomong, di mana si Yama?.” Ujar Raja Rui.


“seperti yang sudah saya laporkan, Yama diberi kebebasan untuk bergerak. Saya jadi tak tahu info dia dimana saat ini.” Jawab Jenderal Suna.


“aghhh. Orang itu, selalu merepotkan.” Cetus Jenderal Darui.


“Biarlah, selama dia berguna dan membantu kita.” Ujar Raja Rui. “ahh, kurasa sudah saatnya berangkat.” Lancut Raja Rui.


Raja Rui pun berdiri dan berjalan menuju ujung altar, diikuti oleh kedua Jenderalnya.


“Wahai rakyat RUTOKA, kali ini sudah saatnya kita menguasai seluruh daratan ini. Perang kali ini bukanlah perang biasa, siapa yang menang? Dialah yang akan menjadi penguasa di daratan ini. Selama ini kita hanya diam dan melihat, para anjing JALU menggonggong dan berseru akan menyatukan daratan. Sekarang sudah saatnya kita menunjukkan, siapa menyatukan siapa. Saya yakin dengan kemampuan Rakyatku, kemenangan sudah di P.A.S.T.I.K.A.N!!!!!!!” Seru sang Raja Rui pada Pasukannya. Hal ini diikuti sorak-sorai para prajurit “uoooooooo, kejayaan bagi RUTOKA, kemuliaan bagi Raja Rui.” Menggema di sana.


Setelah pidato dan sorak-sorai. Raja Rui dan Jenderal Suna serta Jenderal Rui berangkat ke pantai samir bersama ke 900.000 pasukan yang berisi prajurit veteran dan baru. Sementara itu di suatu tempat, Yama dan 100.000 pasukannya.


“Tuan Yama, kami mendapat kabar bahwa pasukan pusat telah berangkat ke pantai Samir .” ujar salah satu prajuritnya.


“hmm, ada info tentang lokasi Hari dan Hasti?.” Tanya Yama.


“belum, mata-mata kita tidak melihat satu pun pemimpin dari musuh diposnya.” Jawab prajurit tersebut.


“oh, untuk saat ini kita pantau situasinya dan ingat, begitu kita berperang jangan lakukan hal lain kecuali menyerang Hasri dan Hasti. Fokuslah pada mereka berdua.” Ujar Yama. Prajurit tersebut hanya merespons dengan anggukan kepala.


Saat tengah hari, pasukan RUTOKA telah tiba di pantai Samir. Mereka melihat bahwa perbatasan musuh dijaga oleh Hari dan Hasti beserta 100.000 pasukan, melihat hal ini Raja Rui mengirim Jenderal Darui dan 300.000 pasukan untuk menyerang.


Sementara itu, Hari dan Hasti yang menyadari situasi ini memanggil pembawa pesan.


“sampaikan situasi ini ke Andaka, bahwa RUTOKA menyerang di sini. Raja Rui dan kedua Jenderalnya beserta 900.000 pasukannya ada di semua.” Ujar Hari.


“baik.” Jawab pembawa pesan, ia pun pergi menuju pos Andaka. Tak berselang beberapa lama, Jenderal Darui dan 300.000 pasukan menyerang pasukan Hari dan Hasti.


“pasukan kekaisaran JALU, adalah pejuang pemberani, tidak ada pengecut di sini. Memang kenapa jika mereka jauh lebih banyak? Memang kenapa jika kita hanya segini?. Mungkin jika orang lain akan berkata untuk bertahan sampai bantuan datang, tapi berbeda denganku. Targetku adalah kemenangan, aku dan saudaraku Hasti sendirilah yang akan memimpin di bagian depan. Mari kita bantai pasukan musuh.” Cetus Hari. Mendengar hal tersebut, pasukan mereka berteriak bersemangat. “BANNNTAIIIIIII!!!!!!.” Kata tersebut terus menggema di sana.


“Siap adikku?.” Tanya Hari pada Hasti. “hahaha, kapan pun, di mana pun.” Jawab Hasti sambil tersenyum. “oh, mari bertaruh. Barang siapa yang membunuh musuh paling banyak akan menang” Tantang Hari. “hohoho, baiklah. Apa hadiahnya?.” Tanya Hasti. “yang menang akan dipijiti oleh yang kalah selama 5jam. Berani?.” Cetus Hari. “siapa takut.” Jawab Hasti, sembari bersiap-siap. Mendengar hal ini, Hari mengangkat senjatanya, lalu menurunkannya. Diikuti dengan memacu kudanya, hal ini diikuti oleh Hasti dan seluruh pasukan mereka.


Melihat Hal ini, Jenderal Darui yang tengah memacu kuda untuk menuju musuh pun sempat kaget dan kemudian tersenyum. “Hahah, sungguh berani. Mari kita tunjukan apa akibat jika teralu berani.” Seru Jenderal Darui, diikuti teriakan pasukannya. “ouuuuuhhhh.”


Bentrokan pun terjadi, Hari dan Hasti yang berada dipaling depan terus membunuh musuh satu persatu. Yang terdengar di sana bukan suara adu pedang, melainkan teriakan Hari dan Hasti yang tengah berhitung. “SATU,DUA.....”. pasukan RUTOKA, melihat hal ini gentar. Seakan mereka sedang melawan monster. Sementara itu Jenderal Darui, melihat pemandangan tersebut, ikut gentar dan berkata dalam hati. “sial, mereka berdua manusia?.” Sang Jenderal Darui secara refleks mundur dan meminta pasukannya membuat formasi bertahan.


Hal itu juga disadari oleh Raja Rui dan Jenderal Suna.

__ADS_1


“dua orang itu target si Yama?. Gila!.” Ujar sang Raja Rui.


“iya. Bahkan Jenderal Darui secara spontan membentuk formasi bertahan.” Cetus Jenderal Suna.


“menurutmu, Jenderal Darui dapat mengatasinya?.” Tanya Raja Rui.


“kemungkinan besar Rajaku. Perang ini bukan hanya antar Jenderal, kita masih unggul jauh dalam jumlah.” Jawab Jenderal Suna dengan sedikit ragu-ragu.


“Yahh, semoga saja kita dapat menang sebelum bala bantuan musuh tiba.” Harap Raja Rui.


Tak terasa, hitungan Hari sudah sampai angka 500 orang sementara Hasti berada diangka 498. Melihat laju Hari dan Hasti tak terbendung dan juga waktu hampir malam, Jenderal Darui memutuskan untuk mundur. Kemunduran pasukan musuh, tak dikejar oleh Hari dan Hasti. Mereka memerintahkan pasukan untuk mundur.


Perang hari ini pun berakhir dengan hasil yang mengejutkan. 300.000 pasukan yang dipimpin Jenderal Darui menerima kerugian besar, dan menjadi 200.000 pasukan. Sementara itu, pasukan Hari dan Hasti tersisa 70.000 pasukan yang awalnya hanya 100.000 pasukan.


Di tempat istirahat pasukan RUTOKA.


“ada apa Jenderal Darui. Kenapa kita mengalami kerugian besar?.” Tanya Raja Rui.


“Maaf Rajaku. Ini salahku, aku terkejut dengan aksi kedua Jenderal Musuh dan malah fokus bertahan. Tapi lain kali akan hamba tebus Rajaku.” Ujar Jenderal Darui.


“Baiklah, bawa sisa pasukanmu besok dan pastikan kemenangan kita di sini. Kita tak punya waktu banyak, sebelum bantuan musuh tiba.” Ujar Raja Rui.


“Baik Rajaku.” Seru Jenderal Rui lalu di meninggalkan tempat itu.


Sementara itu, di tempat istirahat Hari dan Hasti. Terlihat Hasti sedang memijit kaki Hari dengan wajah masam.


“Hahaha ,enak saudaraku.... ahhh, agak turun sedikit. Ahhhh ya disitu.” Ucap Hari sambil menikmati pijatan Hasti.


“Sial, cepatlah waktu berjalannya. Oh iya kak, menurutmu Andaka sudah siap belum yah?.” Cetus Hasti sambil terus memijat.


“ya, walau dia orang yang nyeleneh tapi dia dapat diandalkan.” Jawab Hari.


“ini sudah cukup malam, tapi kenapa koq masih sepi?. Apa Andak lupa dengan rencananya ya?.”  Ucap Hasti dengan cemas.


“tenanglah, kalaupun dia lupa. Akan kubuat dia membayarnya. Ahahahhaha.” Ujar Hari.


Sementara itu, di balik gelapnya malam. Andaka beserta 300.000 pasukannya, bersembunyi sekaligus bersiap menyerang markas musuh. 


“hei, apakah pembawa pesan sudah berangkat?.” Tanya Andaka sembari membantu persiapan.


“sudah tuan.”  Jawab prajurit di sampingnya.


“oke, percepat persiapan kita. Kita harus sudah membakar markas musuh sebelum kak Sarpa tiba.” Seru Andaka.


Setelah beberapa menit.


“Lapor, tuan. Persiapan selesai.” Lapor seorang prajurit.


“Baik, persiapkan panah.” Seru Andaka, diikuti gerakan sebagian pasukannya.


“Nyalakan api.” Seru Andaka, diikuti dengan sebagian prajurit lainnya yang menyalakan api di mata anak panah yang sudah di olesi minyak. Seketika, api pun membara di seluruh anak panah.


“bersiap!!!.” Seru Andaka, diikuti para prajurit yang mengangkat dan menarik panahnya.


“Tembak!!!” seru Andaka. Para prajurit pun melepaskan anak panah yang terbakar tersebut ke arah markas kerajaan RUTOKA. Markas yang tadinya tenang pun berubah menjadi ramai dengan diikuti api yang menyala.


Sementara itu, di markas RUTOKA dipenuhi teriakan dan jeritan.


“Cepat, ambil air dari laut dan padakan apinya.” Seru Jenderal Darui. Para prajurit yang tidak terbakar pun segera mengambil air laut dipimpin oleh Jenderal Darui.


“Lapor, yang mulia. Persediaan makanan kita telah habis terbakar.” Lapor seorang prajurit pada Raja Rui yang telah dikawal keluar dari kekacauan tersebut.


“Astaga. Kenapa situasinya jadi kacau begini?.” Cetus Raja Rui sembari memukulkan tangannya perisai prajuritnya.


“Harap tenang, yang mulia.” Ujar Jenderal Suna sembari mencoba menenangkan Rajanya. “Mau tenang bagaimana?. Makanan kita habis terbakar, di sekitar sini susah mendapatkan makanan yang cukup bagi seluruh prajurit.” Keluh sang Raja Rui.


“Untuk itu, saya punya solusi yang mulia. Kita kirim saja separuh prajurit kembali dan mengambil persediaan di istana, bagaimanapun kita masih menang jauh dalam jumlah.” Saran Jenderal Suna.


“Hmm, cepat kirim separuh prajurit yang selamat dan perintahkan mereka kembali  dan mengambil persediaan. Jenderal Suna pimpinlah mereka.” Seru Sang Raja Rui. Jenderal Suna pun membawa sekitar 300.000 prajurit dan pergi kembali kekerajaan.


Sementara itu di markas Hari dan Hasti.


“oh, sepertinya rencana Sarpa berjalan lancar.” Cetus Hasti sambil bediri memandangi markas RUTOKA.


“benar sekali adikku. Dengan begini, situasi perang besok akan berbalik.” Sahut Hari yang berdiri di sampingnya.


Malam pun berlalu, diikuti dengan sang fajar yang terbit. Prajurit dari kedua pihak pun bersiap perang hari kedua. Perbedaan terlihat jelas dari wajah pasukan kedua pihak, wajah lesu dan lemas menghiasi pasukan RUTOKA sedangkan wajah segar bugar terpampang di wajah pasukan ketiga Jenderal kekaisaran JALU.


Menyadari hal ini, Raja Riu memerintahkan Jenderal Darui untuk fokus dalam bertahan. Hari dan kedua saudaranya, tak ingin menyia-nyiakan hal ini. Hari, Hasti dan Andaka, memimpin seluruh pasukan yang berjumlah 370.0000 pasukan menyerang pasukan yang sedang dalam kondisi buruk.


Pasukan Raja Rui pun tertekan habis-habisan oleh pasukan musuhnya. 


“Sial, kita bukan hanya kalah kondisi fisik. Dalam jumlah pun sepertinya mereka unggul sekarang.” Ujar Sang Raja Rui.


“tidak  Rajaku, pasukan kita setelah kebakaran tadi malam, jumlah kita menyusut menjadi Sekitar dari awal 800.000 menjadi 700.000 lalu berkurang 300.000 pasukan yang dibawa kembali oleh Jenderal Suna. Jadi jumlah kita masih ada 400.000 tapi jumlah lawan entah bagaimana bertambah menjadi sekitar 350.000 yang tadinya hanya 70.000 pasukan.” Ujar Jenderal Darui yang sedang melindungi Raja Rui.


“jika yang kamu katakan benar, maka kita masih menang jumlah kan?. Lalu bagaimana situasi ini bisa terjadi?.” Tanya Raja Rui.


“mohon maaf, Rajaku. Kita memang menang jumlah, tapi kita kalah dalam hal kondisi fisik dan mental Rajaku. Ini semua karena serangan gerilya tadi malam.” Jelas Jenderal Darui.


“benar juga. Sial licik sekali kekaisaran JALU, berperang dengan cara itu benar-benar licik.” Ujar Raja Rui.


“Maaf sekali lagi Rajaku. Sebenarnya dalam perang taktik seperti itu tidak masalah, selama tidak melukai warga sipil itu masihlah taktik bersih Rajaku.” Jelas Jenderal Darui.


“ahhh. Sepertinya aku masih harus banyak belajar.” Jenderal Darui.


Sementara itu, Hari, Hasti dan Andaka serta seluruh pasukan mereka, menggempur habis-habisan pasukan musuh.


“Sepertinya perang ini akan berakhir.” Ujar Hari.


“Hahaha, benar. Ini lebih mudah dari yang aku bayangkan.” Sahut Andaka.


“tetap Fokus Saudaraku.” Ucap Hasti.


Pasukan kerajaan RUTOKA, benar-benar ditekan habis. Sampai-sampai perang ini tidak terlihat seperti perang, tapi pembantaian. Sementara itu Hari dan Hasti berhasil merengsek masuk ke pertahanan RUTOKA, dan Akhirnya mereka berhadapan dengan Jenderal Darui.


“Cukup sampai di sana saja kalian berdua.” Ujar Jenderal. Setelah menyelesaikan perkataannya, Jenderal Darui menerjang dan berusaha menyerang Hasti, tapi sayang serangannya gagal dan dia terjatuh. Melihat hal ini, Hasti pun bersiap membunuh Jenderal Darui. 


Ketika, Hasti hendak mengangkat senjatanya. Ia dikagetkan oleh kehadiran Yama beserta 100.000 pasukannya. 

__ADS_1


“lupakan hal lain, Fokus serang menuju Jenderal Hari dan Hasti.” Seru Yama pada pasukannya. Yama pun memimpin 100.000 pasukannya dan menerjang masuk ke dalam barisan pasukan musuh.


“Sial, setan macam apa ini?. Hanya dengan pasukan segitu, mereka bisa mengacaukan formasi bertahan kita?. Terlebih, mereka maju seperti kilat yang menyambar.” Cetus seorang Prajurit pasukan JALU.


Sementara itu, Hari dan Hasti yang menyadari kedatangan Yama. Berhenti menyerang dan kembali ke barisan mereka dan hal ini, menyelamatkan nyawa Jenderal Darui.


Yama yang menyadari posisi Hari dan Hasti, langsung maju tanpa ada satu prajurit pun yang bisa menghambatnya. Ketika sudah dekat dengan posisi target, Yama mengangkat senjata dan bersiap menebas. “trankkkkkkk” suara 2 Senjata Yama dan Hari yang beradu, seketika Hari terpental dan jatuh dari kuda. Melihat saudaranya dalam bahaya, Hasti pun menerjang Yama dengan kuat, akan tetapi Hasti lah yang terpental. “Sigh, sialll. Kuat sekali orang ini, Ayo serang bersama adik Hasti.” Ajak Hari sembari bangun dan memasang kuda-kuda. “hohoho, seperti bukan dirimu saja kakakku.” Cetus Hasti sambil memasang kuda-kuda bertarung. 


Melihat yang dilakukan kedua saudara itu, Yama turun dari kuda dan berkata. “Hei, jangan mati terlalu cepat.” Mendengar hal ini, wajah Hari berubah merah dan matanya melotot, seakan mau keluar. Ditatap dengan demikian oleh Hari, Yama malah tersenyum. Melihat Reaksi Yama, Hari lari menyerang Yama sembari berkata. “Hidup matiku, bukan urusanmu. Bedebah sialan.” Serangan Hari dibarengi oleh Hasti. 


Walau sudah bertarung berdua, Hari dan Hasti masih saja tertekan oleh Yama. Di tengah petarungan, Yama mundur selangkah dan tiba-tiba menangkap sebuah anak panah. Yama menatap ke arah anak panah itu berasal dan mendapati Andaka tengah menembakkan, satu panah lagi. Sayang, lagi-lagi anak panahnya masih ditangkap oleh Yama.


“Ada penganggu ternyata.” Cetus Yama dengan Tersenyum. Tiba-tiba Yama pergi menuju Andaka, tetapi Hari dan Hasti menghalangi langkahnya.


“Hahahah, apa ini?. Mana sifat kesatria kalian.” Saru Yama.


“Maaf, tapi ini adalah perang.” Ujar Hasti.


“Haha, jadi kalian mau tiga lawan satu?, baiklah.” Seru Yama, diikuti dengan sabetan pedangnya.


Petarungan pun berlanjut, gabungan antara Hari, Hasti dan Andaka, masih belum dapat mengalahkan Yama, hanya dapat mengimbanginya. Waktu pun terlewat cepat, tak terasa sudah malam hari. Seluruh pasukan kedua pihak telah mundur, tetapi petarungan antara Hari, Hasti dan Andaka melawan Yama masih berlangsung.


Di tempat istirahat pasukan JALU, kedatangan bala bantuan yaitu pasukan yang dibawa Balinda dan Sarpa. Melihat Saudaranya tidak ada, Balinda pun bertanya. “Dimana ketiga pemimpin kalian?.” Seorang prajurit pun menjawab “Jenderal Hari, Hasti, dan Andaka tengah bertarung melawan orang yang katanya bernama Yama. Yang mulia.” 


“Apa?.” Seru Balinda sambil terkejut. “Lalu kenapa, kalian mundur?.” Tanya Balinda.


“Maaf yang mulia, Pasukan disuruh mundur oleh Jenderal Andaka dan menunggu kedatangan Yang mulia dan Jenderal Sarpa.” Sahut sang prajurit.


“tenanglah kakakku.” Cetus Sarpa, sembari menepuk pundak Balinda. “Tidak, aku tidak bisa diam saja. Ayo Sarpa, kita bantu saudara kita.” Ajak Balinda, sembari berjalan keluar. Balinda tiba-tiba kembali ke tenda dan berkata “Mereka bertarung dimana?.” Mendengar hal itu, Sarpa hanya bisa menepuk jidatnya. 


“mari Yang mulia, Hamba antar.” Ajak sang prajurit. Tak berselang beberapa lama, mereka pun sampai ke tempat petarungan. Balinda, tanpa basa-basi, langsung mengeluarkan senjatanya dan memacu kuda ke arah Yama.


Serangan Balinda dari belakang gagal, tetapi Sarpa langsung melanjutkan serangan Balinda dan dapat menggores punggung Yama.


“Cih, datang Lagi lalat pengganggu.” Gumam Yama dengan suara keras.


“hei,hei . kita ini sedang perang, bukan duel.” Bentak Balinda.


“Ibarat kata pepatah, Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Anda mungkin kuat, tapi anda sendirian, sementara kami mungkin lemah tapi kami tidak sendiri.” Cetus Sarpa.


“Ya, terserahlah. Ayo maju semua.” Tantang Yama.


Balinda, Hari, Hasti dan Sarpa menyerang Yama dari dekat, dibantu Andaka yang menyerang dari jauh. Hal ini berhasil membuat Yama kewalahan, tapi Yama masih dapat sedikit mengimbangi mereka.


Setelah bertarung lebih dari 1 jam, Yama akhirnya terluka. Ia berhasil dilukai oleh panah Andaka. Melihat hal ini, Hari tidak menyia-nyiakan peluang. Hari langsung menebas kepala Yama.


“Maaf, aku terpaksa melakukan ini. Kamu mungkin kuat tapi aku tidak bertarung sendirian.” Cetus Hari, sambil menundukkan kepala di depan mayat Yama.


“Ayo kak. Kita kuburkan Yama sang kesatria sejati.” Cetus Hasti sambil menepuk pundak Hari.


“benar adikku. Buat ini pelajaran bagi kita semua, sekuat apapun dirimu, Jika sendirian pasti akan kalah. Sedangkan selemah apapun kita, jika bersama dan saling menutup kelemahan pasti bisa menang.” Ujar Balinda sembari menepuk pundak Hari dan Hasti.


Mereka pun menguburkan jasad Yama dengan layak. Keesokan harinya Hari penentuan pun tiba.


Jumlah pasukan pun berubah total dari kedua belah pihak. Pasukan RUTOKA, setelah kembalinya Jenderal Suna bertambah total menjadi 500.000 pasukan. Sedangkan dipihak JALU, dengan bergabungnya seluruh pasukan, jumlah total menjadi 700.000 pasukan.


Sadar unggul dalam jumlah, Sarpa berkata. “ Kak Balinda, kita unggul dalam jumlah, kita harus mengambil inisiatif Total.” Balinda pun menyetujui ide adiknya tersebut dan bersiap menyerang total.


Setelah setengah jam bersiap, Balinda dan keempat saudaranya yang lainnya berdiri paling depan dan akan memimpin pasukan mereka.


“Terima kasih, bagi kalian seluruh prajurit kekaisaran JALU. Hari ini adalah Hari penentuan, dan akan menjadi hari terwujudnya impianku dan semua, yaitu bersatunya seluruh daratan ini. Hari ini juga akan menjadi Hari terakhir di perang ini, mari kita akhiri  semuanya sambil membawa kemenangan, Hidup kekaisaran JALU.” Seru Balinda dengan lantang, diikuti seruan semangat para prajuritnya.


Balinda pun memimpin pasukan, maju dan menyerang Pasukan musuh. Seperti Air mengalir, Serangan Balinda bersama keempat saudaranya berserta Seluruh pasukannya, mengalir deras dan tak terbendung oleh pasukan musuh. 


Banyak korban Jiwa dari pihak musuh, dalam sekejap. Dalam Sekejap pula, Hari berhasil membunuh Jenderal Darui, sebagai pemimpin pertahanan pertama pasukan RUTOKA. Balinda dan yang lainnya pun terus maju, tanpa terhentikan. 


Kerja sama antara Balinda, Hari, Hasti, Sarpa, dan Andaka, tak terbendung oleh musuh. Mereka lebih ganas, dan kompak dari biasanya. Mereka berhasil lebih baik dalam hal saling melengkapi kekurangan lainnya. 


Satu jam waktu tak terasa terlewati, Balinda dan yang lainnya berhasil membunuh Jenderal Suna, dengan kerja sama yang sangat baik. Mereka pun terus maju, dan hanya butuh waktu ½ jam untuk mereka berlima, berhasil membunuh Raja Riu. 


Melihat aksi Kelima pemimpin musuh, dan terbunuhnya seluruh pemimpin mereka, membuat semangat juang pasukan RUTOKA runtuh dan langsung menyerah. Akhirnya Balinda dapat mewujudkan mimpinya.


3 tahun setelahnya, di ibukota Kekaisaran JALU yang baru,Ibukota YAMA.


“Kakak, maaf. Sepertinya kita akan berpisah untuk sementara.” Ujar Hari pada Balinda yang tengah duduk di istana.


“apa?, kenapa?.” Tanya Balinda dengan terkejut.


“saya berniat untuk berkelana dan sekaligus mengawasi jalannya hukum kekaisaran JALU. secara langsung” Ujar Hari.


“aku doakan keselamatanmu.” Ujar Balinda sembari menahan tangis.


“oi, oi. Maaf kak Balinda, aku juga mau ikut kak Hari. Bagaimanapun kehidupan seperti ini tidak cocok denganku, aku lebih suka hidup seperti dulu, berkelana dan mendapat pengalaman baru.” Ujar Andaka.


“Ya, kudoakan keselamatanmu juga.” Ujar Balinda.


“Kak..” Ujar Hasti, “ oi, Adik Hasti. Kumohon jangan pergi, tetaplah di sini dengan ku dan Sarpa.” Potong Balinda.


“emmm, kak. Aku memang tak ingin pergi, aku hanya ingin mengatakan bahwa adik Sarpa telah kembali dari kampung halamannya.” Jelas Hasti. Mendengar kesalahpahaman Balinda, Hari dan Andaka tak kuasa menahan tawa. Wajah Balinda pun berubah menjadi merah karena malu.


“Salam, saudaraku. Ada apa ini?, kenapa tertawa semua?.” Tanya Sarpa yang baru datang ke ruangan tersebut. 


“Hahaha, lihatlah Wajah kak Balinda. “ Ujar Hari.


“Ada apa sebenarnya?.” Tanya Sarpa yang penasaran.


“hahaha. Intinya, Lihatlah wajah kak Balinda, hahahahah.” Ujar Andaka. Mendengar hal itu, Sarpa Tambah bingung.


“Sini kuceritakan, Jadi begini......” Ujar Hasti sambil menceritakan apa yang terjadi. Mendengar yang dikatakan Hasti, Sarpa tertawa dengan sangat keras.


Keesokan Harinya, di pintu gerbang Istana.


“Semoga kalian berdua dilimpahkan kesehatan selalu.” Ujar Balinda Sambil memeluk Hari dan Andaka.


“baiklah, kalau begitu kita berpisah dulu.” Ujar Hari sambil memaju kuda dengan pelan.


“ingat, dimana pun, sampai kapan pun. Kita adalah Saudara.” Teriak Hasti. Hari dan Andaka hanya merespon dengan acungan jari jempol ke samping dan langsung pergi menghilang.


S1 End.

__ADS_1


__ADS_2