Nga

Nga
Kerajaan Jo Empire


__ADS_3

Di istana kekaisaran Jalu, 5 tahun setelah Perang Penentuan.


"Paduka memasuki ruangan." teriak seorang pelayan.


"hormat kami paduka kaisar Balinda." ujar Sarpa dan Hasti sembari memberi Hormat.


"ah.. sudahlah, tak perlu terlalu bersikap formal begitu." ujar Balinda sembari mendirikan kedua saudaranya.


"hmm.. baiklah, ngomong-ngomong ada urusan apa kakak kemari?." tanya Hasti.


" apakah harus ada urusan untuk menemui kedua adikku ini?." jawab Balinda.


"hahah, ayolah sudahi basa-basinya kak. kakak adalah kaisar sekarang, sudah pasti sangat sibuk. langsung keinti permasalahannya saja." cetus Sarpa.


"hahah, adik Sarpa memang tak berubah, tidak suka bertele-tele. jadi begini, kemarin ada seorang kulit putih datang dan berkata bahwa dia berasal dari negara adidaya jauh di selatan. dia dikirim kesini untuk bertukar budaya dengan kekaisaran Jalu yang baru terbentuk. bagaimana menurutmu?." jelas Balinda.


"negara yang jauh diselatan?, aku penah mendengar rumor bahwa jauh diseberamg laut selatan memang ada suku berkulit putih. ujar Hasti.


"begini saja kak. bolehkah kami bertemu dengan orang yang kakak bicarakan?." ujar Sarpa.


"oh, tentu. saudaraku tolong panggilkam tamu kita tadi." ujar Balinda pada seorang pelayan.


"baik yang mulia." pamit sang pelayan.


beberapa menit kemudian.


datanglah seorang berkukit putih berhidung mancung dan berbadan besar kedalam ruangan tersebut.


"ada apa kaisar Jalu memanggil saya?." tanya orang asing tersebut.


"oh, silahkan duduk." ujar Balinda sembari mempersilahkan orang asing tersebut untuk duduk.


" perkenalkan, ini adik-adikku sekaligus Jenderal serta ahli strategi kami. Sarpa dan Hasti." ujar Balinda.


"suatu kehormatan bisa bertemu tuan Jenderal Hasti dan juga Sang ahli strategi Sarpa. nama saya Josep." ujar pria bernama Josep.


"hei, pertama-tama katakan padaku. bagaimana kamu bisa fasih berbicara memakai bahasa kami? kamu kan orang asing dari negeri yang jauh diselatan, tidak mungkin kita memiliki bahasa yang sama." tanya Sarpa.


semua yang ada diruangan dibuat kaget oleh perkataan Sarpa.


"ahhh, adik Sarpa. mohon sopan lah sedikit." tegur Balinda dengan lemah lembut.


"hahaha, tidak apa-apa Kaisar. sebenarnya alasan hamba datang kesini adalah untuk menjalin kerja sama sekaligus meminta bantuan kepada kekaisaran Jalu." ujar Josep.


"sudah kuduga, bagaimana kamu bisa tahu bahwa disini ada kekaisaran?. dan juga dari mana kamu belajar bahasa kami?." tanya Sarpa dengn penuh curiga.

__ADS_1


"jadi begini, pertama saya berasal dari negara yang jauh diselatan, bernama Jo empire yang dipimpin oleh sorang raja yang bernama Raja Robet. saya sendiri adalah seorang Jenderal. Disana suasana sama seperti disini. subur dan makmur, dan rakyat hidup sejahtera. sampai suatu ketika, adik raja kami yaitu Roger berkhianat dan membunuh Raja Robet kami. karena hampir seluruh pejabat dan juga jenderal negara kami berpihak kepada Roger dan hanya segelitir jenderal dan pejabat yang masih setia kepada mendiam raja. kami mau tak mau melarikan diri serta mengungsi. Raja kami hanya punya 1 putra yang bernama pangeran william, dan kami pun membawanya ketempat yang aman." jelas Josep.


"bagaimana respon rakyat kalian?." tanya Sarpa.


"rakyat kami awalnya marah serta melakukan penolalan, tetapi banyak dari mereka tewas karena perlakuan kejam para tentara dibawah perinta Roger." jawab Josep.


"baiklah, lalu jelaskan bagimana kamu bisa bahasa kami dan tau kekaisaran kami?." tanya Sarpa.


"pelayan ke negeri kami sering berkunjung dipesisir kekaisaran Jalu yang sebelumnya terpisah-pisah jadi beberapa kerajaan." jawab Josep.


"oh jadi begitu. adik Hasti juga serung mendengar bahwa ada suku ras kulit putih disebrang lautan di selatan. jadi intinya kamu ingin kami membantu pangeran kalian untuk naik tahta? ." ujar Sarpa.


"benar , Sarpa sang ahli strategi." puji Josep.


"katakan padaku, bagaimana sifat pangeran kalian?." potong Balinda.


"pangeran kami sejak kecil selalu senang bermain dan berinteraksi dengan rakyatnya. beliau juga disenangi oleh rakyat kami, seperti ayahnya." jelas Josep.


"ahh. bisakah kami bertemu dengannya?." ujar Sarpa.


"ya, tentu saja. sebenarnya pangeran sedang ada di pantai Loya." ujar josep.


catatan: pantai Loya, adalah pantai diujung selatan kekaisaran Jalu.


"oh, maksud kaisar Balinda adalah Hari sang Jenderal Singa dan Andaka sang Jenderal Banteng?." tanya Josep.


" ya, kami harus mendiskusikan masalah sebesar ini dengan mereka." ujar Balinda.


"tapi saya mendengar Bahwa ke2 jenderal ini tidak diketahui keberadaannya." tanya josep.


"hahah, itu hanya rumor. kakak Hari dan adik Andaka bertugas mengawasi jalannya hukum dari balik layar. dan sering mengirim kabar ke kami." ujar Hasti.


"ahh, saya sangat tidak sabar untuk menemui kedua Jenderal besar tersebut." cetus Josep.


Balinda pun langsung mengirim surat ke Hari dan Andaka.


malam Harinya dikota Pastika.


" lapor jenderal. hamba datang membawa surat dari paduka kaisar." ujar seorang pembawa pesan, sembari menyodorkan surat dari Balinda.


"hmmm.. baiklah, pergilah dan sampaikan bahwa kami akan segera kesana." ujar Andaka. pembawa pesan pun pergi meninggalkan kedua jenderal besar itu.


"hmm, kak. sepertinya apa yang kamu firasatkan benar, tak lama lagi kita akan perang lagi." ujar Andaka.


"yah, firasatku mengatakan bahwa perang kali ini akan lebih sulit dari saat kita menyatukan daratan ini." Ujar Hari.

__ADS_1


"hahaha, bagus sekali. aku pun sudah bosan dan rindu ingin berperang." ujar Andaka.


"ya, aku pun sama. mari bergegas kembali ke istana." ujar Hari.


keesokan harinya Hari dan Andaka sampai diistana dan disambut oleh Balinda dan semua orang termasuk Josep.


"hormat kami paduka." ujar Hari dan Andaka sembari mebungkukkan badan guna memberi hormat.


"hahah bangunlah. bagaimana keadaan kabar kalian, adik-adikku." tanya Balinda sembari membangunkan kedua saudarnya dengan wajah yang berseri.


"kami berdua baik yang mulia." jawab Andaka.


"hohoho. adik Andaka sudah berubah ya?. sopan sekali kali ini." ujar Sarpa.


"hehehe, jangan diungkit itu mengingatkanku Pada pengalaman yang menyakitkan." ujar Andaka. wajahnya berubah menjadi suram sembari melihat kearah Hari.


"hei, sebenarnya apa yang terjadi antara mereka berdua?. lihat ekpresi wajah Andaka seperti babi yang kelaparan.hahah" bisik Hasti pada Sarpa.


"haha benar juga. aku tebak sifat sopannya pasti karena disiksa oleh kak Hari hahaha.. seperti siksaan malam." bisik Sarpa pada Hasti.


"ehm.. " Hari yang batuk.


" apa yang sedang kalian bisikan?. sepertinya seru sekali." Tanya Harim


" ah. tidak,tidak ada apa-apa." jawab Hasti daj Sarpa dengan wajah Cemas.


"baiklah, ayo masuk dan beristirahat adik Hari dan Andaka. kalian Pasti lelah setelah melakukan perjalan panjang semalaman." ujar Balinda.


"ahhh. benar sekali, si singa yang kaku ini tidak mau istirahat setelah mendengar kabar kemungkinan adanya perang." Ujar Andaka dengan santainya.


seketika suasana berubah menjadi diam. Andaka yang telat menyadari Bahwa dia telah berbuat kesalahn yang fatal.


"hohoho. sepertinya 5 tahun masih belum cukyo ya adikku tersayang." ujar Hari dengan wajah menyeramkan.


"heheh maaf kak. keceplosan." ujar Andaka dengan wajah sangat ketakutan.


"hei, lihatlah dia. dia mengali kuburnya sendiri dengan menyinggung monster ini " bisik Hasti.


"haha benar sekali. Kak Hari jika kesal seperti monyet kelaparan saja." ujar Sarpa.


"hohoho, sepertinya lama tidak bertemu jadi lupa diri ya kalian." ujar Hari yang tiba tiba berada didepan Hasti dan Sarpa dengan wajah dingin.


"hahah kena kalian. " tawa Andaka.


"sini, adik-adiku tersayang. ikut kakak yang baik hati ini ke kamar untuk mendapatkan pelajaran. " ujar Hari sembari memikul mereka bertiga ke dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2