
Maya kembali di undang ke sebuah acara televisi. Ia kembali tampil meski masih dengan kaos dan celana jeans yang sama.
Hanya saja kali ini, outernya yang berbeda. Salim yang meminjamkan kepada salah seorang sepupunya dan kebetulan saudara sepupunya itu tak keberatan.
Jadilah kini Maya kembali syuting dengan menjawab pertanyaan yang tak jauh berbeda, dengan stasiun TV lain yang kemarin mengundangnya. Seputar masalah dunia horor dan juga jagat pertiktokan.
Maya menjawab dengan lancar dan menjalani taping sesuai arahan. Sampai kemudian tibalah saatnya ia selesai dan makan nasi kotak di backstage.
Sementara yang lain sudah bergerak pulang sejak tadi. Hingga suasana backstage tersebut cukup sepi. Hanya ada beberapa kru saja yang masih lalu-lalang.
"Hallo, kamu Maysa kan?"
Seorang cucok meong berambut poni batok kelapa ala Oppa Korea kesasar, mendekat pada Maya.
"Iya kak, saya May, sa."
Maya menyebut namanya dengan sedikit berjeda. Sebab ia terbiasa menyebut kata "Maya." Kini ia takut keceplosan menyebut nama tersebut, ia memakai nama panggung "Maysa" semenjak viral.
"Aku liat tiktok dan pemberitaan tentang kamu loh, kamu itu lagi viral banget sekarang. Di mana-mana pemberitaan tentang kamu. Nggak di tiktok sendiri, Instagram, Twitter, bahkan YouTube. Gemes deh aku, pengen ketemu. Eh akhirnya kesampaian juga." ucap si cucok meong tersebut tanpa jeda.
"Iya kak, makasih banyak." ujar Maya.
"Oh ya kenalin, aku Dince."
"Oh, kak Dince." ucap Maya.
"Sebenernya mah Dimas, say. Tpi itu cukup kita aja yang tau, okay."
Dince mengibaskan poninya, sementara Maya kini tertawa. Ternyata orang tersebut lucu juga, meski belum tau ia sejatinya siapa dan maksudnya apa.
"Oh ya, eke nggak bisa lama ya say. Boleh nggak minta nomor WhatsApp yey." ujarnya kemudian.
Maya agak ragu, namun takut di kira sombong. Lagipula jika sudah bertemu di televisi begini, sudah barang tentu Dince ada hubungannya dengan dunia pertelevisian juga. Meskipun hanya sekedar mungkin makeup artis atau asisten seorang artis.
"Ini kak."
Maya memberikan nomor handphonenya pada Dince. Dince mencatat, menyimpan, lalu mengirim pesan singkat pada Maya berupa huruf "P" yang banyak. Seperti "ping" di jaman blackberry.
"Nah ini nomor eke ya nek."
"Oke kak."
"Oh ya, mau ikut gimmick-gimmick gitu nggak sih?" tanya Dince kemudian. Agaknya ia sudah ingin mengatakan hal tersebut sejak tadi.
"Gimmick kak?" tanya Maya tak mengerti.
__ADS_1
Gadis itu sejatinya tau mengenai pengertian dari gimmick secara harfiah. Namun yang tak ia mengerti adalah gimmick dengan siapa dan bagaimana caranya. Ia sendiri baru saja hendak masuk ke dunia entertaint ini, dan belum mengerti banyak hal.
"Nanti kita lanjut di WhatsApp, kalau ada apa-apa gampang ntar kita ketumbaran lagi di luar. Hari ini eke lagi sibuk mau ngurusin kerjaan dulu, oke?"
"Oh, oke kak." ucap Maya seraya tersenyum.
"Biar lebih cepet naik lagi say, lebih banyak endorse yang datang." ujar Dince sekali lagi.
Maya makin bersemangat. Dince lalu berpamitan, karena tampaknya ia sangat terburu-buru.
Maya melanjutkan makan, tak lama kemudian ia pun bergegas untuk pulang.
***
Xander tengah suntuk malam itu, secara serta merta ia meraih handphone dan membuka sosial media. Meski ia sejatinya bukan orang yang gadget lovers ataupun bucin sosmed.
Ia adalah orang yang selalu menghabiskan waktu untuk hal-hal bermanfaat, dan jarang sekali memiliki waktu untuk melihat hal yang tak penting.
Tapi kali ini, permasalahan bisnis yang baru ia bangun, tampaknya membuat ia sedikit butuh traveling ke dunia maya.
Xander melihat-lihat beranda Instagram. Seluruh isinya adalah pemberitaan tentang Maysa atau Maya. Ia sendiri tak mengenal siapa Maysa atau Maya yang dimaksud, namun ia mengklik salah satu video unggahan dari perempuan itu. Xander mengerutkan dahi, rasa-rasanya ia pernah bertemu dengan perempuan itu tapi entah dimana.
Ia lalu beralih ke YouTube, ternyata di YouTube pun sama saja. Hal yang terlihat duluan di beranda, adalah apa-apa yang trending hari itu. Dan yang trending hari itu juga adalah Maya. Bahkan dari hari-hari sebelumnya ia sudah menjadi trending.
Xander menghela nafas panjang, lalu menyudahi semua itu dan meletakkan handphonenya ke atas sofa. Tempat dimana ia kini duduk.
Ia pikir membuka sosial media akan sedikit memberikan hiburan baginya. Namun ternyata sama saja, kepalanya justru menjadi tambah mumet.
Banyak kreator dengan konten bagus serta kreatif, tertutup oleh para pemalas yang suka copy-paste tayangan dari sosial media lain. Seperti cuplikan tiktok yang di upload ke YouTube, kemudian ramai.
Sejatinya Xander bisa mencari tontonan di channel YouTube lain. Tetapi melihat isi beranda sudah membuatnya muak duluan.
Akhirnya Xander pun memilih untuk diam dan beranjak ke kitchen set di dapur, kemudian membuat segelas kopi.
***
"Eh, udah pulang anak ibu."
Maya akhirnya pulang dari syuting. Ia terlihat lemah namun cukup sumringah. Pasalnya kelelahan ini akan berbuah cuan nantinya.
"Bu." Maya mencium tangan ibunya itu.
"Indra sama bapak kemana?" tanya nya kemudian.
"Lagi beli sate, Maya belum makan kan?"
__ADS_1
"Udah bu tadi, tapi laper lagi hehe."
"Ya udah ntar makan bareng, ibu udah masak nasi. Mandi dulu gih sono!"
"Iya bu."
"Tadi baek-baek aje kan, lancar kan?"
"Lancar koq bu." ucap Maya.
"Ya udeh sono!"
"Iya bu."
Maya bergegas menuju ke kamar untuk mengambil handuk. Tak lama kemudian ia pun pergi mandi.
Sementara di sebuah warung sate pinggir jalan, ayah Maya dan juga Indra tengah duduk sambil menunggu sate dan bermain handphone. Ayah tiri Maya melihat sosial media, sementara Indra bermain game online.
"Mpok lu dimana-mana ya, In." ucapnya pada Indra.
"Hah?. Haaaa."
Indra menjawab dengan hanya menganga lalu bersuara. Sebab ia fokus pada game online yang tengah ia mainkan.
"Nih, di sini juga ada mpok lu." ucap ayah tiri Maya lagi. Namun Indra masih terus fokus pada permainan.
Mereka terus saja seperti itu. Sampai kemudian seseorang keluar dari dalam tenda warung sate sambil terbatuk-batuk, disusul oleh yang lainnya lagi.
"Loh, mas Niko."
Ayah tiri Maya menegur Nik yang baru saja keluar menyusul orang yang tadi.
"Kenapa mas Nik?" tanya Ayah tiri Maya.
"Biasa pak, Xander. Nggak pernah-pernah makan di kang sate langsung, tadi maksa pengen makan di tempat. Satenya belum jadi, udah K.O sama asap."
"Hahahaha."
Ayah tiri Maya tertawa, begitupula dengan Nikolas.
"Oh ya pak, saya susul Xander dulu ya. Ntar ngamuk lagi." ucap pria itu.
"Oh iya, silahkan mas Niko."
Maka Nik pun pergi menyusul Xander yang kini masih batuk-batuk di dekat mobilnya.
__ADS_1