Nikah Settingan

Nikah Settingan
Menurun


__ADS_3

Xander tengah bersantai di balkon apartemen miliknya, sambil menghisap rokok elektrik. Entah mengapa ia ingin sekali membuka akun Instagram dan menilik tentang gimmick atau settingan yang ia jalankan bersama Dina Yellow.


Ia ingin mengetahui sejauh mana perkembangan dan pengaruh hal tersebut terhadap khalayak ramai.


Pria itu membuka akun Instagram miliknya. Tentu ia terkejut karena followersnya bertambah lebih banyak dari yang kemarin. Bahkan kini hampir menyentuh angka satu juta pengikut.


Benar-benar jumlah yang mencengangkan. Mengingat beberapa hari yang lalu pengikut Instagramnya hanya berada di kisaran 276.K. Kini angka tersebut naik pesat ke 928.K.


Tentu saja ia menjadi senang, sebab di direct message pun makin banyak pebisnis yang mau mengendorse atau bekerjasama.


Xander lalu membuka beranda, dan kepo pada berita tentang dirinya sendiri. Namun ternyata isi beranda di penuhi oleh gosip tentang Maya, yang lagi-lagi topiknya sama. Yakni perkara ia semalam live bersama Erik Tornado.


Sejatinya Xander baru mengetahui hal tersebut dan ia kaget. Ia menscroll ke bawah dan mencari-cari berita mengenai dirinya. Namun ia menemukan berita itu sudah sangat jauh tertinggal.


"Brengsek." gerutunya kemudian.


Entah mengapa tiba-tiba saja ia merasa tersaingi oleh Maya dan juga Erik. Ia merasa


gosip tentang kedua orang itu bisa saja menutup aksesnya untuk kembali ke permukaan. Maka Xander pun lalu menghubungi Nik, yang kebetulan juga baru bangun tidur.


"Iya, kenapa bro?" tanya Nik pada aktor asuhannya tersebut. Kini manager itu terlihat menuruni anak tangga dan hendak menuju ke dapur, untuk membuat kopi.


"Bro, ini gimana sih?. Masa gosip tentang gue ketutupan sama si Erik dan Maysa." ujarnya kemudian.


"Hah, masa sih. Bukannya kemaren lo lumayan heboh ya gosipnya?. Harusnya masih memenuhi beranda dong." ujar Nik.


"Ya lo liat sendiri aja sekarang. Semalam mereka live dan beritanya sekarang muncul di mana-mana." ucap Xander.


Nik lalu mencari handphone yang satu lagi, dan menemukanya di atas meja makan. Maka pria itu lalu membuka akun Instagram dan menilik ke beranda.


Ternyata apa yang dikatakan Xander adalah benar adanya. Gimmick tentang aktor asuhannya tersebut yang kemarin sempat lumayan viral, kini mendadak tergeser. Oleh keviralan live Instagram yang lagi-lagi dilakukan oleh Maya dan juga Erik Tornado semalam.


Bukan hanya Xander, Nik pun kini menjadi kesal dibuatnya. Sebab ini benar-benar sudah menggangu jalan yang mereka tempuh. Meskipun menjadi viral adalah hak setiap orang dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun dan atas kepentingan apapun.


"Ya udah deh, gue hubungi mak Nay dulu." ujar Nik.


"Oke." jawab Xander.

__ADS_1


Maka pria itu lalu menyudahi percakapan tersebut dan kemudian ia menghubungi mak Nay. Seperti biasa mak Nay baru mengetahui hal tersebut dan ia pun lalu menghubungi teamnya.


Mak Nay berdebat panjang lebar mengenai hal tersebut. Sementara Xander merasa jika ini semua tak akan berhasil. Ia merasa telah kalah, bahkan di berbagai sisi kehidupan.


Ia kalah oleh Gilbert yang membuat perusahaannya menjadi hancur. Kalah oleh takdir yang membuatnya bercerai dari Monica. Dan sekarang dikalahkan oleh dua bocil piyik yang penuh kehaluan seperti Maya dan Erik.


Padahal ia sudah menahan malu dan mencoreng harga dirinya sendiri demi menjalani proses gimmick tersebut. Namun baru di awal saja semua sudah tampak sulit bagi pria itu.


Ia ingin mundur saja ke belakang dan melakukan pekerjaan lain. Yang tidak harus membuatnya malu serta kehilangan wibawa.


***


"May, lu mau beli tanah kagak?"'


Mpok Munah, ibu Salim bertanya pada Maya. Ketika Maya duduk di warung wanita itu, untuk menikmati satu cup es teh poci dan cireng serta pisang goreng. Salim sendiri saat ini tengah membuat vlog makanan ke luar kota, sehingga hanya ada ibunya saja.


"Tanah di mana mpok?" Maya balik bertanya.


"Mahal kagak?" lanjutnya lagi.


Mpok Munah lalu mengatakan harga permeter dari tanah yang ia iklankan tersebut.


"Iye, kali aja nanti kapan-kapan duit lu udah banyak. Lu bisa beli." ujar mpok Munah.


"Nunggu aye ada duit mah, keburu udah terjual kali mpok itu tanah."


"Orang itu luas, May." ujar mpok Munah lagi.


"Dimana sih lokasinya?" tanya Maya.


"Itu yang sebelah perumahan Kirana Citra Grup."


"Yang kalau keluar dari sini ke kiri ya mpok?" tanya Maya lagi.


"Lah iya, itu." jawab mpok Munah.


"Oh, aye kira itu proyek bakal bikin gedung." ujar Maya sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Kagak, orang tanahnya di kavling-kavlingin koq buat bakal di jual." jawab mpok Munah.


"Oh gitu." ujar Maya.


"Iye May. Mending lu beli tanah atau rumah, ketimbang beli perhiasan atau investasi tas mahal kayak artis-artis." ucap mpok Munah.


"Tanah, rumah setiap tahun harganya bisa naik. Perhiasan atau barang mewah, namanya second ya pasti bakalan murah." lanjut wanita itu.


Maya kemudian berpikir. Kalau memiliki uang lebih nanti, entah itu kapan. Sepertinya bagus juga bila di investasikan dengan membeli tanah atau rumah. Seperti yang mpok Munah barusan katakan.


"Bund, ada dua ratus ribu nggak?"


Tiba-tiba Martin mengirim pesan pada Maya. Tak ada angin, tak ada hujan. Kentut sekalipun tiada berhembus. Maya terdiam, tak ada sedikitpun kekasihnya itu berbasa-basi menanyakan kabar dirinya terlebih dahulu. Dan beberapa hari lalu Maya memberi uang untuk biaya pengobatan.


"Ayah ada keperluan penting." ucap Martin.


Kekasih Maya itu berpura-pura tidak mengetahui, jika Maya tau soal dirinya yang kecelakaan. Maya sendiri kini berpikir mungkin uang yang ia titipkan tempo hari pada Jeje memanglah kurang.


Mengingat ke dokter biaya konsultasi dan pemeriksaan berbeda dengan biaya penebusan obat. Agak masuk akal jika Martin telah kehabisan uang tersebut dan kini meminta padanya.


Tetapi tetap saja hati Maya merasa tak enak. Mengingat sikap Martin yang seperti ada maunya saja, tetapi tidak menanyakan kondisi Maya terlebih dahulu. Maya jadi kian merasa bahwa dirinya hanya dijadikan mesin ATM oleh kekasihnya itu.


"Munah."


Seorang pedagang asongan tiba-tiba muncul dan memanggil nama mpok Munah. Hal tersebut tentu membuat Maya yang tengah memperhatikan handphone jadi terkejut. Ia tak membalas pesan dari Martin dan malah fokus ke pedagang asongan yang kini melangkah masuk ke warung.


"Jualan lu sekarang?" tanya mpok Munah seraya memperhatikan dari atas ke bawah.


"Iye, mau minta air putih boleh?" tanya si pedagang asongan itu.


"Ya boleh, ambil aja!" ujar mpok Munah.


Maka pedagang asongan itu megambil air putih yang tersedia gratis disana.


"Mau es teh manis?" tanya wanita itu.


"Mau kalau boleh mah." jawab si pedagang asongan.

__ADS_1


Maya hanya diam saja dan terus minum serta makan. Tak lama mpok Munah duduk di dekat si pedagang dan setelah mendengar obrolan mereka lebih lanjut. Ternyata itu adalah ayah Salim, yang datang hendak meminjam uang pada mpok Munah.


__ADS_2