
"Selamat pagi, perkenalkan saya Tania dari acara "Rumah Rumpi Rempong Say."
Sebuah pesan singkat dibaca oleh Maya, ketika nyawanya belum lagi terkumpul. Dibawah pesan itu terdapat penjelasan sekaligus maksud si pengirim, yang mengajak Maya untuk hadir di acara tersebut.
"Ini undangan lagi nih buat gue?" tanya Maya lalu menguap sambil mengucek mata. Ia membaca pesan tersebut sekali lagi dan kali ini secara perlahan.
"Eh iya loh, gue diundang ke acara dia." ujar gadis itu lagi.
Ia terus diam sejenak untuk loading. Tak lama kemudian ia pun berteriak-teriak, hingga membangunkan seisi rumah.
"Aaaaaaa."
"Gubrak."
"Gubrak."
"Gubrak."
Kedua orang tua Maya beserta Indra kaget. Mereka bangun dan langsung menghampiri kamar Maya.
"Ada apaan May?" tanya ayah tirinya panik.
"Maling atau apa?" lanjutnya lagi.
"Siapa orangnya, May. Sini ibu gebuk pake ini panci." timpal sang ibu sambil mengacungkan alat masak yang ia bawa. Sementara mata Indra menjelajah ke sekitar.
"Maya di undang ke tipi lagi bu, pak." ujar Maya sumringah.
"Maksudnya elu di ajak ke acara lain lagi gitu?" tanya ibunya tak mengerti.
"Iya bu." jawab Maya.
"Ting."
Sebuah notifikasi kembali masuk, dan setelah dibaca ternyata itu adalah undangan dari acara televisi lainnya lagi.
"Ini ada satu lagi, bu. Baru masuk undangannya." jawab Maya antusias.
"Serius?" tanya anggota keluarganya serentak.
"Serius." jawab Maya lagi.
"Syukur ya Tuhan." ucap mereka semua nyaris di waktu yang bersamaan.
"Jangan lupa bagi-bagi duitnya ya mbak Maya." seloroh Indra.
"Heh." Sang ibu menoyor kepala Indra.
__ADS_1
"Duit aja lu." ujarnya kemudian.
Maya tertawa.
"Iya, ntar mbak kasih buat Indra." ujar gadis itu.
"Nggak mbak, bercanda koq." ujar Indra lagi.
Maya kemudian membalas pesan yang dikirimkan oleh orang televisi tersebut. Ia memberi jawaban dari pertanyaan yang mereka ajukan.
Mengenai kapan Maya bisa memenuhi panggilan mereka. Tentu Maya available kapan saja, sebab saat ini belum ada lagi stasiun TV yang mengontak kecuali mereka itu tadi.
***
"Pak, kita perlu ini, ini, dan ini. Kita juga butuh untuk biaya operasional, tambahan biaya iklan di Google adsense dan lain-lain."
Salah seorang karyawan dari bisnis kecil Xander berujar padanya. Ketika pria itu pun tengah berpikir kedepannya harus bagaimana. Sebab ia juga tengah tersandung masalah keuangan.
Hampir setahun belakangan ini ia mencoba mendirikan startup dengan modal seadanya. Ia dibantu beberapa temannya yang lain, yang juga masih terus merintis untuk maju.
Kini ia dihadapkan pada masa dimana ia membutuhkan modal yang besar. Sementara belum ada satu investor pun yang berminat dengan produk yang ia tawarkan.
"Oke." jawab Xander pada sang karyawan. Bermaksud agar karyawan itu kembali ke meja kerjanya dan tak membuat Xander merasa pusing.
Mengenai bisa atau tidaknya memenuhi permintaan tersebut, itu urusan lain lagi. Yang jelas saat ini otaknya tengah berpikir keras.
***
Nik berujar pada sahabatnya itu, ketika akhirnya Xander berbicara perihal apa yang tengah membuat pikirannya kalut saat ini.
"Pikirkan apa yang gue sarankan ke lo." lanjut Nik kemudian.
"Soal gimmick itu lagi?" tanya Xander.
"Lah iya, cuma itu solusinya." jawab Nik.
Xander menarik nafas panjang.
"Nggak, nggak, nggak. Bukan solusi itu yang gue harap." ujar pria berwajah tampan tersebut, dengan mimik yang serius.
"Sebegitu besar kapasitas otak lo, mustahil lo cuma punya satu solusi bodoh itu doang." lanjutnya lagi.
Nik menghela nafas, ia tau betapa keras kepalanya seorang Xander. Itulah yang menjadikan ia sebagai aktor yang pernah berada di puncak keemasan. Tapi mungkin itu pulalah yang akan menghancurkannya saat ini.
"Kemaren kan lo bilang, kalau lo butuh balik ke dunia entertaint. Supaya lo bisa mendapat penghasilan lain, dan bisa nambahin modal untuk start up yang saat ini sedang lo rintis."
"Iya, tapi kan gue udah punya nama. Tinggal balik aja kenapa sih?. Lo coba kontak sutradara atau produser yang gue kenal. Bilang kalau gue mau kembali ke dunia itu. Mustahil mereka nggak mau ngajak gue kerjasama."
__ADS_1
"Kan lo juga udah gue bilangin. Arah angin pemirsa tuh udah beda, Xander. Sutradara sama produser juga bakalan mikir kalau memproduksi film yang bintangnya lo. Mereka bakal mikir laku apa nggak di pasaran. Udalah mana bayaran lo mahal. Sementara Production House lain saat ini sudah bermain di ranah netizen. Mereka sudah banyak memakai aktor-aktris atau selebgram yang engagement-nya di sosial media sedang naik, sedang viral, atau sedang di gandrungi. Lo akan kalah sama mereka, kalau lo nggak punya pemberitaan heboh."
Nikolas berkata panjang lebar seraya menatap Xander. Sementara dinding keangkuhan Xander belum juga runtuh.
"Gue akan coba cari investor, kalau emang nggak bisa balik ke dunia itu." ucapnya kemudian.
***
Sementara di sisi lain, seiring dengan adanya beberapa stasiun TV yang mengontak. Ada juga beberapa orang yang katanya dari management selebgram, mengontak Maya.
Mereka mengajak Maya bergabung dan akan memfasilitasi serta mencarikan Maya job sebanyak mungkin. Karena belum mengerti dengan dunia yang seperti itu, Maya pun curhat pada Salim. Karena selain seorang YouTubers, pengikut Salim di Instagram pun sudah lumayan banyak.
"Hati-hati May, kalau memilih manajemen." ucap Salim.
"Lo bener-bener harus baca perjanjian kontraknya. Soalnya banyak manajemen selebgram itu yang menjebak. Ada yang potongannya terlalu tinggi, ada yang mengeksploitasi sampe lo setengah mati. Pokoknya macem-macem deh." lanjut pemuda itu kemudian.
"Oh, jadi gitu ya Sal?. Terus gue harus gimana dong?"
"Untuk awal-awal kayak gini sih, saran gue mending lo jalan sendiri aja dulu. Lo kan masih viral tuh, masih banyak yang ngontak, ngajakin acara ini dan itu. Lo nikmatin aja dulu duit lo sendiri. Pokoknya milih manajemen harus pelan-pelan deh, jangan ngasal."
Maya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ya udah kalau gitu. Gue sengaja nih nanya ke elo begini, soalnya pan gue kagak ngerti apa-apa." ucap Maya.
"Iya ini makanya gue kasih tau. Banyak loh selebgram atau seleb tiktok yang kerja lembur bagai kuda, tapi duitnya sebagian besar lari ke manajemen semua. Kita yang kerja capek, manajemen yang makan. Mending kalau kita nya di fasilitasi atau jadi makin bagus. Kadang sama aja." ujar Salim lagi.
Maya kembali mengangguk-anggukan kepala.
"Ya udah deh." ujar gadis itu kemudian.
"Dert."
"Dert."
"Dert."
Tiba-tiba Martin mengirim pesan singkat pada Maya.
"Bund, makan di luar yuk!"
Maya sedikit terdiam. Sebab bilamana Martin yang mengajak, sudah barang tentu bill akan dibayar oleh Maya. Martin adalah tipe laki-laki yang hanya modal mengajak saja.
"Maaf ya yah, belum ada uang." jawab Maya.
"Lah katanya udah syuting?" ujar Martin lagi.
"Kan belum di bayar yah, masih kira-kira seminggu atau dua Minggu lagi."
__ADS_1
Setelah itu Martin tak lagi membalas. Tak ada basa-basinya sama sekali.