Nikah Settingan

Nikah Settingan
Candid


__ADS_3

"Hai, elo Maysa kan?"


Seorang selebgram yang katanya sangat mirip dengan personel BTS Kim Tae Hyung atau V mendekat pada Maya.


Padahal Maya sendiri tak bisa melihat, dimana letak kemiripan antara si selebgram dan juga personel idol K-Pop tersebut.


"Oh, ini kan yang katanya mirip Tae Hyung." gumam Maya dalam hati.


"Dimana miripnya, anjay." lanjutnya seraya mencoba tersenyum, namun terus mengamati.


"Hai, gue Jeffri tapi nggak pake Nichol." ujar si selebgram tersebut seraya mengulurkan tangan.


"Maysa." ujar Maya memperkenalkan nama panggungnya, meski Jeffri sendiri sudah mengetahui hal tersebut. Karena sempat ia sebutkan tadi. Mereka kini terlihat saling berjabat tangan, lalu Jeffri mengambil tempat dan duduk di sisi Maya.


"Lo lagi mau ngisi acara disini?" tanya Jeffri pada Maya lagi.


"Iya, gue diundang." jawab Maya.


Saat ini dirinya dan Jeffri sama-sama tengah berada di backstage sebuah stasiun televisi swasta.


"Sama, gue juga." ucap Jeffri.


Mereka lalu terlibat obrolan yang cukup panjang dan seru. Sampai kemudian keduanya pun di makeup dan akhirnya mengisi acara yang telah di tentukan. Atau yang telah mengundang mereka sebelumnya.


Proses taping berjalan dengan lancar, dan ketika acara selesai mereka makan bersama di backstage. Saat backstage tersebut mulai terlihat sepi.


"Cekrek."


Sebuah suara kamera terdengar dari suatu arah. Baik Maya maupun Jeffri sama-sama menilik ke arah sumber suara itu, namun disana tak terlihat apa-apa. Maya berpikir positif, mungkin di sebelah backstage ada sisa kru TV yang tengah berfoto-foto.


Maka ia pun cuek saja dan melanjutkan makan, sama halnya dengan Jeffri. Melihat sikap Maya yang demikian, ia pun jadi ikut-ikutan.


***


Sementara di lain pihak, Xander yang telah menyelesaikan pekerjaan kantor kini menatap layar handphone pada menu sosial media.


"Heran gue, ini perempuan nggak penting tapi ada melulu dimana-mana." gerutunya seraya memperhatikan foto Maya yang kebetulan nagkring karena mengiklankan sesuatu. Dan hal tersebut terdengar sampai ke telinga Nik yang ada di dekatnya.


"Siapa sih?" tanya Nik heran.


"Nih, si Maysa-Maysa ini. Tiktoker yang kita ketemu waktu itu di pinggir jalan." ujar Xander lagi.


Nik tertawa.


"Iya, soalnya lagi viral banget tuh cewek di tiktok sama Instagram. Makanya muka dia ada dimana-mana." jawab Nik.


"Konten joget nggak jelas gitu doang, sampe sebegitu terkenalnya." lanjut Xander.


"Bikin rusak dunia entertaint aja." imbuhnya lagi.


"Lo ngeliat akun tiktoknya dia?" tanya Nik.


"Nih, lo liat aja!"


Xander memberikan handphonenya pada Nik. Lalu Nik melihat ke layar perangkat tersebut dan itu tengah menampilkan akun tiktok milik Maya. Isinya hanya seputar joget-joget dan tak ada konten lain yang lebih berbobot. Nik pun kembali tertawa.

__ADS_1


"Mending kalau bermanfaat." tukas Xander.


"Yang kayak gini di undang-undang ke TV-TV, ke podcats-podcast. Bikin generasi mengalami kemunduran." lanjutnya lagi.


"Ya, namanya juga jaman udah berubah bro." tukas Nik.


"Dulu orang terkenal karena jago akting, ikut kontes bakat atau nyanyi. Sekarang cukup modal joget dan viral, bisa terkenal." imbuh pria itu.


Xander menghela nafas agak dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Heran gue mah di jaman sekarang." ujarnya kemudian.


Lagi dan lagi Nik tertawa.


"Gue mau pesan kopi, lo mau nggak?" tanya nya pada Xander.


"Mau, espresso." jawab Xander.


"Oke."


Maka Nik lalu mengorder kopi dari laman ojek online miliknya.


***


"May, kita nongki yuk!"


Jeffri mengajak Maya untuk hangout, ketika acara makan mereka di backstage stasiun televisi telah selesai.


"Mau jalan kemana?" tanya Maya heran.


Maya kemudian berpikir. Hari ini sejatinya ia ada jadwal untuk mengiklankan sebuah produk yang telah di endorsmen kepadanya dan juga Erik Tornado.


Namun lantaran masih kesal kepada YouTuber yang menurutnya fake tersebut, ia pun jadi tak mau ambil pusing.


"Ya udah, ayo!" ajak Maya pada Jeffri.


Maka Jeffri terlihat begitu gembira wajahnya.


"Serius lo mau, May?" tanya nya seakan tak percaya.


"Ya, dia malah ragu. Ya ayo!" ajak Maya sekali lagi.


"Oke-oke." jawab Jeffri dengan penuh semangat dan juga sumringah.


Maya lalu beranjak, begitupula dengan Jeffri sendiri.


"Yuk ke parkiran!" ujar Jeffri.


Keduanya lalu berjalan ke arah parkiran dan menghampiri mobil milik Jeffri.


"Cekrek."


Sebuah suara seperti memotret kembali terdengar. Maya kali ini menoleh, namun Matanya menangkap seorang anak kecil yang minta di fotokan oleh ibunya.


Sepertinya anak itu adalah peserta ajang pencarian bakat yang saat ini juga tengah berlangsung di stasiun televisi tersebut. Maya masuk ke dalam mobil Jeffri. Tak lama kemudian mobil itu mulai tancap gas.

__ADS_1


Jeffri mengajak Maya menyambangi sebuah kafe favoritnya. Disana mereka memesan minuman dan juga beberapa penganan kecil. Mereka menikmati semua itu sambil berbincang.


Hal yang dibicarakan tentu saja tak jauh dari seputar konten dan kreasi di dunia digital. Karena itulah yang jadi sumber penghasilan mereka saat ini.


***


Erik Tornado live Instagram.


Notifikasi tersebut tertera di handphone masing-masing para pemuja sekte Erik, yang terdiri dari para bocah piyik SD, SMP dan SMA. Semuanya rata-rata perempuan.


"Hai kak Erik."


"Hai, kak."


"Love, love, love, love."


Banyak emoticon love berterbangan di sisi kanan layar. Hal tersebut mengindikasikan betapa Erik yang bermuka pas-pasan, sangat digilai dengan begitu fanatik oleh para fans beratnya.


"Kak, koq live sendirian. Kak Maysa mana?"


Fans netral yang tidak memihak siapapun, kini bertanya.


"Nggak, gue sendirian aja." jawab Erik.


"Mendingan live sendiri, Rik. Enek gue sama si tukang joget."


Salah seorang netizen dengan komentar barbarnya mulai muncul dan turut meramaikan.


"Males gue kalau ada dia." Yang lain menimpali.


"Itu yang ngatain Maya, kayak udah paling bener aja hidup lo anjay."


Netizen lain muncul untuk membela Maya, sehingga terjadilah perang komentar di live tersebut. Bahkan padahal Erik-nya sendiri tak banyak bercakap, dan hanya terlihat tengah bermain handphone. Hanya sesekali ia menilik ke layar.


Namun netizen sendiri begitu repot dan sampai mengeluarkan kata-kata kasar untuk mengatai satu pihak.


***


"Dert."


"Dert."


"Dert."


Maya menerima pesan dari Mak Dince ketika ia tengah asyik ngobrol bersama Jeffri. Kopi yang mereka pesan tadi sudah hampir habis dan juga es batunya telah nyaris semua mencair.


"May, gimana gimmick ye sama si Erik?"


Mak Dince bertanya pada Maya. Maya sudah sangat malas sekali membahas hal tersebut. Namun ia mengerti jika dirinya sudah di kontrak dan juga dibayar. Maka ia pun membalas pertanyaan mak Dince meski tanpa kenyamanan hati.


"Belum, Mak." jawab gadis itu.


Mak Dince kemudian kembali mengirim pesan yang isinya nasehat demi nasehat serta sebuah pandangan.


Namun tetap saja Maya telah malas mendengar nama Erik. Lantaran ia selalu terngiang-ngiang pada kata-kata kasar yang diucapkan pemuda itu padanya tempo hari.

__ADS_1


__ADS_2