Nikah Settingan

Nikah Settingan
Gosip Perdana


__ADS_3

"YouTuber Erik Tornado dikabarkan tengah dengan dengan Tiktokers Amaline Maysa."


Gimmick perdana tentang Maya dan juga Erik Tornado mulai tayang di salah satu akun lambe-lambean hari ini.


Maya melihat berita itu dari link yang dikirimkan oleh mak Dince. Maya pun jadi senyum-senyum sendiri.


"Gini toh rasanya di gosipin. Koq agak lucu-lucu gimana gitu ya?" ucap Maya sambil tertawa-tawa.


"Mbak, ini elo koq di gosipin kayak gini sih?"


Indra bertanya pada Maya ketika ia telah pulang dari sekolah. Ia menunjukkan gosip yang kini beredar di sosial media mengenai sang kakak. Itupun ia ketahui dari teman-temannya yang doyan bermain sosmed serta penikmat akun gosip.


"Iya." ujar Maya sambil tersenyum.


"Emang sengaja itu." lanjutnya lagi.


"Sengaja maksudnya?" tanya Indra heran.


"Ya emang gimmick aja. Biar gue sama si YouTuber itu makin terkenal dan banyak dapat endorse."


"Dih, bisa gitu?" ujar Indra kemudian.


"Bisa lah, kayak nggak tau dunia entertaint aja lo." ucap Maya.


"Lah, gue kan bener-bener nggak tau mbak. Gue mana pernah ngikutin kehidupan artis atau selebgram. Mending gue main game online deh, daripada gue main sosmed." ucap Indra lagi.


"Sekarang lo udah tau kan?. Dunia entertaint tuh emang begitu. Rata-rata gosipnya kebanyakan di buat dengan sengaja."


"Jatuhnya settingan gitu ya?" tanya Indra.


"Nah iya." jawab Maya.


"Gunanya buat apa sih?" Lagi-lagi Indra bertanya.


"Ya banyak, salah satunya buat cari duit." jawab Maya.


"Caranya gimana?. Apa dengan di gosipkan, terus kita bakal dibayar gitu?" Indra makin penasaran.


"Nih gue jelaskan mekanismenya."


Maya mulai menatap Indra dan mencoba menjelaskan pada adiknya itu.


"Gue nih di gosipkan. Gue kan lagi viral banget dan keluarga si Tornado itu emang terkenal, meski konten-kontennya kagak jelas." ucap Maya pada Indra.


"Hah, terus?" tanya Indra lagi.


"Karena gue lagi viral saat ini, otomatis perhatian netijen itu tertuju ke gue. Mereka pasti ingin tau apa aja kegiatan yang gue lakukan, ngapain aja gue selama seharian. Termasuk sama siapa aja gue berhubungan."


Indra mengangguk-anggukan kepalanya. Namun masih ada banyak hal yang belum ia mengerti.


"Maka dari itu ketika gosip tentang gue mencuat, netijen akan berbondong-bondong meramaikan kolom komentar. Berita tentang gue akan di up terus di beranda sosial media. Orang-orang lain yang belum tau gue, akhirnya jadi tau. Akan semakin banyak lagi netijen yang kepo dan akhirnya mereka follow gue."

__ADS_1


"Kalau lo banyak yang follow pasti banyak endorse gitu?" tanya Indra.


"Iya, karena yang punya produk pasti akan mencari siapapun yang lagi rame di sosial media. Gue akan mempengaruhi netijen dan itu bisa meningkatkan penjualan mereka. Gue dapat duit, mereka juga cuan. Sama-sama untung."


"Oh oke, oke. I see." ujar Indra.


"Berarti yang paling dirugikan itu netijen yang menghabiskan waktunya untuk melihat gosip di sosial media dong?" tukasnya lagi.


"Iya, karena mereka akan komentar. Akan meramaikan dan menaikkan nama gue terus ke permukaan."


"Termasuk orang-orang yang komen julid juga?"


"Lah iya." jawab Maya.


"Makanya banyak kan, selebgram yang cari sensasi. Kayak marah-marah di sosmed, menghina orang miskin atau menghina orang jelek. Walau banyak yang menghujat tapi pada akhirnya yang menghujat itu follow dia juga."


"Emang gitu?" tanya Indra.


"Iya, lo kagak pernah liat orang-orang yang sensasi gitu?" Maya balik bertanya.


"Pernah liat, tapi gue nggak pernah baca komennya. Males gue, buang-buang waktu. Sesekali aja adalah gue penasaran, gue liat komen yang parah-parah banget. Abis itu gue keluar dan main game."


"Di negara kita tuh nggak ada budaya cancel culture. Baru sebagian aja yang ikut-ikutan budaya itu."


"Cancel culture tuh apaan?" Indra bertanya untuk yang kesekian kali.


"Kalau di Korea tuh gini loh. Misalkan ada yang sensasi, berbohong pake barang KW, terus flexing-flexing gitu si sosmed. Tau flexing?" tanya Maya.


"Pamer harta di sosmed."


"Oh."


"Nah misalkan ada yang kayak gitu, tapi barangnya KW. Terus lo artis punya skandal. Itu bener-bener di bully sama netijen-nya dan nggak bakal bisa dapat job lagi." ucap Maya.


"Oh gitu."


"Iya, gitu. Tapi kan kalau di negara kita nggak ada cancel culture kayak gitu. Makin sensasi dan kontroversi, makin di undang ke TV-TV. Ke akun-akun YouTube. Karena orang kita doyan nonton sensasi dan kontroversi. Netijen kita itu mostly munafik. Bilangnya nggak suka, menghujat, tapi follow. Ya si pencari sensasi ini ujungnya tetap cuan, tetap dapat duit dari hujatan netijen. Netijen-nya yang nggak dapat apa-apa."


"Wah parah juga ya." ujar Indra.


"Ada tuh di kelas gue cewek-cewek yang gosip mulu di sosmed. Tiap hari ngumpul, ngomongin gosip yang lagi rame di sosmed. Terus menghujat-hujat sampe segitunya. Tapi dia follow orang yang dia hujat itu, kan kocak." lanjutnya lagi.


"Makanya." ujar Maya.


"Aturan mah kalau nggak suka ya, report aja akunnya rame-rame sampe ilang. Tapi ini nggak, malah di follow. Menghujat tapi follow. Si selebgram sensasi ya makin terkenal. Kan banyak tuh awalnya sensasi, ujungnya setelah rame, terkenal, langsung sok bertobat. Rame lagi, langsung di puji-puji sama netijen. Netijen kita mah gampang kepancing, makanya ini lagi kita manfaatin buat cari cuan" Maya melanjutkan kata-katanya.


Indra kini benar-benar paham, bahwa dunia entertainment dan sosial media ternyata penuh kepalsuan.


"Tapi lo itu gimmick, udah janjian sama si Erik nya?"


"Ya udah dong, kan kesepakatan bersama dan ada sponsor yang bakal bayar kita." jawab Maya.

__ADS_1


"Ada sponsornya gitu?"


"Ada, nanti kita bakal jadi brand ambasador dari produknya mereka. Bayarannya seratus juta, In." ujar Maya lagi.


"Seratus juta?" Mata Indra terbelalak.


"Iya." jawab Maya sambil tersenyum.


"Anjay." Indra tertawa.


"Bisa gitu ya." ujarnya lagi. Ia senang mendengar hal tersebut.


"Kan udah gue bilang, namanya dunia begitu. Apa juga bisa di setting."


"Jadi ntar lo bakal pura-pura pacaran gitu sama dia?" tanya Indra.


"Iya, emang gitu kan mekanismenya."


"Pura-pura jalan juga berdua juga?"


"Iya." jawab Maya.


"Kalau depan kamera pura-pura pacaran?" tanya Indra lagi.


"Iya."


"Kalau lo berdua saling jatuh cinta beneran gimana?"


"Nggak bakal, Erik mah bukan tipe gue." ujar Maya.


"Kenapa?"


"Ya lo liat aja tampangnya, kagak good looking."


"Ih, lo mah main fisik mbak." ujar Indra seraya tertawa.


"Loh nggak apa-apa dong, gue mah nggak munafik. Gue sukanya cowok ganteng." ujar Maya.


"Kalau cowoknya ganteng tapi nggak berduit gimana?"


"Ya, cari yang ganteng tapi berduit lah. Mustahil nggak ada. Yang jelek tapi miskin dan yang jelek tapi kaya aja ada. Masa yang ganteng tapi kaya nggak ada."


Indra terkekeh.


"Parah lu." ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Ya abis gimana, masa hidup nggak punya standarisasi."


"Iya juga sih." Lagi-lagi Indra tertawa. Maka mereka pun melanjutkan obrolan tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2