
"Lo kenapa, bro?"
Nikolas bertanya pada Xander yang tampak terlihat pusing di salah satu ruang, di apartemen miliknya.
"Gue harus balik ke dunia entertaint. Gue mau ngumpulin modal dan gimana caranya membangun bisnis serta perusahaan lagi. Gue takut bokap gue tiba-tiba datang, bro." ujar Xander.
"Kalau dia nanya gimana soal perusahaan itu, habislah gue. Dia nggak akan marah ke gue. Tapi dia akan kecewa dan saat itu gue pasti akan ngerasa sangat-sangat bersalah. Gue bodoh percaya sama Gilbert." Lanjutnya kemudian.
"Oke, kalau emang lo mau balik lagi. Gue akan cariin job buat lo. Tapi lo mesti sabar, karena sekarang banyak aktor baru yang lebih digandrungi anak muda." ujar Nik.
Maka Xander pun kini diam dan melemparkan pandangannya ke suatu sudut.
***
"Hallo selamat siang."
Seseorang menghubungi Maya dan menjelaskan siapa dirinya. Saat itu Maya baru selesai membuat konten tiktok di sebuah rumah kosong. Dan kini ia tengah berdua dengan Salim di warung ibu Salim yakni mpok Munah.
Mereka tadinya minum es teh manis, sambil makan gorengan. Sampai akhirnya telpon tersebut diterima oleh Maya.
"I, iya mbak. Baik mbak." jawab Maya.
Salim melihat Maya kini jadi senyum-senyum di telpon. Sementara mpok Munah memperhatikan sambil menggoreng bakwan.
"Baik terima kasih mbak."
Maya menutup telpon itu.
Ia tertawa sambil membeku sejenak. Sampai kemudian.
"Sal, gue di undang ke tipi sal." teriaknya memecah.
"Serius lo? tanya Salim penuh semangat. Mpok Munah pun tak kalah heboh dengan mereka.
"Seriusan?" tanya Mpok Munah.
"Iya serius, gue di undang ke tipi. Gue mau masuk tipi, sal. Masuk tipiiiii."
"Yeay selamat, May. Akhirnya lo masuk tipi." ujar Salim.
"Selamet ye Maya, moga jadi artis." mpok Munah menimpali.
Mereka bertiga berjingkrak-jingkrak kesenangan.
"Mpok ntar utang nyak aye, aye lunasin ye mpok." ujar Maya antusias.
"Iye May, gampang. Sekarang yang penting elu ke tipi dulu. Biar ade anak kampung sini nyang masuk tipi."
"Iya mpok."
Mereka terlihat begitu bahagia.
***
Siang itu.
Ibu Maya tengah menjemur pakaian, ketika tiba-tiba Maya berteriak dari kejauhan sambil berlari mendekat.
"Buuu."
"Ibuuu."
__ADS_1
Ibu Maya kaget dan menoleh. Jantung wanita itu berdegup kencang karena mengira telah terjadi sesuatu yang buruk. Sebab teriakan Maya begitu membahana dan kini ia tiba dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Bu, huh, huh, huh."
Maya mencoba menarik nafas.
"Ada apa sih, may?" tanya ibunya khawatir.
Indra keluar dari dalam rumah untuk melihat Maya. Karena ia juga khawatir telah terjadi sesuatu terhadap kakaknya itu.
"Bu, itu bu." Maya masih juga ngos-ngosan.
"Iya elu tarik nafas dulu, baru ngomong." ujar ibunya.
Maya pun menarik oksigen dalam-dalam lalu menghembuskan karbondioksida ke udara.
"Huh, huh, huh." Kemudian Maya tertawa.
"Ada apaan sih?" tanya ibunya heran sekaligus penasaran.
"Maya bu, Maya mau masuk tipi. Udah ditelpon sama orang tipi."
Maya berucap dengan penuh antusias. Membuat sang ibu dan juga Indra jadi sangat terkejut.
"Se, serius May?"
"Serius bu?"
"Lu bakal masuk tipi gitu?" tanya ibunya lagi.
"Iya bu."
"Puji syukur May, elu mau masuk tipi. Ini beneran?" Ibunya masih tak percaya.
"Yeaaay."
Mereka bertiga saling berpegangan tangan dan berputar-putar sambil tertawa-tawa.
"Akhirnya lu punya jalan buat bakal masuk tipi, May. Anak ibu jadi artis."
"Iya bu."
"Hahahaha."
***
Di sebuah tempat.
"Eh tau nggak sih lo pada. Si Nur pengikut Instagram sama tiktoknya jadi naik. Gara-gara konten joget di yang katanya tempat angker."
Seorang gadis seumur Maya tengah mengadakan zoom meeting dengan teman-temannya. Hari itu ia membahas soal Maya yang mereka panggil dengan nama depan yakni Nur.
"Bener, bokis banget. Indigo dari mana anjir." celetuk yang lainnya.
"Sok kecakepan banget." yang lainnya lagi turut menimpali.
"Untung aja udah nggak sekolah lagi. Kalau masih sekolah, abis tuh anak gue jambak."
Gadis yang pertama kali berujar tadi kini kembali berkata dengan penuh dendam.
Mereka semua sejatinya adalah musuh Maya di sekolah. Maya sering mereka bully lantaran Maya miskin namun cantik. Sedangkan mereka tak ingin di saingi.
__ADS_1
"Gue udah bikin fake akun, buat komen di sosmed-nya dia. Hahaha."
Salah seorang dari mereka berujar.
"Gue juga ah." timpal yang lainnya.
"Sama, gue juga bakal bikin."
Mereka semua tertawa-tawa atas rencana jahat yang kini hendak mereka jalankan.
***
"Xander harus muncul dengan berita yang heboh. Biar publik tertarik untuk nonton dia lagi."
Seorang pakar yang banyak membantu membuat timbul atau tenggelamnya seorang artis, berkata pada Nikolas.
Ketika manager dari Xander itu mengungkapkan perihal Xander yang ingin kembali ke dunia entertaint. Mereka berdua memang sudah saling mengenal sejak lama.
"Maksud lo, berita bikinan gitu?" Nikolas memperjelas.
"Bisa bikinan, bisa juga fakta. Kan publik nggak tau juga nih dia udah setahun ini cerai. Bikin berita heboh aja dari perceraian itu, yang penting atensi publik ke dia dulu. Baru untuk selanjutnya lebih gampang. Mau dia main sinetron kek, film kek. Kalau udah dapat atensi publik, gampang produknya laku di pasaran."
Nikolas mengangguk-anggukan kepalanya.
"Artis lain aja rata-rata gimmick koq buat menaikkan engagement."
"Iya sih." jawab Nikolas.
"Coba gue bilang dulu deh sama Xander nanti." lanjutnya kemudian.
"Oke."
"Takutnya dia nggak mau, tau sendiri Xander gimana."
Lawan bicara Nik itu pun mengangguk-anggukan kepalanya.
***
"Duh kagak ada yang cakep lagi."
Maya membongkar-bongkar lemari. Mencoba mencari baju, sepatu, dan tas yang bisa ia pakai untuk tampil di televisi. Sebab ia hanya bintang tamu dan tak mungkin mendapat wardrobe. Kecuali ia peserta ajang pencarian bakat.
"Kenapa May?" Sang ibu bertanya pada Maya.
"Maya kagak punya baju cakep, bu." tukas Maya dengan nada seperti sedih sekaligus bingung.
Ibunya terdiam, terakhir kali mereka membeli baju dua tahun lalu. Karena mereka selalu membudayakan pakai jika masih bisa dipakai. Selain itu karena memang tak punya uang lebih.
Handphone yang dimiliki Maya saat ini pun hanya handphone android seharga 500ribu dan itu ayah tirinya yang menyicil.
"Beneran kagak ada lagi ye, May?" tanya sang ibu.
"Ada sih bu, tapi norak nggak sih pake yang beginian?"
Maya memperlihatkan beberapa baju yang dianggap paling baik diantara yang lainnya. Ketika Maya mencobanya, ia terlihat seperti badut di dalam kaca.
"Yang bagus kaos doang masih, masa pake kaos?" ujarnya kemudian.
"Ya nggak apa-apa, pake kaos sama jeans aja. Pan masih ada tuh yang cakep." ujar ibunya lagi.
"Iya juga sih bu."
__ADS_1
"Udah, itu aja dulu. Ntar kalau ada duit baru beli lagi." ujar ibunya.
Maya pun berpikir. Lagipula tak masalah memakai kaos dan jeans, sebab acaranya adalah acara rumpi.