
Nik membuka akun sosial media Instagram miliknya dan hendak melihat perkembangan gosip mengenai Xander dan juga Dina Yellow.
Secara serta merta Xander pun muncul dari dalam kamarnya. Sebab hari telah menjelang pagi dan ia harus bersiap berangkat ke kantor. Nik menginap disana semalam.
"Gimana bro, perkembangan gosip gue kemaren?"
Xander mempertanyakan hal tersebut. Sementara Nik masih terpaku menatap layar handphone.
"Bro?"'
Xander menyadarkan lamunan Nik.
"Eh, baik-baik aja koq bro." jawab Nik kemudian.
Agak sedikit gelagapan jawaban tersebut terdengar.
"Bagus perkembangannya." lanjut Nik lagi.
"Oh ya udah, bagus deh." tukas Xander.
Tak lama pria itu pergi ke dapur untuk membuat kopi. Sambil menikmati kopi, Xander membaca berita online dari sebuah platform yang teraktual. Dan setelah semua itu selesai, ia pun pergi mandi. Nik kini tampak mengambil handphone dan menghubungi mak Nay.
"Hallo Mak."
"Eh say, ada apose?" tanya mak Nay padanya.
"Mak ini koq gosipnya si Xander tertutup sama gosipnya si Erik Tornado sama cewek tiktok itu sih?" tanya nya kemudian.
"Emang iya?"
Mak Nay yang tengah membersihkan kutek itu, tampaknya baru mengetahui hal tersebut.
"Iya mak, lo liat aja di beranda Instagram semuanya berita mengenai dua orang itu. Cuma perkara mereka live bareng doang semalem." tukas Nik.
"Bentar-Bentar."
Maka Nay membuka akun sosial media Instagram miliknya dan benar saja, beranda dipenuhi oleh berita mengenai Maysa atau Maya dengan Erik Tornado.
Publik heboh banyak karena semalam mereka live bersama di Instagram. Banyak akun-akun gosip yang memberitakan hal tersebut dan kini perhatian netizen tertuju ke arah sana.
"Wah, parah juga sih ya. Coba deh ntar gue bicarakan dulu sama team gue. Gimana caranya soal Xander bisa naik ke permukaan lagi dan stabil mengambang." ucap Mak Nay.
"Oke deh, minta tolong di urus ya mak." ujar Nik
"Iya, lo tenang aja." jawab mak Nay."
"Ya udah deh, thank you ya mak."
"Sip, sip. Yang penting sabar aja dulu ya nek, namanya juga Xander baru muncul lagi. Publik belum ngeh semua kali."
__ADS_1
"Oke deh mak, pokoknya gue serahkan sama lo deh."
"Sip, pokoknya tenang aja. Eke nggak mungkin mendiamkan hal ini. Karena kalau gimmick-nya berhasil, eke juga yang kecipratan cuan."
"Ya udah, kalau gitu gue pamit ya mak." ujar Nik sekali lagi.
"Sip."
Nik menyudahi obrolan, sementara Xander kini turun kembali dengan setelah jas yang rapi. Pria itu sempat melihat wajah Nik yang seperti resah.
"Kenapa lo?" tanya nya heran.
Nik kaget dengan kehadiran aktor asuhannya tersebut. Ia tidak ingin sampai Xander tau dan kepikiran tentang hal ini. Nik khawatir Xander jadi malas dan tidak bersemangat untuk gimmick atau settingan-settingan berikutnya.
"Ah nggak koq, masalah kantor gue." dusta Nik.
"Ada masalah serius?" tanya Xander lagi.
"Masalah biasa aja sih." jawab Nik.
"Oh ya udah. Kalau ada apa-apa ngomong aja." ujar Xander.
Maka Nik pun mengangguk, sementara Xander bersiap untuk berangkat ke kantor.
***
Mak Dince berbicara pada Maya di WhatsApp.
Gue sendiri apa sama si Erik mak?" tanya Maya.
"Ada yang sendiri dan ada yang berdua." jawab mak Dince.
"Yang sendiri produk apaan?" tanya Maya.
"Produk kutek satu set. Cuma dua ratus lima puluh ribu sih budgetnya. Ambil nggak nih?" mak Dince balik bertanya.
"Ambil aja mak, sekalian bantu olshopnya juga." ujar Maya.
"Oh ya udin, eke ambil ya."
"Oke mak."
Maka mak Dince tak membalas lagi pesan tersebut. Maya kini sibuk memposting foto terbaru di Instagram, serta konten terbaru di tiktok miliknya. Apalagi kalau bukan konten joget.
Sementara di lain pihak Cassandra dan Jennifer tengah membuat video di pinggir kolam renang rumah Jennifer. Dengan pakaian yang sangat minim tentunya.
Mereka menyempatkan diri untuk live tiktok dan mendapat banyak respon. Dalam sekejap live mereka ditonton oleh ratusan orang, bahkan ada yang sampai mengirim gift dengan harga cukup tinggi.
"Wah, thank you ya giftnya."
__ADS_1
Jennifer meletakkan tangan di mulut, kemudian seperti memberikan ciuman kepada para penonton.
"Mengkel."
"Sesak."
"Watermelon."
"Seger, bro."
"Mulus."
Semua laki-laki yang menonton live tersebut memuji onderdil milik keduanya yang terlihat cukup besar. padahal itu semua dikarenakan mereka tumbuh ke samping, bukan ke atas.
Jadi kedua bukit kembar itu terlihat sangat bundar serta penuh. Kulit mulus mereka juga didapat dari filter, padahal aslinya mereka tengah cukup berjerawat dan pori-pori mereka besar.
"Bulet."
"Muka B aja sih, tapi yang nyembul luar biasa."
"Anjay, tegang nih gue."
Semua kata tak senonoh keluar dari dalam hati dan jari jempol penonton. Sebab memang tayangan seperti itu lah yang di cari oleh orang-orang. Mereka menganggapnya sebagai sebuah hiburan gratis.
"Jogetnya yang lebih hot dong!" pinta salah seorang penonton. Maka Jennifer dan Cassandra pun mengikuti. Mereka bergoyang makin belingsatan lagi. Dengan bibir yang sengaja di buat semenggoda mungkin.
Bagi mereka saat ini adalah bagaimana caranya menyaingi Maya dengan segera, dan dapat menjadi terkenal serta di undang ke TV-TV serta ke podcast-podcast yang ada di YouTube.
Tadinya mereka menghina Maya habis-habisan. Tapi setelah melihat Maya terkenal, mereka jadi panas hati dan ingin mendapatkan atensi serupa.
Maka dari itu mereka kini menghalalkan segala cara, demi mendapat tujuan mereka tersebut. Apapun akan mereka lakukan demi popularitas.
***
Martin terus saja membelanjakan uang pemberian Maya. Ia sangat senang akhirnya bisa puas memegang uang banyak. Tak perlu banyak mikir jika ingin membeli rokok ataupun minuman beralkohol.
"Habis ini kita drama apa lagi ya sama si Maya, biar dikasih duit lagi sama dia."
Martin berkonsultasi pada Jeje yang kini ada disebelahnya. Tentu saja Jeje bersemangat mendengar hal tersebut. Sebab itu artinya ia kembali berkesempatan untuk menggelapkan atau menilap sebagian uang pemberian Maya.
"Mmm, apa ya?"
Jeje ikut-ikutan bertanya seraya melempar pandangan jauh ke depan. Saat ini ia belum memiliki ide sama sekali.
"Kalau pura-pura sakit sih nggak mungkin ya, karena udah. Taroklah pura-pura kecelakaan ini sama aja dengan sakit." lanjutnya lagi.
Kemudian mereka sama-sama terdiam dan berpikir. Namun setelah beberapa saat berlalu pun, mereka masih tak menemukan ide apa-apa. Sebab otak keduanya sama-sama lemot dan hanya berisi tentang nongkrong, rokok, minuman keras, serta balap liar.
Sama sekali tak ada hal-hal positif maupun visi misi bermanfaat, yang berguna untuk kelangsungan hidup dan masa depan mereka nantinya.
__ADS_1