Nikah Settingan

Nikah Settingan
Dikejar Media Jilid 2


__ADS_3

Setelah Erik Tornado yang dikejar-kejar awak media. Kini saatnya Maya yang memberikan keterangan. Ketika keluar dari sebuah stasiun televisi, Maya di buru oleh sekelompok orang yang membawa kamera.


Setidaknya itulah yang akan ditampilkan di berita infotainment nanti. Padahal Maya sendiri sudah tau dan sudah di jadwalkan, kapan akan bertemu dengan para awak media tersebut.


"Maysa, Maysa, tunggu!"


Para awak media infotainment dan akun lambe-lambean memanggil nama panggung Maya, yang juga menjadi username sosial media miliknya.


Maya terlihat seakan terpaksa berhenti berjalan di tengah kerumunan. Padahal memang itu adalah titik yang telah ditentukan oleh mak Dince untuk berhenti.


Mak Dince sebelumnya telah mensurvei lokasi halaman stasiun televisi, tempat dimana Maya menjalani syuting hari ini.


Mak Dince bilang di tempat dimana ia menyuruh Maya berhenti, adalah tempat yang pencahayaannya bagus dan akan membuat Maya semakin cantik bila masuk ke dalam frame kamera.


Maya sejatinya tak selebay dan sedetail itu terhadap sesuatu. Namun disini karena mak Dince adalah pengatur gaya sekaligus skenario, maka Maya hanya menurut saja.


"May, gimana hubungan kamu dengan Erik Tornado?"


Salah satu dari awak media itu pun bertanya pada Maya. Dan sesuai yang telah di ajarkan Mak Dince sebelumnya, Maya harus membuat publik curiga serta menebak-nebak dengan jawaban yang ia berikan. Untuk itu Maya mengatur ekspresi dan nada bicara dengan sedemikian rupa.


"Aaa, itu biar jadi urusan antara saya dan Erik aja ya." ujarnya sambil tersenyum.


Senyuman perempuan itu sangat mencurigakan, bagi siapapun netijen kepo yang menonton.


Ia membuat pancingan dengan umpan yang cukup besar. Berharap umpan tersebut akan tepat sasaran nantinya.


"Boleh dong cerita sedikit tentang kedekatan kamu dengan Erik."


Salah satu dari awak media infotainment kembali bersuara dan lagi-lagi Maya melempar sebuah senyuman, bahkan tertawa kecil.


"Kalau masalah hubungan, kami saling mengenal satu sama lain dengan baik. Dan mengenai gimana kedepannya, kita liat aja nanti."


Maya mulai bergerak meninggalkan tempat itu.


"Tapi ada yang bilang kalian sudah jadian." Salah satu dari awak media mendadak berperan menjadi kompor.


"Kata siapa?" tanya Maya sambil masih tersenyum.


Wajahnya sengaja ia buat seolah-olah tersipu malu. Secara tidak langsung ia mulai belajar berakting.


"Bener berarti dong, May?" Yang lainnya ikutan nyeletuk.


Maya hanya tersenyum dan melangkah menjauh, sementara para awak media terus membuntutinya.


Sampai berita tersebut tayang dan di copy paste, kemudian dibawa ke ranah sosial media. Publik pun kembali menjadi heboh, terutama oleh fans fanatiknya Erik Tornado.


"@safiratornadoluv Apaan sih dia, nggak cocok banget sama kak Erik @eriktornado."


"@dinaristrieriktorn Jijik, sok cantik njir. @amaline_maysa."


"@putiayumaheswari Kayak muka lo cantik aja @dinaristrieriktorn. Ngaca mbak, Maysa jauh lebih cantik daripada lo. Elo jijik sama Maysa, belum tentu juga Erik suka sama lo. Siapa elo, hello?"

__ADS_1


"@rosacarlina67 Wah kalau bener, cocok nih @eriktornado @amaline_maysa."


"@putritunggal1998 Cocok apanya, maksain gitu @rosacarlina67.


"@gioanandatama Gila, Maysa cantik bet anjir. Koq mau sama tenda Fir'aun."


"@naufalazario Anjay tenda Fir'aun @gioanandatama. Lebih mirip tenda dealer motor sih kalau kata gue. Wkwkwkwk."


Komentar-komentar tersebut mewarnai postingan di halaman akun lambe. Seperti yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya. Ada yang mendukung hubungan tersebut, ada yang skeptis, ada pula yang tak suka sampai mengeluarkan sumpah serapah.


"Apakah Maya rugi?"


Tentu saja tidak, ia malah tertawa-tawa melihat netizen yang beradu urat di atas gimmick yang sengaja ia buat. Kini pengikut sosial media Instagram dan tiktoknya kian terus bertambah.


Tentu saja paid promote dan endorse semakin merajalela menghampiri. Dibalik hujatan dan dukungan netijen, ada uang yang bisa di panen untuk masuk ke dalam rekening.


Itulah mengapa banyak orang yang suka melakukan gimmick dan mencari sensasi. Walau publik kadang ada yang marah sekalipun, mereka tetap dapat uang.


Netijen adalah sumber cuan bagi konten kreator, maupun para pelaku gimmick dan sensasi kreator seperti Maya.


***


"Gimana May rasanya terkenal?"


Mpok Munah bertanya pada Maya, ketika Maya datang membawa makanan sekaligus melunasi hutang ibunya. Ia baru saja di transfer sebesar sepuluh juta oleh mak Dince. Masih ada sisa sembilan puluh dua juta lagi yang belum dibayarkan.


"Ya enak, mpok. Bisa dapat duit banyak." seloroh Maya."


"Pokoknya elu semangat aja ngonten dan nyari duitnya. Nggak usah pedulikan omongan orang, apalagi omongan netijen. Salim juga dulu awal-awal di kritik kontennya. Dibilang blur lah kameranya, jelek kualitas videonya. Eh kesini-kesini fansnya bejibun, duitnya banyak. Bisa beli kamera bagus, hp mahal, bisa punya apartemen sendiri. Bisa beliin mpok mobil walau bukan mobil nyang kata kayak punya Rapi Ahmad."


Kali ini Maya yang tertawa.


"Bersyukur, mpok. Berarti Salim anak yang berbakti sama mpok. Dia inget buat menyenangkan hati emaknya."


"Iye bener, bener. Yang patut disyukuri itu adalah mpok punya anak baek kayak Salim."


"Iye, pan banyak tuh anak orang yang sukses tapi lupa orang tua." ujar Maya lagi.


"Iye, iye. Bener lu, May." Mpok Munah menyetujui ucapan Maya.


"Oh ya, nih minum es teh dulu."


Mpok Munah membuatkan es teh poci untuk Maya. Tentu saja Maya gembira menerimanya.


"Bunda, honor bunda udah keluar belum?. Ayah mau ngerokok nih, asem."


Maya menerima pesan singkat dari Martin. Namun entah mengapa kali ini ia menjadi agak terganggu dengan pesan dari kekasihnya tersebut. Ia mulai merasa jika Martin hanya mencarinya demi uang. Namun ia tidak mau mencari masalah dan menjawab.


"Iya yah, ntar bunda temuin. Bunda kasih uang buat beli rokok." balas Maya.


"Temui ayah di depan ruko tempat biasa ya bund. Love you, muach."

__ADS_1


"Muach." balas Maya lagi, namun dengan ekspresi wajah datar.


"Nape lu?" Mpok Munah curiga dengan perubahan ekspresi wajah Maya.


"Ada acara TV yang di cancel?" tanya wanita itu kemudian.


"Bukan mpok." jawab Maya.


Terasa ada seperti yang ingin ia katakan, namun berat.


"Soal endorse?" tanya mpok Munah lagi.


"Bukan, mpok. Tapi soal Martin." ujar Maya.


"Kenapa lagi dia?" Mpok Munah kembali melempar pertanyaan.


"Masa dia nyariin aye cuma buat minta duit." ucap Maya.


"Baru nyadar, lu?"


Mpok Munah memperhatikan Maya. Terasa ada yang makjleb dalam hati gadis itu.


"Dari kemaren-kemaren dan dulu-dulu juga, Martin cuma manfaatin duit lu doang Maya. Lu aja yang loadingnya lama. Mpok udah lama banget gregetan, tapi kata Salim jangan ikut campur. Karena itu urusan hidupnya elu."


Maya menarik nafas lalu menyedot es teh poci yang ada dihadapannya.


"Dulu, mpok pisah sama bapaknya si Salim juga karena dia males. Sama modelnya kayak si Martin, dari muda emang udah nggak ada gerakan. Mpok aje nyang kecintaan."


Maya memperhatikan ibu dari Salim tersebut.


"Kerjaannya rebahan mulu, kayak nggak punya tulang belakang. Mpok yang nyari duit jualan keliling, kreditin baju, panci kesana-kemari." ujar wanita itu kemudian.


"Padahal bapaknya Salim punya ijasah SMA. Sehat wal'afiat, kagak difable. Yang difable aja pada kerja, dia yang sehat tidur melulu. Kalau niat kerja mah, jadi buruh pabrik pun bisa keterima. Orang badan gede gitu. Atau ngelamar jadi sekuriti kek. Ini kagak mau, May." lanjutnya lagi.


Pikiran Maya mulai mengingat-ingat soal Martin selama ini. Martin juga sama, tukang rebahan dan malas. Sekalinya keluar rumah untuk balapan motor liar atau sekedar kumpul-kumpul."


"Yang paling bikin mpok kesel, sampe akhirnya kita cerai. Adalah ketika mpok mati-matian cari duit buat bakal bayar sekolahnya si Salim. Setengah mati nyari, eh dipake sama dia buat judi."


"Serius, mpok?" Maya kaget mendengar semua itu.


"Serius, makanya mpok langsung gugat cerai. Buat apa punya laki modal pentungan doang. Nyari duit kagak mau, judi kuat. Makanya mpok kesel liat elu kadang bucin sama si Martin. Takut nasib lu sama jelek kayak mpok."


Maya seperti benar-benar membuka mata kali ini.


"Lu udah tau kan gimana kerasnya nyari duit. Belum ngonten, belum kesana-kemari jalani syuting, belum di hujat netijen. Terus si Martin enak-enakan langsung minta hasilnya. Itu kan nggak tau diri namanya." ujar mpok Munah lagi.


"Dimana-mana nafkah itu tanggung jawab laki-laki, May. Kalau dari muda aja udah keliatan males, makin tua makin males biasanya."


"Iya sih, mpok. Aye juga berpikir ke arah sana sekarang." tukas Maya lagi.


"Nah ya udah, lo pikir dah tuh masak-masak. Mending dilanjutin apa nggak tuh hubungan. Kalau kata Mpok sih, mending nggak usah."

__ADS_1


Mpok Munah benar-benar membuat Maya terdiam kali ini.


__ADS_2