
"Srot."
Maya menghabiskan sisa es nutrisari yang ada di tangannya. Sementara Indra terus menceramahi sang kakak dengan wejangan serta pandangan yang realistis.
Maya tetap diam mendengarkan. Satu kebiasaan buruknya yang belum bisa hilang yakni suka membuang sampah sembarangan.
Usai minumannya habis ia melempar plastik yang masih berisi banyak es batu ke bawah. Pada saat yang bersamaan sebuah mobil melintas, dengan kaca sebelah kanan bagian depan terbuka full.
"Buuuk."
Tanpa Maya sadari jika kantong plastik bening bekas es nutrisari tersebut, masuk ke dalam mobil dan mengenai penumpangnya. Mobil itu berhenti dan si penumpang menongolkan kepala lalu berteriak pada Maya yang ada di atas.
"Woi, kalau buang sampah jangan sembarangan bangsat."
Maya dan Indra merunduk ke bawah, lalu mereka pun terkejut. Apalagi ketika Maya menyadari jika orang yang tengah marah-marah kepadanya tersebut, ternyata adalah Xander.
"Anjir, mbak. Lu gimana sih buangnya." ujar Indra dengan mimik wajah penuh kekhawatiran.
"Ya mana gue tau." jawab Maya sambil terus memperhatikan Xander.
"Mana ketemu mulu lagi gue sama nih orang." lanjutnya kemudian.
Indra dan Maya beranjak.
"Jangan pergi lo!" teriak Xander lalu keluar dari dalam mobil.
"In, In, buruan In!"
Xander hendak memanjat tebing, namun Maya dan Indra keburu kabur. Mereka naik motor kemudian langsung tancap gas.
"Brengsek!" gerutu Xander ketika melihat keduanya telah pergi.
"Udalah bro, nggak usah di kejar."
Nikolas menghentikan Xander, hingga akhirnya pria itu kini kembali ke mobil.
"Kenapa sih hidup gue harus ketemu terus sama itu selebgram." ujarnya kemudian.
"Jodoh lo kali lo berdua." seloroh Nikolas.
"Amit-amit jabang bayi." ujar Xander.
"Mending gue jadi duda selamanya, daripada harus nikah sama perempuan model begitu. Udalah cakep nggak seberapa, kelakuan kayak orang stress." lanjutnya lagi.
Nikolas tertawa lalu menghidupkan kembali mesin mobil dan menginjak pedal gas.
"Jangan suka ngomong gitu, bro. Ntar jodoh beneran, malah makan omongan sendiri loh." ujar Nikolas.
__ADS_1
"Sampe bumi jadi trapesium pun, gue nggak bakal mau sama cewek model begitu." ucap Xander, dan lagi-lagi Nikolas tertawa.
***
"Itu tadi siapa sih?. Kayak pernah lihat gue." ujar Indra ketika mereka telah cukup jauh.
"Katanya sih aktor." jawab Maya.
"Gue liat di google juga emang banyak filmnya dia. Katanya termasuk aktor besar di jamannya. Tapi gue kagak pernah nonton dan gue nggak tau dia sehebat apa aktingnya. Dengar-dengar sih dia tenggelam selama beberapa tahun belakangan ini." lanjutnya kemudian.
"Kalau aktor besar kenapa tenggelam?" tanya Indra heran.
"Meneketehe, lo liat aja kelakuannya tadi. Teriak-teriak gitu ke orang. Barangkali publik nggak suka atas sikapnya dia, bisa jadi kan?"
"Ya, tapi tadi lo juga sih yang salah. Main lempar-lempar aja. Kalaupun gue ada di posisi dia, gue akan marah juga." ujar Indra.
"Mending dia marahnya begitu doang. Kalau gue kebun binatang udah keluar semua tuh." Imbuh remaja itu.
Maya diam, kemudian nyengir.
"Hehehe."
"Udah nggak sedih lagi lo?" tanya Indra.
"Kagak, ngapain gue sedih lama-lama mikirin si ikan kerapu." jawab Maya.
Maya sewot dan memukul bahu Indra, seketika Indra pun lalu tertawa. Ningen sendiri adalah monster laut kepercayaan orang Jepang. Yang belakangan disebut sebagai proyek rekayasa genetika.
"Lagian kagak mikir lagi, main berkorban ini ini itu aja demi cowok. Otak lo berkabut tau nggak, ketutupan cinta bego." ujar Indra.
"Iye, belum puas lo ngeroasting gue mulu dari tadi?" Kali ini Maya yang bertanya.
"Belum puas, ntar gue cengin terus lo sampe sadar. Biar lo kagak nyari cowok yang modelnya sama kayak dia." jawab Indra.
"Kagak, udah kapok gue." seloroh Maya.
"Awas aja lo balikan lagi."
Indra lalu menaikkan kecepatan hingga akhirnya mereka pun tiba dirumah.
***
"Elu sih tadi, ngajak-ngajakin trek-trekan segala. Ketahuan kan gue jadinya sama si Maya."
Martin menggerutu pada Jeje dan dua teman lain, yang dianggap bertanggung jawab atas kejadian yang tadi menimpanya. Jeje dan dua teman Martin itu kini sama-sama diam, sebab balap liar barusan adalah ide mereka.
"Ya sorry, orang kita nggak tau." ujar Jeje membela diri.
__ADS_1
Martin terlihat gusar, sementara teman-teman lain juga turut tak berkutik. Sebab itu artinya tiada lagi pesta rokok, makanan, atau banjir amer di tongkrongan. Padahal mereka baru saja merasakan makmur selama beberapa hari belakangan.
Kini mereka terancam back to basic atau kembali kepada kemiskinan yang hakiki dan juga rokok ketengan.
***
"In, gimana tadi mpok lu?"
Mpok Munah bertanya pada Indra, ketika Indra kembali ke warung tersebut untuk makan mie instan.
Memang niatnya sejak awal adalah untuk hal tersebut. Sebab ia tengah bosan dengan masakan yang ada di rumah.
Tetapi kemudian ia mendengar cerita mengenai Martin dari sang kakak, untuk itulah ia nyeletuk. Dan akhirnya menjadi pangkal huru-hara.
"Udah putus, mpok. Orang emang si Martin-nya bohong. Dia pura-pura kecelakaan biar bisa dapat duit dari mbak Maya." ujar Indra.
Mpok Munah menarik nafas panjang.
"Dari dulu mpok udeh ngeliat gelagatnya si Martin. Udah kagak bener, mpok lu aja yang kecintaan." tukas wanita itu.
"Makanya, mpok. Indra juga heran sama mbak Maya, koq mau sama cowok yang modelnya kayak si Martin. Udalah kerja kagak, berduit jauh, muka kayak pinggiran trotoar yang ketabrak kontainer." jawab Indra.
"Mpok lu juga yang ngempanin." timpal mpok Munah.
"Iya, makanya itu. Heran deh, beneran. Kayak pake pelet jaran goyang tuh orang." tukas Indra.
"Tapi tadi udah putus?" Mpok Munah memastikan.
"Udeh, mpok. Si Martin di tabok sama mbak Maya." ujar Indra.
"Ya udah bagus, emang kudu di begituin kalau modelnya kayak si Martin mah. Tapi tetap jaga mpok lu baek-baek. Jangan kayak artis yang viral belakangan ini." ujar mpok Munah.
"Artis siapa, mpok?" tanya Indra heran.
"Noh yang ngelaporin suaminya ke polisi gara-gara KDRT. Eh ujungnya balikan lagi." seloroh mpok Munah.
Indra tertawa di sela makan. Mie instan di piringnya sudah hampir habis.
"Jangan sampe mpok lu dirayu lagi. Terus malah makin bucin dan balikan." ujar mpok Munah.
"Iye kagak, mpok. Indra yang akan jagain mbak Maya." jawab Indra.
"Kalau dia nggak nurut, bakal Indra bacotin sepanjang waktu." lanjutnya kemudian.
"Syukur deh kalau gitu." jawab mpok Munah.
"Mpok cuma kasihan aja liat mpok lu. Nyari duit kesana-kesini. Eh, ditipu sama laki-laki yang modelnya kayak si Martin." lanjutnya kemudian.
__ADS_1