
Kata-kata mpok Munah seperti melekat dan tak mau pergi dari benak Maya hari itu. Namun karena sudah berjanji, ia pun masih menemui Martin di tempat yang sudah mereka tentukan.
Mereka bertemu di depan sebuah ruko. Dimana Martin dan para anggota geng motor tak jelasnya itu sering berkumpul. Ruko tersebut baru di bangun dan belum ada yang menempati.
"Bunda."
Martin langsung sumringah melihat kedatangan Maya. Sebab aura hijau alias aura cuan terpancar dari gadis itu, bahkan sejak dari radius ratusan meter.
"Hai Maya."
Seluruh teman-teman satu tongkrongan Martin, baik yang laki-laki maupun perempuan mendadak ramah terhadap Maya. Padahal sebelum-sebelumnya mereka sinis dan seperti tidak mau bersahabat.
"Hai."
Maya membalas sekedarnya saja.
"Mana bund?" ujar Martin pada gadis itu.
Maya pun memberikan uang beberapa ratus ribu kepada kekasihnya tersebut. Martin kini terlihat sangat senang.
"Gaes, ngamer apa kita?"
Dengan tanpa dosa Martin menawari teman-temannya untuk membeli anggur merah, padahal ia baru saja dapat uang dari Maya.
Hati Maya seperti di tusuk-tusuk saat itu juga. Betapa tidak, ia mencari uang setengah mati lalu pacarnya dengan seenak jidat meminta. Setelah di beri malah berniat memakai uangnya untuk mengempani orang lain.
Maya tak masalah jika Martin ingin membelikan teman-temannya makan. Tapi ini minuman yang mengandung alkohol. Sungguh perbuatan yang sangat miskin penghargaan terhadap orang lain. Apalagi itu semua di ungkapkan di depan Maya secara langsung.
"Bund, kapan kita ganti motor baru?" tanya Martin lagi.
Maya sudah sangat ingin memaki, namun kemudian kemarahan dalam dirinya berhasilnya ia redam.
"Tunggu ya yah, kalau uangnya udah cukup. Honor bunda belum pada turun semua." ujar Maya.
"Oh ya udah deh, bunda udah makan belum?"
Tidak seperti biasanya Martin tiba-tiba bertanya seolah hendak mengajak makan. Maya menggelengkan kepala, memang sejak tadi ia belum makan berat. Hanya ngemil dan minum-minuman manis saja.
"Makan yuk bund." ajaknya kemudian.
Maya sejatinya sangat ingin. Namun dengan manusia yang tak sedikit di sekitarnya, mustahil Martin tidak menawari mereka. Dan mustahil diantara mereka tidak ada yang mau.
Dan bisa dipastikan Martin akan mengandalkan Maya dalam membayar. Bukan apa-apa, Maya memang terlihat agak pelit kali ini. Tapi semua itu karena ia telah sadar, bahwa Martin memang merupakan pacar yang tak tahu diri selama ini.
__ADS_1
"Mmm, bunda makan di rumah aja yah. Soalnya ibu tadi masak. Ibu bakalan marah kalau bunda makan di luar, soalnya udah janji makan bareng."
"Oh ya udah kalau gitu, bund." ujar Martin kemudian.
"Bunda langsung pulang ya yah." ujar Maya.
"Ya udah, hati-hati di jalan ya bund."
"Iya yah."
Maya mengorder ojek online, bahkan Martin tak ada niat mengantarnya. Padahal jarak antara tempat itu ke kediaman Maya tak terlalu jauh, dan lagi Martin sudah di beri uang.
Kali ini Maya benar-benar seperti tertampar dan sadar 100%, bahwa selama ini dirinya begitu bodoh. Rasanya ia ingin segera mengakhiri hubungan dengan kekasihnya itu.
Namun saat ini dirinya harus berkonsentrasi dengan gimmick yang tengah ia jalani. Ia tak mau urusannya dengan Martin nanti malah jadi mengganggu mood-nya. Sebab ribut sedikit saja, Martin pasti mendatanginya dan terus mengganggu sampai Maya memberi maaf.
Maya tak ingin nantinya ia terganggu oleh kedatangan Martin. Sebab Martin tak akan melepaskan pacar yang selalu memberinya uang.
Maya saat ini hanya ingin bekerja dan mengumpulkan pundi-pundi yang banyak. Sebisa mungkin di penghujung tahun ini atau awal tahun depan, ia ingin membeli rumah untuk kedua orang tuanya. Supaya mereka tak lagi mengontrak seperti sekarang.
***
"Nek, eke transfer lima puluh juta."
Ia syok, sebab belum pernah mempunyai uang sebanyak itu. Punya uang sebesar seratus ribu saja rasanya sudah sangat bersyukur sekali. Kini ia memiliki lima puluh juga di rekeningnya.
Maya terdiam dengan bibir yang menganga. Hingga membuat Indra dan ibunya yang tak sengaja melintas di ruang tamu bertanya-tanya. Sebab saat ini Maya tengah duduk di kursi ruang tamu.
"Kenapa lu May, bengong gitu?. Roh lu kayak abis di isep Dementor."
Indra hampir tersedak karena menahan tawa, demi mendengarkan pertanyaan dari ibunya tersebut. Namun Maya masih saya bengong, seolah memang arwahnya tengah di culik oleh setan Conjuring.
"Mbak May."
Indra mencoba memanggil sang kakak. Namun Maya masih juga kosong tatapannya. Hal tersebut membuat ibu Maya dan juga Indra mendadak diliputi kecemasan. Sebab mereka baru saja berpikir, apa jangan-jangan Maya mendapatkan masalah yang besar.
"Maya." Sang ibu gantian memanggil Maya.
Tetap tak ada jawaban.
"Maaay."
Maya pun tersadar dari lamunannya, akibat suara sang ibu yang tiba-tiba menjadi over stereo.
__ADS_1
"Eh, iya bu. Sejak kapan ibu sama Indra disini?"
Maya masih gelagapan saat pertanyaan tersebut terlontar dari bibirnya.
"Sejak jaman Majapahit." jawab sang ibu.
"Lu kenapa bengong gitu?. Ada masalah?" tanya ibunya lagi.
Maya menggeleng.
"Terus?"
"Maya..." Gadis itu mencoba menarik nafas dalam-dalam.
"Maya di transfer uang lima puluh juta, bu."
"Hah?. Lima puluh juta?"
Ibunya dan Indra yang kini tampak seperti dihisap arwahnya oleh Dementor. Mereka bengong dengan bibir yang sama-sama menganga.
"Bu, In. Woy!"
Maya menggoyangkan tangannya di depan mata sang ibu dan juga Indra.
"Ini serius mbak Maya?" tanya Indra dengan tubuh yang gemetaran.
"May, ibu jantungnya dag, dig, dug nih. Ibu kagak pernah ngeliat uang sebanyak itu seumur-umur." ujarnya kemudian.
Detik berikutnya mereka mulai seperti terbang ke awan. Sambil membayangkan diri mereka di hujani oleh uang.
***
Maya memberikan uang sebesar sepuluh juta pada sang ibu. Ibunya membeli kulkas dan juga mesin cuci. Sebab wanita itu sudah lama sekali ingin membeli kedua benda penting tersebut. Sisanya Maya membiarkan ibunya berimprovisasi, ingin ditabung atau di belanjakan.
Sebagain dibelanjakan oleh ibunya. Maya juga memberi Indra uang sebesar tiga juta untuk mengganti handphone, dan ayah tirinya sebesar lima juta untuk terserah membeli apa. Maya saat ini masih memegang sebesar tiga puluh dua juta dan ditambah honor acara televisi.
Rencananya ia kan gunakan untuk mengganti handphone yang lebih baik, agar kualitas video tiktoknya semakin baik pula. Maya juga berencana membeli baju, makeup dan menabung sebagian uangnya.
"May, ibu belum pernah belanja dan ngambil seenaknya kagak mikir-mikir dulu kayak begini."
Sang ibu berujar ketika tengah membeli keperluan rumah seperti bahan makanan, detergen dan lain-lain.
Maya dan Indra tersenyum. Mereka sangat bahagia melihat ibu mereka seperti itu.
__ADS_1
"Ambil aja mana yang ibu suka. Yang penting ibu senang." ujar Maya kemudian.