Nikah Settingan

Nikah Settingan
Dengki


__ADS_3

"Gimana?"


Xander yang tengah berbelanja bertanya pada Nik. Ketika Nik menelpon dan menanyakan ada dimana aktor asuhannya tersebut.


"Pokoknya lo tenang aja, gue udah ketemu orang yang tepat." jawab Nik.


"Orang ini bisa bantuin lo sampai sukses lagi di dunia entertaint." lanjutnya pria itu.


"Gue percaya sama lo." ucap Xander pada Nik.


"Thank you." ia mengimbuhkan.


"Sama-sama." jawab Nik.


Maka Xander pun menyudahi percakapan tersebut dan menyimpan kembali handphone ke dalam sakunya.


"Buuuk."


Seseorang tiba-tiba menabrak bahu Xander, hingga menyebabkan Xander menyenggol rak. Beberapa bahan makanan terlihat berjatuhan di lantai.


Sontak Xander pun menoleh dan ia kaget mendapati siapa orang tersebut, sebab mereka sudah pernah bertemu sebelumnya.


"Kalau belanja itu jangan cuma fokus ke produk, tapi fokus juga ke jalan. Biar nggak nabrak orang."


Xander berujar dengan nada ketus.


"Baperan amat."


Orang yang tiada lain adalah Maya itu pun menjawab.


"Masih untung gue yang nabrak, lah kalau kontainer?. Jadi human geprek lo bisa-bisa." lanjutnya lagi.


"Udalah lo yang nabrak, nyolot lagi. Dasar anak kampung." cecar Xander.


"Eh, om. Emang saya yang nabrak ya, tapi situ yang nyolot duluan. Padahal tadi saya udah mau minta maaf loh."


"Nggak usah banyak omong. Beresin tuh!" ucap Xander seraya melirik ke beberapa bahan makanan yang masih berserakan di lantai.


"Koq saya?" tanya Maya sambil ngegas dan mengerutkan dahi.


"Yang nabrak saya siapa?" tanya Xander kemudian.


"Ya, saya." jawab Maya agak ragu-ragu.


"Ya udah beresin?" perintah Xander lalu kembali melangkah.


Maya kesal, dari arah belakang ia mengepalkan tangannya dan seperti hendak memukul Xander. Tiba-tiba Xander menghentikan langkah. Maya baru sadar jika di depan mereka ada sebuah kaca, dan otomatis Xander bisa melihat perbuatannya.


"Anjir."

__ADS_1


"Tuing!"


Maya pun berbalik membelakangi Xander. Tak lama setelah Xander benar-benar berlalu, ia lalu membereskan bahan makanan yang jatuh dan mengembalikannya ke tempat semula.


Maya lanjut berbelanja, dan setelah selesai ia beralih menuju kasir. Kembali ia dihadapkan pada Xander, yang ternyata tengah mengantri di kasir sebelah. Mereka saling melirik satu sama lain lalu sama-sama bertemu muka.


Maya mencibirkan bibir layaknya lambe turah yang penuh kekesalan. Sedang Xander memberi pandangan yang seolah meremehkan dan menganggap Maya hanyalah anak alay yang tengah cari perhatian.


Satu orang di depan maju, maka mereka berdua pun sama-sama ikut mengambil langkah. Keduanya kembali saling melirik dengan sinis karena merasa satu sama lain mengikuti gerakan.


Maya merasa Xander mengikuti dirinya, sedang Xander juga demikian. Ia tak suka terlihat sejajar dengan perempuan itu.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya mereka pun membayar. Tak ada lagi lirik-lirikan di sana. Mereka membayar semua belanjaan dan memasukkan kembali belanjaan tersebut ke dalam troli.


Kemudian troli itu dibawa menuju ke depan. Maya hendak menunggu taksi online, sedang Xander ingin menuju halaman parkir.


Xander berjalan duluan, sementara Maya ada di belakangnya. Setelah sampai di mulut pintu tiba-tiba Xander menoleh.


"Apa lihat-lihat?" tanya Maya ketus.


Besarnya suara perempuan itu hingga menarik perhatian sekitar.


"Dari tadi ngeliatin gue mulu, karena gue terkenal dan cakep kan?" ujarnya lagi.


"Xan."


"Seally."


Xander tersenyum pada perempuan itu dan mereka langsung cipika-cipiki. Sontak muka Maya pun mendadak memerah, sebab saat ini semua mata tertuju padanya. Xander ada melirik ke arah Maya sambil menarik sudut bibir.


Maya yang malunya setengah mati itu hanya bisa menundukkan wajah, kemudian buru-buru keluar dari dalam supermarket tersebut.


"Duh, bodoh banget sih gue. Elah, ah."


Maya menggerutu dalam hati.


"Gede banget lagi suara gue." gumamnya lagi.


Ia melihat handphone dan membuka laman aplikasi ojek online. Ia memeriksa taksi yang tadi ia order melalui aplikasi tersebut.


"Duh, masih di depan lagi. Buruan kek!" ujarnya.


Sambil menahan rasa malu dari cibiran sekitar, Maya terus menuntut memperhatikan handphone. Tak lama setelah itu taksi online yang ia pesan pun tiba.


Maya buru-buru memasukkan barang belanjaan ke bagasi dan masuk ke dalam setelah semuanya beres.


"Huh, akhirnya." ucap Maya.


Ia benar-benar lega telah terbebas dari rasa malu.

__ADS_1


"Bodoh, bodoh. Ngapain juga gue tadi kayak gitu. Tengsin anjir gue."


Maya masih menyesali dan menyalahkan diri sendiri. Ia benar-benar ingin mengubur diri demi mengingat kejadian tadi.


***


"Ini buat lo."


Erik Tornado memberikan amplop coklat kepada seseorang yang ia temui siang itu, dan orang tersebut pun menerimanya dengan sebuah senyum puas. Apalagi setelah ia memeriksa isinya.


"Lakukan sesuai yang gue mau, dan pengerjaan harus rapi. Usahakan Zero mistake." ucap Erik lagi.


"Beres, bos. Dalam beberapa hari semuanya akan terjadi sesuai keinginan lo." ucap orang tersebut penuh keyakinan.


"Bagus." jawab Erik.


"Kalau berhasil, duitnya gue tambah." lanjut pemuda itu.


"Oke."


Orang tersebut kemudian mengambil dan menyimpan amplop coklat pemberian Erik. Lalu mereka lanjut membicarakan sesuatu yang serius.


Sementara di tempat lain Jennifer si biang gosip yang suka membully Maya di sekolah dulu, kini terlihat tengah berdandan sambil video call dengan para anggota gengnya.


"Ntar kita ambil videonya dimana?" tanya Cassandra.


"Di rumah masing-masing lah, kan rumah kita bagus." jawab Jennifer kemudian.


"Hahaha, nggak kayak rumah si Nur ya say?"


Cassandra memasukkan nama Maya ke dalam obrolan.


"Yoi, makanya dia bikin video di kuburan, ditempat serem. Bukan karena indigo, tapi kuburan dan tempat serem lebih bagus dari rumahnya di yang ngontrak itu." jawab Jennifer.


Ia dan Cassandra serta teman-teman anggota geng lainnya kini tertawa-tawa.


"Pokoknya kita harus lebih viral dari si Nur." Elizabeth yang sejak tadi diam kini ikut bersuara.


"Yup bener banget." Aurora menimpali.


"Kalau kayak gini terus si Nur bakalan merasa kalau dirinya lebih tinggi dari pada kita." lanjutnya kemudian.


"Si Nur mah nggak usah kebanyakan gaya. Biasa minum air sumur, eh ganti air mineral aja belagu." Marcella ikut-ikutan.


Mereka semua tertawa-tawa sambil merencanakan konten yang hendak mereka buat. Mereka rencananya ingin menjadi tiktoker yang keviralannya melebihi Maya.


Sebab apa yang telah dibuat Maya selama beberapa waktu belakangan ini, benar-benar membuat mereka menjadi iri dengki. Mereka tak rela jika hidup Maya nantinya akan lebih makmur dan glamor ketimbang kehidupan mereka.


Maya harus menjadi yang terbawah dan terbully. Sebab mereka sangat menikmati hal tersebut. Bila perlu sampai Maya menjadi down di titik terendah.

__ADS_1


__ADS_2