Nikah Settingan

Nikah Settingan
Syuting


__ADS_3

Maya tiba di lokasi syuting, setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Di tempat tersebut ia dihadapkan langsung dengan Erik Tornado, yang sangat membuat dirinya ingin muntah.


Tetapi ia harus bersikap profesional. Sebab pihak online market place yang memakai jasa mereka saat ini, tidak tahu menahu mengenai masalah yang terjadi dibelakang.


Mereka hanya tau Maya dan juga Erik adalah pasangan yang tengah digandrungi dan di elu-elukan oleh netizen, yang sebagian besar adalah milenial serta gen Z. Meski banyak juga yang menghujat, tetapi yang mengelu-elukan lebih banyak.


Hal tersebut bisa memberikan pengaruh yang sangat luas. Apalagi ketika mereka menggunakan produk atau menjadi brand ambassador dari produk tersebut.


Sudah dipastikan hal itu akan membuat para fans mereka juga turut menggunakan apa yang mereka gunakan. Mereka akan bisa menginfluence target market secara tepat.


"Hallo Maysa."


Humas dari online market place bersama kepala divisi advertising dan pemasaran menemui Maya yang baru tiba. Kebetulan Erik pun baru sampai beberapa detik sebelum Maya. Maka dari itu mereka berdua langsung di dekati dan disambut dengan baik.


"Hallo." jawab Maya seraya menjabat uluran tangan kedua orang tersebut. Mereka semuanya adalah perempuan.


Erik juga terlihat seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Mereka kemudian duduk pada meja dan kursi yang sudah dipersiapkan. Tak lama mak Dince datang dari arah belakang. Ia langsung cipika-cipiki dengan Maya dan juga Erik.


Mereka berbincang sejenak mengenai kerjasama yang mereka akan jalani tersebut. Maya dan Erik diberitahu rules serta apa saja poin-poin terkait mengenai hal tersebut.


Termasuk apa yang tidak boleh mereka lakukan selama terikat kontrak dengan platform jual beli online tersebut.


"Jadi sudah paham ya Maysa dan Erik." ujar salah seorang dari mereka.


"Iya bu, saya paham." jawab Maya diiringi anggukan kepala Erik.


Tak lama mereka semua beranjak, karena Maya dan juga Erik akan di briefing oleh sutradara dan penulis skenario iklan di bagian lain.


"Mak, ini nanti gue gimana?. Eke takut mak, soalnya dadakan begini."


Maya berbisik ada mak Dince, ketika mereka hendak mencapai sang sutradara iklan.


"Udah tenang aja, baca bener-bener script iklan yang bakal dikasih nanti dan dengerin arahan sutradaranya. Orang cuma nyanyi-nyanyi soal gratis ongkir, sama joget-joget doang koq." ucap mak Dince.


"Oh, ya udah deh." jawab Maya namun masih dengan kekhawatiran yang tinggi.


Mereka melangkah menuju ke arah sang sutradara dan penulis naskah iklan. Mereka saling menyapa dan berjabat tangan. Sutradaranya kelihatan cukup baik dan ramah, bukan tipe sutradara galak yang ada didalam pikiran Maya.


"Jadi nanti ada koreografi yang harus kalian hafalkan." ucap sutradara tersebut pada Maya dan juga Erik, serta beberapa talent support atau talent pendukung lainnya.

__ADS_1


"Mas Arya dan mbak Fitri akan mengajari kalian." lanjutnya lagi.


Ia menunjuk pada dua orang koreografer yang ada di dekat mereka.


"Saya kasih waktu dua jam untuk latihan, setelah itu proses syuting akan segera kita mulai. Kalian paham?"


"Paham mas." jawab mereka semua secara serentak.


***


"Gimana nih kita?"


Jennifer sang kepala suku kelompok bullying terhadap Maya, berbicara di grup mereka. Sesuai dengan rencana mereka waktu itu, mereka ingin membuat konten agar bisa viral menyaingi Maya.


Mereka telah sepakat, sudah mengambil beberapa video sebelumnya. Namun seperti yang sudah-sudah, tidak ada jam pasti diantara mereka.


Karena selalu dimanjakan oleh orang tua masing-masing, mereka jadi tidak disiplin terhadap waktu. Dulu di jaman sekolah saja mereka sering terlambat lantaran bangun kesiangan.


Meski Maya pun kadang suka seperti itu. Tetapi hanya sesekali dan tidak hampir setiap hari seperti mereka.


"Ntar dulu, gue baru bangun." Cassandra mengetik di grup tersebut.


Jennifer mengetik dengan sangat kesal kemudian mengirimkannya.


"Iya, yang lain juga belum pada bangun kan?" Cassandra membela diri.


"Ya paling nggak jangan nurutin yang lain dong." ujar Jennifer lagi.


"Ah minggu lalu aja lo telat koq." ujar Cassandra.


Jennifer terdiam namun masih kesal.


"Ya tapi kan gue udah berusaha keras untuk hari ini. Harusnya lo dan yang lain juga dong. Kapan kita bisa ada di titik temu, kalau lo semua nggak ada yang mau berusaha."


"Koq lo jadi marah-marah gitu sih?" Cassandra tersinggung.


"Ya lo pada nggak ada tanggung jawabnya sama sekali."


"Ada apaan sih?" tiba-tiba Luna muncul di susul oleh Bianca dan yang lainnya.

__ADS_1


"Lo pada tuh nggak ada yang tepat waktu anjir, kayak nggak serius." ucap Jennifer.


"Mau terkenal nggak lo pada?. Lo semua emangnya mau di balap sama si Nur. Ntar tau-tau dia banyak duit, punya rumah, mobil, tenar. Kalian udah siap liat si nur berada di puncak?" Lanjutnya lagi.


Mereka semua pun terdiam, lalu Cassandra melunak tetapi tidak meminta maaf.


"Ya udah deh gue mandi dulu. Lain kali gue tepat waktu." ujar perempuan itu.


***


"Beli di sini sekarang."


"Gratis ongkir."


Maya dan Erik melafalkan kata-kata yang memang harus mereka ucapkan. Setelah satu jam berusaha menghafal dan memperbaiki koreo yang diajarkan.


Awa mula memang terasa sulit kompak, tetapi saat ini semua sudah bagus di mata sang sutradara.


"Masih ada satu jam lagi dan silahkan ulangi latihannya." ujar sang sutradara pada mereka semua.


"Oke, mas." jawab mereka semua di waktu yang nyaris bersamaan.


Mereka mulai sesi latihan lagi setelah tadi sempat beristirahat sejenak. Sama seperti sebelumnya, Maya dan Erik berada di line paling depan. Sebagai brand ambassador dari jargon gratis ongkir tersebut.


Mereka memulai koreografi dan mengakhirinya dengan kata-kata seperti tadi. Semua terus mereka ulang, hingga mereka akhirnya hafal sepenuhnya.


Mereka kemudian istirahat kembali dan lanjut masuk ke ruang makeup. Untuk di dandani sesuai konsep yang telah di sepakati, antara sutradara dan juga pihak online market place itu sendiri.


Setelah proses makeup rampung, mereka di briefing sekali lagi dan memulai syuting. Kebetulan set semua sudah lengkap dan siap sejak tadi pagi.


Maya dan Erik bekerja secara profesional dan menunjukkan kekompakan. Meski dalam hati Maya rasanya ingin menendang Erik sampai ke luar atmosfer. Ia masih sakit hati pada pemuda yang sok kaya dan sombong tersebut.


"Cut."


Sutradara menyudahi pengambilan gambar, ketika semua dirasa telah cukup dan hasilnya memuaskan. Tepuk tangan pun menandai berakhirnya proses syuting tersebut. Buru-buru Maya menjauh dari Erik dan mendekati mak Dince.


"Tuh kan nek, apa eke bilang. Bisa kan walau dadakan?" ujar mak Dince kemudian.


Maya pun hanya nyengir lalu mengambil air minum yang telah di sediakan.

__ADS_1


__ADS_2