Nikah Settingan

Nikah Settingan
Telpon Dince


__ADS_3

"Nek gimana, udah balik ke rumah?"


Dince menelpon Maya melalui panggilan WhatsApp. Ketika Maya baru saja merebahkan diri di atas tempat tidur.


"Udah mak, lo lagi apa ini?"


Maya balik bertanya.


"Eke barusan transfer ertong, mak."


Dince menjelaskan jika ia baru saja mentransfer sejumlah uang kepada salah satu artis, yang Maya sendiri tak tau siapa.


"Ertong sapose, mak?" Lagi-lagi Maya bertanya.


"Itu si Chika Geraldine sama Joan Robert. Baru dapat uang dari sponsor gimmicknya mereka."


"Hah, mereka itu gimmick toh mak?"


Maya tak percaya, sebab ia juga mengikuti ke-uwuan dari pasangan yang tengah di gandrungi tersebut.


"Gimmick say. Apapun hubungan yang ditampilkan di media oleh para ertong, itu mostly gimmick. Yang pasangan beneran mah paling satu diantara sepuluh." ucap Dince kemudian.


"Serius mak?"


"Serius, say. Yang gimmick sampe berumah tangga dan masih jalan sampai sekarang aja ada koq." ucap Dince lagi.


"Ah, masa sih mak?"


"Hmmm."


Dince kemudian menyebut salah satu artis, yang saat ini tengah menjalani pernikahan dan punya anak. Tapi ternyata semua itu adalah palsu.


"Itu juga Gimmick?" tanya Maya makin tak percaya.


"Gimmick say, tapi gimmicknya niat dan totalitas. Bilangnya ke media saling cinta, padahal mah si cowoknya demen sama lekong juga. Kagak demen sama cewek sebenarnya. Tapi karena kepentingan pencitraan depan kamera dan nggak berani mengakui kalau dia nggak lurus, jadinya ya gitu. Terpaksalah gimmicknya berlanjut sampe bininya bunting dan punya anak."


"Wah gila sih, nggak nyangka dunia entertaint separah itu." ucap Maya.


"Jangan sedih say, masih banyak gimmick-gimmick lainnya yang dijalani para ertong demi mengumpulkan pundi-pundi. Ngomong-ngomong soal gimmick, mau nggak yey gimmick sama salah satu selebgram?"


Dince mulai menawarkan produknya pada Maya.


"Sama sapose mak?" tanya Maya.


"Itu si Erik Tornado, saudaranya Fanta Tornado "Ah sigap." Tau kan lo?"


"Iya tau sih, tapi nggak ngikutin mereka. Abis kontennya gerebek mulu kagak berkembang. Sekarang setelah punya anak sama bininya, si Fanta kontenin bini sama anaknya mulu."


Dince tertawa.


"Mengikuti keinginan rakyat netijen kita say. Rakyat neti kan sangat suka menonton segala sesuatu yang nggak penting. Jadinya mereka cari cuan dari situ." ucapnya lagi.

__ADS_1


"Sekarang adeknya nyari gimmickan juga gitu?" Lagi-lagi Maya bertanya.


"Yes, dia sendiri kemaren yang bilang ke eke. Usahain sama si artis tiktok itu dong mak, katanya. Maksudnya sama yey. Terus ada sponsor yang mau bayar 100 juta masing-masing, kalau kalian mau."


"100 juta?"


Maya tercengang mendengar nominal angka tersebut.


"Iya, 100 jeti say. Pokoknya selama gimmick itu berlangsung, kalian pura-pura menggunakan produk-produk mereka. Taroklah kayak endorse." ucap Dince lagi.


Maya berpikir keras, ini sebuah pekerjaan yang sejatinya relatif gampang. Tinggal berpura-pura saja di depan kamera dan dapat uang.


"Gimana, tertarik nggak say?. Mumpung yey lagi viral-viralnya nih sekarang. Kita jaga supaya keviralan yey nggak meredup dengan cepat. Kalau bisa makin bersinar dengan adanya gimmick ini." ucap Dince lagi.


"Gue sih tertarik banget mak, kalau segitu bayarannya mah."


"Makanya, kita ketumbaran aja gimana. Biar lebih enak ngomongnya."


"Mau ketemuan dimana?" tanya Maya pada Dince kemudian.


"Gampang itu mah, yang jelas yey ada waktu kapan buat ketumbaran?"


"Mmm, besok bisa mak. Sore pulang syuting." jawab Maya.


"Besok syuting dimana lagi yey?" tanya Dince.


Maka Maya pun mengatakan dimana ia akan menjalani syutingnya besok.


"Nah ya udah, besok kita ketumbaran di kafe aja gimana?"


"Ntar eke yang tentuin deh, tunggu aja kabar dari eke."


"Oke mak kalau gitu."


"Ya udin, eke mau lanjut kerjaan dulu yes."


"Oke mak."


"Bye Maya."


"Bye mak Dince."


Dince lalu menyudahi panggilan tersebut. Kini tinggallah Maya yang terbaring di tempat tidur, sambil membayangkan uang sebesar seratus juta dalam genggaman.


"Seratus juta, gue beli apa ya?"


Gadis itu menatap langit-langit kamar.


"iPhone baru, baju, makeup, tas, sepatu, motor, bayarin kontrakan dan hutang emak."


"Ih, seneng banget gue." ujarnya kemudian.

__ADS_1


Meski uang seratus juta itu masih di awang-awang, namun pikiran Maya sudah mengambang kemana-mana.


***


"Lo tetap mau bersikeras?"


Nik kembali bertanya pada Xander, sebab meluluhkan hati sekeras milik sahabatnya itu haruslah dilakukan secara continue. Layaknya tetesan air jika hendak melubangi batu.


"Lo pasti mau merayu gue soal gimmick itu lagi kan?" Xander langsung menjudge ke arah sana.


"Jangan harap." ujarnya kemudian.


"Xan, emang lo nggak butuh duit banyak?"


"Harga diri gue jauh lebih tinggi." ucap Xander seraya menyibukkan diri dengan pekerjaan.


Padahal tak ada yang begitu serius selain mengawasi penjualan. Dan tugas itu sejatinya adalah tugas dari karyawan di divisi pemasaran.


"Lo lebih mementingkan harga diri, apa cuan buat bakal modal lo membesarkan ini perusahaan. Semakin perusahaan ini gede, semakin cepat lo balas dendam sama si Gilbert."


Perkataan tersebut membuat Xander jadi sedikit terdiam. Namun kemudian ia segera kembali pada prinsip yang ia pegang.


"Jangan sekali-kali mempengaruhi gue soal itu, karena gue nggak akan pernah mau mejalani yang namanya gimmick. Gue mau kembali ke dunia entertaint dengan cara yang baik."


Xander lalu meninggalkan ruangan tersebut, namun Nik masih bertekad untuk tidak menyerah begitu saja.


***


Esok harinya selesai syuting, Maya menemui mak Dince. Di tempat tersebut ia di janjikan ini itu. Bahkan Dince mengatakan, ia bisa membantu Maya menjadi pemain sinetron. Asal Maya konsisten menjaga keviralannya. Terutama dengan gimmick yang telah ia tawarkan.


"Kalau yey cuma ngandelin konten nek, paling juga bertahan setahun. Abis itu yey bakalan redup. Sebab bakalan ada konten kreator lain, dengan karya-karya nya yang lebih baru serta hits."


Dince menghisap pod Vape atau rokok elektrik miliknya. Lalu menghembuskan asap ke sekitar, hingga tampak mengebul.


"Pernah tau nggak selebgram yang katanya mirip Barbie.?"


Dince bertanya pada Maya, sementara maya agak mengerutkan keningnya sedikit.


"Itu yang dari Bekasi."


"Oh iya, udah lama banget itu." ucap Maya.


"Tenggelam kan dese sekarang. Karena cuma modal makeup mirip Barbie terus sering foto sama live doang. Kagak punya skill lain."


Lagi-lagi Dince menghisap pod Vape miliknya.


"Kalah dia sama selebgram makeup yang tempo hari bikin konten Lathi. Itu anak punya skill di bidang makeup, meniru, dan berkembang sampai sekarang. Makanya dia bertahan. Sama kayak yey gini, punya skill dance, ditambah bumbu gimmick serem dan lain-lain. Tapi kalau nggak berkembang, nanti malah ilang."


Maya makin diam, dalam hati ia membenarkan hal tersebut.


"Mending disaat kayak gini, yey manfaatin buat gimmick. Duitnya lumayan buat modal usaha." ujarnya lagi.

__ADS_1


Dipikir-pikir benar juga, lebih baik Maya mengambil kesempatan, daripada nanti kesempatan itu hilang begitu saja.


"Ya udah mak, eke mau." ujar Maya kemudian.


__ADS_2