Nikah Settingan

Nikah Settingan
Rencana Martin


__ADS_3

"Nek, yey dimana?"


Mak Dince tiba-tiba menghubungi Nik di suatu pagi yang cukup cerah.


"Di apartemen, mak. Gue baru bangun." jawab Nik.


"Kenapa?" tanya nya kemudian.


"Lo nanti siang temui si Nay."


Mak Dince menyebut nama salah seorang temannya yang juga sering menangani persoalan gimmick.


"Mak Nay?" Nik sedikit mengerutkan dahi.


"Iya, dia ada kandidat buat Xander. Salah satu selebgram yang dulu sempat booming banget, terus sekarang tenggelam juga. Jadi kalau gimmick sama Xander diperkirakan bakalan jadi heboh." ucap Mak Dince lagi.


"Siapa selebgram-nya?" tanya Nik heran.


"Itu si Dina Yellow."


"Dina Yellow?"


Nik memang tidak tau perihal selebgram tersebut. Jangankan tau orangnya, mendengar namanya saja pun rasa-rasanya tidak pernah.


"Iya, masa yey nggak tau. Orang dulu sempat viral banget beberapa tahun lalu."


Nik mencoba mengingat-ingat, namun ia menyerah pada beberapa detik berikutnya.


"Beneran nggak tau mak, siapa sih?"


Mak Dince lalu mengirimkan foto Dina Yellow. ke akun WhatsApp milik Nik.


"Tuh di WhatsApp." ujar Mak Dince.


Lalu nik pun menilik ke akun WhatsApp miliknya dan ternyata setelah dilihat, ia memang tidak mengenal selebgram tersebut.


"Nggak tau gue." ucap nik seraya tertawa.


"Pokoknya ntar lo lihat-lihat aja videonya dia di Instagram. Nah sekarang lo temui aja dulu mak Nay, dan bicarakan kerjasamanya. Supaya gimmick sama si Xander bisa langsung naik."


"Oh oke-oke mak. Tapi gue nggak ada kontaknya mak Nay." ujar Nik.


"Ntar gue kirimin."


"Oke."


Tak lama mak Dince menyudahi obrolan, kemudian ia mengirimkan kontak yang dimaksud. Nik pun lalu menghubungi mak Nay dan mak Nay meminta bertemu siang itu juga.


***


"Nik, lo dimana?"


Xander bertanya pada Nik di telpon.


"Kenapa emangnya?" Nik balik melontarkan pertanyaan.


"Lo nggak kesini?" tanya Xander lagi.


"Gue lagi mau nemuin orang yang bakal gimmick sama lo." jawab Nik.

__ADS_1


"Oh ya, emang udah dapat?" Lagi-lagi Xander bertanya.


"Udah, makanya ini mau gue temui dulu."


"Gue perlu ikut nggak?" tanya Xander.


"Nggak usah, lo terima beres aja."


"Oke deh, lo atur aja."


"Ya udah ntar balik dari sana, gue ke tempat lo deh." ujar Nik.


"Oke, sip."


Nik lalu menyudahi obrolan tersebut, ia segera bersiap untuk menemui mak Nay. Sementara Xander sendiri melanjutkan pekerjaan kantor yang ia bawa ke rumah.


Meski saat ini tengah mengalami masa sulit, namun pria itu ingin melakukan apa yang kira-kira bisa ia lakukan.


Ia tak mau berdiam diri dan hanya berpasrah saja pada keadaan. Ia sudah pernah hancur dan sudah tau bagaimana caranya bertahan dan juga bagaimana caranya untuk bangkit. Meski itu terasa begitu sulit.


***


Di lain pihak.


Gerombolan anak muda dan remaja belia tiba di sebuah ruko yang sampai saat ini belum dibuka untuk umum. Namun telah banyak bangunan yang di corat-coret dengan menggunakan cat semprot.


Gerombolan tersebut tiada lain dan tiada bukan adalah geng Martin, kekasih Maya yang kini tengah galau berat sekaligus resah. Sebab dirinya agak sulit menghubungi maupun meminta uang pada Maya akhir-akhir ini.


Maya selalu saja banyak alasan, jika Martin sudah mengirim chat dan meminta uang. Maya bilang honornya belum keluar atau seluruh uang dipegang oleh ibunya.


"Mar, amer dong!"


Salah satu rekan segerombolannya meminta jatah minuman kepada Martin.


"Alasan gimana?" tanya salah seorang temannya tak mengerti.


"Ya, dia bilang duitnya di nyokapnya semua lah. Belum dibayar sama televisi lah honornya. Macem-macem alasan dia." ujar Martin lagi.


"Itu mah bokis, bro."


Salah seorang temannya yang lain turut mengemukakan pendapat.


"Gue sih kagak percaya." jawab Martin.


"Lo bikin drama aja, ege. Pura-pura kecelakaan kek lo. Biar dia mau kasih duit sekali banyak." teman Martin yang perempuan mengungkapkan idenya.


"Bener tuh apa kata Jeje, bikin drama aja." celetuk yang lainnya.


"Iya juga ya." gumam Martin.


"Pasti dia bakalan khawatir banget sama lo. Secara tuh cewek kan udah cinta mati sama lo." Jeje kembali berujar.


Martin kini mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju.


"Ya udah deh kalau gitu." tukasnya kemudian.


"Tapi gimana caranya ngaku kecelakaan. Ntar kalau dia minta foto-foto gue lagi kecelakaan atau kerusakan motor gimana?" tanya Martin.


"Ya elah lu, itu mah gampang." celetuk temannya.

__ADS_1


"Iya, bisa diatur. " ujar Jeje lagi.


Dan pada akhirnya semua sepakat, untuk membuat drama kecelakaan Martin. Agar pemuda itu bisa segera mendapatkan cuan dari Maya.


***


"Jeff, kirim foto-foto kita kemaren dong!"


Maya meminta dikirimi foto kepada Jeffri Clinton. Si Selebgram yang katanya mirip V BTS. Kemarin saat nongkrong bersama di kafe, mereka ada sempat mengabadikan momen lewat foto bersama dan membuat beberapa video yang nantinya akan dijadikan insta story. Tetapi di perlihatkan khusus close friend saja. Sebab mereka berdua terikat gimmick dengan seseorang.


"Ting."


"Ting."


"Ting."


Jeffri mengirim foto-foto tersebut. Tentu saja Maya langsung melihat satu persatu dan ternyata hasilnya bagus.


"Untung gue udah skincare-an selama beberapa hari belakangan ini." gumam Maya.


"Jadi cushion gue menyatu sama kulit." ujarnya lagi.


"Gimana May, bagus kan hasilnya?" tanya Jeffri.


"Iya, bagus banget." jawab Maya.


"Gue jadiin insta story buat close friend boleh kan?" tanya nya kemudian.


"Boleh koq." jawab Jeffri.


"Kapan-kapan kita jalan lagi yuk." ajak pemuda itu.


Maya kini jadi senyum-senyum sendiri. Biar bagaimanapun, meski tak terlalu mirip dengan V BTS, tetapi Jeffri memang cukup lumayan.


Apalagi bila dibandingkan dengan Martin ataupun Erik Tornado. Mau jujur senang sekali bisa dekat dan duduk bersama dengan pemuda tampan. Sebab vibes-nya jadi seperti di dalam drama Korea.


"Mmm, boleh." jawab Maya.


"Atur aja waktunya." ujar gadis itu lagi.


"Tapi lo sukanya apa?" tanya Jeffri.


"Suka apanya nih?" Maya balik bertanya.


"Ya, suka apa kek. Jalan kemana gitu?" ujar Jeffri.


"Gue sih kemana aja ayo, asal deket tempat makan." tukas Maya.


"Oh, oke deh. Gampang itu mah, bisa di atur." jawab Jeffri.


"Kala lo sendiri gimana?" tanya Maya.


"Kalau gue easy going aja sih. Nongkrong di teras rumah juga oke, asal ada kopi dan topik obrolan." jawab Jeffri.


"Sangat mudah ya, ternyata."


"Wkwkwkwk."


Dan Jeffri pun membalas.

__ADS_1


"Wkwkwkwk.


Kemudian obrolan itu pun berlanjut, hingga beberapa saat ke depan. Sementara dilain pihak, Martin dan teman-temannya kini mulai menyusun skenario.


__ADS_2