Nikah Settingan

Nikah Settingan
Telepon


__ADS_3

"Gue duluan ya."


Nik pamit kepada Xander ketika mereka telah berada di muka apartemen. Xander memang mengantarkan manager sekaligus sahabat itu terlebih dahulu.


"Oke." jawab Xander.


Maka Nik pun keluar dari dalam mobil dan menunggu sampai Xander kembali menekan pedal gas kemudian berlalu. Disepanjang perjalanan Xander kembali mengingat bentuk serta tingkah Dina Yellow.


Apalagi pada saat mereka pertama kali bertatap muka. Saat itu Dina Yellow langsung nyosor memeluk Xander. Xander tentu saja kaget dan merasa risih, sebab mereka tidak mengenal dan tidak berbasa-basi terlebih dahulu. Ia bahkan tak membalas pelukan itu sama sekali.


"Dia cool banget ya, bestie." ujar Dina Yellow kepada mak Nay sambil mengibaskan rambut.


"Dia emang gitu koq orangnya."


Nik menengahi sambil tertawa. Padahal itu hanya untuk menutupi rasa tidak enaknya atas sikap dingin Xander.


"Lo kan bisa akting, anggap aja ini lagi akting."


Nik sempat berbisik di telinga sahabatnya itu. Ketika mereka semua akhirnya berjalan menuju meja. Saat itu Xander hanya bisa menarik nafas panjang dan menuruti saja keinginan Nik.


Mereka duduk di satu tempat yang telah di reservasi terlebih dahulu. Tempatnya terbilang privat dan tak ada orang lain yang lalu lalang maupun melihat ke arah mereka.


"Aku Dina Mardina Yellow, thaaank you."


Dina memberikan finger heart usai memperkenalkan dirinya di hadapan Xander. Xander ada sempat menatap Nik saat hal tersebut sedang berlangsung. Meski tanpa suara dirinya seakan mempertanyakan pada Nik.


Benarkah managernya itu memilihkan orang seperti Dina untuk bergimmick dengannya. Padahal mungkin bisa dengan artis atau selebgram yang lain.


Tetapi Nik saat itu hanya menjawab dengan memejamkan matanya sejenak. Seperti memberi kode pada Xander untuk terima saja dulu dan jangan protes.


Kini di dalam perjalanan pulang, seluruh tingkah Dina Yellow seakan menari-nari di benak Xander. Sehingga keinginan untuk membatalkan gimmick tersebut begitu kuat.


Meski tadi dirinya sudah sempat di nasehati oleh Nik, namun batin dan pikirannya kembali menolak. Ia benar-benar tidak ingin menjalankan gimmick ini.


Maka Xander mengambil handphone dan hendak menghubungi Nik. Tapi kemudian panggilan dari sang ayah keburu masuk. Nik tertegun menatap layar handphone. Dan seketika semua rasa bersalah seolah kembali muncul ke permukaan.


"Iya, dad."


Xander berbicara kepada sang ayah.


"Xan, are you okay?"


"Mmm, ya. I'm okay dad, how about you?" Xander balik bertanya.


"Baik." jawab sang ayah.

__ADS_1


"Bagaimana perusahaan?. Aman?" Sang ayah kembali melontarkan pertanyaan.


"Degh."


Batin Xander seperti dipukul. Terasa sakit meski tak berdarah.


"Xan?"


"Ba, baik dad. Maaf kurang konsentrasi, Xander sedang dijalan soalnya. Lagi nyetir mobil."


"Oh, mau kemana kamu?" lagi-lagi sang ayah bertanya.


"Mau, mmm. Tadi dari ketemu klien." dusta Xander.


"Oh, siapa dan dari perusahaan mana?"


Pertanyaan sang ayah tersebut makin membuat Xander gelagapan. Ia berpikir keras untuk mencari jawaban bohong lainnya. Dan ketika hal tersebut berhasil di dapat, sang ayah pun percaya adanya.


"Huuuh."


Xander bisa bernafas lega.


"Daddy titip perusahan itu." ujar sang ayah lagi.


Sejak pulang ke negaranya, sang ayah memang mengganti nomor dan tidak memberikan kontaknya pada siapapun kecuali Xander. Jika ada teman yang ingin mengetahui kabar dirinya, maka mereka akan bertanya ada Xander.


Lagipula Xander sudah mewanti-wanti dan berpesan pada seluruh mantan bawahan ayahnya dulu, agar mereka tak ada yang memberitahu.


Hal tersebut dilakukan Xander dua hari sebelum ia mundur dari perusahaan yang telah di kudeta tersebut. Xander beralasan pada mereka agar kesehatan sang ayah tak terganggu.


Pernah sekali Gilbert hendak memberitahukan kepada ayah Xander jika saat ini perusahaannya telah ia rebut. Namun Gilbert tak mengetahui sama sekali kontak baru pria itu.


"Oh ya, Monica mana?. Apa kabarnya?"


Sang ayah kembali melontarkan pertanyaan.


"Degh."


Lagi-lagi batin Xander terasa berkecamuk. Sang ayah bahkan tak tau jika saat ini dirinya telah bercerai dari perempuan itu.


"A, ada dad. Cuma dia sibuk." jawab Xander dengan nada yang kembali terbata-bata. Sama seperti saat ayahnya menanyakan perihal keadaan perusahaan.


"Kalian baik-baik saja kan?" tanya sang ayah lagi.


"Baik, dad. Kami nggak ada masalah koq."

__ADS_1


Xander memperpanjang kebohongan.


"Ya sudah kalau begitu. Beritahu daddy kalau kalian ada rencana untuk memiliki anak. Daddy pasti akan senang sekali." ujar sang ayah.


Untuk yang kesekian kalinya batin Xander seperti di aduk-aduk dengan pisau.


"Iya, dad." jawabnya kemudian.


Sang ayah lanjut berkata-kata, sampai kemudian ia pamit. Kebetulan saat ini Xander telah tiba di halaman parkir apartemen miliknya. Xander diam sejenak ketika mobil telah berhenti.


Ia membenamkan kepala pada kedua tangan yang tertumpu di stir kemudi.


"Hhhhh."


Ia menarik nafas sedalam mungkin kemudian menghela dengan penuh penekanan. Perlahan ingatan pria itu kini kembali melayang pada Monica. Pada masa-masa dimana mereka masih bahagia. Ia ingat bagaimana dulu di dalam mobil, mereka selalu bercanda sambil tertawa-tawa.


"Kapan kita punya anak?" tanya Xander kala itu pada Monica.


"Makanya bikinin dong." goda Monica padanya.


"Mau bikin sekarang?" Xander kembali bertanya.


Maka Monica pun memberikan senyuman yang nakal. Xander membawa istrinya itu ke dalam rumah, lalu mereka melakukan hubungan sampai puas.


Biasanya hal tersebut akan diakhiri dengan mandi bersama. Dimana ia akan berendam di dalam bathub sambil memeluk istrinya itu.


Xander sangat mencintai Monica, bahkan lebih dari apapun itu. Ia benar-benar jatuh terlalu dalam pada kecantikan dan perawakan Monica yang menurutnya nyaris sempurna.


Xander dengan bangga memperkenalkan Monica ke sesama rekan kerjanya, dan semua orang sepakat mengakui kecantikan yang dimiliki wanita itu.


"Tok, tok, tok."


Terdengar suara ketukan di kaca mobil yang mengagetkan. Xander seketika tersadar dari lamunannya dan ternyata itu adalah sekuriti apartemen.


"Iya pak."


Xander membuka kaca dan berbicara pada sekuriti tersebut.


"Saya pikir bapak kenapa pak. Soalnya dari tadi nggak ada pergerakan." ucap sekuriti tersebut.


"Oh, saya tadi cuma mengantuk sedikit pak." ujar Xander seraya beranjak keluar. Bukan tanpa alasan sekuriti melakukan hal tersebut. Karena sebulan yang lalu ada juga penghuni apartemen yang seperti tertidur di dalam mobil yang terparkir.


Ternyata setelah dilihat kembali orang tersebut dalam keadaan pingsan karena serangan jantung mendadak. beruntung nyawanya masih bisa diselamatkan.


"Ya sudah kalau begitu, saya permisi." ucap sang sekuriti.

__ADS_1


"Baik pak, terima kasih." ujar Xander.


Sekuriti itu kemudian berlalu dan Xander kini menuju ke pintu lobi.


__ADS_2