Nikah Settingan

Nikah Settingan
Ketahuan


__ADS_3

"Nih, lu ambil aja. Kagak usah pinjam-pinjem."


Mpok Munah menyerahkan uang sebesar tiga ratus ribu rupiah kepada sang mantan suami atau ayah Salim.


"Ini beneran, Mun?. Elu ngasih gue gitu?" tanya nya lagi.


"Iye, tapi gue kagak bisa ngasih banyak. Lu tadi kan pengen pinjem sejuta ke gue. Nah gue kagak ada, adanya segini doang kalau lu mau."


"Ya udah deh, kagak kenapa-kenapa segini mah." ujar ayah Salim.


Wajahnya yang semula kuyu dan lesu, kini berubah menjadi sumringah.


"Ya udah, gue mau pulang kalau gitu." ujar ayah Salim lagi.


"Habisin dulu tuh minum. Sekalian mau bungkus nasi apa kagak lu?" tanya mpok Munah.


"Boleh deh, Mun. Kalau kagak keberatan mah."


Maka mpok Munah lalu membungkus nasi.


"Anak lu berapa sih?"


Mpok Munah mempertanyakan jumlah anak-anak sang mantan suami sekarang.


"Ada dua, Mun. Yang gede udah kelas dua SD, yang satu masih sembilan bulan.


"Oh ya udeh, gue bungkusin tiga berarti ya. Sekalian bakal bini lu." ujar mpok Munah.


"Makasih ya, Mun."


"Iye, sama-sama."


Mpok Munah membungkus nasi, sementara Maya memperhatikan. Bahkan sampai ketika ayah Salim benar-benar pamit dan menjauh dari warung tersebut.


"Lu koq baik banget sih, mpok?" tanya Maya heran.


"Gue kalau soal makanan mah, sama siapa aja juga baek May. Gue bukan perkara karena masih cinta. Tapi ini cara gue buat ngasih tau dia juga, kalau hidup gue tanpa dia tuh baek-baek aja. Semisal tuh duit masih dia bikin buat bakal judi juga, gue doain rejekinya makin lancar." ujar Mpok Munah.


"Lah koq gitu?" tanya Maya heran.


"Ya biar kagak minta sama gue mulu. Ngapain gue ngempanin orang judi terus-terusan."


"Tadi kenapa mpok kasih?"


"Pan dia bilang buat anaknya, lu denger sendiri. Kalau bohong ya dia dosa, kalau bener terus kita kagak ngasih kan kasihan. Siapa tau tuh bocil emang bener kelaparan."

__ADS_1


"Iya sih." ujar Maya.


"Laki yang nggak tau malu dan terbiasa minta sama perempuan mah gitu, May. Mau udah cerai juga mereka nggak bakal malu buat minta sama perempuan. Makanya gue bilang udahan aja lu sama si Martin. Sifatnya kagak jauh dari bapaknya si Salim."


Maya menghela nafas panjang.


"Ini Martin barusan WhatsApp aye, mpok. Katanya mau minta uang. Pan die dari kecelakaan, terus aye kasih duit."


"Kecelakaan apaan?"


Tiba-tiba Indra muncul dari belakang Maya dan nyeletuk. Maya kaget dengan kedatangan adiknya tersebut. Sekaligus kaget dengan pernyataan yang ia kemukakan barusan.


"Ya kecelakaan, sampe parah dan motornya ringsek. Dia juga luka-luka seluruh badan." jawab Maya.


"Kata siapa, emang lo liat?. Orang barusan gue ketemu koq di depan ruko. Cowok lo lagi trek-trekan."


Maya kian kaget mendengar semua itu.


"Nah loh, May. Jangan-jangan lo dibohongin tuh sama si Martin." ujar mpok Munah.


Selang beberapa saat Maya pun tiba di ruko yang dimaksud, dengan diantar Indra tentunya. Dan bukan alang kepalang betapa terkejutnya ia mendapati Martin yang tengah balap liar. Tampak teman-temannya bersorak-sorai menyemangati.


Maya melihat tak ada tanda-tanda kecelakaan di tubuh kekasihnya itu, bahkan ia terlihat sangat sehat sekali. Maya benar-benar naik pitam, apalagi ketika ia melihat Jeje yang tampak berteriak-teriak mengelukan nama Martin.


"Ayo beb, semangat!. Nanti kita ngamer lagi abis ini." ujarnya.


"Iya pake duitnya Maya." teriak Jeje lalu tertawa-tawa.


Emosi Maya naik ke ubun-ubun rasanya. Ia lalu mendekat dan membalikkan wajah Jeje, hingga Jeje kaget dan terdiam menatap dirinya.


Tak lama semua mata pun tertuju pada gadis itu, dan Martin akhirnya melihat kehadiran Maya. Sontak ia menghentikan motor lalu turun dan mendekat ke arah sang kekasih.


"Brengsek lo semua." ucap Maya penuh kemarahan serta kebencian.


"Ma, May." Jeje berujar dengan nada terbata-bata. Sebab ia begitu syok dan gak menyangka jika Maya akan datang.


"Bund, dengar dulu."


"Nggak usah manggil gue kayak gitu. Jijik tau nggak gue."


Maya melempar tatapan mata yang tajam kepada Martin.


"Bund, biar ayah jelaskan dulu."


"Nggak perlu, basi tau nggak."

__ADS_1


Maya berbalik dan Martin menahannya.


"Bund."


"Plaaak."


Maya dengan sekuat tenaga menampar Martin. Seketika Martin dan semuanya pun terdiam.


"Mulai hari ini, kita nggak ada hubungan apa-apa lagi." ujar Maya.


"Tapi, bund."


"Stop manggil gue kayak gini!" bentak Maya.


"Gue udah nggak mau lagi sama lo. Dasar pembohong, benalu, nggak tau diri."


Maya mencecar Martin, kemudian kembali berbalik arah. Namun Martin seperti tidak terima, ia berusaha menghalau Maya tetapi dengan cepat Indra langsung pasang badan.


"Sekali lo sentuh mpok gue lagi, gue hajar lo. ujar Indra.


"Kita punya urusan yang harus di selesaikan." lanjut remaja itu.


Tak lama ia dan Maya pun terlihat meningalkan tempat tersebut. Sementara Martin hanya bisa diam membisu. Sebab sumber keuangannya kini telah lenyap.


***


Maya menangis di sepanjang jalan menuju pulang. Ia benar-benar merasa ditipu dan dimanfaatkan oleh orang yang ia sendiri masih sayang.


Ia bahkan menangis tersedu-sedu, hingga membuat Indra akhirnya mengajak sang kakak untuk duduk di pinggir jalan.


Posisi mereka ada di dataran tinggi yang menghadap ke sebuah jalan lain yang ada di bawahnya.


Mereka minum es nutrisari dan es milo. karena tadi kebetulan mereka menemukan abang-abang starling sebelum tiba ke tempat ini. Indra lalu membelinya dan mereka kini minum bersama.


"Makanya mbak, lo jangan bucin jadi cewek. Lo tuh cakep, muka lo kayak bukan anak ibu sama bapak. Ngapain lo pacaran sama cowok yang modelnya kayak si Martin."


Indra berkata lalu menyedot es milo yang ada ditangannya.


"Lu kan sekarang udah seleb tiktok, selebgram, banyak endorsan, bisa cari duit. Kalau gue jadi elu mah, minimal cowok gue Jeffri Nichol. Ngapain lu pacaran sama kulit jengkol." lanjutnya kemudian.


Maya masih terus menyedot es nutrisari sambil melihat ke depan jurang yang dibawahnya ada jalan.


Ia benar-benar masih syok dan sangat sakit hati atas ulah Martin dan juga teman-temannya. Meski jumlah uang yang ia berikan untuk mantan kekasihnya itu terbilang tak seberapa. Tetapi Maya mencarinya dengan susah payah.


Sedangkan Martin menghabiskannya dengan membeli minum-minuman haram bersama teman-temannya. Sungguh perbuatan yang tidak bisa diterima akal sehat dan tak bisa dimaafkan begitu saja.

__ADS_1


Maya benar-benar tak akan kembali sekalipun Martin memohon. Dan seharusnya ia melakukan hal ini dari dulu.


__ADS_2