
"Nur lagi di gosipin tuh sama si Erik Tornado."
Cassandra mengirim link berita gosip di grup yang dibuat untuk membully Maya.
"Ember, udah tau gue. Jijik mau muntah." ucap Jennifer.
Seisi grup tau jika Jennifer tergila-gila pada Erik Tornado. Bukan karena tampangnya yang tidak seberapa, tetapi jelas pada harta pemuda itu yang patut di perhitungkan.
"Si Erik-nya juga kenapa gitu sih pas di wawancara. Kesel banget gue." Luna nyeletuk.
"Panas kan lo, apa lagi gue." balas Jennifer.
Grup itu terus bergosip. Sementara Maya disibukkan dengan bunyi notifikasi direct message di Instagram, yang terdengar hampir di setiap menit serta detik.
"Duh, ntar dulu kek. Ngelag kan hp gue jadinya."
Maya gusar sebab notifikasi tersebut membuat handphonenya menjadi stuck di layar depan.
"Duh, gimana nih?. Nggak gerak sama sekali."
"Indra"
Maya memanggil sang adik.
"Iya mbak, kenapa." tanya Indra seraya menghampiri.
"Ini handphone gue jadi stuck gini deh, gara-gara notifikasinya kebanyakan. Belum DM, belum orang follow. Belum yang WhatsApp, pusing gue." ujarnya kemudian.
"Ya udah sini matiin dulu." tukas Indra.
Maya menyerahkan handphonenya. Indra lalu menekan tombol on-off yang ada di bagian kanan cukup lama. Hingga kemudian handphone tersebut pun mati.
"Nih." Indra menyerahkan handphone tersebut kembali pada sang kakak.
"Duh, lega akhirnya." ujar Maya.
"Udah, lo nanti pas ngidupin langsung buru-buru non aktifkan paket data dulu." tukas Indra.
"Abis itu bisukan seluruh notifikasi kecuali WhatsApp." lanjutnya kemudian.
"Iya." ucap Maya.
"Nggak tau gue kalau efek gimmick jadi separah ini. Followers nggak berhenti-henti nambah, banyak DM yang masuk, dan lain-lain." gadis itu kembali berujar.
"Iya, harusnya lo udah wanti-wanti dari awal." ucap Indra lagi.
"Bener, tapi kan gue nggak ekspektasi terlalu tinggi." Maya membela diri.
"Ya udah, lo hidupin lagi dah tuh handphone lo. Terus lakuin yang kata gue tadi."
"Oke deh."
Maya menghidupkan kembali handphonenya, lalu buru-buru ia menonaktifkan paket data dan mengatur ulang notifikasi. Setelah itu barulah hidupnya berangsur tenang.
"Huh, ternyata gini ya jadi terkenal. Repot dan effort." ujar Maya.
"Ya, setiap hal kan ada resikonya." ujar Indra.
__ADS_1
"Ada plus minusnya juga." lanjut remaja itu.
"Tumben bijaksana, kutu air."
Maya berseloroh sambil menoyor kepala Indra, kemudian ia pun kembali ke tempatnya semula.
***
Xander menemui sutradara yang ingin mengajaknya kembali bekerjasama. Kedatangan pria itu di sambut baik, sebab mereka juga dulu pernah bekerjasama dalam beberapa film dan film tersebut meraih sukses besar.
Nikolas tentu saja selalu mendampingi Xander. Disana yang mereka perbincangkan adalah sebuah rencana project baru, yang diharapkan bisa jadi tontonan menarik nantinya.
"Kenapa terlalu lama, bro?"
Sang sutradara menyinggung soal Xander yang sempat vakum selama sekian tahun.
"Maklum, bro. Waktunya nggak ada." ujar Xander.
Dan memang demikianlah adanya. Xander vakum karena berat dengan pekerjaannya. Ditambah lagi saat itu dirinya sudah berumah tangga.
"Pokoknya welcome back, dan gue pribadi senang banget. Semoga project baru kita ini nantinya bisa segera di realisasikan." ucap sutradara itu lagi.
Mereka kemudian lanjut berbincang, hingga beberapa saat ke depan.
***
"Bro, makan yuk!" ajak Nikolas ketika ia dan Xander telah selesai menemui sutradara.
"Iya ntar kita makan dirumah." ucap Xander.
Nikolas menyebut salah satu restoran favorit mereka berdua.
"Kagak ada duit, Nik. Ini gue gaya doang nih begini. Lo kan tau keuangan gue lagi buat kantor semua. Bisnis gue baru merintis, ini aja udah problem dimana-mana." ucap Xander lagi.
"Pake duit gue, bro. Lo kayak sama siapa aja." ujar Nikolas.
"Nik, gue nggak mau terlalu banyak nyusahin lo. Dengan lo masih ngintilin gue selama bertahun-tahun ini aja, gue udah ngerasa banyak bersalah. Gue statusnya artis dan Lo manajer gue. Sedang gue udah nggak kerja di bidang itu untuk waktu yang cukup lama dan lo nggak gue gaji."
"Kan gue kerja juga, punya gaji sendiri." ucap Nikolas.
"Tetap aja gue nggak enak."
"Lo menganggap gue ini teman lo bukan sih?" Nikolas membuat Xander seketika terdiam.
"Ya lo teman gue, saudara gue. Kenapa mesti mempertanyakan hal itu?"
Xander berkata sambil menatap Nikolas sejenak, lalu kembali memperhatikan jalan.
"Nah, ya udah. Kalau lo menganggap gue sahabat lo, ayo kita makan disana!"
Xander menghela nafas,
"Ya udah." jawabnya pasrah.
Xander pun mengemudikan mobilnya menuju ke restoran tersebut. Sebelum tiba, Nikolas ada menelpon untuk reservasi tempat. Dan beruntung mereka mendapatkan meja, sebab hari ini booking nyaris penuh.
Tiba di restoran tersebut semua tampak normal. Xander dan Nik melangkah masuk dan duduk di meja yang sudah mereka pesan, dengan diantar oleh seorang pelayan.
__ADS_1
"Lo pesan, pesan aja bro. Jangan membatasi diri." Nik mengingatkan Xander.
"Iya, ini gue udah mulai nggak tau diri koq." seloroh pria itu dengan nada sewot.
Nik tertawa, tak lama makanan yang mereka pesan tersebut pun tiba di meja. Mereka makan bersama-sama.
***
"Hai gaes jumpa lagi dengan channel "Setengah Aku Jin Iprit." Karena aku selalu menghabiskan makanan persis kayak orang kerasukan jin."
Seseorang masuk ke dalam restoran tempat dimana Xander dan Nik tengah makan. Orang tersebut menghadap ke kamera yang dipegang seseorang lainnya. Ada beberapa lagi yang membawa peralatan sepeti lighting dan lain-lain.
"Kali ini bersama Setengah Aku Jin Iprit, kita akan mereview tempat makan yang ada di dekat rumah nenek aku. Alamat disini gaes."
Orang itu menunjuk ke area tengah yang tak ada apa-apa. Mungkin dalam video nanti akan ditambahkan alamat.
"Nah nama restonya itu adalah d'Best gaes. Apakah rasanya akan d'Best seperti rasanya?. Ikuti terus."
"Duh, ini nih yang bikin gue males." ucap Xander pada Nik. Ketika si Separuh Aku Jin Iprit beserta krunya mondar-mandir, lalu ada yang duduk di beberapa meja di dekat Xander.
"Iya sabar, abis ini kita pulang." ucap Nik.
"Berisik banget." ujar Xander lagi.
"Hai gaes."
Tiba-tiba muncul lagi YouTuber lain. Disaat masalah YouTuber yang satu ini belum lagi usai.
"Jumpa lagi dengan gue Heri Kuy, Makan kemana pun oke cuy."
YouTuber itu sama seperti yang sbelumnya. Dan tak lama muncul YouTuber satu lagi dan satu lagi.
Xander sudah kehilangan nafsu makan. Pusing di kepalanya kini meningkat. Tiba-tiba ada pengunjung restoran yang joget-joget tiktok, live Instagram, dan lain sebagainya.
"Ini manusia pada kenapa, bangsat?"
Xander benar-benar sudah emosi. Sebab keadaan telah berubah sedemikian crowded. Nik buru-buru membayar dan membawa Xander keluar.
"Gila kali ya, tempat makan udah nggak karuan lagi kayak gitu."
Xander terus menggerutu, bahkan ketika mereka telah masuk ke dalam mobil.
"Orang-orang jaman sekarang emang gitu, bro. Nyari duit mereka emang gitu." Nik mencoba menenangkan Xander.
"Nyari duit nggak bikin orang jadi nggak nyaman juga dong, sama tingkah kita." ujar Xander lagi.
Nik menghidupkan mobil dan mulai menekan pedal gas. Kali ini ia yang mengemudikan mobil.
"Perilaku orang jaman sekarang itu, udah nggak sama dengan orang jaman dulu bro. Teknologi udah merubah semuanya, bahkan rasa saling menghormati dan sopan santun pun hilang karena teknologi. Tapi ya balik lagi, mereka begitu karena sedang bekerja. Mereka nyari duit di jalur itu, nggak bisa nyalahin mereka juga. Tuntutan ekonomi tuh sekarang tinggi banget." ucap Nik.
"Kebutuhan masyarakat akan tontonan, berbanding lurus dengan kebutuhan para konten kreator untuk membuat konten agar mereka bisa dapat uang. Jaman sekarang orang berlomba-lomba mencari uang." lanjutnya lagi.
Xander menghela nafas, dan mereguk air mineral yang masih ada di tangannya.
"Lain kali kita makan order aja, makan dirumah. Gue juga agak nggak nyaman sih tadi."
Untuk kesekian kalinya Nik kembali berujar. Xander hanya mengangguk dan masih tak habis pikir, pada apa yang baru saja dilaluinya.
__ADS_1