
Maya dan Erik Tornado mulai terlihat bersama di suatu tempat. Tentu saja hal ini sudah direncanakan terlebih dahulu oleh mak Dince. Mereka pergi ke sebuah restoran yang cukup jauh dari pusat kota dan diikuti oleh awak media.
"Cekrek."
"Cekrek."
Foto candid mereka pun diambil. Padahal sejatinya Maya dan Erik telah mengetahui, jika mereka sengaja di ikuti oleh admin lambe murah. Karena admin akun tersebut memang telah dibayar untuk itu.
"Duh sesembak dan sebabang lagi jalan bareng. Mesra ya say. Untung mak lambe bawa hengpong jadul, akhirnya bisa meng-capture semua ini."
Admin lambe murah mengunggah foto tersebut, dan dalam sekejap langsung menarik perhatian netizen. Ratusan like dan komentar seketika membanjiri postingan di menit pertama.
"@awlina_moetz Koq gue nggak rela sih si Erik punya cewek."
"@ayupurnama12 Wah beneran nih kayaknya, nggak salah lagi."
"@nuraini_alida Uwu banget sih mereka."
"@kailautami_75 Najis, nggak banget. masa si Erik sama cewek kayak gitu sih.
"@minanoona terus maksudnya si Erik harus sama lo gitu? Hellooo, lau siapa? @kailautami_75."
"@rama_julio kalau ada duit mah, bidadari juga mau sama keset welcome."
"@gustavhdr yang cewek banyak kebakaran jenggot. Ngatain Maysa jelek, padahal yang lebih jelek mah si Erik-nya kalau kata gue. Dia terlalu bagus dapat Maysa."
"@darwin_al Awokwokwok, biasalah bro ciwik-ciwik negri ini. Pada iri kalau ada cewek lebih cantik dari mereka. @gustavhdr"
"@vionaletizia Wah akhirnya mak lambe mendapatkan foto mereka. Akhirnya terbukti kalau mereka diem-diem pacaran."
"@irzana_maulia. semoga hubungan mereka langgeng."
"@pecintaeriktornado Semoga putus cepat."
Maya tanpa sengaja membaca komentar-komentar tersebut. Ada rasa sakit yang ia rasakan ketika membaca komentar yang negatif atau bernada kebencian.
Namun seperti mengutip kata-kata mak Dince. Jika ingin kaya raya, jangan pikirkan ucapan negatif dari netizen yang kuotanya ketengan.
Biarkan orang-orang yang tidak penting tetap berada di jalur mereka yang tidak penting. Sedangkan kita harus memanfaatkan keadaan demi cuan.
"Nih, kamu makan."
Maya menyudahi melihat sosial media dan mencoba menyuapi Erik. Adegan ini memang telah direncanakan sebelumya. Erik menerima suapan tersebut, admin mak lambe mengambil foto dari jauh.
Usai makan, mereka terlihat berjalan-jalan. Erik menggandeng lengan Maya dan membelikan Maya pernak-pernik yang mereka temui di sepanjang area, tempat dimana kini mereka berada. Dengan setia mak lambe yang sudah dibayar pun mengikuti.
"Cekrek."
"Cekrek."
__ADS_1
"Cekrek."
***
"Hallo nek."
Mak Dince menelpon Maya, ketika gadis itu telah berada di rumah dan sudah menyelesaikan jalan-jalan gimmick perdananya dengan Erik Tornado.
"Iya mak, apose?" tanya Maya seraya merebahkan dirinya di atas kasur.
Ia sudah membeli kasur empuk dari online marketplace. Sehingga bisa merasakan bagaimana tidur enak, meski rumah masih mengontrak.
"Tadi sumpah bagus banget aktingnya. Dipertahankan ya nek, buat besok-besok." ujar mak Dince lagi.
"Tenang aja, mak. Selama hayat masih di kandung badan, eke akan berusaha semaksimal mungkin." jawab Maya.
"Si Erik baik kan nek, sama yey?"
Mak Dince melontarkan pertanyaan yang membuat Maya sedikit terdiam.
"Mmm, baik koq mak. Dese baik banget orangnya." dusta Maya.
Padahal tadi ia banyak tersinggung dengan sikap Erik terhadapnya. Terutama masalah kebersihan. Erik bersikap sok STTB alias si tangan tak berkuman.
"Habis ini kita disuruh gandengan sambil jalan. Lo ke toilet dulu terus cuci tangan, abis itu pake hand sanitizer ini." ucap Erik seraya menyodorkan hand sanitizer pada Maya.
"Gue nggak mau ya bersentuhan sama orang yang tangannya kotor, jijik" ujar Erik lagi.
Padahal di beberapa video YouTube-nya, Erik tampak berbagi dengan sesama orang dan bersentuhan bahkan menjabat tangan mereka meski mereka terlihat kotor.
Mendadak Maya pun jadi curiga, apa setelah itu Erik buru-buru mencuci tangan. Dan apakah kebaikan yang ia tampilkan pada beberapa video tersebut, adalah demi kepentingan pencitraan semata. Supaya dibilang baik dan dermawan oleh para subscribernya.
"Ah, sudahlah."
Maya menjalani saja apa yang diperintahkan Erik. Toh tujuannya adalah uang seratus juta. Setelah semua di dapat dan gimmick selesai, ia tak akan bertemu dengan YouTuber sombong itu lagi.
"Say."
Mak Dince memecah lamunan Maya.
"Iya mak."
"Ada yang ngajak lo berdua iklan nih. Online marketplace orange. Buat iklan belanja gratis ongkir." ucap mak Dince.
"Serius mak?" tanya Maya.
"Serius eke, ini barusan masuk tawarannya."
"Koq ke yey, bukan ke eke mak?. Emang dia tau kalau eke kerjasama sama yey?" tanya Maya.
__ADS_1
"Ini orang kenalan eke say. Eke cerita ke dese kalau eke bikin gimmick Erik sama yey. Nah dia ini penyalur talent iklan ke beberapa Production House. Termasuk Production House yang bekerja sama dengan si online marketplace orange ini."
Mak Dince menjelaskan panjang lebar.
"Oh ya udah mak kalau gitu."
"Sikat nih?" tanya mak Dince.
"Kalau eke sih sikat." jawab Maya.
"Tau deh kalau Erik." lanjutnya kemudian.
"Kalau dese mah, apa kata eke nek. Erik tuh nurut aja yang penting engagement dan duta alias cuan, duit."
"Oke-oke mak." ujar Maya sambil tertawa.
"Ya Udin, eke hubungin ini orang dulu ya. Mau nego honor kalian. Eke usahakan gede nih." ujar mak Dince.
"Oke Mak, atur aja. Yang penting kita cuan." ucap Maya.
"Cuan for life ya say." tukas mak Dince lagi.
Dan lagi-lagi keduanya sama-sama tertawa.
"Udin ah, eke tutup ya nek."
"Cus." jawab Maya.
"Bye nek."
"Bye mak."
Telpon tersebut pun disudahi, Maya kini tersenyum di atas tempat tidurnya. Ia senang karena kini mencari uang segampang itu.
Dulu ia bahkan tak pernah bermimpi bisa memegang uang puluhan juta, membayangkan saja pun tidak berani. Tapi kini semua itu ada di depan matanya.
Ia semakin paham, mengapa banyak konten kreator yang melakukan segalanya demi konten. Bahkan kehidupan pribadi hingga aibnya sendiri pun di umbar-umbar di sosial media.
Orang tua yang meninggal bahkan tak luput dari dijadikan konten. Ternyata karena pendapatannya juga gila-gilaan.
Siapa yang tidak tertarik. Siapa yang menolak mendapatkan uang banyak, di jaman yang serba mahal dan serba bayar ini. Meski harus mengesampingkan nilai-nilai moral dan norma-norma yang berlaku.
"Ah."
Maya menarik nafas dalam-dalam, ia lalu memikirkan rencananya ke depan. Akan ia apakan sisa uang pembayaran gimmick yang masih sekitar empat puluh dua jutaan itu. Ia ingin sekali membuat usaha, agar uangnya tak hanya tersimpan saja di rekening.
Ia ingin agar uang tersebut berputar dan menghasilkan lebih banyak uang lagi. Supaya cita-citanya dalam membelikan orang tuanya rumah, bisa segera terwujud.
Maya ingin memanfaatkan situasi, mumpung saat ini sumber keuangan masih gampang ia dapatkan. Sebelum terlambat dan menyesal kelak di kemudian hari.
__ADS_1