Nikah Settingan

Nikah Settingan
Mulai Mau


__ADS_3

"Serius lo mau gimmick?"


Nik bertanya pada Xander, usai ia mendengar pernyataan dari artis asuhannya tersebut. Seperti mendapat durian runtuh rasanya. Sebab sebelum itu Xander anti dan sangat gengsi melakukan hal tersebut.


"Ya, karena gue butuh banget duit sekarang." ucap Xander.


"Sutradara yang mau kerjasama dengan gue, tadi ada nelpon dan bilang kalau kerjasama kami di batalkan." lanjutnya kemudian.


"Di batalkan?. Dibatalkan kenapa?" tanya Nik heran.


Xander menghela nafas lalu menghisap rokok elektrik yang ada di tangannya.


"Produser lebih suka mengunakan artis gimmick ketimbang yang udah punya nama kayak gue. Alasannya karena yang gimmick bisa mengundang penonton lebih banyak. Sebab mereka viral dan mendapat banyak atensi dari publik." jawab Xander.


Kali ini Nik menghela nafas.


"Gue nggak punya pilihan lain kan?" ujar Xander lagi.


Nik sejatinya prihatin dengan kabar mengenai kerjasama yang dibatalkan tersebut. Namun ia pun jadi senang bukan kepalang, sebab Xander mau mengambil jalan pintas. Ini akan jadi awal yang baik dan penuh cuan bagi Xander.


"Oke kalau begitu, gue akan bicarakan ini sama orang yang bisa bikin gimmick lo jadi heboh." ucapnya kemudian.


"Lo atur aja, gue terima beres." tukas Xander.


"Oke."


Nik lalu meraih handphone dan mengetik sesuatu disana. Ia tampaknya menghubungi seseorang melalui WhatsApp.


***


"Dert."


"Dert."


"Dert."


Handphone Maya bergetar, dan ketika dilihat ternyata itu merupakan panggilan dari mak Dince. Maya agak malas menanggapi, sebab sudah pasti mak Dince akan membicarakan masalah dirinya dan juga Erik.


"Dert."


"Dert."


"Dert."


Mak Dince terus menelpon, akhirnya Maya pun mengangkat.


"Halo, Mak." ucap Maya dengan nada malas.


"May, elo koq baru ngangkat sih say?. Kemana aja, ini penting loh." ujar mak Dince dengan nada penuh kecemasan.


"Tadi dari toilet mak." dusta Maya. Padahal sejak tadi ia ada di dekat handphone.


"Kirain gue lo kemana." ujar mak Dince lagi.


"Lo gimana sama Erik?" tanya nya kemudian.

__ADS_1


"Ya nggak gimana-gimana. Gue marah lah di gituin. Lemes banget tuh mulut kayak emak-emak yang tinggal di dala gang." gerutu Maya panjang lebar.


"Harusnya ini nggak menjadi masalah yang besar loh say. Nama kalian tuh lagi naik-naiknya sekarang. Banyak yang mau ngontrak dan ngendorse kalian, karena mengira kalian tuh pacaran. Kalau misalkan kalian renggang dan nggak bersama lagi, sayang cuan-cuan itu dilewatkan." tukas mak Dince.


"Tapi ini masalah harga diri, mak. Dia udah bawa-bawa status sosial gue soalnya. Ngomong-ngomongin tentang gue miskin, apa banget coba?. Sok kaya, anjir." ujar Maya lagi.


"Iya gini deh." Mak Dince agak menggaruk-garuk kepalanya dan berpikir.


"Lo kesampingkan dulu ego lo, May. Bodo amat dia mau gimana. Lo sabet dulu aja kerjasama dan endorse yang lagi mampir ke kalian berdua. Kalau duit lo udah banyak tinggal udahin aja gimmick ini." Mak Dince memberi saran.


Maya benar-benar jengah mengingat wajah dan sikap Erik.


"Ntar deh mak, gue pikirin dulu ya."


"Nggak usah mikir banyak-banyak, beb. Pikirin soal duitnya aja." ujar mak Dince.


"Iya ntar deh mak." jawab Maya.


"Apa bu?" teriaknya kemudian.


Maya berpura-pura dipanggil oleh ibunya, sebab ia sudah sangat ingin menyudahi percakapan ini. Bukan karena benci pada mak Dince, hanya malas membicarakan soal Erik yang baginya sangat menyebalkan itu.


"Dipanggil emak ye ya say?" tanya mak Dince.


"Iya Mak. Ntar lagi aja ya ngobrolnya." tukas Maya.


"Ya udin kalau gitu. Pikirin lagi ya say, ini menyangkut cuan loh." ucap Mak Dince.


"Iya mak." jawab Maya.


"Bye."


Mak Dince menyudahi telpon tersebut. Maya menarik nafas lega dan menengadahkan pandangannya ke langit-langit kamar.


"Elu tadi kenapa May, teriak-teriak manggil ibu?"


Ibu Maya datang dan menghampiri sang anak.


"Kagak kenapa-kenapa, bu." jawab Maya.


"Lah tadi?"


"Lagi bercanda aja sama temen di telpon." dusta Maya.


"Oh, kirain ibu kenapa."


Ibu Maya kembali berlalu, Maya menarik lalu memeluk bantal guling dan mencoba memejamkan mata.


***


"Nggak ah, ngapain gue balik gimmick lagi sama tuh cewek."


Erik berkata dengan nada seolah jijik, saat ia ditemui Mak Dince secara langsung di kediamannya.


"Bukan masalah itu." tukas mak Dince.

__ADS_1


"Ini menyangkut kepercayaan orang-orang yang sudah maupun yang lagi mau mengendorse kalian. Di dunia selebgram itu nggak boleh asal loh. Salah-salah kalian bisa nggak dipakai lagi jasanya, bisa redup karir kalian." lanjutnya lagi.


"Ya udah sih kalau nggak ada yang mau ngendorse, gue punya YouTube ini koq." ujar Erik dengan sombongnya.


"Emang lo pikir, masih banyak yang bakal nonton kalau lo bermasalah?"


Pertanyaan mak Dince tersebut sukses membuat Erik mendadak terdiam.


"Ya abis gimana, tingkahnya bikin gue jijik. Jorok banget jadi cewek."


Erik berkata dengan lebay-nya. Seolah ia adalah orang paling bersih sedunia. Sementara Mak Dince yang biasa heboh, kini sangat-sangat menahan batin. Meski sesungguhnya ia pun ingin melempar sendal ke kepala Erik.


Sebab orang-orang seperti pemuda itu dan para selebgram lainnya, merupakan ladang mata pencarian bagi laki-laki setengah siluman tersebut.


"Pikirin lagi deh baik-baik. Kalau mikir masih pake ego, nggak bakal ketemu titik terang." ujar mak Dince.


Erik diam, tak memberikan jawaban apa-apa. Tampak jelas ia masih angkuh serta sombong. Merasa dirinya tak begitu butuh untuk melanjutkan gimmick ini.


***


"Nggak bisa say, skenario gimmick gue lagi padat banget."


Salah seorang penyedia layanan gimmick artis berbicara pada Nik di telpon. Namun sayang ia menyatakan jika tidak bisa membantu Nik saat ini.


"Emang lo nggak punya stok artis atau selebgram gitu, buat gimmick sama Xander?" Nik masih berusaha.


"Mmm, lagi nggak ada banget deh beb. Nggak bohong gue, beneran. Selebgram-selebgram gue yang lagi naik daun dan viral, lagi pada ada kontrak gimmick semua. Mungkin bisa nanti kalau misalkan gimmick mereka udah berakhir jangka waktunya."


Nik lalu diam sejenak, meresapi ucapan dari lawan bicaranya tersebut.


"Ya udah deh kalau begitu. Tapi ntar kabarin gue ya, kalau misalkan lo ada slot yang kosong." tukas Nik lagi.


"Beres." jawab orang itu.


Nik lalu berpamitan dan menutup telpon. Tak lama ia ingat pada kenalannya yang lain. Kenalannya itu pun biasa mengurus gimmick para artis. Maka Nik akhirnya mulai menghubungi.


"Hallo."


"Hallo, Karina."


Nik berkata di telpon. Karina sendiri adalah makhluk jadi-jadian, tetapi tidak mau mengaku jika ia setengah siluman. Inginnya disebut cewek tulen alias asli.


"Eh, kenapa cong?" tanya Karina yang sejatinya bernama asli Kresno tersebut.


Nik pun lalu menyampaikan maksud dan tujuannya.


"Waduh eke lagi penuh nih." ujar Karina.


"Coba ye hubungin mak Dince." tukasnya lagi.


"Mak Dince?" tanya Nik heran.


"Iya, inget kan?. Yang waktu dulu itu kita sempat ketemu, bareng dia." ujar Karina.


Nik berpikir, namun kemudian ia mengingat sesuatu.

__ADS_1


"Iya, ingat." jawabnya.


__ADS_2