Nikah Settingan

Nikah Settingan
Tumbuh


__ADS_3

Maya langsung saja pulang, ketika proses syuting telah selesai. Namun ketika ia sudah berada cukup jauh di perjalanan, tiba-tiba mak Dince menelpon.


"Hallo, May." ujar mak Dince.


"Iya mak." jawab Maya.


"Elu udah jauh ya?" tanya makhluk jadi-jadian tersebut.


"Iya, bentar lagi sampe stasiun deket rumah." jawab Maya Lagi.


"Yah, baru inget lagi gue." ujar mak Dince seperti menyesalkan sesuatu.


"Inget soal apa?" tanya Maya heran.


"Tadi pihak makanan instan yang mie geprek itu, minta kalian live Instagram sambil makan itu mie berdua. Sambil menyapa penggemar, sambil ngiklan." ujar mak Dince.


Maya sedikit terdiam. Dalam hati ia mengumpat, kenapa masih harus ada lagi kebersamaan dengan Erik. Bukan ia marah kepada mak Dince, melainkan hatinya nenang sulit untuk memaafkan perilaku dari pemuda tersebut.


"Yah, gimana dong mak?" Maya balik bertanya.


"Orang udah jauh ini." lanjutnya lagi.


"Ya udah deh, ntar reschedule aja. Soalnya ini produk juga udah bayar mahal ke kalian." ujar mak Dince.


"Oke deh mak, atur aja." tukas Maya.


"Ya udah deh, gue hubungin orangnya dulu. Mudah-mudahan tidak begit syulit." ujar mak Dince.


"Begitu syulit lupakan Reyhan ya mak." jawab Maya sambil tertawa.


"Hmm, bukan lagi." jawab mak Dince.


"Apalagi Reyhan baik ya kan." lanjutnya kemudian.


Maya makin tertawa-tawa.


"Ya udah nek, eke mau hubungi orang itu dulu."


"Oke mak."


"Bye." ujar Mak Dince.


"Bye, mak."


Mak Dince menutup telpon tersebut. Sementara Maya kini menarik nafas dengan gusar.


"Kenapa sih di dunia ini harus ada banget makhluk yang modelnya kayak si Erik." gerutunya kemudian.

__ADS_1


"Nyusahin orang aja, anjay." lanjutnya lagi.


Tak lama kereta yang membawanya tiba di stasiun. Maya lalu turun ketika angkutan dengan gerbong panjang tersebut benar-benar telah berhenti dan pintunya terbuka. Maya melangkah ke arah dalam, lalu menuju pintu exit.


Tiba-tiba matanya seperti menangkap seseorang di muka stasiun. Ya, siapa lagi kalau buka Martin. Kekasihnya itu tampak tengah konvoi motor dengan teman-teman satu gengnya. Padahal katanya remaja itu tengah sakit pasca kecelakaan yang menimpanya.


Maya lalu berjalan bahkan berlarian ke depan, untuk memastikan. Namun keburu rombongan itu menghilang di ujung jalan. Tepatnya pada sebuah tikungan. Maya menarik nafas panjang dan coba mengirim pesan singkat pada Jeje.


"Je, Martin dimana?" tanya nya kemudian.


"Ini May."


Jeje mengirim foto Martin tengah tertidur di kamar. Maka Maya pun lega melihat hal tersebut. Ternyata yang tadi ia lihat bukanlah Martin.


Sementara ia tak mengetahui jika jauh sebelum itu, Martin memang menyuruh Jeje mengambil foto dirinya di kamar rumah Heri Bopeng. Tempat dimana mereka tadi berkumpul.


"Ntar kalau si Maya nanyain gue ke elo, lo jawab aja pake foto ini Je." ujar Martin saat itu.


"Bangsat juga lo jadi cowok." tukas Jeje seraya tertawa.


"Hidup itu kalau ngga bangsat, nggak bakal kaya." seloroh Martin kemudian berlalu keluar.


Karena ia dan Heri bopeng serta beberapa orang lainnya, hendak mengadakan konvoi di jalanan. Sekedar seru-seruan agar di kira memiliki geng motor besar.


***


Gosip tentang Xander dan juga Dina Yellow semakin tumbuh. Makin banyak lagi akun lambe-lambean yang merepost postingan gimmick atau settingan tentang mereka. Dan makin banyak juga netizen yang tersedot perhatiannya ke arah sana.


Apalagi Xander merupakan aktor besar yang sudah lama vakum. Tentu kehadirannya kembali membuat heboh para fans setianya.


"Gimana soal gimmick itu?"


Xander bertanya pada Nik ketika Nik tengah berkunjung ke kantor start up Xander, di jam makan siang. Kantor tersebut terletak pada sebuah lantai, di sebuah gedung yang tempatnya tak begitu luas. Sebab Xander tak punya uang lebih untuk menyewa tempat yang besar.


"Lo tenang aja. Sejauh pantauan gue, lo bakalan naik lagi dalam waktu dekat ini." jawab Nik.


"Progres dan respon netizen lumayan antusias." lanjutnya lagi.


"Good." jawab Xander.


"Nanti kalau udah rame banget, lo harus bikin konten jalan sama si Dina. Kemana kek, makan kek atau nonton. Nanti pura-puranya gue ini netizen yang ngambil foto kalian secara candid. Terus bakal gue jual ke admin akun lambe-lambean. Biar dapat duit dan heboh juga." ujar Nik.


"Pokoknya lo atur aja. Gue percaya sama lo." ucap Xander kemudian.


"Oke, serahkan sama gue." jawab Nik.


Mereka pun melanjutkan makan, dan membicarakan hal lain.

__ADS_1


***


"Gimana May, bisa hari ini"


Mak Dince kembali bertanya pada Maya, meski hari telah berlalu sejak syuting dengan online market place berakhir.


"Soal apa mak?"


Maya pura-pura tidak tau. Padahal sudah bisa di pastikan ini perihal barang endorse yang harus ia iklankan bersama Erik.


"Ya soal iklan mie geprek itu say." jawab mak Dince.


"Bikin live bareng aja mak, gue disini dan dia dirumahnya. Bisa kan?" Maya memberi saran.


"Bisa aja sih, tapi kan nggak mesra. Ntar publik nggak baper sama kalian. Kurang maksimal iklannya nanti." tukas mak Dince.


"Bisa aja koq mak. Pake omongan mesra aja." Maya kembali memberi saran.


"Pokoknya ntar gue akting deh gimana caranya biar bikin baper orang-orang. Dan Lo juga kasih tau Erik untuk melakukan hal yang sama." lanjutnya lagi.


"Yey emang masih marah banget ya sama si Erik?"


Mak Dince curiga ke arah sana.


"Nggak koq mak. Gue cuma lagi banyak endorse lain, yang personal bukan couple." jawab Maya.


Dan memang benar begitulah adanya. Maya saat ini tengah memegang banyak endorsan dari pihak lain dan mesti diiklankan juga. Ia tak bisa untuk menunda-nunda karena telah dibayar oleh pengendorse.


Tetapi soal ia masih marah dan benci pada Erik juga tak dapat dipungkiri. Ia memang masih muak dan jijik pada pemuda sok kaya tersebut. Namun ia juga tak ingin membebani pikiran Mak Dince. Sebab mak Dince sejak awal telah memutar otak untuk mencarikan dirinya dan Erik endorsan maupun iklan.


Maya hanya tak mau seperti tidak tau balas Budi, kepada orang yang telah berusaha menaikkan dan membesarkan namanya. Baik di dunia Selebgram, tiktok, dan juga entertaint.


"Ya udah deh, gue hubungi pihak yang punya produk dulu ya. Kira-kira mau apa nggak dia, kalau kalian live-nya bareng tapi di dua tempat yang berbeda." tukas mak Dince.


"Oke mak, nanti kabarin gue ya." ujar Maya.


"Tapi kalau mereka nggak mau, gimana May?" tanya mak Dince.


"Ya udah, ntar gue ketemu sama Erik deh untuk live bareng."


Maya mengungkapkan sebuah pengecualian. Ia mau live langsung bersama Erik, jika memang situasi mengharuskan. Karena sekali lagi ia tak ingin memberatkan pikiran mak Dince.


"Oke deh, thank you ya May." ucap mak Dince.


"Iya mak." jawab Maya.


Maka mak Dince pun akhirnya berpamitan pada Maya dan melanjutkan pekerjaannya yang lain. Sementara Maya mulai mengambil lighting, tripod, dan membawa semua itu ke rumah mpok Munah.

__ADS_1


Di tempat tersebut ia dibantu oleh Salim, dalam menggarap iklan produk yang telah di endorse kan padanya.


__ADS_2