
Maya mulai dipertemukan dengan YouTuber Erik Tornado, dari keluarga Tornado yang kesemua anaknya di suruh menjadi YouTuber demi cuan.
Ketika bertemu, orangnya biasa saja. Dengan wajah dan proporsi tubuh sangat biasa, tetapi dengan penampilan yang luar biasa alias banyak gaya.
Ia berjalan dengan cukup angkuh. Turun dari sebuah mobil mewah dengan mengenakan sepatu sneaker seharga puluhan juta. Meski tak pernah memilikinya, tapi Maya cukup update dengan barang-barang mahal melalui sosial media.
"Hallo sayangku."
"Hai mak Dince."
Erik dan mak Dince tampak cipika-cipiki. Sementara Maya hanya diam, karena tak tau harus bersikap seperti apa dan bagaimana. Ia juga agak minder dengan harga outfitnya yang sangat murah.
"Oh ya nek, kenalin ini Maya. Tiktokers yang lagi viral itu." ucap mak Dince pada Erik.
"Maya, ini Erik Tornado. Tau kan kalau keluarganya terkenal banget. Terutama kakaknya yang selalu ngomong ah sigap itu."
Maya mencoba tersenyum tipis, sebab Erik terlihat agak sombong menurutnya.
"Hai, gue Erik."
Erik mengulurkan tangan pada Maya dan Maya pun membalasnya.
"Jangan tegang dong, yang rileks." ucap mak Dince pada Maya.
"Bentar lagi kan mau jadi pasangan, walaupun pura-pura. Harus luwes dan totalitas ya say." lanjutnya lagi.
Maya hanya kembali tersenyum.
"Eh ya udah, pada duduk dan pesan minum dulu gih." ujar mak Dince kemudian.
"Disini tempatnya private, mau ngomongin apa juga enak." tukasnya lagi.
Erik memesan minuman, begitupula dengan Maya. Sedang Dince kini menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya.
"Jadi gini ya say, udah paham kan konsepnya?"
Mak Dince berujar pada Maya dan juga Erik.
"Paham koq." jawab Erik.
Sebab yang mak Dince maksud adalah berpura-pura pacaran di depan kamera.
__ADS_1
"Pokoknya anggap aja kalian lagi berakting untuk adegan sebuah film romantis. Jadi bersikaplah demikian di depan kamera." lagi dan lagi mak Dince berujar.
"Lemesin aja, jangan tegang. Pokoknya yakinkan pada publik bahwa kalian itu memang memiliki hubungan." cerocosnya lagi.
"Beres." ucap Erik.
"Gue mah jago soal itu, mak. Lo tenang aja." lanjut pemuda itu.
"Maya ingat ya, yang luwes." Mak Dince kembali mengingatkan.
"Iya mak." jawab Maya.
"Pokoknya mulai sekarang, lo berdua adalah pasangan." ujar mak Dince.
"Akun lambe-nya udah lo bayar, mak?" tanya Erik.
"Udinda, sayang. Pokoknya besok, setelah Maya tayang di TV. Eh bener nggak sih nek, acara yang yey syuting kemaren bakalan tayang besok?" Mak Dince memastikan.
"Iya, besok mak." jawab Maya.
"Nah besok, pas selesai acara itu tayang. Gosip mengenai hubungan yey berdua akan segera mengudara di jagat sosial media. Eke udah bayar beberapa akun lambe buat meng-up itu ke permukaan." ujar mak Dince.
"Pokonya lo atur aja mak, yang penting kita dapat engagement dan endorse serta cuan yang banyak." tukas Erik.
Maka mereka pun lanjut berbincang perihal skenario. Apa-apa yang harus Maya dan Erik katakan jika nanti netizen mempertanyakan soal hubungan mereka.
Mak Dince mengajari mereka kata-kata yang paling membuat penasaran, serta memancing keinginan publik untuk kepo lebih banyak. Sebab kepo dan rese-nya netizen, adalah keuntungan bagi mereka semua.
Akan ada banyak yang mencari tau, sehingga mungkin memfollow akun Maya dan juga Erik. Hal tersebut akan membuat mereka menjadi bahan rebutan media berita online, dan tentu saja para pemilik jualan akan tertarik untuk mengendorse mereka.
Sebab dimana mata publik sedang tertuju, disitulah saatnya mempromosikan produk dan berjualan.
Netizen tak pernah tau jika keingintahuan mereka terhadap seorang artis atau selebgram, adalah cuan bagi si artis ataupun selebgram tersebut.
Meski kadang ada kasus dimana seorang selebgram atau artis yang mencari sensasi dengan membuat kontroversi. Kemudian netizen meluangkan waktu untuk memfollow dan menghujat. Tetap saja mereka akan panen untung dari hujatan tersebut.
Sebab mereka biasanya akan diundang ke sana-sini untuk klarifikasi. Dan di setiap undangan, pasti ada uang yang di dapat.
Maka dari itu biasanya seorang netijen cerdas berkelas dan berpendidikan, akan cenderung skeptis serta tidak mau terpengaruh dengan berita online apapun.
Biasanya mereka sangat jarang membuka sosial media, dan sekalinya membuka, mereka tak akan berkomentar apa-apa di berita-berita sensasi.
__ADS_1
Berbeda dengan netijen kelas menengah ke bawah, yang selalu menghabiskan waktunya untuk mengurusi kehidupan artis serta selebgram. Mereka justru menjadi sasaran empuk dari para pembuat gimmick dan gosip murahan.
Sebab biasanya mereka akan langsung terpancing dan heboh di jagat maya. Memberi komentar yang beragam, padahal kuota saja kadang ketengan.
Jadilah mak Dince akan memanfaatkan itu semua guna memperkaya Maya dan juga Erik. Sebab sebagai penyusun strategi gimmick, ia juga akan dapat cuan dari sponsor maupun dari Maya dan Erik-nya sendiri. Mak Dince selalu memasang tarif dan dibayar ketika gimmick telah naik ke atas dan menghasilkan.
***
"May, buruan. Lu tayang ini."
Maya berlarian ke arah sang ibu yang berteriak dari depan televisi. Saat itu posisi dirinya sedang membuat teh manis hangat, sebab itu masih pagi.
"Sini buruan!" ujar ibunya lagi.
Maya buru-buru duduk, disana sudah ada Indra dan sang ayah tiri. Sementara di rumah tetangga mereka pun turut heboh dan menonton.
Seisi rumah bahkan rumah para tetangga kini senyum-senyum sendiri menyaksikan Maya di televisi. Mereka bangga ada anak kampung mereka yang akhirnya terkenal.
"Lu kagak kenapa-kenapa, May. Ada bohong gitu?"
Sang ayah tiri mempertanyakan perihal Maya yang berbohong di televisi, mengenai dirinya yang seorang anak indigo.
"Kagak kenapa-kenapa, pak. Semua yang ada di TV dan sosial media itu hampir 95% fake alias bohong. Banyak yang cuma sekedar pencitraan doang." jawab Maya.
"Oh gitu ya?. Berarti kita nggak harus terpengaruh harusnya ya, kalau ada berita artis ini itu." ucap sang ayah lagi.
"Makanya, ibu nih yang masih suka terpengaruh." ucap Maya.
Maka ibunya pun nyengir.
"Ya mau gimana, May. Kadang beritanya mancing-mancing kemarahan." ucap sang ibu membela diri.
Mereka pun lanjut nonton hingga habis. Setelah tayangan usai, tetangga sekitar berbondong-bondong keluar rumah dan menyapa Maya yang kebetulan hendak menjemur pakaian.
"Lu diundang kemana lagi, May?" tanya salah seorang dari mereka.
"Ada mpok, di TV sebelah. Tayang ntar Jum'at." jawab Maya.
"Oh, di acara apa May?" celetuk yang lainnya lagi.
Maka Maya pun memberitahu dan mereka kembali antusias. Beruntung tak ada seorang pun yang membahas perihal gimmick Maya yang mengaku sebagai indigo.
__ADS_1
Para tetangga malah semangat menanyakan bagaimana sesungguhnya proses syuting itu berlangsung. Dan Maya pun dengan senang hati menjelaskan.