Nikah Settingan

Nikah Settingan
Gimmick Yacht


__ADS_3

Sesuai kesepakatan, Maya dan Erik berangkat ke lokasi Utara kota. Tepatnya di sekitar area pantai yang dihuni oleh banyak orkay alias orang kaya tajir melintir.


Mereka dipertemukan dulu dengan pengusaha Ardi Prasadi Sanjaya, si pemilik Yacht. Beserta Puteri cantiknya, Adinda Pricilla Sanjaya yang sangat ramah.


Maya sedikit kaget, ia baru tau ternyata jika anak orang kaya sejati itu tidaklah sombong. Justru yang kekayaannya masih seuprit seperti musuhnya di sekolah, yang kebanyakan gaya.


Adinda sendiri tak segan mengajak Maya bicara dan mengajaknya berkeliling yacht. Padahal Maya agak minder dan malu. Sebab ia tau pastilah pakaian yang dikenakan Adinda sangat mahal, meski terlihat sederhana.


Namun Adinda benar-benar seperti Putri yang baik hati. Mereka bahkan ada foto dan membuat insta story' melalui handphone milik anak orang kaya tersebut.


Maya dan Erik kemudian menjalankan sesi gimmick periklanan berupa insta story, foto dan juga video menggunakan drone. Semua sudah di setting hingga memperlihatkan brand atau nama dari yacht tersebut.


Ada beberapa scene yang sedikit failed. Namun ketika di ulang, semuanya jadi lebih baik bahkan hasilnya bagus.


Usai mengambil gambar iklan gimmick tersebut, baik Maya maupun Erik sama-sama memposting di sosial media masing-masing.


Dan dalam sekejap postingan tersebut langsung heboh. Sebab mendapat perhatian yang tinggi oleh para netijen. Terutama bocil piyik pemuja Erik.


"Gaes makan dulu!"


Mak dince yang kebetulan mampir, kini menghampiri kedua influencer tersebut. Sementara si pemilik Yacht beserta putrinya telah pamit sejak tadi.


"Ya udah makan dulu yuk."


Maya menghentikan aktivitasnya dalam bermain handphone dan mengecek notifikasi. Tak lama Erik pun menyusul.


Mereka kemudian duduk di ujung yacht yang memang terdapat sofa dan juga beberapa kursi. Dari atas sana bisa menyaksikan air laut dan juga kapal-kapal lain.


Menilik ke arah pantai mata kita akan disuguhi pemandangan pulau reklamasi, yang diatasnya terdapat kompleks perumahan dan juga gedung apartemen.


Sungguh menyenangkan menjadi orang kaya, pikir Maya. Hidup akan selalu memiliki warna dan bisa melakukan apa saja. Kesenangan seolah tak pernah beranjak dan selalu ada di depan mata.


***


Di sebuah kantor, Xander tengah benar-benar down. Sebab start up yang saat ini ia rintis mengalami sebuah masalah yang cukup besar.


Sub produk mereka menimbulkan gangguan kesehatan beberapa konsumen. Hingga akhirnya mereka melapor dan menuntut ganti rugi. Tentu saja pihak Xander dipaksa harus menarik produknya dari pasaran dan itu tentu saja menyebabkan kerugian besar.


Xander benar-benar hampir gila di buatnya. Ternyata membangun perusahaan tak segampang melanjutkan apa yang sudah ada. Bila dulu ia sukses membawa perusahaan ayahnya makin berjaya. Kini ia sulit untuk membangun dari awal.


"Pak."


Salah seorang karyawannya masuk ke ruangan. Xander bertanya ada apakah gerangan. Dan ternyata masalah baru kini datang. Masalah yang berhubungan dengan keuangan.

__ADS_1


Para karyawan menolak gaji mereka ditunda lantaran masalah ini. Sehingga Xander pun dituntut supaya berpikir dengan cepat.


***


Maya makan sambil melihat ke sekitar. Karena agak meleng, tanpa sengaja ia hampir menyendok di piring Erik yang duduk dihadapannya. Sendok bekas mulut Maya tersebut menempel di bibir piring Erik.


"Hueeek."


Erik seperti ingin muntah dan Maya kaget. Mak dince dan beberapa kru yang ada disitu pun menoleh.


"Lo jorok banget sih jadi orang, jijik tau nggak."


Erik membentak Maya sehingga Maya dan yang lainnya pun kaget.


"Gue nggak sengaja, Rik." ucap Maya dengan rasa bersalah.


"Makanya makan itu fokus. Udahlah gue jijik liat cara lo makan yang nggak bersih. Masih suka pake tangan. Kalau bukan karena gimmick ini aja gue males dekat sama cewek kayak lo. Susah sih kalau miskin."


"Braaak."


Maya menggebrak meja. Mak Dince dan yang lainnya menghentikan makan lalu mendekat.


"Walau gue miskin, lo masih butuh gue kan?" Maya menatap dan berbicara pada Erik dengan lantang.


"Lo dan keluarga lo yang kontennya nggak jelas gitu, masih butuh orang-orang kayak gue." ucap Maya lagi.


"Sebelum gimmick sama lo, gue udah terkenal." tukas Erik.


"Karena bantuan gimmick dari orang lain juga, bukan karena prestasi atau karena memang konten lo berkualitas. Nge-vlog nggak ada guna, lo sama keluarga lo itu. Menang viral karena emak lo beranak banyak aja." ujar Maya.


Erik kemudian mengambil gelas dan menyiram wajah Maya. Maya melempar piring berisi makanan ke arah pemuda itu. Keributan pun tak dapat dihindari.


"Udah dong!"


Mak Dince dan yang lain berusaha memisahkan. Pekerja di yacht membersihkan apa yang kini terlihat berantakan.


"Udahan nggak?" Mak Dince membentak keduanya.


Erik berlalu, begitupula dengan Maya. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Acara gimmick hari itu selesai, sementara yang beredar di sosmed adalah kemesraan yang mereka tampilkan.


Netizen heboh, tanpa tau cerita yang ada dibalik semua itu. Yang mereka simpulkan hanyalah Maya dan Erik terlibat sebuah hubungan yang begitu mesra.


***

__ADS_1


"Sorry, bro. Produser maunya begitu."


Sutradara yang mengajak Xander berkerjasama, kini menyampaikan permintaan maaf melalui telpon.


Pasalnya produser tidak lagi menginginkan proyek tersebut dan malah berubah rencana untuk membuat film remaja. Film remaja itu rencananya akan dibintangi oleh anak-anak muda yang saat ini tengah viral di sosial media.


Produser mempertimbangkan keuntungan. Apalagi generasi Z sangat menyukai apa-apa yang tengah digandrungi. Mereka bisa menekan modal produksi menjadi seminim mungkin, tetapi mendapat profit yang setinggi-tingginya.


"Ya udah kalau gitu."


Xander menjawab dengan nada lemah. Padahal project itu adalah satu-satunya harapan yang tersisa saat ini.


Setidaknya jika filmnya nanti booming di pasaran, ia bisa mendulang cuan yang banyak. Dan hal tersebut bisa ia gunakan untuk perusahaan. Tapi ternyata alam berkehendak lain.


Xander kini harus memutar otaknya dan mencari cara bagaimana ia bisa mengumpulkan uang yang lebih banyak lagi, guna menutupi kerugian.


***


"Sebel banget gue, anjir. Sok kegantengan, sok kebersihan. Kalau kata temen gue yang orang Padang itu, mati karancak-an."


Maya menggerutu di hadapan Salim, saat ini ia telah pulang dan nongkrong di warung mpok Munah untuk curhat.


"Tapi sendok lo nggak kena makanan dia kan?" tanya Salim.


"Nggak." jawab Maya.


"Dan kalaupun dia penjijik, terus mau marah sama gue ya silahkan. Tapi nggak usah bawa-bawa status sosial gitu loh. Pake acara ngomongin kemiskinan gue segala lagi." lanjutnya kemudian.


Salim terlihat menghela nafas, sementara Mpok Munah menengahkan pisang goreng yang baru matang.


"Yaelah sekaya apa sih dia?" ucap Salim.


"Kalau ngeliat dari bentukannya, kayaknya dia dulu juga miskin." Pemuda itu lanjut berspekulasi.


"Makanya, soalnya dia OKB banget." ucap Maya.


"Tapi elu di sosmed mesra May. Sampe komennya pada percaya kalau lu emang pacaran sama si Erik." Mpok Munah menimpali.


"Yah gitu deh bu, namanya juga gimmick." Lagi-lagi Salim berujar.


"Iya sih. Terus lo mau gimana May, sekarang?". tanya Mpok Munah.


"Belum tau Mpok, liat aja nanti." jawab Maya.

__ADS_1


Mereka bertiga pun sama-sama diam, lalu Maya menyeruput es teh manis yang tadi ia pesan.


__ADS_2