Nikah Settingan

Nikah Settingan
Gembira


__ADS_3

Maya tiba kembali di rumah. Tanpa ia ketahui jika sebelumnya di dekat ruko tersebut, ada Indra dan teman-temannya yang juga tengah nongkrong.


"Mpok lu ngasih apaan tuh ke temennya si Martin?"


Salah satu teman Indra bertanya saat itu. Memang sosok Martin sendiri cukup familiar dikalangan anak muda di sekitaran kampung tempat mereka tinggal. Dan semua orang juga rata-rata tau jika Martin adalah kekasih dari kakaknya Indra, yakni Maya.


"Nggak tau gue." jawab Indra singkat, namun terus memperhatikan Maya.


"Si Martin minta duit kali ke mpok lu, In. Tapi nyuruh si Jeje yang ngambil." celetuk teman Indra yang lainnya lagi.


Indra hanya diam dan masih memperhatikan.


"Omongin ege, mpok lu. Jangan mau dimanfaatin sama si Martin. Dia mah emang dari dulu begitu, suka manfaatin cewek." ujar teman Indra lagi.


"Gue tuh nggak enak mau ikut campur terlalu banyak." jawab Indra.


"Apalagi sampe ngatur-ngatur duit dia, nggak bisa gue." tukasnya kemudian.


"Mulai sekarang lebih baik lagi lo atur, bro. Daripada habis sama si Martin dan teman-temannya." Lagi-lagi teman Indra berujar.


"Bener, mpok lu susah kan cari duit?"


"Iya sih." jawab Indra.


Tak lama Maya pun terlihat berlalu dan kini ia sudah tiba di rumah.


"Dari mana lu, May?" tanya sang ibu padanya.


"Dari depan bu, ketemu temen." jawab Maya.


"Ke Salim?"


"Bukan, ada temen Maya. Ada perlu dikit." jawab Maya lagi.


"Oh gitu. Lu jadi mau pergi syuting?"


"Jadi, ini Maya mau siap-siap."


"Ya udeh, lu makan dulu gih!"


"Iya bu, mau mandi dulu." jawab Maya.


"Lu belum mandi dari pagi?"


"Belum." Maya nyengir.


"Astaga, anak perawan. Baek-baek ntar jodoh lu om-om, May." ujar sang ibu.


Maya tertawa, sambil berjalan ke dalam.


"Biarin aja, bu. Kalau om-omnya kayak Nicholas Saputra atau ahjussi Korea mah, aye mau."


"Lagu lu Nicholas Saputra, selera lu aje si Martin noh. Nyang mukanye mirip keset welcome."


Maya makin terbahak, lalu ia mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


***


"Mana, Je?"

__ADS_1


Martin dan teman-temannya yang lain langsung menghampiri Jeje, yang baru saja tiba dari mengambil uang pada Maya.


"Sabar dulu!"


Jeje memarkir motor lalu mengeluarkan amplop berisi uang pemberian Maya, yang telah ia potong sebesar dua ratus lima puluh ribu.


"Nih, dia ngasih lo sejuta." ujar Jeje.


"Hah?. Sejuta?"


Martin dan teman-temannya kaget, namun detik berikutnya mereka sama-sama bersorak-sorai kegirangan.


"Anjay bohong gini doang saat sejuta lu, bro. Gimana bohong yang lain."


Salah satu teman Martin yang laki-laki menyatakan salutnya.


"Iya, bener. Kayaknya cewek lo gampang banget di tipu kayak gini." celetuk yang lainnya lagi.


Martin lalu tersenyum dan di dalam hatinya seperti muncul belatung yang tengah menari-nari.


"Ya udah nih, kita ngamer sama pesan makanan." ujar Martin.


"Yeay."


Mereka semua kembali bersorak Sorai kegirangan. Sementara Martin tak tau jika uangnya sudah di ambil beberapa oleh Jeje.


Mereka membeli minuman dan makanan, juga berbungkus-bungkus rokok. Intinya merek berpesta hari itu dengan menggunakan uang hasil kerja keras Maya.


Martin sendiri tak peduli bagaimana susahnya Maya dalam berjuang mengumpulkan pundi-pundi, demi orang-orang yang ia cintai dan pedulikan. Termasuk Martin sendiri yang sejatinya tak tau diri.


***


"Bu, Maya berangkat ya."


"Bareng babe lu noh, babe lu juga mau ngojek." ujar sang ibu.


"Iya, bu."


Maya beranjak lalu mengambil tas dan handphone yang semula sudah di charge olehnya. Sang ayah pun keluar dari kamar dan berpamitan pada sang ibu.


"Mau berangkat mbak Maya?"


Indra yang baru tiba dirumah bertanya pada Maya. Untuk ayahnya sendiri tak perlu ditanyakan lagi. Sebab bilamana sudah memakai jaket ojol, itu artinya sang ayah hendak berangkat mencari nafkah.


"Iya, doain lancar ya."


"Iya mbak, syuting di tipi mana lagi sih lo?" tanya Indra kemudian.


"Bukan di tipi, tapi di platform online market place." jawab Maya.


"Yang mane?" tanya Indra lagi.


"Yang orange." jawab Maya.


Sang ayah mulai menghidupkan mesin motor.


"Ntar mpok lu joget-joget sambil nyanyi, sopi COD, sopi COD gitu In." seloroh sang ibu sok tau.


Maya, Indra, dan sang ayah lalu tertawa.

__ADS_1


"Kayaknya bukan COD deh bu, tapi gratis ongkir." jawab Maya.


"Oh gitu ye?. Kagak ape-ape, yang penting muke lu nongol kalau ibu lagi scroll itu olshop."


"Iye, bu."


Maya mendekat lalu mencium tangan sang ibu. Ia naik ke atas motor setelah sang ayah terlebih dahulu.


"Bu, In. Bapak berangkat ya."


"Iya pa, hati-hati di jalan." ujar sang ibu.


"Dah ibu, Indra."


"Sukses ya mbak Maya."


"Aamiin."


"Kalau di kasih makan, makan yang banyak ye May."


"Iya bu."


Kemudian motor pun perlahan menjauh.


***


Gosip tentang Xander dan Dina Yellow kian meluas di berbagai platform. Meski netizen yang tersedot ke arah mereka masih sangat sedikit.


Hal itu di sebabkan lantaran Xander vakum terlalu lama dari dunia entertaint, dan Dina Yellow yang meredup namanya sebelum netizen banyak memadati platform Instagram seperti saat ini.


"Mereka berdua siapa sih?. Nggak tau anjay." ujar salah seorang netizen.


Kemudian ada akun lainnya yang membalas komentar tersebut.


"Pasti lu bocil, masa nggak tau siapa Xander Miller. Googling tuh, sekali klik doang."


Dan muncul lagi balasan yang lainnya.


"Alexander Miller itu terkenal banget kali di masanya. Walau udah vakum, kayaknya baru beberapa tahun ini deh. Filmnya aja masih banyak, anjir. Lo aja yang kebanyakan nonton drakor, jadi nggak tau."


Lalu muncul komentar-komentar yang lainnya juga. Mak Nay selaku pembuat skenario gimmick mengatakan pada Nik, bahwa sepertinya rencana mereka akan berhasil walau agak lambat.


Nik sendiri menyerahkan itu semua kepada mak Nay sepenuhnya. Ia percaya dan optimis semua akan berjalan sesuai dengan apa yang dia harapkan.


***


Maya turun dari motor sang ayah tiri, kemudian pamit dan masuk ke pintu sebuah stasiun kereta. Syuting kali ini di adakan di tempat yang agak jauh. Karena konsep yang harus menggunakan setting outdoor. Maya memilih naik kereta, karena itulah akses tercepat untuk menuju ke tempat itu.


"Je, lo udah ajak si Martin berobat?" tanya Maya pada Jeje di WhatsApp.


"Eh, eh, si Maya Nih."


Jeje berujar pada Martin disaat mereka tengah pesta rokok dan minum-minuman haram.


"Bilang apa dia?" tanya Martin.


"Nanyain lo udah gue bawa berobat belum." jawab Jeje.


"Bilang aja lagi otw." ujar Martin.

__ADS_1


"Oh oke deh."


Jeje kemudian menjawab sesuai instruksi dari Martin.


__ADS_2