
"Gimana, lo tertarik dengan peran ini?"
Sutradara berkata pada Xander ketika mereka mengadakan pertemuan untuk yang kedua kalinya.
Xander disuguhi sebuah peran yang sesuai dengan karakter yang sering ia mainkan dulu. Yakni menjadi main character dalam sebuah film action.
Tentu saja Xander langsung menyetujui. Apalagi sutradara dari project ini bukan sutradara abal-abal. Dulu mereka sering bekerja sama, dan setiap project mereka selalu sukses di pasaran.
"Oke." jawab Xander pada sutradara itu.
"Deal."
Sang sutradara mengulurkan tangannya.
"Deal."
Xander membalas uluran tangan tersebut. Kemudian mereka membicarakan rencana yang menyertai selanjutnya.
***
Di lain pihak Maya akhirnya bisa pergi ke toko kosmetik dan skincare yang sudah ia idamkan sejak dulu. Sebuah toko yang menjual berbagai jenis merk dan produk dari brand ternama dunia dan memiliki range harga yang cukup tinggi.
Dulu saat masih sekolah, Maya dan teman sebangkunya Chita pernah jalan ke sebuah mall. Bukan karena mereka memiliki uang untuk membeli ini dan itu. Tapi karena supaya bisa sama dengan pelajar lainnya yang nongkrong di mall.
Bahkan acap kali mereka masuk ke bioskop XXI hanya untuk sekedar duduk, berfoto, lalu pulang. Semata agar disekolah mereka terlihat cukup gaul, terlihat nonton film, sama seperti siswa-siswi lainnya.
Maya dan Chita kerap lewat di depan toko kosmetik dan skincare yang kini mereka datangi. Karena mereka sama-sama perempuan, tentu saja mereka punya ketertarikan yang tinggi untuk mampir.
Maka melipirlah keduanya ke toko tersebut disaat itu. Namun ternyata ketika didalam, mereka cukup syok dengan harga foundation enam ratus ribu. Lipmatte paling murah seratus ribu, bahkan ada yang harganya sampai lima ratus ribu.
Ada pula cream dan essence wajah seharga satu juta ke atas. Maya dan Chita panas dingin saat itu dibuatnya.
"Pantas banyak ABG yang mau jadi simpanan om-om berduit." ujar Chita kala itu.
"Segini mahalnya harga makeup sama skincare. Cowok kere mah mana mampu beliin semua ini." lanjutnya lagi.
Saat itu Maya hanya tertawa. Lalu mbak-mbak yang bekerja di toko itu mengikuti mereka, kemanapun mereka melangkah. Seolah Maya dan Chita di curigai sebagai pencuri.
"Hhhh, akhirnya." Maya berujar.
Kini ia bisa mengangkat kepala pada mbak-mbak yang bekerja di toko tersebut. Sebab mbak-mbak itu masih mengikutinya dengan muka yang judes.
"Mbak saya mau yang ini ya."
Maya menunjuk foundation keluaran brand terkenal, yang harganya sekitar hampir satu juta.
"I, ini?" tanya si mbak-mbak itu dengan nada seperti ragu.
__ADS_1
"Iya, ini, ini, ini, dan ini. Terus ini, ini, ini ,ini dan ini."
Maya menunjuk segala hal yang ia inginkan. Mbak-mbak yang bekerja tersebut kaget melihat Maya belanja sebanyak itu. Maya kemudian pergi ke kasir dan membayar semuanya.
Tak lama ia terlihat melangkah meninggalkan toko tersebut dengan langkah penuh percaya diri. Tidak lagi minder seperti dulu, saat dirinya belum punya uang.
***
"Say, besok gimmick jalan bareng lagi tapi ada sedikit pelukan mesra ya."
Mak Dince kembali mengabari Maya dan juga Erik Tornado malam itu, melalui grup WhatsApp yang isinya hanya mereka bertiga.
"Ini eke transfer dulu masing-masing dua puluh juta." ujar mak Dince.
"Makasih Mak." jawab Maya.
"Thanks." ujar Erik.
"Sama-sama say. Tunggu dulu ya, eke transfer nih."
Mak Dince kemudian hilang sejenak, lalu kembali dengan dua bukti transfer.
"Udinda ya say." ujar mak Dince.
Maya senang, ia makin menyukai kerjasama ini. Sebab Mak Dince sangat bertanggung jawab. Ia memberikan apa yang menjadi hak Maya, sebab ia pun juga telah dibayar oleh sponsor. Bahkan Maya tak tau menahu seberapa besar keuntungan yang diraih Mak Dince.
Namun ia tak mau ambil pusing. Toh mak Dince transparan mengenai berapa yang akan maya terima dan membayar semua itu meski bertahap.
Yacht adalah sebuah kapal pesiar kecil yang harganya besar. Bentuknya saja yang kecil tapi tidak dengan harganya.
"Yacht itu bagian dari iklan juga. Karena yang punya buka penyewaan secara umum. Jadi kalian berdua mempromosikan yacht tersebut ya nek." ujar mak Dince lagi.
"Iya mak."
"Oke."
Maya dan Erik menjawab di waktu yang nyaris bersamaan.
"Kostum udah eke siapkan, Maya di waxing bulu kakinya ya say. Besok soalnya agak berbikini, tapi ada kain penutup. Biar kalau kaki yey keliatan, kagak kayak kaki laki-laki yang berbulu." ujar mak Dince lagi.
Makhluk jadi-jadian itu berhasil membuat Maya tertawa lepas.
"Eke kagak bulu kakian, mak. Eke mulus." ucap Maya.
"Oh, ya Udin kalau gitu. Good." jawab mak Dince lagi.
"Pokoknya besok kumpul dulu di tempat yang udah eke tentukan. Make up dulu, pake lotion dulu biar pada glowing pas ngiklanin itu yacht." ujarnya lagi.
__ADS_1
"Oke mak."
Lagi-lagi Maya dan Erik menjawab secara serentak.
Kemudian mak Dince membicarakan apa saja yang mesti dilakukan besok. Lengkap dengan skenario adegan, serta pose-pose seperti apa yang mesti Maya dan Erik peragakan.
***
"May makan."
Ibu Maya menawari sang anak untuk makan. Ketika ia baru selesai masak sore itu.
"Widih, semenjak ada kulkas jadi masak enak terus nih." ujar Maya seraya menilik ke atas meja makan. Ada banyak masakan enak disana, yang sebelumnya jarang ia temui.
"Tepatnya setelah Tuhan kasih ibu rejeki melalui elu, May." jawab ibunya.
"Kan itu berkat doa ibu juga, bu." tukas Maya.
"Iye, ibu doain lu makin sukses ye."
"Aamiin."
"Mau makan?" tanya ibunya lagi.
"Ntar aja bu, nunggu bapak sama Indra pulang. Maya mau ketempat Salim dulu, ngomongin konten. Sekalian nganterin bingkisan buat mpok Munah." jawab Maya.
"Ya udah, pulang jangan malam-malam. Ntar babe lu pulang sama Indra, kita langsung makan." ujar sang ibu.
"Iya bu."
Maya pun lalu bersiap dan menuju ke kediaman Salim.
***
"Ya ampun Maya, ini buat mpok nih?"
Mpok Munah bertanya pada Maya seraya melihat produk-produk skincare yang dibelikan oleh gadis itu. Maya juga membelikan ibunya dan sudah ia berikan tadi pagi.
Tentu saja sang ibu sangat kaget dan gembira, sama seperti mpok Munah saat ini. Apalagi setelah melihat harganya yang cukup tinggi.
"Ampun May, beginian doang segini harganya?" tanya mpok Munah.
"Tapi ada harga, ada kualitas mpok. Mpok pakai aja skincarenya, aye jamin pasti glowing. Nih aye aja baru dua hari pake udah lumayan cerah." Maya menunjukkan wajahnya.
"Oh iye, cakep bener lu." ujar mpok Munah seraya memperhatikan.
"Makanya mpok pake biar cakep juga." ujar Maya.
__ADS_1
"Iye, iye. Mulai malam ini mpok bakal pake, biar glowing." ujarnya sambil tertawa.
Maya pun ikut tertawa, ia senang kini bisa membalas kebaikan orang yang telah berbuat baik padanya tersebut.