NIKMAT

NIKMAT
BAB 28 TAMU BULAN


__ADS_3

Dini hari jam 03.00 Alwa terbangun karena ketika akan berangkat dari tempat tidurnya ketika membuka selimut, langsung teriakan terdengar karena melihat bercak darah di kasur.


"Aaaaaaaaaaaaaa," Teriak Alwa hingga terdengar di kamar sebelah yaitu kamar si penculik.


"Ya Allah bocah itu ngapa tengah malam latihan vokal lagi," Ucap si penculik yang baru selesai salat malam. Si penculik berjalan keluar kamar dengan membawa masker lalu menggunakan masker setelah sampai di depan kamar Alwa, si penculik langsung masuk melihat Alwa yang sudah menangis di sudut kamar.


"Kamu kenapa dini hari kok latihan vokal ?," Tanya si penculik kepada Alwa yang sudah menangis nggak karuan. Namun Alwa masih terus menangis tersedu-sedu.


"Bocah kamu kenapa manggis malam malam eh salah nangis malam malam gini ?," Ulang pertanyaan si penculik kepada Alwa.


"Ikut saya," Ucap Alwa sambil berjalan diikuti oleh si penculik,


"Ini apa ? Apa yang sudah mas lakukan kenapa saya ? Mas tega dengan saya ?," Pertanyaan terus Alwa lontarkan dengan suara diiringi tangisan. Ketika si penculik melihat kearah yang di tunjuk Alwa ia pun terkejut.


"Hai hai bocah ingat saya nggak ngapa-ngapain kamu bahkan berbuat seperti layaknya suami istri tidak pernah melakukannya pada kamu jangan kan untuk melakukan itu pegang kami saja saya pakai sarung tangan jangan berpikir negatif," Jelas si penculik kepada Alwa yang masih menangis.


"Lalu mas penculik kenapa bangun ?," Tanya Alwa kepada si penculik.


"Lagi salat malam curhat sama Allah yang maha kuasa," Jelas si penculik, seketika Alwa mengingat ingat tanggal.


"Ini tanggal berapa ?," Tanya Alwa bermaksud memastikan bahwa ia sedang haid.


"Tanggal 28 kenapa ?," jawab si penculik kemudian bertanya balik.


"Tapi mas penculik berani bersumpah atas nama Allah bahwa mas tidak menyentuh aku tadi ?," Ucap Alwa dengan memberikan pertanyaan.

__ADS_1


"Sumpah demi Allah aku tidak akan pernah menyentuh perempuan yang bukan mahram ku, karena aku punya ibu, adik ku dan saudara-saudaraku mereka adalah perempuan, bahkan ibu dari anak anak ku adalah seorang perempuan aku pasti tidak akan merusak anak gadis orang, ingat itu baik baik," Jelas si penculik dengan itu Alwa merasa tenang lagi pula bagian vitalnya tidak terjadi nyeri seperti cerita para pengantin.


"Saya pegang ucapan mas penculik kalu bohong itu urusan mas dengan Allah secara langsung," Ucap Alwa dengan senyum mengembang diwajahnya.


"Sabtu minggu bar nangis guya guyu," (Sabtu minggu habis nangis ketawa ketawa) Ucap si penculik sambil berjalan keluar.


"Eh mas penculik alu boleh minta tolong ?," Ucap Alwa sambil malu malu.


"Apa ?," Tanya balik si penculik dengan nada datar.


"Emmmmm anu mas boleh nggak mas penculik belikan pembalut yang ada sayapnya sudah tersedia di minimarket bahkan toko sebelah rumah," Ucap Alwa sambil menahan malunya terlihat dari mukanya terlihat merah.


"Ya beli sendiri lah, bukannya nggak mau tapi jujur ya saya malu," Ucap si penculik dengan tenang.


"Ah ada kesempatan sambil menyelam minum air sambil keluar plus kabur," Batin Alwa sudah senang hatinya tiba tiba.


"Ya udah saya aja yang beli kamu tunggu besok sabar kan lagi pula nggak ada toko buka jam segini," Ucap si penculik


"Kalu saya biarkan kamu pergi bisa bisa kamu kabur," Batin si penculik sambil keluar.


"Haduh haduh jangan jangan mas penculik bisa membajak pikiran orang hingga semua pikiran kita dia tahu haduh haduh makin canggih aja dunia, gagal maning udah halu bakal pulang terus meningkatkan hidup terus bahagia dunia akhirat e malah jatuh sakit pula gimana nggak sakit jatuhnya di tanah saking tingginya langsung ada bekas kaya salah satu film itu," Batin Alwa sambil menutup pintu. Alwa bergegas mandi setelah selesai mandi Alwa mencuci sprei yang terkena noda darah.


Udah kaya ngekos balik kaya kuliah dulu tapi nggak semewah ini, ya walaupun pak dan buk bisa bayar yang lebih mahal tapi lebih enak kalu itu adalah kerja keras kita walaupun jelek tapi rasanya beda sama minta orang tua. Selesai mencuci sprei Alwa keluar berencana menjemurnya namun di sudah dikagetkan dengan suara di belakangnya.


"Bocah bau kencur, mau kemana ?," Tanya si penculik dari belakang Alwa.

__ADS_1


"Enak aja panggil bocah bau Kencur, udah bagus bagus nama Halwa Izzati Gandara di panggil Alwa enak enak jenang merah panggil bocah bau kencur," Protes Alwa kerena di panggil anak bau kencur


"Maaf Nona Halwa Izzati Gandara, Nona mau kenama ? Maaf salah maksudnya kemana," Ucap si penculik kepada Alwa.


"Wah wah mas penculik nggak usah di kasih nona cukup Alwa aku sudah terima, terkesan tua padahal aku kan masih muda," Protes Alwa lagi yang nggak suka di panggil Nona.


"Haduh haduh tinggal bilang mau jemur sesuatu lama banget malah debat soal panggilan," Ucap si penculik sambil mengambil cucian Alwa kemudian berjalan menaiki tangga dan sampai di tempat jemuran Alwa yang mengikutinya dari belakang sudah di buat emosi.


"Nggak sopan banget deh ambil langsung tanpa permisi nggak sopan pakai banget, mau aku jitak tapi takut dosa haduh haduh kaya buah simalakama," Batin Alwa sambil terus melihat si penculik sedang menjemur Sprai. Setelah selesai si penculik langsung turun kemudian menuju ke dapur dan Alwa masih setia mengekori dari belakang.


"Kamu kenapa ngikutin saya mulu ?," Tanya si penculik sambil mengambil minum lalu duduk setelah duduk si penculik langsung meneguk air yang ada di gelas.


"Em...Aku mau tanya di kamar Alwa nggak ada sayur sama beras to, terus gimana Alwa makannya ?," Tanya Alwa dengan nada santainya.


"Di kamar cuma ada bahan bahan kering, kalu makan tinggal di dapur cari di kitchen set sama di rice cooker pasti nanti nemu lauk dan nasinya Alwa yang saya hormati," Ucap si penculik dengan berdiri kemudian mencuci gelas lalu meletakkan di rak samping tempat cucian piring.


"O gitu apa gunanya ada dapur di kamar kalu makanya tetap di dapur rumah pemborosan," Ejek Alwa yang merasa aneh dengan desain kamar yang ditempatinya.


"Tanya sama arsitekturnya ?," Ucap si penculik kemudian berjalan meninggalkan Alwa.


"Siapa orangnya ?," Tanya Alwa dengan santainya sambil mengambil air minum.


"Cari sendiri nanti pasti nggak ketemu," Ucap si penculik dengan terus berjalan.


"Ye jelas nggak ketemu la wong aku nggak tahu siapa arsitekturnya," Balas Alwa sambil duduk kemudian meminum air yang ada di gelas, setelah itu bergegas masak untuk sarapan.

__ADS_1


__ADS_2