NIKMAT

NIKMAT
BAB 31 MULES


__ADS_3

Di Salah Satu Kampung.


Sudah berdiri tenda, terlihat lalu lalang orang orang yang sedang menyiapkan acara pernikahan, terlihat Vivi dan Intan sedang menyiapkan dekorasi untuk pelaminan.


"Mbak Intan yang cantik, manis, sholehah pokoknya paket lengkap ya walaupun ada kurang nya namanya manusia nggak ada yang sempurna, Vivi izin ke belakang dulu ya," Pamit Vivi sambil memegang kepalanya.


"Wah wah aku terbang ke langit ketujuh eh akhirnya jatuh ke bumi lagi, jatuhnya ke tanah Ambyar, mbok yo muji yang sepenuh hati jangan setengah setengah. Kamu kebelakang mau apa kok pegang kepala mau buang air besar ya," Ucap Intan sambil masih fokus mengerjakan dekorasi.


"Apa hubungannya sakit kepala sama buang air besar ?," Tanya Vivi sambil menggaruk garuk kepala yang tidak gatel.


"La itu apa yang hubungannya mbak belum tahu, mungkin mereka saudara atau malah musuhan atau tetangga itu belum di temukan hingga saat ini," Ucap Intan dengan guyonan.


"Mungkin mereka berteman kaya kita ya mbak nanti mbak jadi buang air besar aku sakit kepala," Jawab Vivi lagi lagi dengan nada guyonannya.


"Kok aku jadi buang air besar, emang kenapa ?," Tanya Intan yang belum tahu.


"Kan kaya mbak Intan yang selalu di buang pas ada rasanya saja, kaya buang air besar dibuang kalu ada rasanya, la kalu aku sakit kepala karena aku sering bikin orang sakit kepala karena aku kan suka bikin orang berpikir tujuh kali berpikir dengan pikiran yang begitu membuat otak si pemikir kewalahan, udah ah aku mau makan dulu mbak Intan yang cantik, manis, sholehah pokoknya paket lengkap ya walaupun ada kurang nya namanya manusia nggak ada yang sempurna nanti aku kasih kode nggak tahu lagi," Jelas Alwa sambil berjalan menuruni tangga pelaminan di ikuti Intan.


"Ya kamu bilang mau kebelakang sambil pegang kepala, kamu tahu kalu mbak ini orang nggak peka, terus tadi kamu ibaratkan mbak itu buang air besar karena mbak sering di buang pas ada rasanya, kamu kok tahu sih aku jadi mau tertawa karena habis ngeluarin air mata dan sejak itu mbak nggak begitu memikirkan cinta, mbak fokus memperbaiki diri karena mbak yakin laki laki baik untuk perempuan baik ya walaupun belum sempurna tapi mbak berusaha memperbaiki diri mbak yang masih banyak kurangnya," Ucap Intan berjalan di sebelah Vivi, Vivi yang mendengarnya langsung dikagetkan.


"Subhanallah, ini beneran mbak Intan kelihatannya mbak Intan sudah kebelet nikah deh o iya kan suka meralat sesuatu yang kurang pas di telinga Vivi, kalu tertawa itu nggak ada air matanya tapi kalu nangis ada air matanya mbak, tapi kecuali mbak Intan tertawanya sampai matanya sipit," Vivi yang dikagetkan dengan ucapan Intan dan tak lupa selalu dengan kritikan.


"Sudah sudah debatnya nanti aja mbak mau makan lapar," Menarik tangan Vivi ke belakang untuk menjumpai ibu ibu yang sedang masak sayur, masak nasi, ada yang goreng goreng dan lain lainnya.


"Eh mbak mau makan geh ?," Ucap salah seorang ibu ibu yang tak lain pemilik hajatan.

__ADS_1


"Iya Bu," Balas keduanya bersamaan sambil melemparkan senyuman kepada ibu tersebut.


"Mbak tunggu di dalam rumah saja nanti saya siapkan, di belakang rusuh kotor nanti mbak nggak ***** makan," Ucap Ibu tersebut dengan ramah sambil menuju jalan menuju rumahnya.


"Nggak usah repot-repot Bu, kita makan di belakang saja sambil kenalan sama emak emak tangguh kali kali ada calon ibu mertua," Ucap Vivi dengan ramah di barengi dengan senyuman.


"Betul Bu kita nggak mau ngerepotin ibu," Tambah Intan.


"O gitu ya sudah mari saya antar berjumpa emak emak tangguh," Ucap Ibu tersebut dengan tawa karena mendengar ucapan Vivi akhirnya ibu si pemilik hajatan, Intan dan Vivi berjalan bersama menuju dapur umum.


"Eh ibu ada bidara cantik, coba si Fatih udah gede pasti tak lamar jadi mantu sayang di Fatih masih di perut, aduh aduh adek Fatih kok nendang nendang tahu aja kalu ada orang cantik lewat," Ucap ibu hamil sambil mengupas pepaya muda sambil melihat kedatangan Vivi dan Intan.


"Bidara itu bukannya tumbuhan mungkin maksud kamu bidadari ?," Ucap ibu berkerudung merah di samping ibu hamil yang masih setia mengupas pepaya muda.


"La itu maksudnya," Ucap ibu hamil tersebut sambil meletakkan pepaya yang sudah bersih di wadah.


"Ya aku berdoa semoga mantu ku nanti kaya mbak mbak itu udah cantik pinter menutup aurat, kalu boleh di bungkus aku bungkus deh," Ucap Ibu hamil tersebut sambil mengambil pepaya muda untuk di kupas. Tiba tiba Vivi dan intan lewat untuk numpang cuci tangan.


"Mbak mbak cantik boleh saya minta tolong ?," Ucap ibu hamil tersebut kepada Vivi dan Intan.


"Boleh bu, silahkan ?," Ucap Intan berhenti.


"Boleh bu, tapi password nya kurang lengkap," Ucap Vivi.


"Apa password-nya mbak mbak cantik ?," Tanya Ibu hamil tersebut dengan penuh harapan.

__ADS_1


"Password nya mbak yang cantik, manis, sholehah, imut pokoknya paket lengkap ya walaupun ada kurang nya namanya manusia nggak ada yang sempurna, itu Bu password nya," Ucap Vivi sambil melihat intan ya karena itu password yang diucapkan Vivi ketika merayu Intan.


"Oke mbak yang cantik, manis, sholehah, imut pokoknya paket lengkap ya walaupun ada kurang nya namanya manusia nggak ada yang sempurna, bolehkah ibu hamil yang lagi nyidam ini meminta tolong ?," Ucap kembali ibu hamil tersebut sambil mengucapkan password.


"Baiklah ibu apa yang bisa kami bantu jangan sungkan sungkan silahkan anda sampaikan ?," Ucap Vivi dengan nada seperti jaman kerajaan.


"Jadi begini mbak mbak cantik ibuk boleh nggak perut ibu di elus elus," Ucap ibu hamil tersebut kemudian Vivi dan Intan langsung mengelusnya secara bergantian.


Jadi anak yang Sholeh


"Aduh aduh jangan nendang nendang nak, tahu aja kalu di elus elus sama mbak mbak yang cantik, manis, sholehah, imut pokoknya paket pokok, semoga nanti kalu kamu laki laki bisa dapet istri kaya mbak mbak ini kalu kamu perempuan semoga kamu menjadi muslimah seperti mbak mbak ini," Ucap ibu tersebut dengan mata mata berkaca-kaca.


"Aamiin," Ucap semuanya bersama sama mengaminkan ucap ibu hamil tersebut.


"Aduh aduh tiba tiba kok aku mules banget, aduh aduh sakit banget kelihatannya aku mau lahiran," Ucap ibu hamil tersebut semua yang mendengar langsung menghampiri ibu hamil tersebut.


"Ayo cepat di bawa ke bidan Arum," Ucap salah seorang ibu berbaju hitam sambil menuntun ibu hami tersebut.


"Mau naik apa mbak ?," Tanya si ibu hamil sambil terus berjalan sambil merasa mules yang makin bertambah.


"Naik mobil ku," Ucap ibu berbaju hitam sambil terus menuntun si ibu hamil ketika di depan si ibu berbaju hitam memanggil laki laki yang tak lain adalah suaminya.


"Pak bapak, ada yang mau lahiran ayo antar kerumahnya bu bidan !," Ajak si ibu berbaju hitam kepada suaminya,


"Buk buk kan ibuk sendiri bidannya," Ucap suami ibu berbaju hitam.

__ADS_1


"Astaghfirullah lupa pak, o iya suami kami mana ?," Tanya Ibu berbaju hitam kepada si ibu hamil.


"Itu Bu," Tunjuk ibu hamil kepada laki laki di samping suami bu bidan.


__ADS_2