
Kini Bu Tika dan Alwa sudah melanjutkan perjalanan, keduanya sudah keluar dari penginapan sejak subuh. Kini yang menyetir mobil adalah Alwa.
"Buk Maaf ya kalu Alwa kemarin ngerepotin ibuk, nanti utangnya Alwa ganti ya buk," Ucap Alwa sambil fokus menyetir.
"Halah kamu itu bilang opo, kaya sama siapa aja kamu itu udah kaya anak ibuk sendiri jadi jangan bilang gitu, apa salah ibuk membelikan makanan untuk anaknya," Ucap Bu Tika yang tidak suka dengan ucapan Alwa.
"Ya maaf buk, ya sudah nanti kalu sudah sampai rumah gantian Alwa yang mentraktir ibuk oke," Ucap Alwa masih fokus menyetir.
"Nduk ayu sing ayu dewe, ibuk badhe tanglet sampeyan jawab jujur geh ?," (Nak cantik yang cantik sendiri, ibuk mau tanya kami jawab jujur ya ?) Ucap Bu Tika dengan logat jawa krama yang begitu kental.
"Nggeh buk monggo, panjenengan badhe tanglet napa ?," (Iya buk silahkan, anda mau tanya apa ?) Jawan Alwa dengan basa krama juga.
"Masalah kamu dan Angga, maaf ya nduk kali ibuk lancang tanya seperti ini, kamu nggak akan marah to sama ibuk ?," Ucap Bu Tika diiringi rasa tidak nyaman.
"Monggo buk, Alwa bakal jawab pertanyaan yang ibuk berikan dan Alwa janji nggak marah," Ucap Alwa memberikan kelonggaran untuk semua yang dinyatakan oleh Bu Tika,
"Alhamdulillah kalu gitu, jadi gini nduk ibuk ini mau tanya selama kamu di culik oleh Angga, kamu tidak lecehkan, dipukul atau kekerasan baik fisik atau batin, kamu jangan takut cerita sama ibuk kalu anak ibuk keliru bakal ibuk kasih pelajaran," Ucap Bu Tika sambil mengepalkan tangannya.
"Alhamdulillah buk selama Alwa di culik sama mas Angga tidak pernah di lecehkan dan di perlakukan buruk, malah kaya liburan buk," Ucap Alwa mengucapkan dengan santainya.
"Wah wah baru kali ini di culik rasa liburan," Ucap Bu Tika sambil tertawa.
"Tapi ada yang kurang Alwa suka, yaitu kaya burung dalam sangkar cuma di rumah bangun, makan, tidur gitu terus buk jadi ya kurang enak buk, tapi Alwa sudah syukur alhamdulillah karena mas penculik eh masuknya mas Angga tidak pernah menyentuh Alwa itu lebih utama dari yang lain pokoknya," Ucap Alwa sambil fokus menyetir mobil.
"Alhamdulillah Alhamdulillah nggak sia - sia ibuk mendidik Angga, Ibuk ketika melihat kamu di dalam rumah kemarin ada rasa yang nggak bisa di ucapkan ditambah lagi Angga ternyata masih hidup seperti mendapat durian runtuh," Ucap Bu Tika dengan rasa haru diiringi oleh jatuhnya bulir putih dari pelupuk mata.
__ADS_1
"Saya dulu pikir mas Angga itu penculik yang masih magang karena nggak serem banget kaya di film film, tapi Alhamdulillah kalu kaya di film bisa bisa tinggal nama Alwa sekarang...," Ucap Alwa belum selesai namun di potong oleh Bu Tika.
"Astaghfirullah Hal Azim nggak boleh bilang gitu, sekali lagi kamu bilang gitu ibuk bakal ngutuk kamu jadi emas," Ucap Bu Tika sambil mengusap air mata yang ada di ujung matanya.
"Ya Allah jahat banget sih ibuk, ngomong - ngomong kenapa emas bukan batu, kucing atau jadi mantu hhhhhh," Canda Alwa kepada Bu Tika.
"Ye biar kaya kata kata di media sosial bunyinya diam itu emas makanya ibuk kutuk kamu jadi emas biar diam," Ucap Bu Tika sambil menatap kearah Alwa.
"Wah wah, tapi memang ini sudah watak nya Alwa kaya kancil nggak bisa diam maklum gen ibuk sama bapak keduanya aktif maklumlah kalu anaknya aktif quadrat," Ucap Alwa sambil tersenyum.
Di lain tempat Pak Wira, Angga dan Khi sudah bersiap siap pulang, Angga bertugas mengemudikan mobil, Pak Wira duduk di samping Angga dan Khi di kurus tengah dengan posisi yang enak namun juga bikin capek yaitu rebahan.
"Sebelum memulai perjalanan ayo kita membaca doa naik kendaraan," Ucap Pak Wira sambil menggunakan sabuk pengaman.
"Allohumma hawwin ‘alainaa safaranaa hadzaa waatwi ‘annaa bu’dahu. Allohumma antashookhibu fiissafari walkholiifatu fiil ahli," Ucap bersamaan Pak Wira, Angga dan Khi, tak lama mobil pun berjalan berhenti tepat di depan gerbang kemudian turun lah Khi untuk menutup gerbang tiba tiba Rio lewat akhirnya, melihat itu Rio memberikan salam perpisahan kepada Pak Wira, Angga dan Khi, seketika Angga memiliki ide untuk menitipkan rumah ini pada Rio karena belum tentu dirinya merawat rumah ini.
"Iya, mau ikut pulang sekalian," Ucap Khi sambil diiringi senyum.
"Boten mas, nanti kalu ada waktu mas main main disini, nanti Rio kenalin sama kembang desa di sini mas," Ucap Rio yang sudah lumayan akrab dengan Khi semenjak makan malam di rumahnya.
"Ah kamu ngaco aja," Ucap Khi sambil tertawa.
"O iya mas Angga sama om Wira di mana mas ?," Tanya Rio ketika hanya melihat Khi.
"Di dalam mobil," Ucap Khi sambil menunjuk mobil, seketika Rio berlari menuju mobil tersebut sambil mengetuk kaca mobil.
__ADS_1
"Tok tok....tok tok,"
Tak lama pak Wira dan Angga turun.
"Loh cah bagus," Ucap Pak Wira sambil melihat Rio.
"Oh Rio to, pas banget ada yang mau mas bilang sama kamu," Ucap Angga yang melihat Rio.
"Om Wira mas Angga," Ucap Rio sambil mengulurkan tangannya langsung di jabat oleh tangan pak Wira dan Angga.
"Ada hal apa mas ?," Tanya Rio kepada Angga
"Mas Angga nitip kamu jaga rumah ini ya," Ucap Angga sambil memberikan sekumpulan kunci.
"loh loh kok Rio mas yang jaga, maaf Rio tidak bisa takut tidak amanah," Ucap Rio sambil mengembalikan kunci tersebut kepada Angga.
"Karena mas percaya makanya mas nitip ke Rio, jaga baik baik. Mas Angga pamit dulu jaga bude rajin sekolahnya, assalamu'alaikum," Ucap Angga sambil mengembalikan kunci yang ia pegang ke Rio.
"Waalaikumsalam. Iya mas Rio bakal jaga rumah mas Angga dan bakal ingat sama nasehat mas Angga, hati hati di jalan," Ucap Rio sambil meraih tangan Angga, pak Wira dan Khi kemudian menciumnya secara bergantian.
"Om pulang dulu," Ucap pak Wira ketika Rio mencium tangannya.
"Iya om semoga om sekeluarga diberikan kesehatan," Ucap Rio kemudian beralih kepada Khi.
"Pamit dulu, maaf kalu mas Khi banyak salah selama bertemu Rio, pokonya doa terbaik untuk Rio sekeluarga, kalu ada waktu mas Khi bakal main kesini begitupun Rio kalu ada waktu bisa main kerumahnya Om Wira," Ucap Khi kepada Rio tang mencium tangannya.
__ADS_1
"Aamiin, terima kasih doanya mas, in sya Allah kalau ada waktu nanti Rio main kerumahnya mas Khi, om Wira dan mas Angga," Ucap Rio setelah itu Pak Wira, Angga dan Khi masuk kedalam mobil kemudian berjalan jalan meninggalkan Rio.