
Pagi ini Khi, Pak Wira dan Bu Tika sedangkan sarapan bareng tiba tiba handphone Pak Wira, seketika Pak Wira langsung mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh, maaf ini siapa ?," Ucap Pak Wira sambil melihat nomer yang belum Pak Wira tahu.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, saya hanya ingin hari ini bapak datang ke Jalan Sriwijaya, Nomor 34. Saya ada kepentingan sama bapak," Ucap si penelepon namun Pak Wira merasa tidak asing dengan suaranya.
"Maaf ini dengan siapa dan ada perlu apa ya ?," Ucap Pak Wira yang belum tahu maksud si penelepon.
"Ada hal penting pak yang harus saya bicara dengan bapak, mohon dengan sangat bapak datang," Ucap si penelepon dengan sopan tanpa pikir panjang Pak Wira mengiyakan permintaan si penculik.
"Baik saya akan ke sana hari jam 11.00 siang," Ucap Pak Wira dengan cepat mengiyakan karena Pak Wira penasaran dengan suara penelepon yang tidak asing baginya.
"Baik bapak, terima kasih, saya tutup dulu assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh," Ucap si penelepon sambil menutup teleponnya.
"Sama sama, Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh," Jawab Pak Wira, kemudian terdiam karena mengenali suaranya. Khi yang melihatnya merasa aneh dengan Abinya.
"Abi kenapa kok tiba tiba terlihat sedih ?," Tanya Khi sambil melihat Abi nya yang tiba tiba terdiam.
"Abi habis terima telepon. Suaranya, cara bicaranya bahkan logat bicaranya kaya Abang," Jawab Pak Wira merasa rindu kepada anak laki-laki sulungnya.
"Sabar ya bi, kita doakan Abang di berikan kemudahan di alam kubur," Ucap Bu Tika menenangkan Pak Wira yang sudah menitihkan air mata.
"Abi sabar, istighfar ingat Bi semua yang bernyawa pasti akan kembali ke Allah bi, kita doakan Abang di mudahkan di alam kuburnya semoga kita berkumpul di akhirat nanti," ucap Bu Tika sambil berjalan memeluk Pak Wira di susul Khi.
"Ayo kita ziarah ke makam Abang, pumpung lagi libur terus nanti kita lanjut ke Jalan Sriwijaya. Nomor 34," Ucap Pak Wira.
"Ayo Bi," Ucap Bu Tika dan Khi bersama, akhirnya mereka mengendarai mobil menuju pemakaman umum. Tak lama Pak Wira, Bu Tika dan Khi sudah memarkirkan mobilnya di parkiran makam, Pak Wira, Bu Tika dan Khi membeli bunga kemudian berjalan menuju makam Adbar.
__ADS_1
45 menit sudah Pak Wira, Bu Tika dan Khi berada di makam setelah selesai membaca doa pak Wira mengajak Bu Tika dan Khi untuk menuju Jalan Sriwijaya. Nomor 34 karena jam sudah menunjukkan 10.20,
"Ayo kita pulang !," Ajak Pak Wira kepada Bu Tika dan Khi. Dibalas anggukan kepala oleh keduanya.
"Kami pulang bang. Assalamu'alaikum," Pamit Pak Wira, Bu Tika dan Khi bersama kemudian berjalan meninggalkan makam Adbar. Sebelum masuk mobil azan zuhur terdengar akhirnya Pak Wira, Bu Tika dan Khi salat dahulu, selesai salat mereka melanjutkan perjalanan menuju Jalan Sriwijaya. Nomor 34.
Di lain tempat.
Mobil yang dikendarai oleh si penculik memasuki pelataran rumah, Alwa yang melihatnya langsung kaget itu rumah awal ketika Alwa di culik.
"Emang rumahnya mas penculik berapa sih kok aku jadi penasaran, jangan jangan mas penculik sebelum jadi penculik adalah makelar tanah ya ?," Ucap Alwa sambil melihat keluar jendela terlihat tembok setinggi empat meter.
"Yah itu salah satu pekerjaan saya ?," Ucap si penculik dengan santai.
"O kenapa harus jadi penculik kan lumayan hasil penjualan tanah lebih berkah dan halal, ketimbang nyulik saya nggak minta tebusan rugi ngasih makan saya doang, untung nggak rugi iya," Ucap Alwa sambil berpindah tempat duduk karena merasa panas saking lamanya duduk.
"Ayo masuk ada hadiah buat kamu," Ucap si penculik sambil berjalan masuk ke rumah.
"Apa mas penculik yang saya hormati ?," Tanya Alwa yang penasaran dengan kata kata hadiah.
"Nanti kamu tahu sendiri kok cepat masuk," Ucap si penculik mempersilahkan Alwa masuk.
"Baik baik, ini nggak ada drama di ikat di kursi terus di sumpel mulutnya, ternyata di culik nggak menakutkan malah kaya liburan," Ucap Alwa dengan berjalan, si penculik yang mendengarnya langsung tepuk jidat.
"We bocah semprul, cepat masuk atau aku ikat di pohon kangkung," Ucap si penculik dengan nada mengancamnya.
"Nggak sekalian diikat di pohon toge aja mas lebih tinggi, dijamin aku nggak lepas," Ucap Alwa sambil berjalan masuk namun si penculik malah berdiri didepan pintu gerbang.
__ADS_1
"Kenapa lihat lihat, cepat masuk sana jangan lihat lihat," Ucap si penculik yang tahu kalu diperhatikan.
"Ye grgrgr banget, aku lagi lihat pintu gerbang, mas penculik pekerja banyak ya, mulai dari penjual tanah, sopir, penculik dan sekarang mau jadi satpam, wah wah kelihatannya mas penculik kaya banget," Jawab Alwa sambil masuk kedalam rumah.
Di Rumah Ibu Yang Melahirkan.
Vivi dan Intan sedang melihat bayi yang dilahirkan bayi perempuan yang dilahirkan oleh ibu hamil kemarin yang meminta di elus elus dan mau menjodohkan anaknya dengan Vivi atau Intan.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh," Ucap Intan dan Vivi sambil menghampiri ibu hamil tersebut.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, ya Allah mbak Intan yang cantik, manis, sholehah pokoknya paket lengkap kok tahu rumah saya," Jawab kaget ibu hamil yang melihat Intan dan Vivi.
"Ya Allah rumahnya ibu kan tidak jauh dari tempat acara kemarin, terus kita mau lihat adek nya laki laki atau perempuan ?," Ucap Intan sambil melihat kearah bayi yang sedang tertidur.
"Betul bahkan sampai kebawa mimpi Bu, serius nggak bohong," Ucap Vivi sambil meletakkan hadiah yang ia bawa bersama intan.
"Adeknya perempuan mbak mbak cantik," Jawab ibu sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, semoga menjadi anak yang sholehah, berbakti kepada kedua orang tua, cinta kepada Allah dan rasulnya," Ucap Intan sambil duduk berdampingan dengan ibu tersebut.
"Doa dari kakak cantik manis sholehah buat adik yang cantik imut gemoy gemoy manja, semoga menjadi anak yang sholehah, berbakti selalu kepada orang tuanya, menjadi wanita yang cinta kepada Allah dan rasulnya, cepat bisa lari ya dedek gemoy nanti lomba lari sama kakak cantik, yang menang dapat hadiah menarik dari kakak," Ucap Vivi sambil menatap gemas bayi yang sedang tertidur.
"Aamiin terima kasih doa serta datangnya ya mbak mbak semuanya, semoga segera memiliki pasangan terus punya momongan, jangan lupa undangan ibu kalu nikah," Doa ibu yang baru saja melahirkan kepada Vivi dan Intan.
"Aamiin Ya Rabbal Allamin," Balas Vivi dan intan bersamaan.
"Ya walaupun belum ada calonnya," Ucap Vivi, kemudian tak lama datang ibu ibu membawakan nasi di dalam piring.
__ADS_1
"Monggo dipun dahar rumiyen mbak !," (Silahkan di makan dahulu mbak) ucap ibu tersebut mempersilahkan Vivi dan Intan untuk makan, akhirnya keduanya makan di selingi pembicaraan.