Ninja Pengelana Dunia Kultivasi

Ninja Pengelana Dunia Kultivasi
Orang Tua


__ADS_3

Perbekalan sudah siap, senjata dan lain-lain sudah sedia. Pagi hari yang masih dalam keadaan berduka, Kazuki dan Qixuan akan berangkat menuju lembah Jade untuk mendapatkan Pedang Naga Abadi. Qixuan ikut selain untuk menemani dia menjadi penunjuk jalan sekaligus meningkatkan kekuatan spiritual nya sendiri. Kazuki kini sudah memiliki pondasi Ki spiritual yang stabil. Dia menempati spiritual bumi tingkat 3. Sementara Qixuan saat ini sudah menguasai spiritual bumi bumi tingkat 5 dan akan melewati batasan pondasi selanjutnya, spiritual tingkat langit.


"Hutan Jade juga berisi banyak hewan spiritual tingkat tinggi. Untuk berjaga-jaga dengar pesan guru ini. Jika memungkinkan lebih baik kabur, jangan melawan karena saat kamu membunuh salah satu, itu akan membuat hewan yang lain semakin beringas. Mahluk di sana seperti satu kesatuan yang tidak tercerai berai. Satu lagi, pedang itu adalah pemilih, dia tidak akan tunduk jika kamu tidak layak. Lakukanlah yang terbaikmu agar kamu bisa mendapatkan pedang itu, Kazuki, Qixuan." Dua orang remaja akhir itu mengangguk paham atas nasihat pengurus Jing. Mereka menaiki kuda pilihan masing-masing menuju provinsi Tang, daerah ujung utara kekaisaran Yan.


'Dengan perjalanan ini maka aku sudah pergi dari keterlibatan konflik kekaisaran. Syukurlah Tuan Longwei tidak terlalu banyak menuntut sesuatu dariku.Tapi beliau begitu baik memberikanku perbekalan lengkap begini,' batin Kazuki penuh semangat. Dia memakan Roubou hangat yang baru dibelinya, tak lupa menawari Qixuan.


Kazuki dan Qixuan sampai di gerbang keluar kota Yan yang cukup sepi. Para prajurit penjaga memberhentikan kuda mereka dan memeriksa token identitas.


"Kamu iya-iya dari keluarga Han, bukan?" Kazuki yang kini mengerti bahasa si penjaga protes tidak terima.


"Namaku Han Ishi, bukan Han Hai Hai!" Qixuan terkikik mendengar hal itu.


"Bukannya nama itu cocok untukmu. Tuan Muda Hai Hai," goda Qixuan yang masih terkekeh kecil.


"Berhenti tertawa! Tapi ngomong-ngomong margamu mirip dengan milik Jenderal Zuan, ya Qixuan?" Ekspresi gadis itu segera berubah dingin.


Merasakan perubahan sikap gadis di sebelahnya Kazuki pun bertanya, "Qixuan, jangan-jangan kamu adalah-"


"Iya ... aku putri Jenderal Zuan. Pria perkasa yang kamu permalukan!" potongnya dingin.


"Wah, hebat. Tapi, tunggu waktu itu aku sendiri ingin bertanya padamu, saat aku baru masuk akademi. Kapan aku mempermalukan Jenderal Zuan? Bukannya beliau yang terlalu banyak aksi!" Qixuan menampar wajah Kazuki, pria muda itu terbelalak.

__ADS_1


"Kamu tidak mengerti perasaannya ketika berada di rumah. Memang benar itu salah ayah yang kurang serius menghajarmu, tapi intinya ini salahmu. Dari awal kamu datang di sayembara, seperti pemuda yang tidak memiliki tata krama. Apa orang tuamu tidak mengajarimu?!" cercanya kesal.


Kazuki terdiam dan menunduk. Perjalanan itu seketika sunyi sampai mereka memasuki hutan provinsi Hang. Untuk mencapai Lembah Jade mereka harus melewati provinsi ini terlebih dahulu.


Beberapa jam berlalu hingga kini siang hari, matahari bersinar terik, dengan kecepatan tinggi mereka sampai di gerbang masuk kota Lin provinsi Hang.


Sama seperti kota-kota besar lainnya sebelum masuk kota, penjaga meminta bukti token identitas. Mereka pun menunjukkan benda keemasan yang sempat membuat penjaga kaget. Bangsawan kota Yan sedang berkunjung pikir mereka.


Dengan cepat berita itu segera menyebar dari mulut ke mulut. Kazuki dan Qixuan cukup kesusahan karena setiap orang menawari mereka fasilitas menginap padahal sebelum matahari terbenam mereka tidak akan istirahat kecuali untuk mengistirahatkan kuda-kuda mereka. Kazuki meninggalkan kudanya dan Qixuan yang sedang memandikan kudanya di area rerumputan dan sungai kecil untuk membeli makan siang.


Dia memakan daging panggang yang dia beli seharga dua perunggu di atap bangunan tinggi sambil menikmati pemandangan kota Lin dari atas. Kalau dilihat kota Lin tidak jauh indah dari kota Yan, pemimpin kota ini pasti sangat merawat kotanya.


Tiba-tiba Kazuki mengingat ucapan tajam Qixuan tadi pagi.


Terlihat senyuman sendu di wajah Kazuki. "Andai aku bisa melihat mereka..."


Kilas Balik


Seorang bayi laki-laki menangis di depan sebuah bangunan panti di desa klan Ishikawa. Bayi itu terlihat seperti baru terlahir dua hari yang lalu. Bayi itu dibuang oleh sepasang suami istri yang menangis ketika mereka melihatnya. Sang suami memeluk istrinya kemudian pergi dengan secepat kilat dari tempat itu ketika pintu rumah terbuka. Seorang gadis pengasuh terkejut melihat bayi di depan pintu kemudian memungutnya. Gadis itu mengedarkan pandangannya mencari pelaku yang meninggalkan si bayi. Namun nihil tidak ada seorang pun di pelataran luas itu.


Tahun demi tahun berlalu, si bayi sudah menjadi seorang remaja sehat yang memiliki bakat di klan Ishikawa. Gadis pengasuh kini sudah bersuami dan dia menamai remaja itu Kazuki Ishikawa karena tidak ada nama yang ditinggalkan saat dia ditemukan di masa lalu. Sehingga dia menggunakan nama klan di desanya.

__ADS_1


Kazuki dan putra si pengasuh yang bernama Kaga Shinjiro, menghabiskan masa kecil bersama. Shinjiro selalu menjadi teman yang baik bagi Kazuki begitu pun sebaliknya. Kazuki tidak mempermasalahkan masa lalunya karena pemuda itu berpikir, jika orang tuanya tidak dapat menerimanya maka itu bukan masalah karena orang tua dan keluarga barunya dapat menerimanya.


Kilas balik habis


"Aku jadi merindukanmu, kawan," ujar Kazuki tersenyum mengingat Shinjiro sembari membayangkan hal konyol apa yang tengah dilakukan pemuda itu.


"Merindukan siapa?" Kazuki terlonjak kaget dan terjungkal kebelakang.


"Ck, apa yang kamu lakukan, jangan mengagetkanku?!" teriaknya kesakitan.


Qixuan merasa tidak enak mengingat ucapan pedasnya tadi pagi. Sekarang dia mencoba meminta maaf kepada Kazuki.


"Hei, maafkan aku karena mengatakan ucapan tadi. Kau tahu aku tidak tahu apa-apa mengenai-"


"Tidak apa!" potong Kazuki pemuda itu menatap wajah Qixuan yang masih terlihat tidak enak.


"Hei, dengarkan aku! Aku memang di tumbuhkan tanpa pelajaran hidup kecuali dari guruku. Itu pun pengajaran teknik bertahan hidup, bukan tata krama. Tapi keluargaku sangat amat menyayangiku, aku dibesarkan dengan cinta. Jadi saat aku mengambil perhatian cukup banyak. Itu karena aku sendiri kehilangan cukup banyak..." Kazuki menahan beban berat di tenggorokannya, matanya panas menahan tangis. Dia segera memunggungi Qixuan.


"Maafkan aku..kalau... saat itu aku membuat masalah. Aku mungkin akan mengecewakan orang tuaku, jika tidak meminta maaf," ujarnya dengan suara bergetar. Gadis itu tahu pemuda di depannya sedang menangis. Tapi kenapa? Apakah dia tidak pernah menemui orang tuanya lagi setelah merantau? Qixuan tahu Kazuki bukan pemuda asal ibukota. Dia ke ibukota hanya karena mengikuti sayembara.


"Baiklah, mari saling memaafkan," ucap Qixuan dengan senyuman cantik yang tak bisa dilihat Kazuki. Pemuda itu mengangguk tak menoleh.

__ADS_1


"Ku maafkan," ungkap mereka bersamaan.


__ADS_2