Ninja Pengelana Dunia Kultivasi

Ninja Pengelana Dunia Kultivasi
Menghilangnya Sang Petualang


__ADS_3

Malam harinya di kota Lin. Kedua remaja itu akhirnya tidak menginap di penginapan manapun. Mereka tidur di atas rumah pohon sederhana hasil dari jurus kayu milik Kazuki. Pemuda itu lagi-lagi membuat kagum putri Jenderal. Dengan begini mereka tidak perlu mengeluarkan uang lebih banyak. Karena perjalanan masih panjang.


\=\=\=\=\=\=


Fajar menyingsing, ayam-ayam berkokok saling sahut menyahut. Udara dingin masih terasa walaupun matahari sudah menampakkan sinarnya. Lie Qixuan bangun terlebih dahulu dari tidurnya. Masih mengumpulkan kesadaran dia menatap wajah menenangkan Kazuki yang masih tertidur pulas. Qixuan kemudian keluar dari kemah, meregangkan ototnya dan sedikit pemanasan sebelum melatih kekuatan spiritualnya.


Dua jam berlalu dan matahari sudah sepenuhnya nampak. Kazuki baru saja bangun dari tidur, mengucek mata kemudian mencari-cari keberadaan Qixuan yang sudah hilang dari tempat itu.


"Wah, aku kesiangan...," gumam Kazuki dengan suara seraknya. Qixuan yang baru selesai mandi di dekat air terjun yang tak jauh dari sana mendekati Kazuki yang meregangkan ototnya.


"Sudah bangun, bagaimana, kamu mau mandi atau langsung berangkat?" tanyanya sambil mengemasi barang-barang.


"Aku mau cuci muka dulu," ujar Kazuki mendekati sungai kecil di sana.


Byurr


'Sebenarnya airnya sangat segar membuatku ingin mandi. Tapi aku harus segera mendapatkan Pedang Naga Abadi sebelum keduluan orang lain!' batinnya meminum dua teguk air sungai yang jernih dan menyegarkan tenggorokan.


"Pemandangan alamnya sangat indah, ya," ujar Qixuan yang diangguki Kazuki.


"Ayo berangkat."

__ADS_1


Dua muda mudi itu melewati jalur perdagangan pinggiran kota Lin untuk menghindari patroli penjaga. Bisa saja mereka dicegat oleh prajurit hanya untuk menanyakan identitas. Hal itu membuang waktu. Mereka pun keluar dari kota Lin dan memasuki kota terakhir di provinsi Hang, kota Shenzhen. Kotanya lebih sepi dari yang diekspektasikan Kazuki. Pemuda itu menuntun kudanya dan mengikatnya di depan toko yang menyediakan tempat untuk kuda. Toko itu bernuansa coklat tua, elegan dan menenangkan mata yang memandang. Walaupun termasuk toko kecil terdapat banyak pajangan baju dan aksesoris di toko ini. Sang pemilik toko adalah pria kurus yang bernama Wang Jung Chi.


"Tuan dan nona silahkan di lihat-lihat lebih dulu. Bila ada yang berkenan saya akan mencarikan stok barang yang terbaik," ujarnya ramah pada Kazuki dan Qixuan yang memasuki toko.


Mereka berdua melihat-lihat dulu seperti kata Pak Tua itu. Tak begitu lama dari ruang belakang seorang wanita berumur datang menyajikan teh untuk mereka. Dua remaja akhir itu pun merasa sungkan atas keramahan istri pemilik toko. Mereka berdua pasangan yang harmonis.


"Tuan muda, jika anda berkenan beli lah kalung giok ini. Terbuat dari lima puluh persen giok asli. diukir sedemikian rupa, sehingga harga jualnya tidak hanya pada batunya. Ini hadiah yang bagus untuk istri anda," Kazuki yang mulanya tertarik langsung terlonjak dengan kata istri. Pemuda itu melirik Qixuan yang beruntungnya tidak mendengarkan.


"Dia bukan istriku paman, kami hanya teman yang berpetualang," bisik Kazuki pada Jung Chi. Pria tua itu mengangguk mengerti.


"Kalian akan berpetualang ke mana?" tanya paman Jung Chi penasaran karena melihat persediaan yang di bawa Kazuki sangat minim.


"Ke lembah Jade paman, kami akan-" Qixuan membekap mulut Kazuki yang bicara terlalu banyak.


"Memangnya kenapa, paman Jung juga tidak terlihat bermasalah," elak Kazuki.


"Dengar ya petualang tak berpengalaman, di manapun ada tempat untuk seorang petualang di situ juga ada lapangan kerja bagi penjarah. Bagaimana jika-" ucapan Qixuan terpotong oleh pak tua Jung Chi yang mengerti akan perdebatan dua orang muda di depannya.


"Sudah-sudah, jangan berdebat. Di daerah sini paman jamin tidak akan ada penjarah. Tapi untuk berjaga-jaga lebih baik kalian membawa senjata untuk beladiri, karena di perbatasan Provinsi Hang dan Provinsi Tang ramai kasus kematian aneh para petualang." Mereka berdua langsung bereaksi mendengar informasi itu.


"Ceritakan lebih lanjut paman!"

__ADS_1


"Eh, ekhem baiklah. Di mulai semenjak sebulan yang lalu. Seorang petualang yang berasal dari Provinsi Rong singgah ke kota ini. Dia juga mengunjungi toko paman. Petualang itu sangat ramah mendatangkan barang-barang langka dari provinsinya. Ketika dia meninggalkan kota para warga pun merasa berat hati. Namun ada hal yang lebih berat di hati terjadi.


Kafilah dagang dari kota Shenzen yang hendak pergi ke provinsi Tang tak lama setelah kepergian si petualang menemukan mayat si petualang di tengah perjalanan. Jasadnya memiliki sedikit luka dan tidak ada penyebab kematian dari luar. Seakan dia memang dicabut nyawanya oleh dewa saat itu juga. Penduduk yang mulai waspada memperketat penjagaan dan mulai mengawasi jalur antar provinsi itu. Karena mulai banyak sejak saat itu petualang-petualang yang melintas mati atau bahkan hilang entah apa penyebabnya. Jadi kalian berdua berhati-hatilah!" Kazuki kesulitan menelan ludahnya, dia jadi penasaran apa yang sebenarnya para petualang itu hadapi di jalur tersebut.


"Tenang saja paman, dengan spiritualis bumi tingkat lima ini. Kami berdua pasti berhasil menuju lembah Jade," ujar Qixuan percaya diri. Kazuki memutar bola matanya.


"Untuk berjaga-jaga. Kita juga harus pakai tak-tik nin- eh dari guruku!" usulnya hampir keceplosan. Kazuki mengambil jubah berwarna hitam dan caping, semacam topi bundar yang terbuat dari anyaman bambu dari gantungan paman Jung Chi.


"Pilihan yang bagus anak muda."


Usai menghabiskan teh dan membayar barang mereka, Kazuki pun sudah berpenampilan layaknya legenda ninja samurai di dunianya. Namun hal itu dipandang aneh oleh Qixuan yang masih memakai pakaian normalnya.


"Memangnya kamu bisa bernapas memakai itu?" tanya Qixuan melihat penampilan rapat Kazuki ditambah masker wajah dan zirah besi tipis. Kazuki mengangguk santai, jujur saja kostum ninja di dunianya masih jauh lebih berat daripada ini.


"Paman bibi terima kasih atas jamuannya. Kami berangkat!"


Mereka berdua melanjutkan perjalanan sebelum petang. Hingga tak beberapa lama mereka sampai di gerbang keluar kota Shenzhen. Seorang prajurit menghentikan langkah mereka dan bertanya.


"Kalian butuh pengawal?" Kazuki dan Qixuan saling pandang kemudian serentak menggeleng. Si prajurit penjaga membebaskan mereka pergi.


Jalur yang dilewati mereka cukup terjal dan naik turun menyulitkan para kuda. Ketika jalan menanjak Kazuki dan Qixuan memilih untuk menarik kuda mereka. Tidak ada pemanfaatan spiritual karena kekuatan mereka harus tersimpan sampai di lembah Jade. Tiba-tiba semak belukar di jalan itu mengeluarkan bunyi dari pergerakan.

__ADS_1


Karena sedari tadi sudah waspada Qixuan pun pergi memeriksa. Beberapa menit berlalu dan Qixuan tak kunjung muncul. Kazuki menghela napasnya namun dia segera fokus melihat seseorang datang dari arah Qixuan pergi.


"Qixuan kau dari ta-" matanya terbelalak pandangannya memburam dan Kazuki pingsan di tempat.


__ADS_2