Ninja Pengelana Dunia Kultivasi

Ninja Pengelana Dunia Kultivasi
Hukuman Dijatuhkan


__ADS_3

Matahari telah keluar dari cakrawala timur, menandakan awal hari yang sejuk di Kekaisaran Yan. Burung-burung berkicau, ayam berkokok menyambut para warga yang mulai beraktifitas. Jalanan, pasar, pusat ibukota sudah kembali berjalan normal seperti semula. Bangunan-bangunan besar dikukuhkan pondasinya serta dipercantik setelah hancur akibat peperangan 3 hari yang lalu.


Tahta Kaisar akan segera diberikan kepada Pangeran pertama, Yan Qianlong menggantikan Empress Xiang. Pemerintahan di bawah kepemimpinan pangeran Qianlong dianggap akan menjadi paling layak walaupun keturunan untuk mahkota Kaisar sebenarnya adalah Putri Yi. Setelah diskusi bersama dan keputusan Perdana Menteri baru, Xuantong. Akhirnya semuanya sepakat bahwa Pangeran pertama Qianlong lah yang akan menjadi penerus. Matrilineal pihak Pangeran pun naik derajat dan menduduki kediaman kedua di bawah Empress Xiang yang masih memerintah.


Sebuah berita baik bagi Kekaisaran karena mereka akan memasuki masa-masa baru setelah masa-masa kelam penuh darah peperangan. Para anggota kabinet Kekaisaran yang baru ditugaskan gencar-gencarnya mengerjakan dan membuat banyak proposal baru dalam rangka membangun kembali khususnya wilayah ibukota Kekaisaran Yan. Pertahanan kekaisaran akan meningkat pesat, pendidikan ditingkatkan, layanan masyarakat akan ditingkatkan dan pemimpin-pemimpin cabang tidak berguna dihapuskan dan lainnya. Yang paling penting berusaha sekuat tenaga menyelesaikan konflik dengan Kekaisaran Dong yang tak kunjung usai.


Bagus bagi mereka


Kini Ishikawa Kazuki pemuda 20 tahun yang telah mengalahkan musuh utama di peperangan dalam keadaan terbaring koma di atas ranjang yang mengikatkan rantai di tubuhnya. Tempatnya berada di ruangan khusus yang dibangun di dalam tempat pengungsian. Dikarenakan prajurit keamanan Yan mengganggap inilah satu-satunya tempat yang belum pernah tertembus apa pun sampai saat ini. Mereka berpikir buronan atau penjahat siapa pun yang mereka tahan dengan keamanan yang ditingkatkan sekarang tidak akan bisa lolos.


Kazuki sudah koma semenjak peperangan selesai. Peperangan berakhir ditandai dengan hilangnya Perdana Menteri Longwei, hilangnya pimpinan musuh yang berhasil ditangkap, Lordeus. Dan menghilangnya monster air yang tersisa di pusat ibukota secara tiba-tiba.


Kazuki ditemukan pingsan oleh Pangeran Ming Hao dan Pangeran Yaoshan dalam perjalanan mereka menyusul rombongan Empress Xiang. Di mana dua Pangeran tersebut juga menemukan sang adik Putri Fangyin dalam keadaan lemah di dekat area.


Begitu dibawa ke Kekaisaran untuk diobati ternyata para Pangeran baru mengetahui rupanya pemuda yang mereka bawa adalah pembunuh sang Ayah. Mereka begitu murka dan meminta pengadilan menjatuhkan hukuman mati pada Kazuki. Tentu saja, disokong oleh rakyat pengadilan menjatuhkan hukuman mati pada Kazuki. Namun pengadilan meminta agar sementara waktu pelaku ditahan sampai dia sadar dari koma untuk dieksekusi dalam keadaan sadar. Rakyat sangat setuju.


Teman-teman Kazuki antara lain Qixuan, Hao Jin, pengurus Jing serta guru-guru akademi lainnya mengajukan penundaan sidang secara keras. Bagaimana pun terdakwa masih koma dan bukti yang dimiliki pengadilan adalah bukti tidak langsung yang membutuhkan keterangan alibi terdakwa. Dan saksi yang diperkirakan berada dekat tempat kejadian perkara hanya mendengar suara serta sekelebat bayangan saat kejadian.


Bukti tidak langsung yang dipunyai keluarga Kekaisaran adalah, syal merah milik Kazuki. Dan pesan kematian yang diukir oleh Kaisar di tanah menggunakan jari bertuliskan 新的 (baru). Embun membuat kelembapan tanah tetap terjaga sehingga saat pagi hari tulisannya masih ada. Pesan kematiannya sulit dimengerti, namun sengaja dibuat agar pelaku tidak menghapusnya.

__ADS_1


Tapi naasnya hari ini Kazuki telah sadar dari koma. Tidak terdengar sebagai berita yang baik karena dengan begitu penundaan sidang akan segera berhenti dan sidang akan dilanjutkan. Kazuki di bawa dengan tangan dirantai borgol khusus di belakang, pada lehernya pun dipasang kalung peledak yang jika terbentur sesuatu kalungnya akan langsung meledak sebagai jaminan Kazuki tidak akan kabur. Pakaiannya putih tipis dengan celana hitam panjang layaknya tahanan lain.


Semuanya duduk di tempat masing-masing, tokoh masyarakat beberapa dipersilahkan masuk ikut menyaksikan persidangan. Kazuki berada di podium menghadap para hakim agung. Sempat diberikan beberapa pertanyaan yang menjebak dan tidak masuk akal, namun Kazuki mampu menjawab semuanya dengan tenang karena dia memang bukan pelakunya. Walau begitu suasana dalam persidangan memang menegangkan, ditambah interior bangunan yang berwarna merah cerah ibarat adrenalin di dalamnya.


"Baik, pertanyaan satu ini mungkin terdengar subjektif hadirin, namun saya menginginkan jawaban objektif terdakwa, Ishikawa Kazuki," dia menarik napas pelan, "Kenapa terdakwa sangat percaya diri terdakwa bukan pelakunya, sementara bukti berkata sebaliknya...?"


"Karena saya tidak memiliki motif." Semua orang langsung berdebat satu sama lain mendengar hal itu. Karena..., seharusnya benar.


"Menurut para ahli pesan kematian dari mendiang Yang Mulia Kaisar Gaozo, bertuliskan baru, bisa merujuk pada orang baru. Dalam konteks ini ditemukan pula syal yang diduga milik terdakwa, Ishikawa Kazuki. Semua bukti mengarah kepada terdakwa. Ada sanggahan" Kazuki terdiam tidak bisa membantah, dirinya sendiri juga tidak tahu mengapa syal curiannya ada di tempat kejadian. Setelah dia curi, rupanya orang lain mencurinya.


Selain menjawab pertanyaan aneh dan unik hakim juga menyuruh Kazuki mendatangkan saksi alibinya saat kejadian terjadi. Akan tetapi di saat itu Kazuki sedang tidur sendirian di kediaman Han sebab Perdana Menteri dan istrinya keluar daerah, saksi alibi pun tidak ada.


Bukti pun cukup masuk akal menurut para ahli, Hakim menjatuhkan hukuman mati pada Kazuki dan akan dieksekusi malam nanti, sesuai waktu kematian Kaisar, niatnya agar Kazuki mau mengakui perbuatannya.


Kazuki tak mampu berbuat banyak, pedang Naga Abadi di sita, bahkan berusaha di matikan oleh alkemis Kekaisaran. Itulah mengapa hawa spiritual Agon terasa melemah, lagi pula mereka berdua sedang bertengkar perihal kunci Yin.


Kazuki duduk diam di dalam sel nya menatap lantai. "Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa aku bisa sampai pingsan sebelum menghajar mahluk hitam itu...," gumamnya berdecak pelan. Tak ada takut-takutnya akan dihukum mati. Kazuki malah memikirkan apa penyebab dia pingsan dan--kruyukk--perutnya yang lapar. Ah, dia lupa mempunyai cincin dimensi.


"Di-di mana cincinku?" lirih Kazuki kelabakan melihat tangannya bersih dari segala sesuatu.

__ADS_1


"Astaga dua perakku~," gerutunya.


Tuk tuk tuk


"Ah, kamu gadis kemarin. Yang selalu berada dekat pertempuran!" ujar Kazuki menunjuk gadis bercadar di depan selnya yang tiba-tiba datang memandangnya datar. Ialah Putri Fangyin mengenakan hanfu abu dengan sedikit corak putih elegan datang sendirian ke sel tersebut.


"Terima kasih atas bantuanmu Yang terpilih, saya tidak habis pikir dengan hasil persidangan yang menjatuhkan hukuman tanpa melakukan banding apapun," ujar Sang Putri tanpa menatap mata Kazuki yang memperhatikannya, "Kamu mirip seperti Putri Empress Xiang. Ah, memang kau adalah dia." Iris abu Putri sedikit melebar, 'Dia baru menyadarinya?' batin sang Putri ingin tertawa.


'Jadi selama ini dia hanya menganggapku gadis biasa.'


"Ada apa, kamu kemari cuma ingin berterima kasih saja?" tanya Kazuki bertingkah muak menghadap dinding.


"Apa kamu menginginkan kebebasan?" tanya sang Putri. Alis Kazuki mengerut, 'Aku ditetapkan sebagai pelaku pembunuh ayahnya dan dia menanyakan hal itu?'


"Harapan adalah sarapan yang baik, tetapi merupakan makan malam yang buruk. Jangan memberitahuku jika ini hanya sekedar harapan, karena aku sudah cukup terpuruk." Putri Fangyin hanya memandang datar.


"Saya sudah mengetahui makna baru pada pesan kematian Kaisar," tutur sang Putri memiliki atensi Kazuki sepenuhnya yang terkejut, "Baru memang berarti orang baru, namun bukan dirimu yang dimaksud. Intinya saya memberikanmu penawaran-" Kazuki berlari memegang pintu dengan lubang berjeruji besi, wajahnya berseri.


Brang

__ADS_1


"Iya aku mau, aku sudah kelaparan di sini. Jadi tolong...," cercaan Kazuki berhenti, "Sstt, saya punya rencana."


__ADS_2