
Debu berterbangan mengiringi suasana mencekam malam gelap medan pertempuran di bagian timur perbatasan ibukota. Permukaan tanah hancur sebagian besar akibat kuatnya serangan.
Kazuki --menggunakan pedang Naga Abadi-- melakukan transformasi putih dengan jumlah penggunaan energi spiritual 20%.
Pemuda itu memfokuskan pandangan nya pada mahluk setengah iblis di depannya. Anak buah Seizen yang memiliki fisik besar nan kuat. Lordeus, mengeluarkan kekuatan tersembunyi --mencakar-cakar diri sendiri-- kulit manusia yang terkelupas mengeluarkan aura merah pekat. Tubuhnya mengembang, benjolan besar di seluruh tubuh hingga ukuran fisik bertambah. Perlahan tapi pasti wujudnya berubah menyerupai iblis besar.
"Nasukanemobisu!!" mantra di ucapkan mulut raksasa penuh gigi tajam itu.
"Apa?!" menyadari perubahan musuh yang sangat jelas membuat Kazuki tak bisa tinggal diam.
Menerjang ke depan, Kazuki dan para pendekar menyerang Lordeus dari segala arah. Sambaran petir bertegangan tinggi di keluarkan Kazuki menyebabkan tubuh Lordeus yang sedang melakukan adaptasi transformasi meledakkan kekuatannya.
Hempasan besar nan kuat membuat semua orang waspada.
Brak
Pijakan kaki yang tercetak dalam oleh Lordeus-- Seringai jahat menghiasi wajahnya yang hitam hancur.
Krek krek
"Apa hanya itu saja kemampuan kalian? Spiritual, huh. Biar ku tunjukkan pada kalian, kekuatan yang sesungguhnya!!" ujarnya angkuh dengan suara keras menggema.
Perubahan menjadi iblis sempurna itu terbang ke langit tinggi mengeluarkan lingkaran mantra besar, batu berukuran setengah dari gunung dibelakang istana muncul dari lingkaran dijatuhkan ke arah para pendekar. Seukuran meteor yang berukuran kecil di angkasa lepas. Ukuran yang cukup menghancurkan tanah sedalam 10 meter dan tiga batalyon infanteri.
Angin hempasan bongkahan batu yang luar biasa kuat dan ukuran batu seakan dikirim malaikat kematian membuat semua pasukan sisi kekaisaran mundur menghindar. Kazuki yang mampu bergerak secepat kilat menghadang batu itu dengan kedua tangannya tanpa pikir panjang. Kini dengan kekuatan pedang Naga abadi kekuatan fisiknya berada di atas manusia lain. Namun, ukuran batu raksasa tetap terlalu besar untuknya. Setidaknya dengan kekuatannya dia dapat mengulur waktu lebih banyak untuk semua pasukan menyelamatkan diri.
"Grrr! Tidaaakk, bisakah ini lebih ringan?!!!" pekik Kazuki mencoba mengeluarkan energi spiritual nya lebih banyak berharap dapat benar-benar menguasai batu raksasa itu.
__ADS_1
Kapasitas spiritual yang digunakannya bertambah sebesar 10% dan secara sempurna membuatnya dapat mengangkat batu seukuran asteroid itu.
Tapi naasnya kekuatannya terlalu besar hingga kini energi besar itu berbalik menyerang Kazuki, tubuhnya meledakkan sebagian kapiler darahnya yang mendidih. Bagai di sayat dari dalam, sangat menyakitkan dan disekujur tubuhnya terjadi luka serupa yang mengucur darah deras. Darahnya menyelimuti tubuhnya, dan meredupkan transformasi putih. Terpaksa Kazuki harus melepaskan batu raksasa itu ke tanah. Lebih tepatnya sedikit ke timur dari perbatasan.
BRRRRAAAAAGH
Batu raksasa hancur menimpa hutan timur yang lebat.
Sayang musuh tak memberikan waktu bagi pemuda itu menyembuhkan diri. Lingkaran portal dibuat Lordeus hingga terhubung tepat di depan wajah Kazuki, kaki besar mengayun kuat menendang kepalanya. Kazuki terpelanting menghantam benteng, tapi dia segera bangkit sambil terbatuk darah.
...'Aku benar-benar belum paham Kazuki. Ini belum pernah terjadi sebelumnya, dan kemungkinannya sangat besar untuk tidak pernah terjadi. Pengguna pedang Naga tidak pernah di siksa oleh pedang itu sendiri. Ayahmu juga mengalami krisis adaptasi. Tapi tidak pernah mengalami konflik putar balik saat melampui batasnya. Harus ku apa kan agar kamu baik-baik saja?' ujar sang Naga panjang lebar diakhiri dengan pertanyaan....
Sayup-sayup Kazuki memperhatikan Lordeus dan naga namun semakin lama pandangannya semakin memburam, waktu demi waktu.
"Sembuhkan diriku saat Aku terluka sedikitpun," jawab Kazuki dengan suara seraknya.
Kazuki mengeluarkan transformasi putih kembali 20% dan menerjang Lordeus dengan pedang Naga. Dia bertekad jika seandainya tidak bisa mengalahkan Lordeus dengan keadaannya yang seperti sekarang. Maka dia hanya perlu menahan iblis itu sampai iblis yang sesungguhnya datang, lalu menumbangkan iblis sesungguhnya dengan pedang sang Naga Abadi.
"Lemah!" Dari atas kepala Kazuki ayunan kaki Lordeus membuatnya membentur tanah dengan keras.
Dari jauh para pendekar dan prajurit yang melihat Kazuki terdesak hanya diam dengan luka mereka tak berniat membantu Ninja itu.
"RASAKAN TINJUKU!" ujar Lordeus menghantam wajah Kazuki hingga menyebabkan tanah di sekitarnya hancur lebur. Dampak pada kepala Kazuki juga sangat besar.
Kazuki muntah darah, tubuhnya tak bergerak seakan tak lagi bernyawa. Lordeus di dekatnya mengeluarkan semacam pil lalu menelannya. Spiritual asing mencampur pada ki nya. Pria besar itu mulai melakukan teknik pengambilan kunci dinding spiritual secara paksa. Naga pada tubuh Kazuki memberontak mencoba menyadarkan tuannya. Teknik penyembuhan Naga Abadi seakan ditahan.
Alam Bawah Sadar
__ADS_1
..."Hei kau! Kazuki! Bangunlah!"...
Terdengar teriakan sang Naga pada tempat seperti lembah berkabut.
Perwujudan jiwa Kazuki terlelap dalam ketidaksadaran. Dikelilingi oleh aura spiritual hitam milik Seizen.
Sang Naga tidak menyerah terus berusaha membangunkan Kazuki.
Mendengar gema berulang membuat jiwa Kazuki mulai sadar, dia mulai menggumami keberadaannya.
"Kenapa aku di sini? Bukankah aku sedang berada di medan perang?" ucapnya dengan suara lirih. "Benar juga ... Aku dikalahkan oleh Lordeus," gumamnya pesimis.
"Lordeus itu, iblis yang kuat aku tidak bisa mengalahkannya. Apalagi dengan Seizen, dia jauh di atasku. Aku lemah, aku dikalahkan begitu saja. Aku gagal melindungi semua tujuanku, kedamaian ... masa depan, harapan orang-orang. Aku bersalah Naga! Semuanya terjadi karena egoku. Andai aku tidak sembarangan dengan gulungan itu, aku tidak akan ada di sini. Memperparah masalah ini. Aku yang lemah ini, tidak bisa menjaga kunci dinding spiritual, aku menghancurkan dunia ini secara tidak langsung...," keluh Kazuki mengeluarkan curahan hatinya. Dia menyadari dan merasa semua kekacauan ini karenanya. Karena dia tidak mampu menyelesaikan setiap amanat yang dipercayakan padanya, kekuatan besar yang diberikan kepadanya. Semuanya kelemahan yang sempurna.
Pikirannya merenungi seluruh masa yang telah berlalu. Kenangan indah nan menyenangkan.
..."Sudah mengeluhnya? Aku mengerti perasaanmu Kazuki. Tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk mengungkapkan curahan hatimu, di mana hilangnya semangatmu tadi? Tidak ada waktu untuk pesimis, hanya ada waktu untuk kembali bangkit, Agon ini mempercayai mu!" ujar sang Naga tetap teguh....
"Agon...?"
..."Huh, sudah lama sekali sejak terakhir kali aku memperkenalkan namaku. Kazuki, kita bersama, kau tidak sendiri, jangan merasa bebanmu sangat berat karena kenyataanya BEBANNYA DIBAGI DUA DENGANKU!" bentak sang Naga atau Agon....
"Pfft ... Hahahaha!" gelak pemuda itu. Mereka berdua tertawa sejenak.
..."Ini harus menjadi saat terakhir aku menceramahimu, jangan kalah lagi!"...
"Ku harap, aku tidak akan terlalu percaya diri lagi. Musuh sangat kuat dan aku harus mengakui itu. Tapi, aku hanya harus fokus pada diri sendiri!"
__ADS_1